
"Kata orang disini, tanpa berfoto rasanya kurang afdol. Seperti tidak pernah mengunjungi tempat ini. Jadi biar saya memfoto Anda dengan suami Anda."
"Suami?" beo Rania di kata kedua dari terakhir.
Wanita itu mengangguk. Baru saja Rania ingin menyela, Khanif yang ada dibelakangnya menarik lengan Rania seraya berkata, "ayo. Biar rasanya lebih afdol." Rania menatap Khanif tak percaya, namun Khanif tidak mempedulikannya.
Malahan Khanif mengeluarkan ponsel ber-icon apel yang telah digigit itu dari saku celananya. Lalu Khanif memberikannya pada wanita tadi seraya berkata, "ini ponsel saya."
Sejak Khanif menarik lengannya, Rania masih diam tanpa berniat untuk mengoreksi kata-kata wanita itu. Entahlah, ia yang memang tidak berniat mengoreksi atau keaadaanlah yang tidak memungkinkan karena ia kini telah sibuk berpose ria bersama Khanif.
Berbagai macam foto telah ia lakukan bersama Khanif. Namun mereka tetap menjaga batasan mereka dalam berpose. Salah satunya mereka saling membelakangi dengan tangan terlipat didada dan pandangan terarah pada kamera.
Sungguh Rania tidak percaya, ternyata Khanif dapat berpose ria juga seperti dirinya. Ia awalnya menduga kalau khanif adalah tipe lelaki yang jika berfoto akan berpose kaku - itu-itu saja sampai si pemfoto bosan dengan gayanya. Namun nyatanya ia salah besar. Meski gaya Khanif tidak terlalu kekinian seperti dirinya, tapi setidaknya Khanif tahu cara mendapat foto yang bagus.
Saat masih difoto, Rania berbisik pelan pada Khanif. "Ternyata bapak orang yang pandai berfoto juga ya."
Khanif tersenyum sebagai balasannya.
Selesai berfoto, Khanif mengucapkan terima kasih pada wanita itu.
"Sama-sama. Saya juga perlu berterima kasih pada Anda berdua. Terima kasih. Kami pergi dulu."
Khanif mengangguk sedangkan Rania masih sibuk melihat-lihat foto mereka tadi. Sesaat Rania tersadar kalau ia belum mengoreksi kata 'suami' yang wanita tadi ucapkan. Rania lantas menoleh- mencari keberadaan keluarga kecil itu. Namun rupanya, ia sudah tidak sempat lagi karena wanita itu telah pergi dengan keluarganya yang lain.
Rania lalu berbalik melihat Khanif. Ia menyilangkan kedua tangannya didada. "Kenapa bapak tidak membenarkan perkataan wanita tadi."
"Apa yang perlu dibenarkan?"
"Bapak sengaja lupa atau apa sih!" gerutu Rania yang melihat Khanif hanya melihat foto-foto mereka setelah mengambil ponselnya dari tangan Rania.
"Sudahlah. Jangan rusak suasana hati saya yang lagi bagus dengan ucapanmu yang aneh itu."
"Eh!"
Khanif pun pergi meninggalkan Rania, ia lalu beralih pada tempat-tempat yang indah lainnya disekitar sana. Semantara itu, Rania tidak habis pikir dengan jalan pikiran Khanif.
Apa kata 'suami' tidak terlalu penting bagi Khanif?
__ADS_1
Apa Khanif tidak memikirkan dirinya seorang wanita yang masih lajang?
Apakah Khanif tidak memikirkan perasaannya?
Meski bagaimana pun, Rania adalah seorang wanita yang belum menikah. Bagaimana bisa Khanif melupakan hal itu!
Melihat Khanif yang sibuk dengan keadaan sekitar, sepertinya Khanif tidak mau memikirkan dirinya untuk sementara waktu. Rania menghela nafas panjang, lalu mengikuti langkah kaki Khanif. Biar bagaimana pun, Rania masih ingin menikmati keindahan alam disini.
Tunggu, Rania punya rencana biar mereka imbang. Senyum simpul setengah licik itu terpampang jelas di wajah Rania. Rania pun mendekati Khanif.
Rania tau, sejak tadi mereka telah diperhatikan oleh wanita-wanita yang ada disini. Oh tidak, Khanif lah yang menjadi pusat perhatian itu. Tentu saja Rania tahu. Bagaimana tidak, wajah Khanif mirip wajah-wajah orang luar negeri yang mungkin biasa mereka nonton di film-film laga ataupun drama percintaan.
Rania tidak memungkiri hal itu. Ia berpendapat, sepertinya Khanif mempunyi keturunan dari orang luar negeri. Entah itu dari mama ataupun papanya atau mungkin dari nenek - kakeknya.
Tunggu ... tunggu ... kenapa pembahasannya malah sampai disini? Huft, apa-apaan Rania ini. Ia sudah hampir melupakan rencana awalnya.
Tidak tinggal diam lagi, Rania lalu mendekati Khanif dan memanggilnya, "sayang." Dengan begitu lembut.
Seketika Khanif menoleh padanya. Beberapa wanita yang mendengar ucapan Rania barusan pun langsung saja membuang pandangan. Namun ada-ada saja yang masih memperhatikan Khanif. Khanif merasa ada yang aneh pun seketika melihat sekitaran mereka. Tapi ia tidak mendapatkan hal yang mencurigakan.
Tentu saja karena beberapa wanita yang masih bertahan melihat-lihat Khanif itu segera membuang pandangan saat Khanif menoleh pada mereka.
"Sstt ... diam. Ikuti saja acting ku ini. Biar bapak bisa selamat dari tatapan-tatapan yang mungkin bapak tidak sukai," bisik Rania.
Khanif tersenyum, ia lalu mempunyai pikiran untuk membuat Rania kesal. "Kamu cemburu!"
Rania seketika melihatnya tidak percaya. Lalu sedetik kemudian, Rania tertawa. Ia terkikik geli mendengar perkataan Khanif yang sebenarnya bukan perkataan untuk pertanyaan melainkan hanya pernyataan saja.
Dengarkan baik-baik. Khanif tidak mengakhiri perkataannya itu dengan tanda tanya, melainkan tanda seru yang menandakan Khanif cuma bercanda pada Rania ataupun mulai mengikuti permainannya.
"Bapak ada-ada saja. Aku disini cuma bermaksud menolong bapak," ujar Rania masih berbisik.
Sebenarnya Rania melakukan hal ini bukan hanya untuk membuat mereka menjadi seimbang, tapi juga membantu Khanif agar para wanita itu tidak lagi memandangi Khanif dengan pandangan memuja.
Tapi sebenarnya, tanpa Rania ketahui, didalam lubuk hatinya yang paling dalam, Rania seakan tidak rela kalau Khanif menjadi santapan-santapan tatapan lapar itu.
"Baguslah kamu tidak cemburu, karena dengan begitu, akan ada orang yang mencemburuimu nanti."
__ADS_1
Rania merasa penasaran, ia pun mencondongkan kepalanya sampai dekat sekali dengan Khanif, la lalu bertanya, "siapa yang bisa cemburu?"
"Seseorang yang tak sempat saya ajak kesini."
Setelah mengatakannya, Khanif berjalan cepat menuju salah satu tempat yang indah untuk menikmati keindahan alam disini.
Khanif berbalik saat ia tidak merasakan Rania berjalan disampingnya. "Cepat kesini," panggil Khanif sambil melambaikan tangannya pada Rania yang masih tertinggal jauh dibelakangnya.
Rania mengangguk, ia pun mempercepat langkah kakinya menuju Khanif yang sudah terpesona lagi akan keindahan yang terpampang dihadapannya.
"Masya Allah, indahnya," ujar Rania.
Sungguh semakin berjalan masuk kedalam, tempat yang mereka datangi semakin membuat mereka takjub akan keindahan alam disini.
"Hem, ucapanmu benar. Inilah salah satu yang membuat saya berani berinvestasi disini dengan membangun vila. Lihat disana." Tunjuk Khanif pada sebuah bangunan ditengah-tengah perbukitan. Rania mengikuti arah telunjuk Khanif.
"Kamu sudah lihat."
Rania mengangguk.
"Itu adalah vila yang kemarin kita kunjungi."
Rania tersenyum menyadarinya. Ia lalu menoleh pada Khanif. "Kenapa bapak bisa tau tempat ini?"
"Waktu sma, papa, mama pernah mengajak saya kesini untuk berlibur. Melihat perkembangan disini, saya berjanji pada diri saya sendiri akan membangun vila disini."
"Bapak menakjubkan."
"Lagi-lagi kamu memuji saya. Hati-hati suatu saat nanti, jika kamu mendapat hal yang berbeda dipandanganmu, kamu malah akan memarahi saya dalam hatimu."
Rania terkekeh, Khanif memang orang yang menakjubkan. Rania tidak dapat memungkiri hal itu.
...To be continued ...
Selamat jum'at berkah.
Semoga yang like/vote/komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...