
Sudah dua hari berlalu sejak mereka ada di resort. Namun dalam dua hari itu, tidak ada hal yang spesial yang terjadi di antara mereka. Hal yang paling jauh mereka lakukan selama ini pun hanya tidur berpelukan.
Soal first night, Khanif tidak ingin terkesan memaksa Rania. Pasti hal itu akan terjadi juga. Baik cepat atau lambat, semuanya akan mereka lewati bersama.
Dalam dua hari ini pun tidak ada hal-hal aneh yang Khanif lakukan. Namun mengapa sore ini, Rania benar-benar dibuat kesal oleh Khanif. Entah apa kesibukan lelaki itu hingga meninggalkan dirinya sejak pagi ini. Tanpa kabar apapun.
Sudah! Rania tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Ia lalu mengambil cardigannya dan pergi mencari keberadaan Khanif.
Siapa suruh nomornya tidak aktif! Padahal Rania sudah beberapa kali mengirimkan pesan dan meneleponnya berulang kali.
Sesaat Rania sudah ada di halaman, ia tidak sengaja melihat seseorang yang beberapa hari ini melayani mereka. Tentu saja Rania tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya padanya. Rania pun lantas saja pergi menghampirinya.
"Permisi," katanya pelan membuat sesosok wanita menolehkan wajahnya kearahanya.
"Bu Rania, ada yang bisa saya bantu?" katanya dengan tersenyum ramah.
"Emm, apa kamu melihat pak Khanif?"
Sontak saja petugas wanita itu terkejut dengan pertanyaan Rania.
Pasalnya, ia memang mengetahui keberadaan Khanif, tapi ia juga sudah janji pada Khanif kalau dirinya tidak boleh memberitaukan keberadaan Khanif pada sang istri. Hal ini pun ia sudah tau penyebabnya, tapi tentu saja bukan hak dirinya untuk memberitaukan Rania tentang hal ini.
"Maaf, bu Rania. Sejak saya berdiri disini, saya tidak tau lagi pak Khanif ada dimana. Memang tadinya pak Khanif ada di sini, tapi itu hanya sebentar saja."
Berkata seperti itu tidak termaksud berbohong kan? Lagi pula dirinya mengatakan kalau ia sudah berdiri dari tadi disini dan tidak melihat Khanif lagi. Ia tidak mengatakan tentang keberadaan Khanif. Jadi, sudah benar! Kalau dirinya tidak berbohong.
Lagi pula lagi, Rania hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti perkataannya barusan.
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Iya, bu."
Rania pun lagi-lagi pergi mencari keberadaan Khanif. Ia bahkan mencarinya keseluruhan resort, kecuali pergi mencarinya ke pinggiran pantai.
Sesaat Rania hendak melangkahkan kakinya menuju pantai, tiba-tiba saja langkah kakinya tertahan saat seseorang dari belakangnya memanggil namanya kesayangannya.
__ADS_1
"Ma chérie."
Sontak saja Rania berbalik melihat sosok lelaki yang hampir satu hari ini menghilang entah ke mana tanpa kabar sedikit pun.
Karena sudah terlanjur kesal, Rania langsung saja pergi meninggalkan Khanif menuju penginapannya. Biar! Biar lelaki tanpa kabar hampir seharian itu merasakan akibat kekesalannya.
Sesampainya di depan penginapan, Rania langsung saja masuk dan sedetik kemudian, ia berbalik - memberi lambaian tangan pada Khanif - lalu menutup pintu yang terbuat dari kaca tebal itu dan menguncinya.
"Ma chérie," panggil Khanif seraya mengetuk-ngetuk pintu penginapan mereka. "Tolong bukain aku pintu, ya. Nanti aku jelaskan di dalam, ok!" ujar Khanif yang terdengar pelan di telinga Rania.
Meski masih bisa mendengarnya, Rania berpura-pura tidak mendengarnya dengan menempelkan telinganya di pintu kaca.
Tak lupa pula ia memberikan kode lambaian tangan pelan kalau dirinya masih tidak mendengar perkataan Khanif.
"Ma chérie. Ponsel aku low!" katanya setengah berteriak seraya menujukkan ponselnya yang telah mati total.
"Aku tidak dapat mendengarmu!" ujar Rania berpura-pura berteriak, padahal suaranya hanya tertahan di tenggorokan saja. Benar-benar akting yang sempurna.
Rania lalu kembali melanjutkan dengan memberikan kode dengan tangan yang ia katupkan dan membawanya menempel pada telinganya. Tak lupa pula ia berpura-pura menguap pertanda kalau dirinya sudah ngantuk berat.
Sedetik kemudian, ia pun melambai-lambaikan tangannya pada Khanif, lalu berikutnya, ia segera berlalu sana menuju kamar tidur yang begitu memanjakan diri.
Ia awalanya sudah tau akan hal ini. Namun ia sengaja tidak mengambil kunci cadangan karena berharap kalau Rania akan membukakan pintu untuknya. Namun ternyata kekesalan Rania lebih besar dari yang ia duga.
Setelah kunci penginapan ada ditangannya, Khanif pun membuka pintu kaca itu dengan sangat mudah. Ia lalu segera menuju kamar tidur untuk membujuk sang istri.
Jika tidak, sia-sia saja ia mengerjakan rencananya untuk memberi kejutan pada Rania malam ini, kalau Rania sendiri tidak ingin pergi bersamanya.
Setibanya Khanif didepan pintu kamarnya, dengan penuh kehati-hatian, Khanif memutar knop pintu, lalu menutup kembali pintu kamarnya dengan hati-hati kembali.
Khanif menggelengkan kepalanya kecil saat netra matanya melihat sebuah gundukan besar di atas tempat tidur mereka. Tentu saja Khanif tau siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Rania.
"Ma chérie," panggil Khanif pelan seraya membuka selimut yang menutupi tubuh Rania.
"Ma chérie kamu tidak ada di sini," kata Rania sambil menarik kembali selimut yang sudah terbuka dan memperlihatkan dirinya yang tengah meringkuk seperti bayi.
__ADS_1
Tidak kehabisan akal, Khanif lalu membuka sekali lagi selimut bulu itu, namun yang berbeda kali ini adalah ia malah mempososikan dirinya tepat di belakang Rania, lalu membawa tangannya untuk memeluk Rania dengan hangat.
"Lepaskan!"
"Ma chérie, aku minta maaf. Ponselku mati dan aku lupa membawa Power bank."
"Bilang saja alasan," kata Rania mengerucutkan bibirnya yang tidak dapat di lihat oleh Khanif.
"Aku serius, ma chérie." Khanif lalu secara perlahan-lahan membalikkan tubuh Rania menjadi melihat ke arahnya.
"Maafkan aku, ok!"
"Tidak mau."
Perempuan mana juga yang tidak kesal saat dirinya hanya menunggu tanpa kepastian di dalam kamar saja?
"Yakin tidak mau setelah aku beritau alasannya aku pergi pagi ini sampai sore."
"Memangnya aku peduli?"
Ah, tutur kata Rania membuat Khanif semakin gemas saja. Lalu tiba-tiba ia mengecup pucuk kepala Rania. Setelah mengecupnya, Khanif kembali menatap tepat di netra mata sang istri tercinta.
"Tak apa kamu tidak peduli karena aku akan peduli padamu."
Berada di keadaan yang sangat inti* ini, membuat darah Rania tiba-tiba saja berdesir, jantung yang tiba-tiba berdegup kencang dan tangan yang tiba-tiba terasa dingin. Pertanda apa ini? Apa dirinya sudah memaafkan Khanif?
Ah, tidak-tidak. Tidak akan semudah itu ia akan memaafkan Khanif. Biar bagaimana pun, ia tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi nantinya.
"Ma chérie," panggil pelan, namun yang di panggil hanya diam saja. Rania seperti sibuk dengan dunianya sendiri.
Ah, sudahlah yang penting saat ini ia sudah berada didekat sang istri tercinta. Khanif lalu membawa Rania ke dalam pelukannya - mendekatkan wajah Rania ke dadanya.
"Malam nanti, aku ingin memberikan kamu sebuah kejutan."
...To be continued...
__ADS_1
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
...By Siska C ...