Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 120. Aku Memilihmu


__ADS_3

Selamat malam para readers. maaf ya, akhir-akhir ini aku up date nya malam-malam. biasa, aku sibuk banget di dunia nyata aku. ini aja aku bela-belain up buat kalian. jadi terima kasih banget yang udah nungguin cerita ini update.


selamat membaca, ya 🤗


...***...


Tiba-tiba saja Rania tersentak dari lamunanya saat ia mendengar seseorang sedang mengetuk kaca mobil. Rania lantas menolehkan wajahnya ke arah samping. Ia begitu terkejut saat melihatnya.


Sangking terkejutnya, ia bahkan tidak sadar kalau dirinya malah memanggil nama Zaky. Nama yang selalu ia hindari apalagi orangnya. Rania lantas tersenyum canggung. Ia lalu perlahan keluar dari mobil menemui Zaky.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Zaky.


"Oh, itu. Aku menunggu pak Khanif yang ke apartemen tanya dulu. Kalau kamu, apa yang kamu lakukan disini?"


"Aku habis memeriksa pasien. Biasa, pasien pribadi," ujar Zaky sambil tersenyum. "Akhir pekan ini ada film yang bagus untuk di tonton. Apa kamu punya waktu luang?"


"Kamu telat memberitahuku, aku sudah punya janji dengan orang lain," ujar Rania tersenyum simpul.


"Janji nonton juga?"


Rania mengangguk membenarkan. "Sepertinya film yang kamu bilang bagus itu adalah film yang ingin kami nonton."


"Kalau begitu, kita bertemu disana saja. Dengan begitu, kita masih bisa nonton bersama." usul Zaky membuat Rania menyesal telah mengatakan kalau dirinya ingin pergi nonton film juga.


"Oh, iya. Kamu ingin pergi dengan siapa?" tanya Zaky kemudian.


Saat Rania hendak menjawab, Khanif sudah lebih dahulu tiba disana. Hal itu pun sukses membuat Rania dapat bernapas lega. Pasalnya, ia tidak ingin Zaky tau dirinya pergi dengan siapa.


"Pak Khanif sudah tiba. Aku masuk dulu, ya," pamit Rania sebelum masuk ke dalam mobil.


"Hem. Kamu hati-hati lah."


Zaky yang sebenarnya sangat ingin tahu dengan siapa Rania pergi, hanya dapat memendam keingintahuannya didalam hati. Biar bagaimana pun, ia akan tahu dengan siapa Rania pergi. Hal ini hanya tinggal menunggu waktu saja dan Zaky akan bersabar sampai hari itu tiba.


Saat Zaky baru saja melangkahkan kakinya pergi dari sana, langkah kakinya tertahan oleh panggilan Khanif.


"Zaky!"


"Khanif," sapanya balik.


Khanif lalu berjalan mendekati Zaky. "Aku tak mengira kita akan bertemu disini."

__ADS_1


"Begitu pula denganku."


"Sudah bertemu Rania?"


"Iya. Sempat bicara sedikit juga. Oh iya, dia sepertinya tengah menunggumu."


"Ya, sepertinya begitu. Baiklah, aku duluan."


Khanif pun pergi meninggalkan Zaky dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Setelahnya, ia memasang sealbelt lalu melajukan mobil menuju perusahaan. Sepanjang jalan, Khanif tidak menanyakan apa yang telah dibicarakan oleh Rania dan Zaky tadi. Ia seperti tidak ingin tau isi percakapan mereka. Namun, sepertinya hal itu tidak berjalan mulus saat Rania malah dengan senang hati mengatakannya.


"Zaky mengajak saya pergi nonton," katanya memberitahukan.


Khanif menoleh sekilas nan tersenyum. "Kalau kamu mau, kamu bisa pergi nonton dengannya," katanya seperti mengalah.


"Saya pergi dengan bapak saja."


"Yakin?" ujar Khanif sontak membuat Rania menoleh padanya.


"Yakin."


Khanif mengangguk. "Baiklah, keputusanmu tidak bisa di ganggu lagi!" kekeh Khanif. Ia pun dengan senang hati melajukan mobilnya menuju perusahaan.


Tadinya ia mengira kalau Rania akan menerima ajakan Zaky dan malah membatalkan janji nonton mereka. Namum ia tau kalau dugaannya barusan itu salah saat ia meyakinkan Rania. Ia senangnya bukan main. Bahkan tanpa sadar kalau dirinya sudah beberapa kali tersenyum kala ia kembali mengingat kejadian yang sudah lewat beberapa menit yang lalu.


"Terima kasih telah menemani saya hari ini," tutur Khanif setelah mereka telah sampai di perusahaan.


"Sama-sama, pak. Saya akan selalu membantu kalau itu menyangkut kepentingan perusahaan."


"Ya, kamu betul. Baiklah, sampai jumpa di akhir pekan nanti," pamit Khanif sebelum meninggalkan Rania.


Rania mengangguk. Khanif pun berlalu dari hadapan Rania dan berjalan ke arah lift khususnya. Sempainya Khanif didalam ruangannya, Khanif langsung saja menjatuhkan dirinya ke kursi kebesarannya dan mulai menyibukkan diri memeriksa sejumlah dokumen yang telah tersusun rapi diatas meja kerjanya.


***


Dian yang melihat Rania baru saja tiba dari pekerjaan mendadak bersama atasan mereka pun tiba-tiba saja mempunyai ide jahil dikepalanya. Setelah Rania mendudukkan dirinya dikursi kerja, Dian lalu menggeser kursinya ke kedekat Rania dan mulai menjahilinya, "ehem, ada yang lagi bahagia, nih!"


"Siapa?" tanya Rania yang belum tau kalau yang dimaksudkan oleh Dian adalah dirinya. Rania lantas menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri - mencoba mencari orang yang dimaksudkan oleh Dian.


"Kamu cari siapa, sampai se heboh itu!"


"Orang yang kamu maksud."

__ADS_1


Dian tiba-tiba terkekeh saat Rania tidak peka akan perkataannya barusan.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Rania ... Rania. Orang yang ku maksud itu adalah kamu. Kamu malah mencari orang lain. Ada-ada saja."


"Aku?" tunjuk Rania pada dirinya sendiri dengan nada bicara yang terdengar seperti ia tidak menyangka kalau orang yang dimaksudkan Dian adalah dirinya.


"Tentu saja kamu. Siapa coba teman ruangan kita yang baru tiba di kantor saat jam kedua baru saja dimulai."


"Kamu kan tau sendiri kalau aku ditugaskan secara mendadak oleh pak Khanif."


"Iya, iya tau kok. Jadi gimana perjalanan kalian?"


"Perjalanan apanya yang kamu maksud? Kalau perjalanan bisnis, semua berjalan lancar. Kalau perjalanan selain itu, kamu ngga usah mikir yang macam-macam."


"Kamu, mah. Ngga mau beri bocoran dikit," cetus Dian. "Oh iya, akhir pekan ini ada film yang menarik yang akan tayang di bioskop loh! Aku kepengen nonton tapi ngga ada teman. Kalau kamu mau, kita bisa pergi nonton bareng. Soal tiket, kamu ngga usah khawatir, aku yang nanggung, kok."


"Aku ngga minat," ujar Rania sengaja menyembunyikan kalau dirinya juga akan pergi menonton film yang dimaksudkan oleh Dian.


Pasalnya, ia tidak ingin kejadiannya dengan Zaky akan terulang kembali pada Dian. Apalagi jika Dian tau, kemungkinan pertanyaannya akan lebih banyak dibandingkan dengan Zaky dan mungkin saja Dian akan menggoda nya habis-habisan sampai pipinya memerah, semerah tomat.


"Yah, kok kamu gitu sih! Ayolah, sekali ini saja. Lagi pula kita ngga pernah pergi nonton bersama selama ini," bujuk Dian.


"Tetap ngga bisa, Di. Lain kali aja ya. Pasti kesampaian!"


"Hem, baiklah," kata Dian tak bersemangat. "Tapi saat itu, kamu yang harus membelikan tiket nonton untukku!" kekeh Dian.


"Siap-siap. Kamu ingatkan saja!" ujar Rania. "Gih, kembali kerja lagi. Nanti kita ditegur loh sama mbak May."


"Iya, benar."


Dian pun kembali membawa kursinya ke meja kerjanya sendiri dan mulai sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Sama Seperti Dian, Rania juga mulai sibuk dengan pekerjaannya.


"Ra," panggil Dian beberapa menit kemudian.


"Hem," jawabnya Rania tanpa menolehkan wajahnya pada Dian yang kini tengah melihatnya.


"Ra, lihat aku dulu dong. Penting ini!" sungut Dian serius.


...To be continued...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2