
Saat Rania tengah fokus menyiram tanaman bunganya, tiba-tiba Rania berteriak terkejut hingga membuat mama berlarian keluar rumah untuk melihat putri semata wayangnya.
"Ada apa, sayang?"
"Ma ...." Rania menoleh melihat mama.
"Ada apa, sayang. Jangan buat mama takut, ih!"
"Ada kodok di salah satu pot bunga Rania."
"Ya ampun, sayang. Mama kira ada apa. Ternyata ada kodok saja!" ujar mama sambil menepuk jidatnya tidak percaya. "Dah lah. Mama mau masuk lagi." Mama menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berlalu masuk ke dalam rumah melanjutkan memasak makanan untuk nanti malam.
Sedang Rania, sudah celak-celiguk mencari ranting yang bisa membantunya mengusir kodok dari pot tanamannya. Setelah mendapatkannya, ia mulai mengarahkan ujung ranting ke arah kodok yang sepertinya tidak ingin pergi dari tempat ternyamannya.
"Hus ... hus ...," usir Rania seraya terus mengusik keberadaan kodok agar segera berpindah tempat. "Pergi dong!" serunya.
Setelah beberapa detik, akhirnya Rania sudah dapat bernafas lega. Ia pun kembali menyirami bunga-bunganya yang lain sambil bersenandung kecil. Karena terlalu sibuk akan kegiatan sore harinya, Rania tidak sadar kalau ada sebuah mobil berwarna army masuk ke dalam halaman rumahnya.
Terlihat sosok paruh baya yang tidak lain adalah papa Rania keluar dari mobil. Saat matanya menangkap sosok Rania yang masih sibuk menyiram bunga, ia lantas mendekatinya dengan berjalan pelan agar Rania tidak mengetahui kedatangannya. Namun belum sempat papa memberikan kejutan pada Rania, Rania sudah lebih dahulu membalikkan badannya.
"Papa!" serunya terkejut, melihat sosok lelaki tinggi tegap dengan rambut yang mulai beruban disisi-sisi rambutnya.
Dengan membuang asal alat penyiram tanamannya, Rania lalu berlari mendekati papa.
"Kenapa papa baru pulang?" tanyanya sambil memeluk papa yang merupakam kebiasaan yang dilakukannya saat papa baru pulang dari tugas negara.
"Maafkan, papa yang terlalu sibuk."
"Sampai kapan?"
"Secepatnya karena mulai bulan depan, papa akan bertugas disini lagi."
"Hore," serunya girang seperti anak kecil. "Kalau gitu, ayo kita masuk. Pasti mama sangat senang mendengar berita dari papa."
Sekali lagi, sama seperti Rania, mama juga terkejut dengan kedatangan papa. Bahkan sangking terkejutnya, masakan dipiring yang dipegang oleh mama hampir jatuh karenanya.
"Datang tidak bilang-bilang," ujar mama sambil berjalan melewati papa.
"Ini kejutan, ma," ujar Rania.
Sedang papa tersenyum. Ia seperti jadi serba salah saja.
Pernah suatu kali papa pulang kerumah dengan lebih dahulu memberitahukan pada mama kalau dirinya akan pulang esok lusa, namun kenyataannya setelah papa tiba, mama malah mengatakan kalau papa tidak seromantis dulu karena papa tidak memberikan kejutan lagi dengan memberitahukan perihal kepulangannya lebih dahulu.
__ADS_1
Jadinya, saat papa pulang tadi, papa berniat memberikan mama kejutan dengan tidak mengatakan perihal kepulangannya kali ini. Tapi apa ini, mama malah bilang kalau papa datangnya tidak bilang-bilang. Hah, bukannya mama menginginkan sebuah kejutan? Untuk itulah papa tidak mengatakan apa-apa sebagai bukti kalau keromantisan papa dari dulu tidak pernah pudar ditelan waktu.
Ah, sudahlah terkadang pikiran seorang istri memang sulit ditebak. Saat seorang suami mengikuti ucapan istri sebelumnya untuk dilakukan, hal itu biasa masih dianggap salah. Diikuti ucapannya yang sekarang pun masih juga salah, jadi semuanya tergantung situasi saja.
Mungkin saat ini papa memberikan kejutan mama diwaktu yang salah. Apalagi anak pertama mereka baru saja meninggalkan rumah lagi karena sebuah tugas yang di embannya.
"Baiklah-baiklah, papa salah. Lain kali papa akan memberikan kejutan yang mama akan suka," ujar papa seraya memeluk mama dari belakang untuk membuatnya tenang.
"Ehem." Rania sengaja berdehem. "Anaknya masih ada disini, loh!"
Papa tersenyum lucu. Ia lalu melepas pelukannya pada mama. Lalu menoleh pada Rania dan memberikan kode mata untuk mengatakan kalau mama tidak marah lagi padanya.
"Papa pasti lapar dari perjalanan jauh, gih makan dulu," ujar mama yang sudah tidak ngambek lagi.
"Mama memang yang terbaik."
Mereka pun mulai menikmati masakan yang baru saja mama sajikan. Beberapa menit setelahnya, papa mengajak mama untuk berbincang disamping rumah, tempat santai yang biasa Reyhan datangi. Sedang Rania mencuci piring kotor di dapur.
"Kenapa papa mengajak mama kesini?"
"Ada hal penting yang ingin papa katakan."
"Hal penting apa, pa?"
"Mau apa?"
"Katanya jalan-jalan."
"Em, ya silakan saja. Mama malah senang ada yang mau datang ke rumah. Kapan mereka datang?"
"Lusa."
"Nanti mama buatkan cemilan kalau gitu."
Rania yang baru selesai cuci piring pun ikut bergabung dengan mama papanya.
"Kalau tidak salah, tadi Rania denger kalau tante Adelin mau datang ke rumah. Ada acara apa sampai tante mau datang ke sini, pa?"
"Biasa, mau kumpul-kumpul."
"Ngga ada maksud apa-apa kan, pa?" tanya Rania penuh selidik.
Tiba-tiba papa tertawa. "Ngga ada, sayang. Emangnya kalau teman sendiri mau datang berkunjung harus punya alasan khusus?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Apalagi papa dan tante Adelin sudah pernah bertemu waktu itu."
"Sayang, kamu berpikir terlalu jauh," ujar papa yang kini tau maksud dari kata-kata Rania. "Mereka datang kemari, karena papa yang mengundang mereka datang."
"Kenapa?"
"Ya, papa undang saja. Biar kalau papa pergi bertugas, mama ada teman untuk keluar jalan-jalan."
"Kan ada Rania."
"Kamu terlalu sibuk dikantor, mana bisa temani mama berbelanja," ujar mama menimpali.
"Nah! Benar kata, mama."
"Ya, baiklah. Terserah papa dan mama saja. Kalau Rania santai-santai aja, tapi tidak ada pembicaraan rahasia di antara kalian."
Papa lagi-lagi tertawa. Pemikiran anaknya ini terlalu jauh. Mana bisa papa membicarakan pembicaraan perihal perjodohan kalau anaknya tidak ingin di jodohkan! Rania ada-ada saja.
"Baiklah. Papa dan mama janji."
Rania tersenyum. Ia pun menyusup masuk duduk di antara orang tuanya. "Aku sayang papa dan mama."
***
Keesokan harinya, Rania bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk kedua orang tuanya, terkhusus untuk papa. Ia membuat nasi goreng seafood dan jus buah kesukaan papa. Setelah semua selesai ia masak dan menatanya di meja makan, Rania kembali ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor.
Tidak sampai sejam, Rania telah selesai bersiap. Ia lalu kembali ke ruang makan. Setibanya disana, ia melihat papa dan mama sudah berada disana, namun mereka belum memakan sarapan yang telah Rania siapkan sebelumnya.
"Kenapa papa dan mama belum makan?" tanya Rania seraya mengambil tempat duduk didepan mama.
"Kamu menunggu kamu untuk sarapan bersama."
"Bukan, pasti karena ingin memuji masakan Rania di hadapan Rania, kan?" canda Rania.
"Emm, ngga kebalik sayang?" balas mama bercanda.
"A ... mama!"
Mereka pun tertawa bersama.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...