Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 192. Memulai Honeymoon


__ADS_3

Keesokan harinya, Khanif dan Rania sudah ada di bandara dengan di antar oleh papa, mama Khanif dan Rania.


Awalnya Rania merasa aneh karena kedua orang tua mereka mengantar kepergian mereka. Ia juga awalnya mengira kalau perjalanan kali ini bukanlah perjalanan untuk perkerjaan melainkan perjalanan untuk berlibur bersama atau lebih tepatnya honeymoon mereka berdua.


Namun setelah berada di tempat tunggu, Khanif malah memberikan Rania sebuah map berisi jadwal kunjungan mereka di sejumlah kota padanya.


Bahkan isi dari map kerja itu sangat terperinci. Tiga hari berada di kota satu, tiga berada di kota saatnya lagi dan selebihnya, berada di kota lain lagi.


Sudah, harapan Rania untuk berlibur telah hilang dari pikirannya begitu saja saat ia membaca jadwal kunjungan mereka yang begitu padat.


Beberapa menit kemudian, Khanif dan Rania mendengar informasi keberangkatan mereka. Khanif mau pun Rania segera berlalu ke ruang tunggu menuju landasan pesawat dengan Khanif yang mengambil tangannya untuk di genggam.


Hal itu pun sontak membuat hati Rania kembali menghangat karena secara langsung, Khanif menujukkan pada para pramugari yang tidak sengaja mencuri pandang pada Khanif, untuk tidak memandangi suaminya lagi setelah melihat tangan mereka yang saling bertautan.


"Kak," panggil Rania pelan saat mereka telah duduk di kursi pesawat. "Kakak sengajakan mengambil tangan aku, biar pramugari itu tidak melihat kakak yang tampan ini kan!"


"Mana ada. Aku cuma ingin menganggam tanganmu saja. Lagi pula, aku tidak memperdulikan mereka karena aku sudah mempunyai seorang wanita telah mengambil pengeligatanku untuk melihat wanita cantik."


Pipi Rania sontak memerah. "Jangan nge-gombal disaat seperti ini kak."


"Jadi, waktu terbaik nge-gombal kamu itu kapan?"


Lihat! Rania bahkan tidak dapat menjawab pertanyaan Khanif. Padahal, ia sendirilah yang memberikan usul tadi.


"Sudah aku hanya bercanda," katanya sambil mengusap pelan kepala Rania yang tertutupi jilbab.


Lalu terdengarlah lagi seorang pramugari yang menginformasikan kalau sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Untuk itu, para penumpang pesawat diharapkan memakai sabuk pengaman dan mengencangkannya.


"Biar aku saja," ujar Khanif saat melihat Rania hendak memasang sabuk pengamannya.


"Biar aku saja, kak. Ini mudah kok."


"Yang mudah saja aku tidak dapat melakukannya untukmu, apalagi yang sulit. Sini biar aku saja."


"Ba ... baiklah."


Khanif pun mengambil sabuk pengaman dari tangan Rania dan memasakannya untuknya.


"Terima kasih."


"Hem. Sama-sama."


***


Dua jam mengudara, akhirnya mereka tiba di kota N. Kota yang dikelilingi oleh pantai-pantai yang indah dan dapat memanjakan mata.


Setelah mengambil barang bawaan mereka, Khanif dan Rania pun segera menuju ke area penjemputan.


Sesampainya mereka disana, seorang pria paruh baya yang merupakan salah seorang petugas penjemputan Khanif khusus kota N, langsung saja pergi menghampiri bosnya itu.


"Selamat siang, pak Khanif," sapanya hangat.

__ADS_1


"Selamat siang, pak."


"Mari saya bawakan, pak."


"Ngga usah, pak. Biar saya saja."


"Tapi ... pak Khanif."


"Udah ngga papa," ujar Khanif. "Dimana letak mobil bapak?" tanya Khanif kemudian.


"Ada disana, pak," tunjuknya pada sebuah mobil MPV yang terparkir manis di parkiran bandara.


Khanif mengangguk. Mereka pun berlalu menuju mobil operasional resort-nya itu.


Setelah menaruh koper mereka di bagasi. Khanif mengatakan pada sopir mereka untuk menunggu sebentar karena ia dan Rania ingin sholat dzhuhur terlebih dahulu.


Lalu, lima belas menit kemudian, Khanif dan Rania pun kembali ke mobil penjemputan. Pria paruh baya yang merupakan supir resort itu pun segera berlalu menuju tempat tujuan mereka yakni Resort terbaik yang Khanif miliki.


Berkendara selama setengah jam, akhirnya mereka tiba juga di resort. Pak Agus yang merupakan sopir mereka tadi pun membantu Khanif membawa kopernya ke dalam resort. Sedang koper Rania, Khanif lebih memilih untuk membawanya sendiri.


Setelah tiba ditempat mereka akan bermalam, Khanif pun memberitau pak Agus agar menawan kopernya sampai depan pintu saja. Lalu sesaat pak Agus pergi, Khanif dan Rania pun masuk ke dalam ruangan.


"Selamat datang di resort glory flower," kata Khanif yang menyambut kedatangan Rania untuk pertama kalinya."


"Terima kasih, pak suami. Saat ini istri Anda sudah lelah dan ingin beristirahat sebentar. Bolehkah?"


"Tentu saja boleh, ma chérie."


"Tunggu-tunggu. Terakhir kali aku mendengarnya saat kakak mengantarku pulang saat itu. Awalnya aku ingin mencari terjemahannya di Internet, tapi kelupaan sudah lebih dahulu datang. Jadi pak suami, apa arti dari kata barusan?"


"Jangan bercanda kak."


"Kalau ku beritau, kamu mau kasi kakak apa?"


Apa? Apa yang bisa Rania berikan?


Cinta? Tentu saja sudah.


Kasih sayang? Ah, itu sudah berjalan sedikit demi sedikit.


Atau membuatkan sarapan pagi saja? Sepertinya itu ide yang baik. Semoga saja Khanif tidak menolaknya.


"Emm, aku beri kakak makanan terenak pagi ini."


"Ide yang baik. Baiklah artinya adalah sayang. Bagaimana, kamu pasti terkejutkan."


"Tidak juga karena semuanya sudah berlalu."


"Kalau begitu, mulai dari sekarang aku akan memanggilmu ma chérie. Iya-kan ma chérie."


"Terdengar aneh."

__ADS_1


"Tak apa. Seiring berjalannya waktu, kamu akan terbiasa," ujar Khanif. "Ayo, aku antar ke kamar."


"Kakak ngga mau istirahat?"


"Kakak masih ada perlu sebentar."


"Baiklah."


Khanif pun mengantar Rania sebelum ia pergi ke luar untuk mengurus keperluan mereka selama menginap disini. Tentu saja, liburan mereka ini tidak ingin ia sia-siakan, meski sampai saat ini Rania masih menganggap kalau kunjungan mereka ini adalah kunjungan kerja mereka.


***


Sore harinya, Khanif kembali pulang ke penginapan mereka. Disana, ia masih mendapati Rania tertidur di tempat tidur seperti anak kecil yang meringkuk.


"Ma chérie," panggil Khanif pelan seraya membangunkan Rania dengan mengelus kepalanya yang sudah tidak memakai jilbab lagi.


"Emm," gumamnya seperti menggeliat kecil. "Aku masih ngantuk," katanya seraya membuka matanya sedikit.


"Ma chérie. Ini udah sore. Kita sholat dulu ya. Baru setelah itu, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat."


"Kemana?" tanya Rania penasaran seraya bangun dari tidurnya.


"Rahasia, ma chérie."


"Baiklah-baiklah.


Rania pun beringsut turun dari tempat tidur dan langsung saja masuk ke dalam kamar kecil.


***


"Kenapa kita belum sampai juga?" tanya Rania yang sudah lelah berjalan, tapi tak kunjung sampai juga.


"Tinggal sedikit lagi kita akan sampai. Kamu sudah sangat lelah?"


Rania menganggukkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu naik ke punggungku saja, ayo naik," ujar Khanif saat ia tiba-tiba berjongkok.


"Eh, tidak usah. Meski lelah, aku masih kuat jalan kok."


"Tak apa naik saja, ayo."


"Ngga usah kak. Kakak pasti lelah juga."


"Baiklah kalau kamu tidak mau. Pulang nanti, kamu naik ke punggung kakak."


"Tap ..."


"Tanpa bantahan."


...To be continued...

__ADS_1


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin


...By Siska C...


__ADS_2