Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 162. Tidak Bersemangat Lagi


__ADS_3

Yuk beri vote atau hadiah sebagai THR buat author 😁


...***...


Keesokan harinya, Rania lagi-lagi hendak pergi melihat keadaan Khanif. Saat ia baru saja hendak turun dari tempat tidurnya, mama yang baru datang menggantikan Reyhan jadi terlihat mengernyit heran.


Ia heran melihat anak gadisnya yang begitu terburu-baru bangun dari tempat tidurnya.


"Mau kemana, nak?"tanya mama Dahlia seraya menaruh tas berisikan pakaian ganti Rania diatas meja samping tempat tidurnya.


"Rania mau menjenguk pak Khanif, ma."


"Nak, ini masih pagi. Kamu perginya nanti aja, ya. Biar kamu membersihkan diri dulu baru kesana."


"Rania udah ngga sempet, ma."


"Tidak. Pokoknya kamu tidak boleh pergi jika belum bersih-bersih diri," kekuh mama membuat Rania mau tidak mau mengikuti ucapan mama.


Setelah Rania membersihkan dirinya, ia pun sekali lagi hendak pergi mengunjungi Khanif. Namun lagi-lagi mama memberikan alasan yang membuat dirinya sekali lagi mengikuti ucapan mama.


Hingga jam telah menujukkan pukul sebelas siang. Rania pun sekali lagi beringsut turun dari tempat tidurnya untuk segera pergi melihat sekaligus mengecek keadaan Khanif.


Mama Dahlia yang tidak memiliki alasan untuk Rania membuat tetap tinggal pun pada akhirnya mengizinkan Rania untuk pergi melihat keadaan Khanif, namun dengan syarat kalau dirinya juga harus ikut kesana. Rania tentu saja menganggukkan kepalanya antusias dan bersemangat.


Lalu menit berikutnya, Rania dan mama Dahlia pun pergi melihat keadaan Khanif. Mereka mulai berjalan di lorong-lorong rumah sakit yang terbilang panjang.


Untuk seukuran orang yang tengah sakit, pastinya akan merasa lelah jika harus pergi ke ruangan melati yang terbilang jauh dari ruangan mawar. Namun semua itu tidak berlaku bagi Rania. Meskipun saat ini ia juga tengah sakit, ia tidak merasakan lelah berlebihan untuk melihat keadaan Khanif.


Ia bahkan merasa kalau berjalan menuju ruangan Khanif adalah sebuah kesembuhan secara bertahap pada dirinya.


Entahlah, ia juga heran dengan dirinya sendiri. Jika dirinya tidak melihat keadaan Khanif barang sejenak, ia merasa kalau ada yang kurang darinya. Entah apa itu, ia juga tidak dapat menjawabnya.


Semua hal itu membuat Rania tersenyum lucu. Pertanyaan dalam dirinya sendiri pun tidak dapat ia jawab.


Mama Dahlia yang tidak sengaja melihat anak gadisnya ini jadi mengernyit heran.


"Nak, kamu kenapa?" tanya mama Dahlia membuat Rania menolehkan wajahnya dengan senyum yang tidak hilang dari wajah mulusnya.


"Rania tidak apa-apa, ma."

__ADS_1


Setelahnya, tidak ada percakapan di antara mereka lagi. Beberapa suster maupun dokter yang melewati mereka pun tersenyum hangat seperti memberikan keramahan pada para pasien yang di tangani di rumah sakit ini.


Sesampainya mereka di depan pintu ruangan Khanif, senyum Rania masih saja terlihat. Namun hal itu tidak bertahan lama saat ia dihampiri oleh seorang suster yang mengatakan kalau pasien di ruang inap ini telah pulang dari sejak pagi tadi.


Wajah yang penuh senyuman bahagia itu seketika berubah menjadi wajah murung. Tidak ada tanda-tanda kalau Rania akan tersenyum lagi seperti saat ia berjalan ke ruangan Khanif.


"Kita kembali saja ya, nak," ujar mama membuat Rania menganggukkan kepalanya tanpa minat.


Mama Dahlia pun mengajak Rania kembali ke ruangannya.


Sesaat didalam perjalanan kembali, mama maupun Rania melihat Zaky mendekat.


Saat mereka semakin dekat, Zaky menghentikan langkah kaki mereka dengan bertanya, "tante, Rania! Kalian dari mana?"


"Kami dari ruangan nak Khanif, nak Zaky. Tapi saat kami tiba, ternyata nak Khanif sudah tidak ada disana lagi. Kata suster yang berpapasan dengan kami, nak Khanif sudah pulang sejak pagi-pagi sekali."


"Iya, tan. Khanif sudah pulang sejak pagi karena Khanif ingin di rawat dirumahnya saja."


"Kapan tepatnya pak Khanif sadar?" tanya Rania membuat Zaky beralih melihatnya.


"Tadi malam. Untuk itulah ia meminta pulang pagi ini."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Rania pun pergi meninggalkan mama dan Zaky. Melihat hal itu, mama Dahlia pun pamit pada Zaky untuk segera menyusul Rania.


"Iya, tan. Kalau ada waktu, Zaky akan datang melihat Rania."


"Iya, nak. Baiklah, tante duluan ya."


Zaky tersenyum sebagai tanggapannya, lalu sedetik kemudian, mama Dahlia pun segera menyusul Rania yang sudah hampir berbelok di lorong rumah sakit.


Berbeda dengan Rania yang terlihat tidak semangat, Khanif malah terlihat sebaliknya.


Ia begitu bersemangat saat mobil yang dilajukan oleh sopir mobil mama memasuki rumah yang menjadi tempat bertumbuhnya selama ini.


Bagaimana tidak bersemangat, ia tidak menyangka masih dapat menginjakkan kakinya di rumah ini, jika mengingat bagaimana kemarin ia berkelahi dengan David dan berakhir dengan dirinya yang menjadi sakit seperti ini.


Meski ia masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama pada perut yang terkena pisa* taja* dari David, Khanif masih saja melangkahkan kakinya, meski ia harus berjalan pelan dan penuh kehati-hatian. Karena rasa sakit itu bukanlah menjadi penghalang baginya untuk terus melangkah kakinya masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang di rumah, kak," sambut Davina tersenyum senang padanya.

__ADS_1


Khanif pun membalas senyuman Davina padanya.


Setelahnya, ia pun melangkahkan kakinya lagi masuk ke dalam rumah menuju ke ruangan keluarga.


"Bagaimana perasaan kakak? Apa sudah tidak apa-apa?" tanya Davina.


"Iya. Ini sudah agak mendingan dibandingkan kemarin."


"Kalau gitu kakak harus beristirahat lagi. Ayo, Davina antar ke kamar."


Khanif meganggukkan kepalanya menuruti ucapan Davina barusan. Ia lalu pergi ke kamar dengan melangkahkan kakinya secara perlahan-lahan.


***


Sore harinya, Rania meminta pada mama agar di pulang kan ke rumah hari ini. Mama tentu saja menyanggupi permintaan putrinya itu.


Setelah menyelesaikan semua administrasi rumah sakit, mama pun membawa Rania pulang ke rumah.


Dalam perjalanan pulang, Rania kebanyakan diam sepanjang jalan. Mama dan Reyhan pun tidak dapat berkomentar apa-apa lagi, karena jika mereka mengajak Rania berbicara, Rania hanya menanggapinya sebentar atau tidak menanggapi percakapan mereka sama sekali.


Sesampainya mereka dirumah, Rania langsung saja masuk ke dalam kamarnya.


Rindu keadaan kamar tentu saja ia rasakan. Namun bukanlah hal itu yang membuat ia semakin rindu, melainkan ia merindukan dua buah surat yang ada didalam laci meja belajarnya semasa sma.


Dua buah surat yang salah satunya berisi undangan reuni smsnya dan satunya lagi berisi surat pernyataan cintanya pada Khanif bertahun-tahun yang telah lalu.


Ia lantas mengeluarkan dua buah surat berbeda isi dan warnanya itu dan menaruhnya diatas meja belajarnya.


Ia memandang kosong kedua surat itu. Sampai ia tidak menyadari kalau kakaknya, Reyhan telah masuk ke dalam kamarnya.


Reyhan tentu saja sedih melihat adiknya seperti ini. Jika saja ia tidak datang tepat waktu di lokasi lokakarya, ia tidak tau harus menghibur adiknya dengan cara apalagi jika terjadi sesuatu yang sangat buruk pada Khanif.


...To be continued...


Yuk beri vote atau hadiah sebagai THR buat author 😁


Minal aidin wal faizin. Taqabbalallaahu minnaa wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin ya πŸ™πŸ»


Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya.

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2