
Sesaat Rania masuk ke dalam, netra matanya langsung saja bersitatap dengan netra mata hazel yang sudah lama tidak di lihatnya. Seketika itu, membuat mata Rania berkaca-kaca.
"Ra, kamu kenapa diam disini?" tanya Dian yang mendapati Rania hanya berdiri di pintu masuk tanpa mengikuti teman lainnya yang sudah lebih mendahuluinya.
"Tidak apa-apa. Kamu duluan aja sama yang lain. Aku ada perlu sebentar."
Setelah mengatakannya, Rania pun berjalan ke arah pemilik mata hazel yang tadi bertatapan tidak sengaja dengannya.
Dian yang tidak tahu menahu kalau ternyata mereka satu restoran dengan Khanif, langsung saja melihat ke arah jalan Rania. Dari sanalah ia menduga kalau Rania pasti pergi menghampiri Khanif.
Tidak ingin membuat semua teman-temannya tau, Dian secepat mungkin mengalihkan perhatian mereka dengan mengajak mereka ke tempat yang sudah di pesan secepat mungkin.
"Ayo, ayo. Kita kesana cepat. Aku udah ngga sabar mau pesan makanan terenak di restoran ini," katanya seraya merangkul teman wanitanya seraya mempercepat langkah kakinya.
Sedang disisi lain, Rania kian dekat saja dengan Khanif. Sesampainya disana, ia lalu menyapa Khanif dengan senyuman terbaik yang ia punya.
Salah seorang lelaki yang duduk didepan Khanif yang merasa familiar dengan wajah Rania pun pada akhirnya memastikan apa yang terlintas dipikirannya saat ini.
"Kamu Rania, kan?"
Rania lantas menganggukkan kepalanya pelan tanda mengiyakan.
"Loh, loh, kamu Rania?" tanya seorang lagi dengan pandangan tidak percaya.
Pasalnya, ia dulu tau kalau Rania adalah gadis yang gemuk dan berwajah kasar dengan banyaknya jerawat yang ada di wajahnya. Namun apa ini? Gadis berdiri dengannya saat ini berbeda dengan gadis yang pernah ia kenal beberapa tahun lalu.
Gadis yang berdiri didepannya saat ini seperti gadis yang berada didalam negeri dongeng. Cantik, manis dan mempesona.
Ia bahkan tanpa sadar mengatakan, "cantik." Namun ia buru-buru membekap mulutnya sendiri saat ia tidak sengaja bersitatap dengan Khanif.
Mana mau ia membuat masalah dengan Khanif! Mau di omeli dia!
"Maaf dik Rania," ujarnya yang terdengar akrab. "Kakak ngga sengaja loh bilang seperti itu."
"Ngga papa kak."
"Kamu mencari Khanif kan?" tanya yang tidak penting, tapi mendapat anggukan kepala dari Rania.
"Ada perlu apa mencariku?" tanya Khanif yang malah mendapat gerutuan dari teman-temannya.
"Lah, Khanif. Kamu gimana sih! Rania pasti mencari kamu karena ada sesuatu yang ingin ia katakan sama kamu."
"Iya, nih anak ngga ada syukurnya udah di cari sama bidadari bumi."
"Kalau aku yang di cari, aku pasti langsung mengiyakan."
Semua perkataan dari ketiga temannya itu malah membuat Khanif menghela napas pendek.
"Kalian ada-ada saja," responnya. Khanif lalu beralih pada Rania yang memilih diam seraya melihat ketiga kakak kelas yang dulu baik padanya juga.
"Ayo kita bicara disana saja," ajak Khanif.
Khanif pun lebih dahulu berjalan ke luar restoran dengan diikuti Rania dibelakangnya.
Ketiga teman Khanif yang memang terbilang jahil itu pun hendak mengikuti mereka untuk mendengar percakapan yang terjadi diantara mereka nanti. Namun saat ketiga teman Khanif itu hendak berdiri, sudah lebih dahulu langkah kaki mereka tertahan dengan sms yang masuk di grup chat mereka.
Tentu saja mereka mengikuti perkataan yang Khanif kirim di grup. Jika tidak, makanan yang mereka telah pesan ini, harus mereka bayar masing-masing. Tentu saja mereka memilih mengikuti perkataan Khanif dibanding harus membayar makanan yang terbilang mahal itu.
__ADS_1
Ya, walaupun sebenarnya mereka bisa membayarnya. Namun jika ada yang gratis, kenapa tidak!
Lalu dengan lesu, mereka pun kembali menyantap makanan mahal yang sengaja mereka pesan.
Berbeda dengan Khanif dan Rania, setelah mereka diluar restoran, mereka tetap diam di menit pertamanya. Hingga Khanif yang merasa kalau Rania akan tetap diam, akhirnya memilih membuka percakapan lebih dahulu.
"Ada apa kamu mencariku?"
"Saya hanya ingin mengetahui keadaan bapak."
"Aku sudah tidak apa-apa. Seperti yang kamu lihat. Kalau itu saja yang ingin kamu ketahui, aku masuk duluan."
Saat Khanif hendak beranjak pergi, Rania lantas menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu!"
"Hem. Ada apa lagi?"
"Kenapa bapak tidak pernah masuk kantor setelah bapak tau kalau diri bapak sudah baikkan?"
"Aku sedang fokus mengatur acara reuni sekolah yang akan diadakan minggu ini. Kamu taukan."
"Hem, tau. Tapi ... tapi saya rasa bukan karena itu bapak tidak kekantor."
"Maksudnya?"
"Bapak tidak pernah datang ke kantor karena menghindari saya kan?" tanya Rania begitu lancar tanpa takut kalau Khanif akan menertawakannya karena terlalu kege'eran.
"Kamu ada-ada saja. Untuk apa juga aku menghindarimu? Apa coba untungnya buatku?"
Ah, sudahlah. Sepertinya Khanif harus memberitaukan alasan sebenarnya pada Rania agar Rania tidak salah paham terus padanya.
"Aku tidak pernah datang karena dalam reuni kali ini, ada sesuatu hal yang sangat spesial yang akan terjadi disana. Tentu saja aku yang notebenya adalah ketua dari acara reuni sekolah mendatang, harus memeriksa semua kesiapan itu agar nanitnya saat waktu spesial itu terjadi, tidak ada satu kesalahan pun yang terjadi nantinya. Paling tidak, semuanya dapat berjalan lancar tanpa hambatan apapun."
"Waktu spesial apa itu?" tanya Rania penasaran tingkat tinggi.
"Emm, kamu tidak boleh tau. Kalau kamu penasaran, kamu datang saja nanti. Baiklah. Itu saja yang bisa aku katakan. Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan, aku duluan masuk ke dalam. Pasti teman-teman yang lain sudah menunggu kedatanganku. Begitu pula dengan dirimu."
Khanif lalu pergi meninggalkan Rania yang masih terbengong dengan ucapannya. Namun baru beberapa langkah, ia kembali berbalik melihat Rania yang tidak memiliki tanda-tanda kalau akan segera mengikutinya.
"Rania!" panggilnya. "Ayo masuk."
Rania pun mengangguk canggung. Ia lalu mulai mengikuti langkah kaki Khanif. Saat mereka sudah ada didalam restoran, mereka pun berpisah disana.
Khanif kembali ke teman panitia acara reuni sekolah, sedang Rania pergi ke teman kerjanya.
"Rania! Kamu dari mana aja sih!" tanya salah seorang teman kerjanya.
"Maaf, aku tadi ketemu sama kakak kelas. Jadi ngga enak kalau aku tidak pergi menghampiri mereka."
"Oalah gitu rupanya. Jadi kita udah bisa mesan makanan dan minuman nih!"
"Iya pesan aja. Silakan."
Salah seorang dari mereka lantas melambaikan tangannya pada seorang pelayan.
Tidak lama kemudian, pelayan restoran itu pun pergi menghampiri mereka untuk mencatat pesanan.
__ADS_1
Mereka semua pun mulai membuka buku menu dan mulai memesan makanan dan minuman mereka.
Setelah semuanya telah memesan, pelayan restoran itu lantas mengatakan, "mohon tunggu sebentar untuk pesanan Anda semua."
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka telah datang. Mereka pun lantas mulai acara makan bersama sore ini. Acara makan yang sebenarnya adalah acara perpisahan mereka dengan Rania.
Setengah jam kemudian, makanan maupun minuman di meja telah tandas tak tersisa. Hingga secara bertahap, satu persatu dari mereka pun pamit pulang lebih dahulu karena hari mulai terlihat gelap.
Sesaat mereka semua telah pergi, meninggalkan dirinya dan Dian, Rania pun berlalu pergi ke meja kasir untuk membayar tagihan makan mereka.
Dian yang melihat biaya yang harus dikeluarkan oleh Rania pun sukses membulatkan matanya tak percaya.
"Ra, beneran harga itu yang harus kamu bayar?" tanyanya pelan seperti berbisik di telinga Rania.
"Hem. Kenapa?"
"Ngga papa. Aku ngga nyangka aja kalau kamu harus membayar tagihan makanan kami sebanyak itu."
"Udah ngga papa. Sekali-kali aja kan ngga papa."
"Ah, iya. Kamu benar."
Setelah membayarnya, kedua wanita itu pun berlalu keluar dari restoran.
Sesaat mereka pun telah sampai di parkiran mobil. Saat Rania hendak naik ke motor Dian, sebuah mobil suv berwarna putih berhenti tepat disamping mereka.
"Pak Khanif," seru Dian pelan.
Khanif yang menurunkan kaca mobilnya membuat Dian kembali bertanya.
"Ada apa pak?"
"Rumah kalian saling berlainan arah dari sini kan?" tanya Khanif langsung membuat Dian menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu, Rania ikut di mobilku saja."
"Tidak perlu pak. Aku ngga masalah kok."
"Iya, sama."
"Ini bukan pernyataan, tapi perintah. Ayo cepat masuk!"
Rania lantas melihat Dian seperti meminta persetujuan.
"Udah kamu ikut aja sama pak Khanif. Gih, sana."
"Kamu hati-hati dijalan ya kalau gitu."
"Hem. Kamu pun sama."
Setelah Rania masuk ke dalam mobil Khanif, Khanif pun melajukan mobilnya ke arah rumah Rania.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1