
Sejam kemudian, terlihat Davina tengah berjalan ke meja kerja Rania. Ia membawa jadwal kerja Khanif yang sudah di kerjakannya baru-baru ini.
Sesampainya ia didekat Rania, Davina lantas menghampiri Rania untuk menanyakan keberadaan Khanif.
"Pak Khanif-nya ada, Ra?"
"Ada. Kamu masuk saja," ujar Rania pelan.
"Hem. Baiklah."
Davina lantas masuk ke dalam ruangan Khanif. Ia lalu berjalan cepat menuju mejanya.
"Pak."
"Kamu sudah menyelesaikan jadwal kerjaku di minggu ketiga?" tanya Khanif tanpa melihat Davina.
"Iya, pak. Ini," ujar Davina seraya memberikan jadwal kerja Khanif padanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama, pak."
Setelah mengatakannya, Davina tidak lantas pergi dari sana. Ia ingin menanyakan satu hal pada Khanif. Namun sosok lelaki didepannya ini masih saja terlihat sibuk.
Davina pun sengaja berdehem untuk merebut perhatian Khanif padanya. Hal itu pun sukses membuat Khanif melihatnya.
See, saat ini Khanif sudah melihatnya meski dalam pandangan keheranan.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Khanif.
"Iya, tapi ini pertanyaan diluar jam kerja."
"Katakan saja," ujar Khanif seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kebesarannya.
"Aku tadi menghampiri Rania sebelum kesini. Namun ia terlihat dalam keadaan tidak baik. Lebih tepatnya, ia terlihat tidak bersemangat begitu. Apa ini ada kejadiannya dengan kakak yang memutuskan sambungan intercom kita tadi?"
"Bisa dibilang begitu."
"Sepertinya Rania telah salah paham sama kakak. Kakak juga sih, sok sok rahasiaan gitu sama Rania."
"Sudah, ngga papa. Ntar juga baikkan kok. Gih, sana kamu kerja lagi. Biar kakak bisa ambil cuti yang banyak setelah menikah."
Sontak Davina terkekeh mendengar perkataan Khanif barusan.
"Kakak seperti ini pergi mengunjungi semua vila dan resort kakak."
"Rencananya begitu. Sekalian ngecek juga keadaan disana."
"Awas. Nanti Rania kesel sama kakak, loh. Bukannya pergi bulan madu, kakak malah pergi kerja."
"Nanti kakak pikirkan lagi. Pokoknya saat ini, kamu harus membantu semua keperluan kakak."
"Siap, kak. Baiklah. Aku pergi dulu. Dan ... kakak cepatlah membujuk calon istri kakak itu agar ngga kesel terus sama kakak."
"Ya, ya."
Davina pun segera berlalu dari sana. Namun sebelum benar-benar keluar dari ruangan Khanif, Davina sempat berbalik melihat Khanif. Lalu, tiba-tiba saja ide baik terlintas dipikirannya.
__ADS_1
Davina pun kembali keluar dari ruangan Khanif dengan senyuman yang terbit di wajah oval-nya.
Sesampainya ia didepan meja Rania, Davina sengaja mengetuk-ngetuk meja kerja Rania hingga membuatnya harus mendonggakkan wajahnya.
"Davina. Ada yang bisa aku bantu?"
"Ada, tapi itu bukan aku. Pak Khanif sepertinya sedang butuh bantuan kamu."
"Oh! Baiklah. Nanti aku masuk ke dalam ruangannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya."
"Hem."
Seperginya Davina, Rania pun bergegas masuk ke dalam ruangan Khanif.
"Masuk," seru Khanif dari dalam.
Rania pun memutar knop pintu, lalu masuk ke dalam ruangan Khanif.
Sesampainya Rania di dekat Khanif, ia lantas bertanya, "bapak perlu bantuan apa?"
Sontak saja hal itu mampu membuat Khanif mengernyit heran. Pasalnya, ia tidak meminta bantuan apapun pada Rania.
Hingga sedetik kemudian ia jadi mengerti kalau penyebab Rania bertanya seperti itu padanya karena ulah Davina.
Khanif pun segera mengikuti ide dari Davina dengan kembali mengatakan, "kamu bisa membuatkan aku kopi?"
"Bisa, pak. Bapak mau kopi yang seperti apa?" tanya Rania.
"Saya akan buatkan segera pesanan bapak."
"Hem."
Setelah Rania pergi, Khanif kembali tersadar kalau percakapan singkat mereka tadi, tidak menimbulkan efek positif diantara mereka.
Khanif lantas menghela napas panjang. Ia sepertinya harus lebih berusaha lagi.
---
Beberapa menit kemudian, Rania kembali terlihat memasuki ruangan Khanif dengan membawa sebuah cangkir berisi kopi kesukaan Khanif.
Sesampainya disana, Rania langsung saja meletakkannya dan segera berlalu dari sana. Namun belum juga ia benar-benar keluar dari ruangan Khanif, sudah terlebih dahulu Khanif memanggil dirinya. Hingga membuatnya mau tak mau kembali membalikkan badannya melihat Khanif.
"Ada yang bapak butuhkan lagi?"
"Tidak ada. Hanya saja aku ingin katakan kalau siang nanti, kita akan pergi makan siang bersama disalah satu restoranku."
"Tidak. Terima kasih, pak. Saya makan di cafetaria kantor saja bersama yang lainnya."
"Ini bukan permintaan, tapi ini adalah perintah dari atasan ke bawahannya," ujar Khanif menyengaja.
Biarlah ia berkata seperti itu, dari pada nanitnya Rania akan menolak ajaknnya untuk makan siang bersama.
"Baik, pak. Kalau begitu saya keluar dari ruangan bapak."
"Hem."
__ADS_1
Lagi dan lagi, Sekeluarnya Rania dari ruangannya, Khanif kembali menghela napas panjang nan berat. Ia benar-benar dibuat pusing karenanya.
Khanif bahkan berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan mondar-mandir didepan meja kerjanya karena terus kepikiran dengan apa yang akan dilakukannya nanti.
Namun bagaimana pun sulitnya itu, ia akan tetap berusaha membuat Rania nyaman dengannya. Karena dengan begitu, ia bisa mengambil pelajaran untuk kedepannya saat mereka sudah membina sebuah keluarga nanti.
***
Siang harinya, seperti perkataan Khanif, mereka saat ini telah berada didalam perjalanan menuju restoran untuk makan siang bersama.
Sesampainya mereka disana, Khanif segera keluar dari mobil, lalu berjalan ke pintu mobil seberang untuk membukakan pintu untuk Rania.
"Terima kasih."
Saat mereka hendak masuk ke dalam, Khanif lebih dahulu memberikan kunci mobilnya pada petugas parkir, lalu mereka pun kembali melangkahkan kaki mereka ke tempat yang telah Khanif pesan sebelumnya.
Sesaat mereka baru saja mendudukan diri, terlihat seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka.
"Selamat datang di restoran ini," katanya ramah seraya memberikan buku menu restoran ini. "Silakan pesan makanan dan minuman Anda," katanya kemudian.
Namun belum juga Rania melihat buku menunya, Khanif sudah lebih dahulu berkata pada pelayan wanita itu untuk membuatkan mereka lobster bakar madu dan berbagai jenis makanan lainnya serta tidak lupa pula Khanif menyebutkan minuman mereka.
"Silakan tunggu pesanan, Anda."
"Hem."
Seperginya pelayan wanita itu, Rania berkata dengan sedikit mendekatkan dirinya pada Khanif.
"Aku tidak ingin memesan seafood itu."
"Bukannya itu makanan kesukaan kamu. Aku memesannya karena udah bertanya sama Reyhan, loh."
"Iya, tapi itu dulu."
"Karena wajah kamu?" tanya Khanif membuat Rania mengangguk nan diam.
"Kamu tau. Aku memilihmu bukan karena persoalan wajah, tapi karena aku melihat sesuatu yang berbeda dari dirimu."
Mendengar Khanif berkata seperti itu, membuat hati Rania tiba-tiba menghangat.
"Jadi seperti apapun keadaanmu, aku akan tetap memilihmu," ujarnya diakhiri dengan senyuman yang mempu membuat Rania ikut tersenyum.
"Biar aku jadi gendutan kembali dengan wajah yang berbukit?" ujar Rania membuat Khanif tertawa pelan.
"Apapun itu."
"Baiklah. Jangan salahkan aku kalau aku sudah berubah seperti yang dulu."
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun tiba. Rania dengan begitu lahap memakan seafood yang telah dipesankan Khanif untuknya.
Ia bahkan tidak memerhatikan bagaimana Khanif memandang dirinya karena yang terpenting saat ini adalah, ia harus segera memenuhi keinginannya selama ini. Memakan makanan kesukaannya tanpa merasa khawatir lagi.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1