Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 137. Saatnya Belum Tepat


__ADS_3

"Tunggu!" seru Rania setelah tersadar.


"Kenapa?" tanya Khanif membalikkan dirinya.


Rania berjalan mendekat, "apa maksud bapak memberikan syal rajut ini pada saya?"


"Maksud?" ulang Khanif tidak mengerti. "Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya tidak ingin kamu terkena flu, itu saja."


"Saya tidak pantas menerima pemberian bapak ini," katanya sambil melepaskan syal rajut yang ada dilehernya.


Hingga Khanif mulai sadar maksud kata Rania barusan. "Kamu tenang saja. Jika kamu menganggap hal itu tidak pantas, maka kamu telah salah paham. Karena saya membeli syal rajut ini untuk kalian semua yang datang sore ini."


"Benarkah?" tanya Rania begitu malu karena telah menganggap kalau syal rajut ini hanya diberikan Khanif padanya seorang. Ternyata ia salah, Davina, Farah dan bahkan Lisa juga mendapatkan syal yang sama dengannya.


"Hem. Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu katakan, saya masuk duluan."


"I ... iya, pak. Terima kasih."


Seperginya Khanif, Rania menggerutu sendiri. Ia begitu malu setelah salah paham atas pemberian Khanif barusan. Sungguh, wajahnya kini telah memerah meski udara semakin menusuk kulit. Ah, sepertinya ia ingin menghindar saja. Tapi, memikirkan peresmian vila yang kian mendekat, Rania rasa itu tidak mungkin lagi.


"Rania," panggil Khanif membuat Rania tersentak kaget.


"Iya, pak."


"Masuklah, udara kian dingin saja."


"I ... iya, pak."


Rania pun ikut masuk ke dalam vila.


Didalam, ia mendapati Davina dan yang lainnya duduk disebuah sofa bundar. Jika Rania bisa menebaknya, ia pastikan kalau saat ini mereka sedang mengadakan rapat kecil. Rania lalu mengambil tempat duduk disamping Davina.


"Rapat, mbak?" bisik Rania.


"Iya, barusan pak Khanif mengatakannya."


Rania menganggukan mengerti. Lalu pandangannya kini jatuh pada Khanif yang telah duduk di sofa tersendiri.


"Maaf menganggu waktu istirahat kalian sebentar."


"Tidak apa kok, pak Khanif," seru Lisa.


"Saya hanya ingin mengatakan kalau para tamu akan mulai berdatangan besok. Baik itu pagi, maupun sore hari. Davina sudah mempunyai nama daftar tamu. Jadi, tugas kalian besok akan mengantar para tamu ke tempat menginap masing-masing sesuai data yang ada pada Davina. Jika diantara mereka ada yang ingin berjalan-jalan sekitaran vila, kalian bisa memandunya. Pastinya kalian telah melihat-lihatnya tadi."


"Iya, pak. Kami sudah melihat sekitaran ini," jawab Farah.


"Bagus. Kalau begitu saya tidak terlalu cemas lagi. Mungkin hal itu akan membuat kalian lelah. Tapi tenang saja, saya akan memberikan bonus wisata untuk kalian nantinya."


"Beneran, pak?" tanya Lisa tidak menyangka.


"Hem, benar," jawab Khanif.


"Kalau itu, bapak tenang saja."

__ADS_1


"Baiklah. Hanya itu yang ingin saya sampaikan pada kalian. Kalian istirahat lah lebih awal, agar besok mempunyai semangat yang lebih."


"Iya, pak."


Khanif pun pergi meninggalkan keempat wanita berbeda profesi dikantornya. Ia berjalan-jalan sebentar melihat taman didepan vila terbesar - tempat para wanita menginap saat ini.


Ia tersenyum tatkala mengetahui kalau lusa adalah hari yang paling dinantikannya setelah berbulan-bulan membangun vila impiannya. Kini, pandangannya jatuh pada banyaknya bintang di langit yang mulai menampakkan sinar kecil nan gemperlap. Ia seperti tidak sabar menunggu kedatangan hari yang dinantikannya.


"Semoga semuanya baik-baik saja," ujarnya pelan seraya melihat sebuah bintang yang bersinar paling terang.


Ia pun kembali melanjutkan langkah kakinya ke vila tempatnya beristirahat. Saat kakinya baru saja menginjak tangga pertama, sosok yang diberinya syal rajut tadi, terlihat keluar dari vila.


"Rania! Mau kemana dia?" tanya Khanif.


Secara tidak terduga juga, Rania menolehkan wajahnya ke arah samping. "Pak Khanif, saya kira siapa!" Ia begitu terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan Khanif lagi. Rania lantas mengelus-elus dadanya.


"Kamu mau kemana?" tanya ulang Khanif.


"Saya mau ke mobil yang membawa kami tadi, pak."


"Mau apa kesana?"


"Saya mau mengambil sesuatu," ujar Rania tidak ingin memberitahukan apa yang hendak diambil di mobil yang membawanya tadi.


"Sini saya temani," tawar Khanif.


"Tidak usah, pak. Deket kok. Lagian bapak pastinya ingin segera beristirahat," tolak Rania halus.


Rania mengangguk. Ia pun berjalan mendekati Khanif yang menunggunya untuk berjalan bersama.


"Apa yang kamu lupa di mobil?" tanya Khanif saat mereka mulai berjalan bersama.


"Oh, itu. Rahasia," katanya seraya tersenyum.


"Wanita memang mempunyai banyak misteri," kata Khanif.


"Maka dari itu, bapak harus lebih perhatian pada wanita."


"Tentu. Tapi saatnya belum tepat."


Tiba-tiba saja angin berhembus membuat Rania kian kedinginan.


"Pak, sepertinya kita harus berjalan lebih cepat lagi."


"Tunggu."


Rania lantas menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh pada Khanif yang sedang melihatnya.


"Ada apa?" tanya Rania penasaran.


Khanif lalu maju selangkah membuat Rania kian gugup. Rania lantas mundur seraya berkata, "bapak mau apa?"


"Saya hanya ingin memperbaiki syalmu saja."

__ADS_1


"Apa?" tanya Rania tidak mengerti. Hingga sedetik kemudian ia baru sadar kalau syal yang dipakainya kini sudah tidak bertaut lagi. "Bi ... biar saya saja, pak," ujar Rania buru-buru memperbaiki syal-nya karena tidak ingin Khanif melihat pipinya yang mungkin kini telah memerah.


Namun dialah Khanif, lelaki yang tidak mendengar bantahan. Khanif lantas segera maju dan memperbaiki syal rajut Rania.


"Selesai," katanya begitu puas. "Udara di kota M memang sangat dingin pada malam hari. Apalagi kita berada di vila. Berbeda dengan tempat menginap kita dulu. Dengan angin yang menbawa udara kian dingin, saya khawatir kamu akan terkena flu besok."


"I ... iya, pak. Terima kasih," ujarnya gugup. Biar bagaimana pun, ia tidak pernah diperlakukan begitu manis pada seorang lelaki kecuali papa dan kakaknya. Ah, Khanif sepertinya ingin membuat pipinya kian memerah agar ia dapat melihatnya dengan jelas.


"Ayo!"


Rania tersentak kaget. "Iya, pak."


Mereka pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka menuju mobil tempat barang yang ingin diambil oleh Rania.


"Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu?"


"Maksud, bapak?"


"Saya ingat, hari ini tepat kita bertemu setahun yang lalu."


"Dimana? Saya tidak begitu mengingatnya."


"Setelah sebulan kamu bekerja diperusaahaan saya, waktu itu kamu membawakan saya sebuah dokumen keuangan. Sudah ingat?"


"Oh yang itu." Kini Rania ingat. Namun waktu itu Khanif bersikap cuek sekali. Bahkan Khanif bersikap seakan mereka tidak pernah mengenal dan dekat sebelumnya. "Saya kira Anda tidak terlalu memperhatikannya. Ternyata saya salah."


"Saya tentu saja mengingatnya. Hanya saja kala itu saya terlalu sibuk untuk menyapamu walau sebentar."


Tunggu, Rania berpikir sejenak. Apa dirinya yang telah salah paham selama ini akan kesan pertama Khanif setelah mereka bertemu sekian lama? Seperitnya tidak. Tapi apa gunanya sekarang kalau ia mengungkitnya lagi!


"Kita sudah sampai. Bapak tunggulah disini. Saya akan mengambil barang saya dulu."


"Hem."


Khanif lantas membalikkan badannya melihat-lihat vila-nya yang tampak dikejauhan. Beberapa bangunan yang berdiri begitu kokoh nan terlihat mempesona. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan berada disini dengan seseorang yang pernah ia tolak.


"Pak Khanif."


Khanif berbalik. "Sudah selesai?"


"Hem, sudah."


Mereka pun kembali berjalan menuju vila. Tapi ditengah perjalanan, Khanif menghentikan langkah kakinya yang membuat Rania juga ikut menghentikan langkah kakinya. Rania lantas menoleh pada Khanif yang sudah lebih dahulu menolehkan wajahnya.


"Ada apa pak?"


"Bisa kah kamu memanggilku ..."


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...

__ADS_1


__ADS_2