
Halo, selamat malam. Terima kasih telah membaca cerita saya. part malam ini, aku dedikasikan buat teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita aku. terima kasih sekali lagi. 🤗 selamat membaca.
...***...
Saat Rania hendak keluar dari mobil, Khanif mencegat Rania seraya berkata, "tunggu sebentar."
"Apa?"
"Saya akan membukakan pintu mobil buat kamu sebagai permintaan maaf saya tadi."
Baru saja Rania ingin mencegahnya, Khanif telah keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Rania. Sesaat kemudian Rania memiliki pemikiran jail yang terlintas di pikirannya. Tidak ingin membuang kesempatan emas ini, Rania berencana mengerjai Khanif.
"Biar dia rasakan. Bagaimana rasanya telah bermain denganku," batin Rania tersenyum licik.
"Silahkan keluar," ujar Khanif saat melihat Rania tidak ada tanda-tanda untuk keluar dari mobilnya.
Rania tersadar, ia lalu memerintahkan Khanif untuk memayunginya pakai tangan Khanif.
"Tangan ... tangan!"
"Maksudmu?"
"Bapak niat bukakan pintu buat saya kan. Nah, sebagai pelengkap harusnya bapak memayungi saya pakai tangan bapak, baru saya keluar."
"Rania, jangan menguji kebaikan saya, ya."
"Loh, bukannya bapak yang memaksa ingin membukakan saya pintu? Kalau bapak tidak mau memayungi saya, bapak seharusnya tidak membukakan saya pintu," sewot Rania. Namun dalam hati ia tersenyum penuh kemenangan.
Rania tidak menyangka akan se-menyenangkan ini mengerjai Khanif. Apalagi Khanif sepertinya tidak mempunyai kata-kata yang tepat untuk membantah ucapannya barusan. Khanif mendesah panjang, ia akhirnya menyerah dari Rania. Khanif pun mengikuti kemauan Rania dengan memayungi Rania pakai kedua tangannya.
"Terima kasih pak," ujar Rania.
__ADS_1
Ia pun pergi meninggalkan Khanif yang mungkin masih kesal padanya dan mungkin juga masih memperhatikannya sampai ia menghilang dari balik pintu rumahnya.
Saat Rania baru saja menginjakkan kaki diruangan tengah, ia terlonjak kaget saat ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Dengan takut-takut, perlahan Rania menoleh kebelakang hendak melihat wajah orang yang tengah memegang pundaknya. Rania mendesah lega saat mengetahui kalau orang yang hampir membuatnya jantungan itu tidak lain adalah sang mama.
"Mama, aku kira siapa," ujar Rania seraya mengusap-usap dadanya mengetahui ternyata dugaannya salah.
"Siapa lelaki yang nganterin kamu?" tanya Mama Dahlia yang memang tadi sempat mengintip dari balik jendela ruang tamu.
Tentu saja sebagai orang tua, Mama Dahlia begitu khawatir pada anak perempuan satu-satunya ini. Apalagi saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jam dimana orang tua mulai khawatir akan keberadaan anak-anaknya.
Tadi, saat mendengar deru suara mobil, cepat kilat Mama Dahlia bergegas ke ruangan tamu, mengintip di jendela dan melihat siapa yang telah mengantar anak gadisnya pulang. Pasalnya, ia sudah yakin kalau deru mobil itu bukanlah deru dari mobil suaminya. Untuk itulah rasa penasaran kian memenuhi pikirannya.
Kelakuan dua anak berbeda jenis itu pun tidak luput dari pandangan Mama Dahlia. Mulai dari Khanif yang keluar dari mobil sampai membukakan Rania pintu dengan tangan yang menengadah seperti melindungi Rania dari sesuatu dari atas langit yang akan menimpa anaknya.
Mama Dahlia yang melihat kelakuan Khanif itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia berkomentar, "ada-ada saja kelakuan anak muda jaman sekarang. Apa-apa saja dibuat heboh."
Melihat Rania mendekat, Mama Dahlia secepatnya berlari masuk ke dalam rumah dan menunggunya di ruang tengah.
"Siapa lelaki yang tadi nganterin kamu?" tanya Mama Dahlia sambil bersedekap dada.
Rania menepuk jidatnya dan berkata,
"oh itu, dia atasan Rania di kantor, ma. Namanya pak Khanif. Rania tadi habis dari rumahnya karena pekerjaan kantor yang tidak bisa ditunda lagi."
Mama manggut-manggut mendengar penjelasan anaknya. Ia percaya pada Rania karena perkataan yang begitu lancar terdengar.
"Apa pekerjaan kantor sampai harus dikerjakan hampir larut malam begini?" tanya Mama Dahlia memulai aksi detektif dadakannya.
"Itu, maaf ma. Sebenarnya pekerjaan Rania disana udah dari tadi selesai. Tapi Rania bertemu dengan ibu yang pernah Rania tolong. Rania baru tahu, ternyata ibu yang pernah Rania tolong itu adalah ibu dari pak Khanif, atasan Rania. Jadi sehabis kerja tadi, Rania dan Ibu Adelin berbincang-bincang sampai lupa waktu. Makanya Rania telat pulang."
Mama Dahlia sekali lagi mengangguk. Lalu ia pun menyuruh anaknya masuk kedalam kamar untuk mengistirahat diri lebih awal.
__ADS_1
Rania sudah beberapa kali memejamkan matanya namun iris mata coklat nya itu tidak mau bekerja sama dengannya. Ia pun tidur telentang - melihat langit-langit kamar dan mulai berkelana ke masa lalunya.
Setelah kejadian penolakan dirinya di taman belakang sekolah waktu itu, Rania mulai berubah. Ia memulainya dari program memakan seafood tidak sebanyak dulu. Biasanya saat memakan seafood Rania tidak mengingat banyaknya, tapi kini Rania tidak akan memikirkan banyaknya lagi melainkan memikirkan bagaimana menekankan dirinya untuk merubah wajahnya yang penuh dengan gunung-gunung kecil kemerahan menjadi putih bersih berseri.
Bahkan sangking ketatnya dalam memakan seafood, ia akan memakan makanan kesukaannya itu sekali sebulan. Itupun kalau dirinya lagi berminat. Kalau tidak, Rania akan mengabaikan makanan yang telah siapkan oleh Mama Dahlia. Seperti kali ini.
"Sayang sini makan dulu. Mama udah siapin makanan kesukaan kamu loh!" ujar Mama Dahlia.
Rania menggeleng, lalu dengan perlahan ia berkata, "tidak, ma. Rania tidak berminat." Selalu seperti itu jawaban Rania kalau dirinya memang lagi tidak berminat memakan makanan kesukaannya itu.
Perubahan Rania membuat orang seisi rumahnya heran. Semua orang rumah tau kalau Rania paling suka yang namanya makanan berbau seafood. Apalagi jika mengangkut makanan bercapit banyak dan makanan bertentakel banyak itu. Namun tidak ada yang berani bertanya tentang perubahan Rania karena hal itulah yang diinginkan oleh semua orang rumahnya. Mengurangi makan seafood agar wajahnya bisa mulus seperti kebanyakan wajah para remaja yang ia kenal.
Satu lagi, selain mengurangi memakan seafood, Rania juga memulai mengurangi porsi makannya yang lain. Biasanya porsi makannya itu melebihi porsi makan gadis remaja lainnya namun kali ini porsi makannya bisa dibilang bagi dua dari apa yang biasa remaja lain makan.
Meski sudah mengurangi porsi makannya, ia juga mengimbanginya dengan berolahraga. Di pagi hari - saat ia selesai mengerjakan sholat subuh dan juga saat perutnya masih kosong.
Bukan tanpa sebab ia berolahraga saat sarapan pagi belum dimulai. Tapi, ia sudah tidak khawatir lagi akan hal itu. Sebab sebelum ia melakukan olahraga dengan perut kosong, ia sudah membaca beberapa artikel di salah satu laman pencarian yang mengatakan kalau olahraga penurunan berat badan lebih bagus dilakukan saat pagi hari sebelum perut terisi. Untuk itulah ia mencobanya dan berhasil.
Olahraga yang dilakukannya pun bukan olahraga sembarangan. Ia juga mencarinya di laman pencarian dan mendapati beberapa jenis olahraga yang dapat menurunkan berat badannya yang berlebihan.
Dalam kebanyakan rekomendasi olahraga penurun berat badan yang telah dibacanya disebuah artikel, Rania lebih menyukai olahraga lari dan lompat tali. Ia melakukan kedua jenis kedua olahraga itu masing-masing selama tiga puluh menit tiap pagi.
Disaat ia berlari, ia akan mengelilingi pekarangan rumahnya yang terbilang luas. Sedangkan saat lompat tali, ia akan berada disamping rumahnya yang dipenuhi tanaman buah sambil menikmati matahari yang mulai terbit.
Selama melakukan dietnya itu, Rania dapat merasakan dampak positifnya. Mulai dari berat badan yang mulai ideal sampai wajah yang kian mulus karena telah jarang mengkonsumsi makanan seafood yang disukainya.
...To be continued....
Tentang pengumuman sebelumnya, vote-nya mulai berlaku besok ya. Tapi terima kasih banyak yang udah vote hari ini.
Semoga yang like atau komen diberikan rezeki yang melimpah. Aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...