
Cerita Reyhan berhenti saat tiba-tiba Reyhan menghentikan langkah kakinya karena mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat ke arah mereka. Khanif yang tidak tahu apa-apa malah bertanya, "kenapa kamu berhenti?"
"Sstt ... jangan ribut," ujar Reyhan dengan suara pelan. "Bisa gendong Rania sebentar? Saya ingin memeriksanya."
Khanif diam. Reyhan yang tahu kediaman Khanif pun mengatakan, "tak apa. Ini untuk berjaga-jaga saja."
Reyhan lalu memberikan Rania pada Khanif. Selain untuk berjaga-jaga, sebenarnya Reyhan juga tidak tega jika harus membangunkan Rania yang kelihatan sangat lelah karena penyekapan tadi.
Apalagi mengetahui kalau kaki Rania yang sedang terkilir. Ia juga tidak tega jika harus menidurkan adiknya di tanah dengan hawa dingin yang terasa kian menyengat ditubuh.
"Maaf, saya menitip Rania dulu padamu."
Khanif mengangguk. Reyhan pun segera mencari asal suara itu. Ia berjalan mengendap-endap agar Ia tidak ketahuan oleh orang yang dicurigainya. Pandangannya tak pernah lepas dari tempat asal suara yang didengarnya.
Ia pun mengeluarkan senjatanya untuk berjaga-jaga. Semakin suara itu terdengar mendekat, Reyhan pun bersembunyi di balik pohon pinus yang besar. Ia menunggu sampai orang yang mempunyai suara langkah kaki itu melewatinya.
Namun tanpa disangka, semakin lama suara langkah kaki itu semakin terdengar pelan bahkan hampir tak terdengar lagi. Reyhan pun semakin menajamkan pendengarnya dan instingnya.
Merasa instingnya semakin tajam, ia pun keluar dari tempat persembunyian dan menodongkan senjata pada orang didepannya. Ia terkejut begitu pula orang didepannya.
"Kapten!" serunya terkejut. "Anda lagi bercandakan?" ujar lelaki berbaju loreng yang tidak lain adalah Cendrawasih.
"Saya tidak bercanda kalau tadi bukalah kamu," ujar Reyhan seraya kembali memasukkan senjatanya ditempatnya kembali. Reyhan pun kembali melihat cendrawasih. "Mengapa kamu ada disini, bukannya saya menyuruh kamu menemani wanita tadi?"
"Saya sudah membawanya ke tempat yang aman. Jadi saya menyusul kapten disini."
"Tidak perlu, semua sudah selesai."
"Kalau begitu saya akan mengawal kapten ke tempat yang aman."
Reyhan mengangguk. Reyhan pun kembali pada Khanif. Tanpa Reyhan ketahui, Rania telah sadar dari tidurnya. Bahkan saat ini Rania yang telah berdiri disamping Khanif. Ia tersadar setelah beberapa saat Reyhan pergi.
Rania melihat Reyhan dikejauhan. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memanggil Reyhan. "Kak."
Reyhan melihat Rania. Ia sangat khawatir melihat Rania berdiri dengan kaki yang masih keseleo. Reyhan pun berlari menghampiri Rania. "Kenapa malah berdiri. Nanti kaki kamu makin kesakitan."
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak."
"Sudah, dasar kamu anak nakal tidak bisa disuruh diam sebentar."
Rania malah tertawa mendengar komentar kakaknya. Ia rindu saat-saat Reyhan mengomelinya seperti ini.
"Tapi sayang kan?"
"Kakak, nyerah."
Cendrawasih yang ada dibelakangnya malah tertawa mendengar kata 'menyerah' dari atasannya. Pasalnya, sejak mereka bergabung di dalam pasukan berbaju loreng, tidak pernah sekalipun Reyhan mengatakan hal seperti itu. Bahkan saat mereka mengalami keadaan yang genting sekalipun pada beberapa waktu lalu, cendrawasih tidak pernah mendengarnya.
Padahal sedikit lagi mereka hampir kehilangan nyawa mereka. Namun mungkin itulah keyakinan Reyhan untuk tidak mengatakannya. Mereka yakin bisa menang meski telah didorong ke sudut yang tersempit.
Mendengar Cendrawasih terkekeh dibelakangnya, Reyhan menolehkan kepalanya. Sedangkan Khanif menemukan sosok Rania yang lain. Biasanya Rania bersikap diam, bahkan tidak pernah ia melihat Rania sampai terkekeh seperti ini dan manja seperti ini.
Pemikiran singkat Khanif buyar saat ia melihat Reyhan sudah berjongkok didepan Rania untuk menggendong Rania dibelakang punggungnya seraya mengatakan, "naik."
Khanif sadar, mereka harus segera pulang sebelum hari kian sore. Untuk anggota Reyhan yang masih berada ditengah hutan ini, tentu Reyhan tidak terlalu khawatir lagi menurut pemikiran Khanif, karena meraka pasti sudah terbiasa akan keadaan keadaan disini. Apalagi orang seperti mereka telah terlatih untuk keadaan seperti apapun.
Diperjalanan pulang itu pula Khanif mengetahui kalau kedua kakak beradik ini sangat dekat satu sama lain. Mereka bagaikan dua jiwa dalam satu tubuh. Khanif bisa melihatnya dengan cara mereka bercakap sepanjang perjalanan pulang. Terkadang Rania begitu manja hingga membuat Reyhan tertawa. Terkadang pulang Rania terdengar ngambek hingga membuat Reyhan kalang kabut menenangkannya seperti saat ini.
"Tidak bisa. Kamu harus menginap disana. Lihat, kaki kamu mulai membengkak gara-gara keseleo."
"Rania bisa mengompresnya nanti."
"Pokoknya tidak!" tegas Reyhan.
"Kakak jahat."
"Sayang, ini demi kebaikan kamu juga. Kakak tidak bisa membiarkan kamu merasa sakit sepanjang hari, tanpa ada pengobatan lanjutan. Tolong menuruti apa kata kakak, ya!"
"Pasti kakak ingin mengawasiku untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat kaki ku kian membengkak, kan!"
Reyhan terkekeh, ia tahu cepat atau lambat Rania akan mengatakannya juga. Ia jadi teringat kejadian beberapa tahun belakangan ini saat mereka masih sangatlah kecil untuk mengerti sebuah kesakitan akibat terjatuh.
__ADS_1
Saat itu Rania baru saja terjatuh di halaman rumah mereka yang penuh dengan batu-batuan kecil. Hingga membuat lutut Rania terluka dan berdarah. Reyhan yang ada disana pun sangat terkejut melihat adiknya yang begitu ia benci terluka gara-gara ia menakuti Rania hingga berlari dan berakhir terjatuh.
Ia sangat menyesal telah membenci Rania kecil karena mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tua mereka. Ia sangat membencinya saat mereka masih kecil.
Namun sejak kejadian yang membuat Rania menangis hingga berjam-jam, Reyhan pun sadar kalau ia sangat menyayangi adiknya melebihi kedua orangtuanya. Hanya saja rasa sayangnya itu tertutupi oleh ego yang besar karena menganggap dirinya tidak disayang lagi pada orang tua mereka. Reyhan tahu, ia telah salah menduga.
Reyhan kecil mendongkak melihat kedua orang tuanya yang sudah berdiri didepannya untuk mendengarkan penjelasannya, mengapa Rania bisa terjatuh, hingga membuat lututnya luka parah.
Reyhan kecil dengan tertunduk, ia berkata dengan nada pelan, "maaf, ini semua salah Reyhan, ma, pa. Reyhan sudah menakuti adik sampai adik terjatuh. Reyhan hanya bermaksud ingin menakutinya saja, tapi tidak sampai menyakiti adik."
Beberapa tetes air mata sudah merembes keluar dari matanya yang sudah coba ia tahan sedari tadi.
"Maaf," sesalnya sekali lagi sambil menghapus jejak-jejak air mata yang ada di pipinya.
Mama tersenyum, ia lalu menarik Reyhan kepelukannya dan mengusap kepalanya lembut. "Mama percaya."
Reyhan mendongkak melihat mama. Ia tidak menyangka mama akan percaya pada perkataannya. Bukan malah memberinya hukuman yang setimpal.
"Mama percaya, kamu tidak akan menyakiti adik. Karena mama tahu, kamu pun sayang sama adik, bahkan mungkin melebihi papa dan mama."
Papa yang dari tadi terdiam pun, kini menyahut, "papa juga percaya pada kakak."
Reyhan bergantian melihat papa dan mamanya. Ia lalu menghapus air matanya yang baru-baru lolos karena terharu akan rasa kepercayaan yang mama dan papa berikan.
Ia pun mulai mengatakan apa yang hinggap di kepala kecilnya. Ia bahkan mengatakan kata-kata yang sampai sekarang ia tepati. "Reyhan janji, mulai saat ini Reyhan akan menjaga adik dan menyayangi adik melebihi diri Reyhan sendiri."
Melihat kesungguhan di mata Reyhan, mama dan papa percaya. Mereka pun membawa Reyhan kepelukan mereka dan sama-sama berkata, "kami percaya."
Ah, hampir saja air mata Reyhan meleleh lagi, jika saja ia tidak terusik dengan rengekan Rania dibelakangnya. "Kakak, biar Rania nginap dipenginapan saja ya."
"Sekali kakak katakan 'tidak' tetap tidak."
Di belakang, Rania cemberut, Khanif dan Cendrawasih tersenyum lucu mendengar percakapan mereka.
...To be continued...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...