
"Assalamualaikum," salam Rania saat mereka telah sampai didepan pintu seraya mengetuk-ngetuk pintu bercat warna kayu itu.
"Wa'alaikumsalam," balas seseorang seraya membuka pintu rumah.
"Pak Khanif-nya, bi?" tanya Rania.
"Den Khanif lagi tidak ada dirumah, non."
"Pak Khanif-nya kemana, bi?" tanya Dian.
"Bibi ngga tau, non. Den Khanif keluar pagi-pagi sekali sebelum orang rumah bangun. Jadi ngga ada yang tau Den Khanif pergi ke mana. Aduh bibi sampai lupa menyuruh kalian masuk. Gih, masuk dulu, non. Ngga baik kalau kita berbicara didepan pintu."
Rania dan Dian pun masuk ke dalam ruangan tamu, lalu mendudukkan dirinya di sofa yang empuk.
"Kira-kira Pak Khanif kapan datangnya ya, bi?" Rania bertanya dengan keinginantahuan yang tinggi.
"Aduh, soal itu, bibi ngga bisa mastiin karena Den Khanif kalau lagi keluar gitu ngga punya waktu tetap. Kalau non punya nomornya, silakan hubungi saja, siapa tau Den Khanif bisa pulang cepat setelah diberitau kalau non-non ini ada dirumah."
"Maunya gitu, bi. Tapi nomornya ngga aktif juga," ujar Dian.
"Kalau begitu, non bisa menunggu disini saja. Siapa tau tidak lama lagi Den Khanif pulang."
"Itu sepertinya ide yang baik. Baiklah, bi, kami tunggu disini saja."
"Kalau gitu, bibi kebelakang sebentar ya."
Rania dan Dian sontak menganggukkan kepalanya pelan.
Mereka pun mulai menunggu kedatangan Khanif. Beberapa menit kemudian, terdengar suara deru mobil yang terdengar masuk ke dalam halaman rumah.
Sontak hal itu membuat Rania merasa penasaran. Ia lalu beranjak dari tempat duduknya menuju luar rumah dengan berjalan cepat untuk melihat apakah Khanif yang mengendarai mobil itu atau tidak.
Sesaat pengendara mobil keluar, Rania terlihat kecewa, karena seseorang itu bukanlah Khanif seperti apa yang ia harapkan, melainkan Davina yang baru saja pulang dari kantor.
"Loh, Rania!" seru Davina terkejut saat mendapati Rania berada didepan rumahnya. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya setelah mendekat pada Rania.
"Aku mau bertemu dengan pak Khanif, Dav."
"Bukannya kak Khanif ada didalam?"
Rania menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kata bibi didalam, pak Khanif sedang berada diluar," ujar Dian yang ikutan keluar juga.
"Kalian sudah mencoba untuk menghubunginya?"
"Sudah, tapi nomornya ngga aktif," jawab Rania.
"Mungkin kak Khanif sedang dalam perjalanan pulang. Kalian tunggu didalam aja kalau gitu. Mungkin tidak lama lagi kak Khanif akan sampai. Ayo, kita masuk dulu. Ngga enak kalau kalian nunggunya diluar kan."
"Iya."
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah.
"Aku ganti baju dulu, ya. Ngga papa kan kalau aku tinggal berdua?"
__ADS_1
"Ngga papa, kok."
"Baiklah. Anggap saja rumah ini seperti rumah kalian sendiri, tapi ingat, jangan di bawa pulang, loh," canda Davina membuat kedua gadis itu terkekeh pelan. "Baiklah. Aku ke dalam dulu ya."
Sontak Rania dan Dian menganggukkan kepala mereka lagi.
Beberapa menit kemudian, Davina kembali lagi ke ruangan tamu setelah ia membersihkan diri.
"Kak Khanif belum datang juga?" tanya Davina seraya mengambil tempat duduk di sofa.
"Belum," jawab Rania.
"Sudah di coba untuk dihubungi kembali ngga?"
"Belum," jawabnya lagi.
"Kalau begitu biar aku hubungi."
Davina pun mulai menghubungi Khanif, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Khanif.
"Tidak di angkat, Rania. Mungkin kak Khanif sedang dalam perjalanan."
"Iya, mungkin."
Rania dan Dian pun kembali menunggu Khanif yang tanpa kabar. Hingga tidak terasa kalau merek telah menunggu sejam lamanya. Hari pun mulai gelap, membuat Rania maupun Dian pamit pulang karenanya.
"Kalau kak Khanif udah ada dirumah, aku akan menyuruhnya untuk menghubungi kamu nanti."
"Iya, Dav. Terima kasih. Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum."
***
"Kak Khanif," panggil Davina yang melihat Khanif baru tiba saat malam.
Khanif lantas berbalik. Ia melihat Davina. "Iya? Ada apa?"
"Tadi Rania datang kesini saat pulang kantor. Dia ingin bertemu dengan kakak, tapi kakak tidak ada dirumah dan ... nomor kakak tidak aktif."
"Ponsel kakak low dan kakak lupa membawa charger. Dia datang sendiri?"
"Emm, tidak. Dia datang bersama Dian."
"Ada perlu apa mereka datang ke sini."
"Duh, kakak gimana sih!" serunya sambil mendekati Khanif. "Tentu saja mereka ingin melihat keadaan kakak. Emm ... lebih tepatnya Rania ingin melihat keadaan kakak. Apa tidak bisa?"
"Kakak sudah tidak apa-apa."
Davina lantas menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seraya tangan yang ia taruh di jidatnya, seperti orang yang tengah memusingkan suatu hal saja.
"Kakak gimana sih! Itu tandanya Rania mencemaskan keadaan kakak."
"Hem. Lalu?"
"Kakak jangan pura-pura nggak ngerti deh!"
__ADS_1
"Iya, iya kakak tau. Jadi kapan mereka pulang?"
"Mereka pulang saat hari udah mau gelap. Tau ngga kak, seandainya kakak memberikan kabar kapan kakak pulang, Davina yakin kalau Rania akan menunggu kedatangan kakak," katanya bersemangat.
"Hem. Lalu?"
"Ya, itu saja sih! Kalau kakak ada waktu luang, gih kakak hubungi dia. Bilang ponsel kakak tadi low dan lupa bawa charger. Lalu kakak juga bilang terima kasih karena telah mencemaskan kakak, gitu kak."
Khanif tersenyum lucu mendengar rentetan kata-kata yang Davina ucapkan barusan.
"Kakak dengar ngga sih saran aku?"
"Hem. Kakak dengar. Kalau kamu mau, kabari saja padanya kalau kakak sudah sehat dan tidak perlu mencemaskannya lagi."
"Jadi kakak mau masuk kantor besok dong," canda Davina.
"Tidak. Kakak masih ada perlu diluar sampai hari minggu ini. Jadi, kamu jadilah adik yang penurut dengan membantu kakak mengurus perusahaan."
"Lalu bagaimana dengan pemilihan sekretaris kakak?"
"Bukannya dulu kakak sudah beri kamu surat keputusannya?"
"Oh, iya yah. Aku sampai lupa."
"Besok adalah waktu yang tepat. Kamu umumkan saja siapa yang menjadi sekretaris kakak."
"Tunggu kakak masuk kerja dulu aja deh!"
"Tidak. Kamu lakukan aja besok, biar ada yang membantu kamu dalam mengurus perusahaan selama kakak ngga masuk kantor."
"Baiklah."
"Kalau gitu kakak masuk kamar dulu. Kamu istirahatlah juga. Ingat ini sudah sangat malam dan kamu harus kerja besok pagi."
"Baiklah, kakak ku sayang."
"Hem."
Khanif pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Saat ia baru saja membuka pintu kamarnya, lagi-lagi Davina menghentikan langkah kakinya dengan mengatakan, "kak."
"Iya, kenapa?"
"Tidak. Aku hanya ingin memanggil kakak saja," candanya kemudian.
"Kamu ada-ada saja. Gih, pergi tidur. Kalau tidak, kakak takut kalau kamu akan jadi panda besok pagi."
"Ucapan kakak benar. Baiklah, aku juga udah ngantuk gara-gara nungguin kakak pulang."
Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Davina pun berlalu masuk ke dalam kamarnya. Begitu pula dengan Khanif yang juga mulai mengistirahatkan dirinya.
...To be continued...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1