
Rania dan Jihan baru saja tiba di parkiran mall, saat Jihan begitu heboh dengan cepat-cepat keluar dari mobil. Bahkan, saat Jihan baru saja menginjakkan kakinya di parkiran, Jihan kembali heboh dengan berkaca di kaca mobil.
Hey! Disini banyak orang yang memperhatikan dirinya. Namun seakan ia tidak memperdulikan semuanya. Bahkan dengan santainya lagi, ia mengajak Rania masuk ke dalam mall dengan lugasnya.
Rania yang bersamanya hanya mampu tersenyum kecil dan mengikuti langkah kaki Jihan yang kelewat cepat.
"Oh, iya kak Rania. Kak Rania mau beli tas yang seperti apa?"
"Nanti aja aku lihat."
"Kalau aku mau beli tas super mewah dan mahal. Biar kak Khanif kaget saat melihat uang di atm-nya yang tinggal sedikit. Eh, bukan. Mungkin telah habis," katanya diakhiri dengan kekehan pelan darinya. "Emm, apa lagi ya yang ingin aku beli tadi?" katanya pelan, tapi masih dapat didengar oleh Rania.
"Pakaian, sepatu atau apalah itu."
"Ah, iya. Aku juga mau beli itu. Setelah itu, kita singgah makan, ya. Pasti aku dan kakak akan lapar setelah mengelilingi mall ini," katanya membuat Rania hampir membulatkan bibirnya.
"Kamu mau keliling mall ini?" tanya Rania tak percaya.
"He'em. Aku udah lama banget soalnya ngga kesini."
"Bukannya kamu tinggal disini?"
"Engga, kak. Aku tuh besarnya di luar negeri. Setahun sekali aku kesini. Makanya sekali datang ke sini, aku mau menghabiskan uang kak Khanif."
"Kak Khanif mau?" tanya Rania yang sebenarnya tidak ingin ia katakan, tapi sudahlah. Dari pada dirinya tambah penasaran dengan hubungan mereka yang belum jelas.
"Kalau ngga mau, ya aku paksa biar mau. Toh, aku mengambil uang di atm-nya ngga tiap hari, sama seperti kalau kakak udah jadi istrinya nanti."
"Kamu ...." Ah, lagi-lagi suara Rania tertahan didalam tenggorokannya.
Apa ia akan seperti perkataannya barusan? Memakai uang Khanif tiap hari?
Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja jawabannya, ya!
"Kak, kak Rania?" panggil Jihan pelan menyadarkan Rania berhenti berjalan.
"Eh, iya?"
"Kita ke sana aja, ya. Aku tau tempat-tempat yang menjual barang branded."
Rania pun hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan, lalu berjalan bersisian bersama Jihan.
---
Sudah dua jam lebih mereka mengelilingi mall ini. Membeli tas, pakaian, sepatu dan aksesori lainnya. Jika saja perut mereka tidak meminta jatah, pasti mereka masih sibuk pergi ke toko satu ke toko lainnya.
Saat ini pun mereka duduk disalah satu kedai makan yang ada disana.
Sambil menunggu pesanan datang, Jihan juga menunggu seseorang datang diantara mereka.
Entahlah, Rania tidak tau siapa yang Jihan maksud. Khanif kah? Jika Khanif, Rania tidak tau harus bersikap seperti apa nantinya.
Beberapa menit kemudian - bersamaan dengan pesanan mereka yang datang, seseorang yang ditunggu oleh Jihan pun akhirnya tiba juga.
Mengetahui bukan Khanif yang datang diantara mereka, membuat Rania tanpa sadar menghembuskan nafasnya pelan. Ia lega karena kini tidak perlu lagi merasa cemburu seperti saat ia mendapati Khanif dan Jihan di restoran siang kemarin.
__ADS_1
Perlahan, Rania pun memanggil nama yang sudah sangat di kenalnya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Davina - adik sepersusuan Khanif.
"Maaf, aku datang kelamaan," ujar Davina seraya duduk disebelah Jihan.
"Ngga papa kok, kak. Malahan kakak tiba tepat waktu karena pesanan kami baru juga tiba."
"Benar. Aku sudah lapar ingin menghabiskan makanan ini."
"Baiklah. Kita makan dulu, yuk."
Ketiga wanita yang tidak lama lagi menjadi sebuah keluarga itu pun mulai menyantap makanan mereka masing-masing.
Mereka makan dengan begitu lahap, berbeda dengan siang kemarin saat Rania berusaha untuk menghabiskan makanannya.
Sesekali mereka pun bercakap satu sama lain hingga makanan mereka telah habis di piring masing-masing.
"Jadi, setelah ini kalian mau kemana lagi?" tanya Davina.
"Aku sudah lelah berkeliling mall berjam-jam. Ngga tau kalau kak Rania," ujar Jihan.
"Aku juga udah capek."
"Jadi ceritanya aku cuma numpang makan aja gitu?" canda Davina.
"Bisa di bilang begitu. Untuk menemani kakak, aku udah angkat tangan. Kakiku pegel semua. Mungkin aku harus minta tolong untuk seseorang mijitin kaki aku kali, ya?"
"Jangan manja jadi adik," ujar Davina membuat Jihan memanyunkan bibirnya.
"Kakak ngga seru!" timpal Jihan.
"Kalian saudara kandung, ya?"
Sontak kedua wanita yang hampir terlihat mirip itu pun menggelengkan kepalanya.
"Aku dan Jihan saudara sepersusuan juga. Jihan-kan adiknya kak Khanif."
"Apa?" seru Rania tanpa sadar.
"Kamu belum diberitau sama kak Khanif atau anak nakal ini?" ujar Davina sambil melihat Jihan yang kini tengah meminum minumannya, seperti sengaja tidak mendengar ucapan Davina yang menjelaskan hubungannya dengan Khanif.
"Kak Khanif hanya bilang kalau Jihan adalah teman masa kecilnya," ujar Rania membuat Davina tiba-tiba saja tertawa.
"Aduh. Ternyata kamu sudah di jahili sama kak Khanif dan adik nakal ini."
"Kak, jangan panggil aku adik nakal," seru Jihan tak terima dengan panggilan itu.
"Kalau tidak manggil kamu adik nakal, apa lagi? Kakak tau, ini pasti akal-akalan kamu membuat calon kakak iparmu ini salah paham."
"Iya, iya, iya. Aku ngaku. Aku yang buat ide itu."
"Tapi aku tidak pernah melihat Jihan dirumah mama."
"Aku ikut sama nenek ke luar negeri. Bukannya tadi aku udah bilang kalau aku datang kesini itu sekali setahun," kata Jihan yang malah mendapat pukulan kecil dari Davina di lengan kanannya.
"Kakak kenapa mukul aku, sih!" ujar Jihan.
__ADS_1
"Bicara tuh yang sopan sama Rania. Gih, minta maaf."
"Maaf kak Rania. Aku bicaranya ceplas ceplos begini."
"Ngga papa, kok," ujar Rania yang juga merasa tidak enak karena telah curiga pada Jihan yang notabenenya adalah adik kandung Khanif yang tinggal di luar negeri bersama neneknya.
"Jadi, ceritakan bagaimana kamu sebegitu jahilnya malah membuat Rania bingung."
"Mana ada aku menjahili kak Rania. Bukannya aku juga teman masa kecil kak Khanif sebelum ikut sama nenek ke luar negeri?" katanya protes.
"Tentu beda anak nakal."
"Iya deh aku cerita, tapi kak Dav ngga boleh lagi manggil aku anak nakal."
"Kakak janji."
"Baiklah."
Lalu mengalirlah cerita Jihan sewaktu ia dan Khanif tidak sengaja bertemu dengan Rania di restoran siang kemarin.
Kala itu, Khanif yang baru saja memperlihatkan foto Rania pada Jihan sebelum Jihan menangkap sosok Rania yang berdiri di pintu masuk restoran.
Hingga, ide kecil pun terlintas di pikirannya.
"Kak," panggil Jihan pelan membuat Khanif melihatnya.
"Sepertinya calon kakak ipar aku juga akan makan di restoran ini deh."
Saat Khanif hendak menolehkan wajahnya ke arah pintu masuk, sudah lebih dahulu Jihan kembali berkata, "kakak jangan menoleh. Apa yang aku katakan itu benar, kok. Dia kak Rania. Sepertinya dia berjalan ke arah kita deh, kak," ujar Jihan pelan. "Apa yang nanti aku katakan dan lakukan, kakak ngga boleh memberitau kak Rania kalau kita ini saudaraan."
"Kenapa?"
"Aku cuma mau mastiin sesuatu aja, kok."
"Rania itu gadis yang terbaik yang pernah kakak kenal. Kalau mau mastiin hal itu, silakan saja."
---
"Jadi kamu ingin mastiin kalau Rania itu pantas jadi kakak ipar kamu gitu?" tanya Davina saat Jihan sudah menyelesaikan penjelasannya.
"He'em. Ternyata kak Khanif ngga salah milih," katanya cengengesan.
"Sudah. Lain kali, jangan jail lagi."
"Jihan, ngga janji."
Rania yang ada disana pun hanya tersenyum malu-malu mendengar percakapan dua gadis didepannya.
...To be continued ...
Hayo, gimana cerita pada bab ini? Udah jelaskan siapa Jihan dan asal usulnya. Ada yang mau dijelaskan lagi? Tanya aja di kolom komentar ya, ntar aku jawab disana. Baiklah, sampai jumpa di bab selanjutnya. Bye bye
Oh, iya. Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1