Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 107. Kedatangan Khanif


__ADS_3

"Maaf ya, nak Rania jadi ngerepotin kamu," ujar Mama tetap fokus menyetir mobil.


"Ngga papa kok, tan. Rania malah senang."


Tiba-tiba saja Mama Adelin mengerem mendadak mobilnya yang membuat Rania terkejut, namun bukannya merasa salah, reaksi mama malah berbeda. Mama lalu menoleh melihat Rania dengan mata berbinar cerah. Tahu kalau Mama Adelin telah salah paham, Rania cepat-cepat mengoreksi ucapannya.


"Maksud Rania, Rania senang bisa temani tante agar tante ngga kesepian di bandara gitu."


Mama terlihat kecewa karena ucapan Rania yang tidak sesuai dengan apa yang sempat terbersit dipikirannya. Ia sempat berpikir kalau Rania senang karena akan bertemu dengan anaknya, Khanif. Tapi pemikiran mama meleset jauh.


"Iya. Tentu saja harus senang kalau temani tante. Kalau tidak, ngga seru dong tante ngajakin kamu temani, tante."


Rania tersenyum. Mama pun kembali melajukan mobilnya menuju bandara. Lama berkendara, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Setelah memarkirkan mobil, Mama Adelin dan Rania masuk ke dalam bandara - pergi ke tempat penjemputan.


"Oh iya, nak Rania. Tante mau tanya sesuatu."


Deg!


Tiba-tiba saja jantung Rania berdegup kencang. Ia seperti merasakan kalau saat ini, sama saja seperti ia tengah ditanya oleh pengujiannya dulu sewaktu ujian skripsi. Aneh! Rania jadi merasa takut akan apa yang ingin ditanyakan oleh Mama Adelin. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau Rania tetap menganggukan kepalanya.


"Baru-baru ini tante lihat video kamu dengan nak Zaky, apa itu benar, nak Rania?" tanya Mama Adelin pelan-pelan ingin memastikan.


Pasalnya, ia tidak mempercayai apa yang terjadi di dalam video yang pernah dilihatnya baru-baru ini. Apalagi ini menyangkut Rania. Bukannya Mama Adelin tidak ingin mengakui kalau wanita didalam video itu adalah Rania.


Hanya saja, Mama Adelin ingin melihat reaksi Rania saja saat Mama Adelin menanyakan pertanyaan itu. Mungkin saja, Mama bisa melihat sedikit keraguan dimatanya. Namun nyatanya, Mama Adelin tidak melihat sinar keraguan dimata Rania, saat Rania menjawabnya.


"Iya, tan itu Rania."


"Selamat ya, nak Rania. Tante ikut senang."


Mengatakan kata-kata itu membuat Mama Adelin jadi kepikiran tentang ucapan Khanif beberapa waktu yang lalu. Ia sadar, kalau ia tidak seharusnya memaksakan kehendaknya pada Khanif agar mengikuti perkataannya. Suatu saat pasti, Khanif akan mendapat kebahagiaan juga di luaran sana.


Mama lalu mengambil tangan Rania dan membawanya ke pengakuannya. "Kamu adalah anak perempuan yang baik. Tante doakan semoga kamu mendapat jodoh yang baik juga," kata mama seraya menepuk-nepuk kecil tangan Rania.


Rania tersenyum mendengar ucapan mama. Diam-diam ia bahkan mengucapkan aamiin dalam hati dan berkata pada mama, "terima kasih, tan."


Tidak lama setelah perbincangan singkat itu, terlihat seorang lelaki bersepatu hitam datang menghampiri mereka. Sesampainya didekat kedua wanita yang belum menyadari kedatangannya, lelaki yang berpakaian casual itu berdehem hingga membuat kedua wanita itu menolehkan wajah kepadanya.

__ADS_1


"Sayang!" jerit Mama Adelin langsung saja berdiri, melangkahkan kakinya lalu memeluk Khanif. "Akhirnya kamu datang juga." Mama pun melepaskan pelukannya. "Pasti kamu lapar, mama sudah masakkan makanan kesukaan kamu."


Khanif tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Selalu seperti ini saat dirinya baru pulang dari luar kota, pastinya makanan kesukaannya telah tersedia diatas meja.


"Ini buah strowberry dari kebun di villa, Khanif." Khanif memberikan tas oleh-olehnya pada mama.


"Ini buat, nak Rania aja."


Khanif lalu beralih pada Rania. "Tidak usah, ma. Khanif sengaja buat dua karena satunya untuk mama dan satunya untuk, Rania." Khanif pun memberikan satu tas oleh-oleh lagi pada Rania. "Ambillah, saya tahu kamu akan datang juga, jadi saya memberikannya juga untukmu."


Rania dengan canggung menerimanya. "Terima kasih, pak."


"Sama-sama."


Mama yang melihat interaksi mereka berdua pun sempat merasakan kehangatan sebelum kehangatan itu memudar tatkala ia kembali mengingat kalau Rania sudah hampir menjadi milik orang lain. Mama tersenyum kecil. Ia kasihan melihat anaknya harus berakhir seperti ini. Namun, Mama yakin, cepat atau lambat, Khanif akan menemukan kebahagiaannya sendiri.


"Ehem!" Mama menyadarkan mereka. Rania malu-malu sedangkan Khanif biasa saja. "Bisa kita pulang sekarang?"


Khanif dan Rania sontak mengangguk. Mereka bertiga pun keluar dari bandara dan menuju mobil yang ada diparkiran.


"Nak Rania ikut kerumah ya, kita makan bersama dulu," ujar mama setelah Khanif melajukan mobilnya meninggalkan bandara.


"Loh kok gitu, kalau nak Rania khawatir karena belum minta izin, nanti tante minta izinkan sama papa kamu."


"Rania udah minta izin tadi pulang terlambat, tapi ...," ucap Rania terpotong.


"Udah, ngga ada tapi-tapian. Kamu ikut aja ke rumah, ya. Tante engga enak loh udah buat, nak Rania nunggu lama baru ngga cobain masakan, tante." Mama tersenyum kecil.


"Baiklah, tan."


"Nah, gitu. Ayo pulang."


Mereka pun pergi ke parkiran mobil. Selama perjalanan, Rania merasa canggung. Ia merasa aneh saja jalan bertiga seperti ini. Ia merasa tengah berjalan dengan ibu mertua dan ..., Rania segera menggelengkan kepalanya. Mencoba membuang fikiran 'tidak mungkin' yang sempat hinggap dipikirkannya.


"Kamu pusing?" tanya Khanif yang tidak sengaja melihat Rania.


"Ti ... tidak, pak."

__ADS_1


Khanif mengangguk. Mama yang mendengarnya langsung saja mengait lengan Rania. Rania sempat menoleh sekilas pada mama. Ia sedikit terkejut dengan aksi mama ini. Namun ia juga sedikit senang karena Mama Adelin terlihat begitu khawatir meski tidak berkata apa-apa.


Sesampainya mereka diparkiran, Mama Adelin memberikan Khanif kunci mobil.


"Nak Rania duduk didepan aja ya, sama Khanif."


"Rania ...."


"Kenapa tidak mama saja?" komentar Khanif cepat.


"Mama mau duduk lebih leluasa," ujar mama singkat pada Khanif. Mama lalu kembali melihat Rania. "Nak Rania duduk didepan aja, ya."


Saat Rania hendak mengangguk, dikejauhan terlihat seorang lelaki berjaket trucker memanggil namanya sambil melambaikan tangannya. Rania lantas mengedarkan pandangannya mencari sumber suara yang telah memanggilnya dengan suara yang familiar.


"Kak Rey!" Rania tersenyum senang sampai memperlihatkan lesung pipinya. Rania lalu berlari menghampiri Reyhan, kakaknya. "Kakak datang, kenapa ngga bilang-bilang."


"Kalau kakak bilang nanti bukan kejutan lagi namanya."


"Jangan becanda, ih!"


"Kakak mendadak datangannya karena urusan pekerjaan. Jadi ngga sempat menghubungi adek atau orang rumah."


Rania mengangguk.


"Kenapa adek bisa sama mereka?"


"Oh itu, Rania temani tante Adelin kesini untuk jemput, pak Khanif," jelas Rania. "Ayo kita kesana, kak."


Rayhan pun mengikuti langkah kaki Rania. Syukurlah ia tepat waktu memanggil adiknya. Kalau tidak, pasti Rania telah ikut bersama mereka dengan Rania duduk didepan bersama Khanif.


Reyhan memang memiliki keahlian khusus yakni ia dapat dengan mudah membaca gerak bibir seseorang dengan cepat hingga tahu apa yang dikatakan meski dari jarak yang agak jauh. Jadi Begitulah tadi yang ia lakukan pada Mama Adelin, sehingga Rania bebas dari perkataan mama.


See, pada akhirnya Mama Adelin lah yang duduk didepan bersama Khanif dengan dirinya dan Rania yang duduk di kursi penumpang. Yah, memang Rania bebas. Namun, dirinya malah terperangkap untuk ikut ke rumah Mama Adelin untuk menikmati masakan yang telah dibuat oleh Mama.


...To be continued...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2