Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 81. Kejutan Yang Tak Terduga


__ADS_3

Rania pun berlalu dari hadapan mereka berdua. Saat Rania tinggal memutar knop pintu untuk pergi dari rooftop kantor, Rania menolehkan wajahnya sekilas. Namun sepertinya ia menyesal karena telah menolehkan wajahnya itu.


Bagaimana tidak, pemandangan saat ini terlihat lebih dari saat Davina tiba-tiba memeluk Khanif dan menenggelamkan wajahnya di dada Khanif. Pemandangan disana, membuat hati Rania seketika berdenyut nyeri.


Rania melihat mereka berpelukan, namun Khanif ikut membalas pelukan Davina. Tidak seperti tadi, Khanif yang hanya berdiri tanpa balas memeluk Davina. Mungkin saat itu dirinya masih ada. Jadi, Khanif masih menjaga prilaku didepannya.


Tidak ingin hatinya bertambah nyeri, Rania pun membuka knop pintu. Namun saat pintu baru saja tertutup, entah mengapa air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Ia bahkan sudah beberapa kali menghapusnya, tapi sepertinya air matanya itu tidak ingin diajak kompromi olehnya.


Rania pun berlalu dari sana dengan menggunakan tangga darurat agar tidak ada seorang pun yang melihatnya menangis. Lagi pula, kemungkinan saat ini matanya sudah sembab. Untuk itulah, ia memilih jalan terlama dan berat. Biarlah ia merasakan kakinya pegal, jika dengan tindakannya itu tidak ada orang yang melihat dirinya seperti ini.


Akhirnya setelah sekian lama berjalan di tangga darurat seorang diri, Rania pun sudah mulai terbiasa. Bahkan kini air matanya sudah mengering. Sebelum ke tempat duduknya, Rania langsung menuju wc untuk mencuci wajahnya. Saat Rania keluar dari wc, Rania kaget melihat Dian yang seperti sengaja menunggunya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Ada seorang lelaki yang menunggumu di lobby kantor."


"Siapa?"


"Kalau tidak salah namanya Zaky."


"Zaky?" tanya Rania menegaskan.


Dian menganggukkan kepalanya. Rania pun berlalu dari hadapan Dian dan bergegas menuju lobby kantor.


Disisi lain, Khanif masih saja mencoba menenangkan Davina yang masih saja sesegukan. Ia tahu, ia harus bertindak cepat dalam menyelesaikan masalah ini. Biar bagaimana pun, ia tidak ingin lagi melihat Davina sampai seperti ini.


Sungguh, ia sangat menyayangi Davina. Untuk itulah, ia akan menyelidiki mengapa Davina menjadi seperti ini dan apa penyebabnya. Siapa pun itu, Khanif tidak akan melepaskan mereka dengan mudah.


"Kita pulang ya," ajak Khanif membuat Davina menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin pulang dengan keadaan dirinya yang kacau seperti ini. Apalagi jika sampai mendengar lagi kata-kata menyakitkan seperti tadi sepanjang jalan. Sungguh, ia tidak bisa mendengarnya lagi. Serasa telinganya sudah tidak bisa menampungnya lagi!


"Tak apa, aku akan menjagamu sepanjang jalan," ujar Khanif menenangkan.


Akhirnya Davina menganggukan kepalanya, namun ia tiba-tiba merasa tengang. Ia ingin barang-barangnya masih ada didalam ruangannya.


"Tas aku?"


"Nanti aku akan suruh orang lain membawakannya."


"Tidak, kalau begitu biar aku saja."


"Tenang, yang aku suruh adalah orang yang baik dan bisa dipercaya."


Setelah Davina merasa agak tenang, mereka pun pergi dari rooftop kantor. Saat mereka sudah ada didalam lift kaca, Khanif menghubungi Lisa untuk membatalkan semua jadwalnya yang masih tersisa karena ia tidak akan kembali ke kantor lagi setelah mengantar Davina pulang.


Khanif begitu melindungi Davina. Saat masih di lift pun Khanif merangkul Davina seperti tidak membiarkannya menjauh sedikit pun. Bahkan saat mereka sudah berada di lobby, Khanif makin terlihat melindungi Davina.


Tidak jauh dari Khanif dan Davina yang berjalan keluar kantor, Rania yang masih berbicara dengan Zaky pun teralihakan. Ia memandangi mereka berdua yang berjalan begitu dekat bahkan Khanif sampai merangkul Davina.


Melihatnya, hatinya kembali sakit. Sepertinya perasaan masa sma-nya belum juga hilang sampai sekarang. Namun mengetahui kalau dirinya masih mempunyai perasaan lama itu, Rania pun buru-buru ingin melupakannya.


Biar bagaimana pun, mereka bukan lagi anak remaja yang mengejar cinta pertama. Mungkin diluaran sana masih ada seseorang yang menginginkan dirinya. Untuk itulah, ia berjanji mulai dari saat ini, ia akan mulai membuka hatinya untuk siapapun dengan hati yang baik dan dapat menjaganya.

__ADS_1


"Rania, kamu kenapa?" tanya Zaky mencoba menyadarkan Rania yang terus saja melihat Khanif dan Davina yang hampir menghilang dari pandangannya.


Rania kembali menoleh. "Oh, tidak apa-apa."


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Nanti malam aku jemput ya. Kamu harus tampil ...."


"Cantik," tebak Rania.


"Tentu saja, harus seperti itu. Baiklah kamu kembali bekerja, gih!"


"Hem. Kamu hati-hati dijalan."


"Aku pulang."


Zaky pun pergi dari hadapan Rania. Sungguh Rania heran dengan prilaku Zaky. Bisa sajakan Zaky mengirimkannya pesan singkat yang memberitahukan kalau Zaky ingin mengajak dirinya untuk pergi nonton film di bioskop malam ini. Tidak perlu sampai Zaky datang hanya untuk mengatakannya.


Rania menggelengkan kepalanya pelan, mengetahui kelakuan Zaky ini. Namun, ia tiba-tiba berhenti berjalan saat mengetahui suatu hal. Tidak ada lelaki yang mau melakukan hal kecil ini, jika lelaki tersebut tidak mempunyai perasaan lebih dari sekedar teman.


Mengetahui fakta baru ini, Rania cepat-cepat membekap bibirnya sendiri. Sungguh ia tidak pernah menduganya. Ia mengira kalau selama ini mereka hanya sebatas teman saja, tidak lebih.


Tapi sepertinya Zaky tidak menganggapnya demikian. Bahkan mungkin Zaky telah menyimpan rasa padanya sejak pertemuan mereka kala itu. Waktu dimana Zaky pertama kali menolongnya karena hampir terjatuh akibat tersandung kaki dari teman Tasya.


Hari ini benar-benar diluar dugaannya. Pertama saat ia mengetahui kedekatan Khanif dan Davina. Kedua adalah saat ia tahu kalau Zaky menyimpan sebuah rasa padanya. Rania menghela nafas panjang nan berat. Ia tidak menyangka harinya dipenuhi kejutan-kejutan yang luar biasa mengguncang hati dan perasaannya.


Tidak ingin larut dalam pemikiran yang mencampur adukkan hati dan pikirannya, Rania pun bergegas kembali ke ruangannya untuk mengerjakan sebuah laporan keuangan. Sesampainya Rania diruangan keuangan, bukannya mendapat ketenangan, Rania malah mendapat banyak pertanyaan dari Dian.


Ya, Rania tahu Dian adalah sosok yang juga mempunyai keingintahuan yang tinggi, tapi Dian juga sosok yang baik dapat menjaga rahasia orang lain. Untuk itulah Rania bisa dekat dengannya dan sudah menganggap Dian sebagai temannya.


"Ra, siapa lelaki bernama Zaky itu?" tanya Dian seraya menaikkan alisnya satu tanda sedang menggoda dirinya.


"Yakin?" godanya lagi.


Rania mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi dari yang ku ketahui, tidak ada lelaki yang rela datang kesini hanya untuk bertemu tanpa mengajak ke suatu tempat gitu."


"Udah jadi cenayang-nya."


"Loh, berarti dugaan aku bener dong. Kamu diajak ke mana?" tanya Dian antusias.


"Rahasia," ujar Rania sambil berlalu dari hadapan Dian. Pasalnya, ia malu jika harus memberitahunya kalau Zaky mengajak dirinya pergi ke bioskop malam ini.


"Udah pinter main rahasia-rahasiaan sama aku. Baiklah, aku ngga bakalan jadi kepo lagi. Selamat menikmati malam ini."


Rania menoleh dan senyum menanggapi. Ia pun berjalan ke tempat duduknya dan mulai mengerjakan tugasnya sampai jam pulang kantor tiba.


Setelah lama berkutat dengan setumpuk laporan keuangan didepan komputer, akhirnya tugas Rania selesai juga. Ia pun mulai membereskan meja kerjanya yang terlihat berantakan. Setelah semua selesai. Rania lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Udah selesai, Ra?" tanya Dian.


"Iya. Kamu juga?"

__ADS_1


"Hem. Kita turun bersama aja," ajaknya.


Dian pun segera membereskan meja kerjanya. Baru setelah itu, mereka berdua pun berlalu dari ruangan keuangan menuju lobby kantor.


"Sepertinya kamu ngga bawa kendaraan lagi. Apa kamu mau dijemput sama si tuan tampan itu?"


"Siapa?"


"Ya elah, Zaky-lah. Emang siapa lagi. Atau jangan-jangan kamu punya lelaki lain."


"Hus, jangan ngacoh ah. Aku tuh dijemput sama papa."


Dian lantas ber-o ria. "Aku kira sama Zaky."


"Ngga. Dia pasti kerja."


"Emang kerjanya apa?"


"Dia adalah dokter."


"Beruntung banget ya, kamu dapat dokter."


"Masih teman juga."


"Berarti bisa mempunyai hubungan yang lebih lanjut dong," ujar Dian saat lift yang terbuka.


Rania pun melenggang meninggalkan Dian seorang diri yang masih berada dalam lift. Saat sadar, Dian cepat-cepat mengejarnya.


"Hei, tunggu. Jangan asal main tinggal aja dong," ujarnya membuat Rania tertawa kecil.


Sesampainya mereka di depan pintu, Dian pun pamit pulang duluan karena ia membawa kendaraan hari ini. Sedangkan kata Rania tadi, Rania akan dijemput oleh papanya. Jadi, Dian pun meninggalkan Rania seorang diri.


Rania pun kembali menghubungi sang papa. Namun, belum juga ia menelponnya, papa sudah lebih dahulu menghubunginya. Rania lalu membawa ponsel ke dekat telinganya.


"Iya, pa."


"Sayang, maaf. Papa tidak dapat menjemputmu saat ini. Tiba-tiba saja papa punya tugas mendadak."


"Iya, pa. Rania ngerti kok. Biar Rania naik angkot saja."


"Ya, sayang. Maafkan papa."


"Iya, pa. Baiklah. Rania mau cari angkot kalau gitu."


"Hati-hati dijalan."


Setelahnya, papa dan Rania pun memutuskan kontak mereka. Rania memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Lalu ia pun mulai berjalan keluar kantor untuk mencari angkot yang lewat.


Saat Rania baru saja keluar dari gerbang, ia memicingkan matanya saat ia melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya melaju mendekatinya.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2