
Ah, sudahlah. Rania selalu saja kalah dengan bujuk rayu Khanif yang kelewat manis itu. Ia bahkan tidak sadar kalau dirinya sudah duduk manis di samping kiri Khanif saat ini.
Padahal siang tadi ia menolak ajakan Khanif untuk pulang bersama dengan
mentah-mentah, namun saat ini ia begitu penurut duduk disampingnya.
Hei! Ada apa dengan dirinya ini? Sedikit-sedikit kesal, sedikit-sedikit luluh! Ia sepertinya telah terkena penyakit demam cinta dari Khanif.
Khanif yang merasa kalau dalam perjalanan pulang ini terasa hening pun pada akhirnya memecah kebisuan di antara mereka dengan bertanya, "masih marah sama aku?"
Mendengar hal itu, Rania jadi memalingkan wajahnya pada Khanif yang masih fokus melihat ke arah jalanan.
"Siapa juga yang marah. Tidak ada gunanya, malah buat aku tambah tua saja," elak Rania.
"Ah, iya aku baru sadar kalau kamu selalu terlihat awet muda walau lagi marah sekalipun," canda Khanif malah membuat Rania menolehkan wajahnya kearahanya lagi dengan memberikan Khanif pandangan seperti ingin memangsanya saja.
Kalau bisa dibilang, dirinya saat ini adalah macan betina yang siap menerkam siapa saja yang menganggu ketenangannya.
"Aku hanya bercanda. Bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku menerima semua kekurangannu?"
"Iya, aku tau," ujar Rania. "Jadi siapa wanita itu sebenarnya?" tanyanya kemudian.
"Bukannya kamu sudah mengetahui siapa dia?"
"Aku ingin mendengar siapa dia dari penjelasanmu sendiri. Apa tidak boleh?"
"Boleh saja. Baiklah, aku mengatakannya sekarang. Dia adalah Jihan. Seperti yang telah dikatakannya padamu sebelumnya, dia adalah teman masa kecil aku."
Apa bedanya penjelasan wanita tadi dan penjelasan Khanif yang sekarang? Semuanya hanya berbicara tentang masa kecil saja. Aish! Sudahlah. Dari pada dirinya kian kesal saja dan bisa merubahnya jadi cepat tua.
"Kenapa diam lagi?" tanya Khanif.
"Hanya ingin saja," jawab Rania singkat.
"Baiklah. Kamu harus lebih banyak istirahat mulai dari sekarang dan jangan berpikiran aneh-aneh, ya."
Rania mengerucutkan bibirnya tanpa sadar. Ia tau mengapa Khanif mengatakan hal itu.
"Soal wanita tadi, dia akan datang ke rumahmu besok."
"Untuk apa dia datang kerumah aku?"
"Katanya ingin mengenal lebih dekat calon istri aku. Aku harap kamu menjamunya dengan baik."
"Semua tergantung dari sikap kakak."
"Aku hanya ingin mengatakan, jika aku sudah memilih seorang wanita untuk masa depanku, sampai kapanpun wanita itu tidak akan pernah tergantikan lagi."
__ADS_1
Blus .... Pipi Rania memerah mendengar ucapan Khanif barusan. Namun ia terlalu tersipu malu walau hanya sekedar untuk menunjukkannya pada Khanif.
Jadinya, ia hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah jendela - melihat pengendara lain yang mungkin saja baru pulang kantor seperti dirinya dan Khanif.
Beberapa saat berkendara, akhirnya mobil Khanif telah sampai di depan rumah Rania.
Lalu sedetik kemudian, Khanif dengan gesit keluar dari mobilnya, berjalan cepat ke arah samping untuk membukakan pintu mobil buat Rania.
Dengan gagahnya, ia pun mempersilakan Rania keluar dari mobil dengan tangan yang terhampar seperti seorang pangeran berkuda putih. Rania tentu saja tersenyum lucu melihat tingkah Khanif yang baru pertama kali ia lihat ini.
Mungkin ini perlakuan khusus Khanif sebelum mereka berpisah untuk sementara.
"Terima kasih," ujar Rania setelah ia berdiri di samping Khanif.
"Sama-sama."
"Ngga singgah dulu?" tawar Rania.
"Tidak. Salam aja sama, mama, papa dan Reyhan."
"Hem. Nanti aku sampaikan."
"Baiklah, ma chérie. Aku pulang dulu. Sampai ketemu di pernikahan kita," ujar Khanif tersenyum manis pada Rania.
Setelahnya, Khanif pun kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Hem."
Khanif pun melajukan mobilnya menjauh dari pandangan Rania diikuti dengan lambaian tangan Rania yang mengiringi kepulangannya.
Sesaat Rania berbalik hendak masuk ke dalam rumahnya, Rania baru teringat akan perkataan yang baru pertama kali didengarnya dari Khanif - ma chérie - bahasa apa itu? Sungguh Rania tidak tau apa maksud atau artinya.
Hingga ia tersadar. Rania lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan sms pada Khanif terkait perkataannya itu.
Namun sudah beberapa detik Rania menunggu, balasan dari Khanif belum juga ada.
Ah, mana bisa Khanif membalas pesannya saat Khanif masih menyetir mobil! Ada-ada saja Rania ini. Ia pun lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya dengan ponsel yang masih ada dalam genggaman tangannya.
***
Keesokan harinya, Rania bangun begitu pagi.
Setelah mengerjakan kewajibannya, Rania lalu keluar dari kamar untuk melihat tanaman bunganya yang hanya ia siram setiap hari tanpa membersihkan rumput liar yang tubuh di dalam pot bunganya maupun di luar pot.
Pokoknya! Hari ini ia akan membersihkan dan merawat bunga-bunga kesayangannya. Ia akan memusatkan semua perhatian pada tanaman yang ia tanam dan rawat sepenuh hati seperti saudara sendiri.
Ah, memikirkan ia akan sibuk sepanjang hari didalam taman bunganya, ia terjangkit rasa senang yang banyak, hingga tanpa sadar kalau ia melupakan perkataan Khanif kemarin yang mengatakan, "Soal wanita tadi, dia akan datang ke rumahmu besok. Aku harap kamu menjamunya dengan baik."
__ADS_1
Sungguh Rania benar-benar melupakan hal itu. Hingga mama datang mengabarkan kalau ada seorang wanita seumuran dirinya datang mencarinya.
"Mama tau siapa namanya?" tanya Rania masih sibuk mencabut rumput liar yang menganggu pertumbuhan bunga-bunganya.
"Mama ngga tau. Wanita itu belum pernah mama lihat sebelumnya atau mama lupa ya? Tapi seingat mama ya, kamu ngga pernah tuh kenalkan dia sama mama."
"Beneren ma, dia cari Rania bukannya kak Rey?"
"Masa mama manggil kamu kesini kalau kakak kamu yang di carinya?"
"Iya, juga ya, ma," ujarnya sambil terkekeh pelan.
"Iya. Gih, sana samperin. Jangan buat orang menunggu, loh! Ngga baik itu," pesan mama.
Rania lantas menghentikan kegiatan paginya itu. Mencuci tangannya yang kotor. Lalu setelahnya, ia pun memilih berjalan ke samping rumah untuk menuju ruangan tamu.
"Loh, kok ngga masuk rumah sih?"
"Rania lewat sini aja, ma. Biar lebih dekat."
Mama hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak perempuannya itu.
Rania pun kian mempercepat langkah kakinya menuju ruangan tamu. Namun belum juga ia sampai, ia jadi teringat akan perkataan Khanif kemarin sewaktu ia diantar pulang.
"Ah, masa gitu udah lupa aja," gerutunya dalam hati.
Rania pun kian mempercepat langkah kakinya menuju ruangan tamu. Namun saat ia baru saja menginjakkan kakinya di pintu masuk, ia malah dikejutkan dengan suara wanita didepannya.
"Kamu! Bukannya kamu sekretaris kak Khanif?"
Perkataan itu tentu saja sukses membuat Rania menghentikan langkah kakinya. Lalu mendongkak melihat siapa yang telah mengajaknya berbicara.
"Kamu Jihan, kan?" tanyanya memastikan.
"He'em. Aku Jihan yang sama kak Khanif kemarin di restoran itu."
Rania mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Eh, kita bicara didalam aja, ya. Ngga enak kalau kita bicara di teras ini."
"Emm, baiklah. Kaki aku juga udah pegel berdiri terus," katanya manja.
"Wanita apa yang dikirimkan kak Khanif kerumahku ini?" runtuk Rania dalam hati. Bukannya ia tidak suka, hanya saja ia merasa tidak nyaman dengan perkataan wanita didepannya ini.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...