Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 90. Perlakuan Khusus Untuk Rania


__ADS_3

Hai, aku datang lagi nih. Kali ini aku mau berterima kasih banget sama @Sulastri Abdi karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.


Selamat Membaca Ya 🤗


...***...


Rania mengikuti arah pandang Khanif. Ia kemudian sadar kalau lagi-lagi tangannya memegang lengan Khanif tanpa sadar.


"Maaf, saya spontan saja," ujarnya seraya melepaskan tangannya dari Khanif.


"Tak apa. Apa yang ingin kamu katakan?"


"Mari makan siang bersama saya lagi disini," ajak Rania.


"Tidak, terima kasih."


"Ajakan ini sebagai tanda terima kasih saya karena sarapan pagi ini."


Khanif diam sejenak. Ia lalu teringat kalau hari ini ia ingin mendiskusikan masalah tentang Davina pada Abi, karyawan lelaki yang ia tugaskan untuk mencari tahu siapa yang telah menyebarkan berita tentang dirinya dan Davina.


Biar bagaimana pun, ia ingin segera meyelesaikan masalah adiknya esok hari. Ia tidak ingin lagi melihat kesedihan diwajah adik yang ia sayangi. Untuk itulah, Khanif tidak bisa menerima ajakan Rania.


"Tidak!"


Singkat, padat dan jelas. Setelah mengatakannya, Khanif berlalu dari hadapan Rania sekali lagi tanpa mengatakan alasannya. Toh, tidak penting juga Rania untuk mengetahuinya.


Namun nyatanya, meski Khanif mengatakannya dengan suara yang pelan, tapi hal itu sukses membuat Rania berkaca-kaca. Sungguh, Rania tidak menyangka kalau Khanif akan menolak ajakannya.


Ia mengira Khanif akan dengan senang hati menerima ajaknnya, jika mengingat bagaimana interaksi mereka di rooftop kantor ini. Namun dugaannya salah. Ia bahkan tetap terdiam ditempatnya berdiri meski Khanif tidak terlihat lagi.


Rania menghela nafas panjang untuk mengurangi rasa aneh yang tiba-tiba hinggap dihatinya. Setelah beberapa saat, Rania mulai beranjak dari tempat berdiri dan langsung menuju ke ruangannya sendiri. Ia berjalan lesu keruangan. Makan siang yang sengaja ia siapkan lebih banyak sepertinya harus ia habiskan sendiri.


Ia ingin mengajak Dian, tapi sepertinya Dian juga akan menolak ajakannya, sebab Dian bukan hanya semata pergi mengisi perut di cafetaria kantor, melainkan ada seorang lelaki yang tengah di incarnya. Dian pasti akan menolaknya.


Untuk David, ia juga ingin mengajaknya, tapi sepertinya ia akan merasa canggung kalau begitu. Pasalnya, meski sudah menganggap David sebagai teman, tapi ia tidak terbiasa berada didekat lelaki itu. Apalagi David berbeda dengan Khanif yang sejak awal sudah ia kenal. Rania lagi-lagi bimbang.


Saat Rania baru tiba di ruangan keuangan, Dian yang hendak menuju pantry pun merasa aneh saat melihat Rania begitu lesu berjalan ke meja kerjanya. Dian lantas mendekati Rania untuk menanyakan sebab Rania menjadi tidak bersemangat. Jika dengan mengetahuinya, ia bisa membantu.


"Kamu kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


Rania menoleh. "Tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa, apanya. Wajah kamu persis kertas kusut gitu."


"Benarkah?" Rania lagi-lagi menghela napas. Namun kali ini ia menghela napas yang pendek. "Kamu ngga usah khawatir, entar juga akan baikan kok."


Dian menepuk pundak Rania. Ia tidak ingin memaksa lagi untuk bertanya karena bisa jadi Rania akan menjadi tidak suka ataupun tidak nyaman dengannya. Meski hanya teman kantor, tapi Dian tetap ingin menjaga pertemanan mereka. Biar bagaimana pun, Rania bisa ia anggap sebagai saudara didalam dunia perkantoran.


"Aku ingin ke pantry untuk membuat segelas kopi. Kamu mau nitip? Teh atau kopi?" tanya Dian menawarkan. Siapa tahu dengan segelas teh atau kopi, mood Rania bisa kembali baik.


"Tidak, terima kasih."


"Baiklah, semangat dalam bekerja. Kalau begitu, aku ke pantry dulu."


Rania mengangguk sebagai jawabannya. Rania pun kembali melajukan langkah kakinya menuju meja kantornya sendiri. Disana, ia kembali mengecek data-data keuangan yang telah ia kerjakan kemarin. Meski sudah benar, tapi tidak ada salahnya Rania kembali memeriksanya lagi sebagai pembuka awal kerjanya hari ini.


Setelah itu, Rania pun menutup tab hasil kerjanya kemarin dan memulai mengerjakan tugasnya dengan baik dan santai hari ini. Ia mengerjakannya begitu fokus. Sehingga Dian yang baru tiba dengan secangkir kopi ditangannya merasa heran saat melihat Rania yang mood-nya cepat berubah.


Dian menggelengkan-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Rania. Setelah duduk dan menyimpan kopinya ditempat yang aman, Dian juga ikut larut dalam kerjaannya.


***


Khanif sibuk mengerjakan proposal bisnisnya saat mama menelpon dirinya untuk membiarkan Rania ikut dengan mama ke pusat perbelanjaan sore nanti.


"Mama maunya sekarang kamu pergi tanya Rania. Jangan nanti-nanti, entar kamu lupa."


"Baiklah. Khanif hubungi Rania dulu dan managernya," ucap Khanif mengikuti ucapan mama. Lagi pula ia juga sudah janji sebelumnya. Belum lagi ia sangat ingin melihat sebuah senyuman di wajah Davina saat pulang nanti.


"Sudahlah. Mama tutup sekarang. Entar sore mama ke kantor menjemputnya. Assalamu'alaikum."


Belum juga Khanif membalas salam mama, mama sudah lebih dahulu memutuskan sambungan teleponnya. Khanif pun menjawabnya dengan pelan meski mama sudah tidak mendengarnya lagi.


"Wa'alaikumsalam."


Khanif lalu menghubungi manajer keuangan untuk memberikan Rania izin pulang cepat sore ini. Meski dirinya bisa memberikan perintahnya sesuka hati, namun ia tidak ingin melakukannya.


Ia merasa tidak bisa seenaknya mengambil keputusan sendiri. Siapa tahu, Rania mempunyai tugas yang harus segera diselesaikan didalam divisi keuangan! Siapa yang tahu, kalau Khanif tidak meminta izinkan buat Rania.


Setelah intekom mereka tersambung, Khanif pun mengatakan kalau ia ingin minta izinkan Rania untuk sore ini saja agar bisa pulang lebih awal. Pak manajer yang mendengarkan dengan jelas perkataan Khanif ini, tiba-tiba saja menjadi canggung. Sungguh, suatu kehormatan kalau ia mengizinkan Rania.

__ADS_1


Lagi pula, ia juga tidak mempunyai kuasa untuk tidak mengizinkan Rania sore ini sesuai permintaan atasannya langsung itu. Apalagi Khanif adalah atasan yang baik. Ia bahkan perhatian dengan semua karyawannya. Meski terkadang dingin, namun hal itu tidak menutupi kalau Khanif adalah orang yang baik dan perhatian. 


"Oh iya, jangan bilang kalau semua ini karena perkataan saya. Bilang saja padanya kalau dia telah bekerja giat, jadi perushaan memberikannya izin pulang cepat hari ini."


"Siap, pak. Bapak jangan khawatir, saya akan mengatakannya sesuai arahan bapak barusan.


"Hem. Baiklah, selamat bekerja kembali."


Khanif pun menutup sambungan intekom-nya. Di lain pihak, pak manajer memanggil Rania untuk ke ruangannya. Karena ada yang ingin disampaikannya saat ini juga.


Rania lantas mengetuk pintu ruangan managernya. Setelah dipersilakan masuk, Rania melangkahkan kakinya ke dalam.


"Bapak memanggil saya?" tanya Rania.


"Hem. Duduklah lebih dahulu."


Rania mengangguk. Namun ia sedikit cemas, terbukti dengan dirinya yang meremas jari-jarinya. Ia takut kalau ia dipanggil kemari karena masalah pekerjaan yang mungkin Rania telah kerjakan. Namun perlahan kecemasan Rania sirna saat melihat manajernya ini tersenyum padanya.


Apa ada seseorang yang pernah berbuat salah terus mendapatkan sebuah senyuman dari orang yang telah memanggilnya? Tentu saja tidak. Tapi Rania masih saja deg-degan karena manajernya ini belum juga membuka percakapan.


Setelah beberapa menit menunggu karena sang manajer menyelesaikan hasil pemeriksaannya tentang keuangan kantor, pak manajer pun mendongkak Rania, lalu kedua tangannya saling bertautan diatas meja kerjanya.


"Saya lihat akhir-akhir kamu telah bekerja keras meski kamu pernah sakit. Untuk itu, saya memberimu izin pulang cepat sore ini."


Rania melongo dibuatnya. Bagaimana tidak, ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini.


"Bapak serius?" tanyanya rada tidak percaya. Pasalnya, ia tahu, ia adalah orang pertama yang diperlakukan seperti ini di bagian keuangan.


"Tentu saja. Baiklah, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Kamu bisa keluar sekarang."


Rania mengangguk. "Terima kasih, pak."


Rania pun berlalu keluar dari ruangan manajernya. Ia keluar dengan hati yang seperti ingin terbang saja. Pasalnya, ia sudah mempunyai rencana dadakan yakni pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli keperluan dirinya yang sudah mulai menipis. Ah, hanya ia bisa bersantai di hari-hari yang sibuk ini.


Saat Rania baru saja keluar dari ruangan manajer keuangannya, ia dikejutkan dengan seorang lelaki yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Hal itu sukses membuat Rania membulatkan matanya tanpa sadar.


"Bagaimana bisa?"


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2