
Hai, maaf ya baru up lagi.
Selamat membaca 🤗🤗🤗
...***...
Hari senin tiba begitu cepat bagi Khanif dan Rania. Tentu saja mereka akan mulai bekerja lagi dan beraktivitas seperti biasa.
Sesaat ini pun mereka telah berada kursi masing-masing. Memulai kerja yang begitu menyibukkan karena liburan yang begitu lama.
Setelah beberapa saat saling berdiam diri ditempat masing-masing, Rania lantas masuk ke dalam ruangan Khanif untuk memberitaukan kalau sebentar lagi mereka akan keluar menemui seorang yang nantinya akan menjadi teman bisnis Khanif.
Lagi, sesampainya Rania di depan pintu ruangan Khanif, ia lantas mengetuk pintunya. Setelah mendengar kata masuk, ia baru memutar knop pintu, lalu masuk ke dalam ruangan Khanif.
"Ada apa?" tanya Khanif setelah Rania berdiri didepan mejanya.
"Sebentar lagi kita akan pergi pertemuan dengan teman bisnis bapak."
"Apa semua berkasnya udah siap," tanya Khanif selepas Rania memberitaukan dirinya.
"Iya, pak."
"Baiklah, ma chérie ...."
Rania berdehem. Ia sengaja melakukannya agar Khanif tau tempat untuk memanggilnya seperti itu dan tidak.
"Kenapa?" tanya Khanif heran dengan Rania yang tiba-tiba berdehem. "Kamu sakit, ma chérie?"
"Emm, pak. Maaf sebelumnya. Saya hanya ingin mengingatkan kalau saat ini bapak dan saya sedang ada di kantor bukannya di rumah," ujar Rania membuat Khanif tertawa kecil.
"Maaf, ma chérie. Aku sudah terbiasa."
Rania lantas melihat Khanif dengan pandangan yang sulit Khanif artikan.
"Baiklah-baiklah. Kakak sengaja melakukannya."
"Mohon untuk tidak memanggil saya dengan seperti itu saat kita masih ada di kantor atau dalam pekerjaan."
"Baiklah. Aku setuju. Kalau begitu, lima menit lagi kita akan berangkat."
"Baik, pak. Kalau begitu saya permisi."
Belum juga Rania mencapai pintu keluar, Khanif kembali usil pada Rania dengan memanggilnya dengan panggilan kesayangannya.
"Ma chérie."
Sontak saja Rania berbalik. Ia lantas tersenyum memaksakan, lalu sedetik kemudian ia berkata, "bapak Khanif yang terhormat, istri Anda saat ini sedang berada di rumah menunggu kepulangan Anda. Sekian informasi dari saya."
Sekeluarnya Rania dari ruangan Khanif, Khanif lantas berkata pelan pada dirinya sendiri.
"Apa memanggil istri sendiri tidak boleh?"
__ADS_1
***
Lima menit telah berlalu dengan cepat. Khanif pun keluar dari ruangannya untuk pergi bersama Rania ke sebuah restoran tempat pertemuan dirinya dan teman bisnisnya itu.
Sesaat mereka telah berada di lobi, para karyawan yang melihat mereka keluar bersama, jadi tersenyum. Namun ada pula yang mendatangi mereka untuk memberikan selamat karena tidak sempat hadir di pernikahan mereka.
Tentu saja Khanif mau pun Rania menyambut hangat ucapan para karyawan itu.
Setelahnya, mereka pun segera bergegas ke tempat pertemuan dengan Khanif yang menyetir mobil.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka telah sampai disana. Khanif lantas bergegas keluar dari mobil untuk membukakan Rania pintu. Namun terlambat, Rania sudah lebih dahulu keluar dengan senyuman kecil yang sengaja ia perlihatkan pada Khanif.
"Kita masuk, pak."
Khanif menganggukkan kepalanya pelan. Lalu berikutnya, Khanif pun memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir sebelum masuk ke dalam restoran bersama Rania.
Khanif dan Rania pun langsung saja menuju ruang privasi. Sesampainya disana, Rania mengetuk pintu sebelum membuka knop pintu dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Khanif yang berjalan lemas.
"Selamat pagi, saya Rania yang telah membuat janji dengan Anda," ujar Rania memperkenalkan diri pada sosok wanita cantik didepannya.
"Pagi Rania. Saya Caroline." Wanita berambut pirang itu lantas melihat ke arah Khanif. "Anda pasti tuan Khanif."
Khanif tersenyum. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Caroline untuk memperkenalkan dirinya secara langsung.
"Saya Khanif. Senang bertemu dengan Anda."
Tentu saja Caroline menyambut baik uluran tangan dari Khanif. Ia bahkan tersenyum senang dan bersalaman sangat lama dengan Khanif, hingga membuat Rania sengaja berdehem untuk menyadarkan mereka berdua.
"Tak apa."
"Tidak apa?" pekik Rania dalam hati. Tentu saja ia cemburu melihat wanita didepannya ini seperti tengah tertarik pada Khanif.
"Hei, dia itu suamiku!" Rania ingin sekali berteriak memberitaukan kalau lelaki didepannya ini adalah suaminya. Namun karena alasan pekerjaan, ia harus menahan rasa kecemburuannya itu.
Lagi pula, ia juga sudah memberitau Khanif kalau dirinya harus membedakan antara urusan pekerjaan dan pribadi. Kalau dirinya saat ini mengatakan kalau ia adalah istri dari Khanif karena alasan kecemburuan, bukannya itu sama saja dengan tidak profesional dalam bekerja dan itu sama saja melanggar ucapannya pada Khanif? Sepertinya begitu.
Setelah beberapa detik memperkenalkan diri, Caroline lantas mempersilakan mereka untuk duduk.
"Oh, iya silakan duduk," seru Caroline kemudian.
Khanif dan Rania lantas duduk berdekatan dengan Caroline yang duduk didepan mereka.
"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum memulai urusan bisnis kita," usul Caroline.
"Terserah Anda."
"Baiklah tuan Khanif."
"Panggil saja Khanif," potong Khanif cepat.
"Ah, iya. Kamu mau pesan apa, Khanif?" tanyanya.
__ADS_1
Khanif pun menyebutkan pesanannya dengan lancar. Begitu pula dengan Rania saat Caroline bertanya padanya.
Setelah itu, Caroline pun memberikan pesanan mereka pada pelayan restoran.
Tidak lama setelah itu, pesanan mereka semua tiba. Tentu saja mereka menikmati makanan itu.
Namun tidak bagi Rania. Ia seperti memaksakan makanan itu masuk ke dalam kerongkongannya di saat wanita didepannya ini seperti sengaja mencari-cari perhatian Khanif.
Seperti meminta tolong pada Khanif untuk memotongkan steaknya.
Hei? Apa steak di restoran ini sangat keras hingga harus meminta tolong pada orang lain?
Tidak! Rania tidak dapat diam seperti ini lagi. Ia lantas menawarkan diri untuk membantu Caroline memotong steaknya.
"Biar saya saja yang memotong steak Anda. Untuk hal sekecil ini, saya adalah jagonya," tutur Rania membuat Khanif diam-diam tersenyum.
"Oh, tidak. Terima kasih. Saya potong sendiri saja," katanya sambil menarik kembali piring steaknya. Tentu saja ia harus melakukannya karena ia hanya ingin Khanif yang melakukannya saja bukan sekretaris Khanif.
Sedang Rania tersenyum simpul. Ia lalu melirik Khanif sejenak sebelum ia kembali menyantap makanannya dengan penuh berselera.
Setelah mereka makan bersama, pelayan restoran pun datang untuk membersihkan meja makan mereka. Lalu setelahnya, mereka mulai fokus untuk berkerja sama.
Sekitar dua jam lebih, akhirnya pertemuan bisnis itu pun selesai juga. Namun Caroline tidak lantas mengakhiri pertemuan ini karena dirinya masih ingin bercakap-cakap dengan Khanif.
"Oh iya, Khanif. Saya dengar Anda sudah menikah. Selamat ya."
"Terima kasih."
"Dasar wanita! Dia ternyata udah tau kalau kak Khanif udah menikah, tapi masih sengaja ingin mencari perhatian pada kak Khanif," gerutu Rania dalam hati sambil bergantian melihat Khanif dan Caroline yang tersenyum satu sama lain.
"Kalau boleh tau, nama istri Anda siapa?"
"Namanya adalah Rania."
Caroline lantas melihat ke arah Rania.
"Dia adalah istri Anda juga?" tanya Caroline sambil menujuk Rania yang telah tersenyum kecil. Pasalnya, Caroline tau kalau nama sekretaris Khanif adalah Rania juga. Apa mereka adalah orang yang sama?
...To be continued ...
Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin
Yuk mampir juga di cerita aku yang baru judulnya "Cintai Aku atau Tidak"
Cara mencarinya, cari aja di pencarian dengan mengetik judul ceritanya atau kalian buka profil aku dan lihat pada bagian karya. disana, sudah ada cerita ini loh! udah sampai bab lima juga. pokoknya, nyesel kalau ngga baca.
Sampai jumpa di ceritaku yang lain, ya!
...By Siska C...
__ADS_1