
Saat Rania tengah sibuk dalam pemikirannya sendiri, lagi-lagi Rania dikejutkan oleh deheman seseorang. Rania pun menoleh ke sumber suara. Ia begitu senang melihat seorang perawat hendak masuk ke dalam ruangannya dengan begitu sopan.
Apa ini karena status Reyhan disini? Entahlah, Rania juga tidak tahu. Yang penting saat ini ia begitu senang karena dengan datangnya kunjungan perawat ini, pasti akan mendatangkan berita yang menggembirakan. Namun, ia juga tahu kunjungan perawat ini membawa sesuatu hal yang tidak disukainya yakni meminum obat.
"Silakan masuk, sus."
Perawat itu pun masuk kedalam ruang inap Rania dengan senyum yang selalu terlihat diwajah cantiknya.
"Sus, apa obatnya bisa tidak diminum lagi? Saya rasa, saya tidak membutuhkannya lagi."
Si perawat menggelengkan kepalanya. "Anda harus tetap meminumnya agar bengkak di kaki Anda lekas sembuh. Lagi pula ini adalah pesan pak Reyhan agar Anda meminum obatnya."
Rania menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia tidak bisa menolaknya. "Baiklah sus."
Perawat itu pun memberikan Rania sebuah pil obat yang kecil. Setelah menerimanya, Rania memandang horor obat yang ditangannya itu. Ia seperti menimbang-nimbang saat yang tepat meminum obatnya agar ia merasa nyaman.
Ya, begitulah Rania. Ia menghabiskan banyak detik dahulu sebelum menelan obat kecil yang pahit itu. Rania pun lantas menelannya dan secepat kilat langsung meminum air yang telah disediakan oleh perawat itu juga.
"Terima kasih, sus."
"Sama-sama. Saya pamit dulu."
Rania mengangguk. Perawat itu pun keluar dari kamar inap Rania. Tidak lama setelah perawat itu pergi, pintu ruangan inap Rania kembali terbuka.
Dipintu terbuka itu, terlihatlah Khanif dan Davina. Rania senangnya bukan main dapat melihat Davina kembali. Ia mengira ia takkan pernah lagi melihat wanita yang telah dianggapnya sebagai teman gara-gara kejadian saat dirinya diculik.
"Davina sini," panggil Rania sambil melambaikan tangannya agar Davina segera mendekat.
"Bagaimana kabarmu?"
"Aku, lumayan baik lah daripada kemarin. Mungkin tidak lama lagi bengkak dikakiku akan mengempis."
"Iya semoga saja. Saya berharap begitu. Oh iya, sepertinya kami tidak bisa berlama-lama karena jam penerbangan kami telah ditentukan."
"Iya tak apa. Hati-hati dijalan. Tidak lama lagi aku pasti akan menyusulmu."
Davina tersenyum.
"Semoga lekas sembuh dan secepatnya bergabung kembali bersama kami," ujar Khanif.
"Iya pak. Pasti!"
"Baiklah kami pergi. Hubungi Davina saja kalau kamu sudah ada di bandara. Biar Davina bisa siapkan mobil."
"Tidak usah pak. Pasti mama dan papa akan menjemput kami."
Khanif mengangguk. "Baiklah kami pergi dulu."
Davina pun keluar lebih dulu dari kamar Rania diikuti dengan Khanif dibelakangnya. Saat Khanif tinggal sedikit lagi menutup pintu kamar inap Rania, tiba-tiba Rania bergumam, "tunggu saya kembali." Dengan wajah terpancar senyuman.
Khanif yang merasa mendengar sebuah suara, lantas kembali membuka pintu kamar Rania lebar-lebar dengan mengatakan, "kamu tadi berbicara suatu?"
Rania gelagapan. "Oh itu, tadi saya ... tadi saya ... itu tidak terlalu penting pak." Diakhir kata, Rania malah cengegesan.
Khanif tersenyum. "Selamat beristirahat." Ia pun menutup pintu kamar Rania.
Sedang didalam kamar, Rania mengusap-usap dadanya yang tiba-tiba berdegup cepat karena takut Khanif mendengar jelas ucapan pelannya tadi. Hampir saja ia dibuat mati kutu, jika Khanif meminta jawaban atas perkataannya itu.
__ADS_1
"Huft, hampir saja. Rania, kamu ceroboh sekali."
"Siapa yang ceroboh?"
Rania terlonjak kaget saat Reyhan tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan menanyakan tentang siapa yang dikatakan ceroboh.
"Oh itu, Rania ceroboh kak."
"Tentu saja kamu ceroboh."
Mendengarnya, membuat Rania kesal. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kakak bercanda."
Rania pun kembali memalingkan wajahnya ke arah Reyhan. "Kak, kapan kita pulang?"
"Bukannya kita sudah membahasnya tadi?"
"Aku ingin membahasnya ulang."
"Tidak. Kakak tidak mau mendengarnya."
"Aaa ... kakak ...."
"Ok, ok. Besok kita pulang."
Ah, kenapa tidak dari tadi Rania mengeluarkan jurus mautnya ini? Tahu begini, Rania pasti sudah mengeluarkannya dari tadi, sewaktu Reyhan pertama kali ada disini.
Namun jika kembali mengingatnya, Khanif juga disini sebelumnya, pasti hal itu akan membuat Rania malu besar karena sikapnya yang mungkin Khanif anggap terlalu kekanak-kanakan.
Fiuh, semua jadi serba salah didalam pikirannya. Tapi setidaknya, saat ini Reyhan telah mau mengikuti permintaannya walaupun ia harus bersandiwara menangis seperti ini.
Sepanjang hari itu, Rania habiskan dengan beristirahat total. Ia bagaikan anak yang patuh pada orang tuanya. Disuruh melakukan ini, ia lakukan. Disuruh menjauhi itu, ia lakukan tanpa bantahan.
Sungguh, Rania melakukannya dengan sangat baik. Bahkan Reyhan seperti tidak mengenali adiknya ini. Rania yang selalu manja, kini menjadi penurut seketika. Reyhan bahkan sempat berpikir kalau adiknya sempat terkatuk sesuatu saat Rania masih ditawan didalam rumah yang ada di tengah hutan pinus itu.
"Adik terkatuk sesuatu sampai berubah sejauh ini?"
Rania menggeleng dan mengatakan, "tidak! Rania akan jadi adik yang penurut mulai saat ini."
Reyhan memicingkan matanya. Ia sepertinya sudah menduga maksud Rania bersikap seperti kucing yang habis terkena air sambil senyum-senyum seperti ini. Reyhan telah menduganya. Apalagi kalau ujung-ujungnya Rania tidak meminta sesuatu hal yang sulit ditolaknya.
Belum juga ada semenit dugaannya yang terlintas pikirannya, Reyhan melihat Rania seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Sudah kakak duga. Pasti ada hal yang ingin adik minta, kan!"
Dengan tersenyum cengegesan, Rania mengangguk mengiyakan.
"Apa yang adik inginkan?"
Rania mencondongkan dirinya kedepan. "Rania ingin masuk kantor sehari setelah beristirahat dirumah."
Reyhan menghela nafas kasar. Ia juga sudah menduga sebelumya kalau Rania pasti akan meminta sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Tapi Reyhan tidak menduga kalau Rania ingin masuk kerja tanpa memikirkan kesehatannya dulu.
Dengan tegas Reyhan menolak, "tidak. Pokoknya tidak!"
"Kakak. Lagi pula pasti besok bengkak di kaki Rania udah mengempis. Jadi, tidak ada salahnya kalau Rania masuk kerja. Apalagi pasti kerjaan Rania menumpuk kayak gunung."
__ADS_1
"Apa?"
Ups, salah lagi. Bukannya Rania ingin menenangkan Reyhan, malah Rania kian membuat Reyhan khawatir.
Rania menepuk jidatnya seraya mengatakan dalam hati, "aduh. Bukannya untung malah dapat buntung. Gimana mau bebas kayak gini!"
"Sekali kakak katakan tidak, maka kamu tidak akan ke kantor sebelum kakimu sembuh. Titik!"
"Baiklah," ujar Rania singkat.
Tanpa Reyhan ketahui, Rania mempunyai rencana tersendiri dari kata-kata singkatnya itu. Biarlah hal ini menjadi kejutan bagi Reyhan nanti.
"Jangan coba mengelabui kakak ya."
"Untuk saat ini tidak akan."
Rania cengegesan.
***
Keesokan harinya, mereka telah berada di bandara dengan di antar oleh Elang, Macau, Kakatua dan Cendrawasih. Mereka semua mengantar kepergian Reyhan dan Rania.
"Selama saya tidak ada, kalian harus mematuhi perkataan Elang," ujar Reyhan sebelum berpisah dengan mereka berempat.
Serempak mereka mengatakan, "siap laksanakan perintah."
"Baiklah. Kalian boleh bubar."
"Hati-hati dijalan kapten, nona Rania," ujar Macau.
Rania dan Reyhan pun mengangguk. Setelahnya, mereka pun masuk ke tempat check in. Sedangkan Elang, Macau, Kakatua dan Cendrawasih, mereka berempat berjalan keluar bandara. Selama keluar bandara, Cendrawasih jadi teringat sesuatu. Ia pun mengatakan apa yang sempat terlintas dipikirannya.
"Akhirnya kapten telah menemukan sosok wanita yang dapat meluluhkan hatinya."
Tiba-tiba Elang, Kakatua dan Macau terkikik geli mendengar perkataan Cendrawasih yang belum mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Reyhan dan Rania.
"Kalian kenapa tertawa?" tanya Cendrawasih heran, sambil bergantian melihat teman-teman seperjuangan ini.
"Kamu belum tahu rupanya," komentar Kakatua.
"Belum tahu apa?"
"Nona Rania itu adalah adik kandung dari kapten kita," terang Macau.
"Apa!" seru Cendrawasih dengan suara tinggi.
Cendrawasih terkejutnya bukan main sampai hampir seluruh orang yang ada di bandara ini melihat mereka semua.
"Maaf, aku tidak sengaja." Cendrawasih tahu, ia sudah berlebihan. Namun untungnya, tidak ada orang pun yang tahu kalau mereka ada seorang tentara. Kalau tidak, pasti mereka membuat heboh lagi di bandara.
"Sudahlah, aku juga pernah berpikiran begitu," ujar Elang.
"Semoga secepatnya, kapten Reyhan menemukan tambatan hatinya."
Mereka serempak mengatakan amin. Bagaimana pun juga, mereka ingin melihat kapten mereka mendapatkan seorang tambatan hati secepatnya.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...