
Reyhan jelas teringat kejadian yang menimpa adiknya dan Khanif baru-baru ini.
Kala itu, ia semakin cepat melajukan mobilnya setelah Khanif mengirimkan lokasi lokakarya.
Ia berkendara dengan kecepatan tinggi namun tetap dalam kehati-hatian. Setelah berkendara selama dua jam lebih, akhirnya Reyhan tiba di lokasi lokakarya.
Setibanya disana, ia langsung saja keluar dari mobil dan mulai berlari mencari keberadaan Rania.
Sesaat ia mengedarkan pandangannya keseluruh halaman vila, ia menangkap beberapa sosok wanita yang sedang mengangkat seseorang wanita yang sudah terkulai lemas.
Reyhan tentu saja berlari mendekati beberapa wanita itu.
Sesaat semakin dekat dengan mereka, Reyhan semakin yakin kalau wanita yang terkulai lemas itu adalah adiknya, Rania.
"Adik," seru Reyhan membuat beberapa wanita itu melihat ke arahnya. Apa yang terjadi dengannya?" tanya Reyhan khawatir.
"Dia kelelahan telah berlari."
Reyhan lalu mengambil alih Rania dan membawanya ke gendongannya.
"Anda bawa Rania ke dalam vila dulu."
Reyhan mengangguk. Ia pun membawa Rania masuk ke dalam vila. Sesaat mereka telah ada didalam, Rania membuka matanya sebentar.
"Kakak," katanya pelan.
"Adik, kamu kenapa?"
"Tolong pak Khanif, tolong dia. Dia masih ada di sana."
Lalu salah seorang mulai menjelaskan kejadian sebenarnya pada Reyhan. Setelah beberapa saat, Reyhan lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Ada yang bisa menujukkan jalannya pada saya?" tanya Reyhan.
Semua diam.
"Atau kalian memberikan saya petunjuk jalan."
May yang ada disana pun memberikan Reyhan petunjuk jalan dimana ia bisa menemukan Khanif. Bukannya mereka semua tidak dapat menunjukkan Reyhan jalan dimana mereka menemukan Rania, hanya saja mereka sudah dilanda kelelahan. Jika saja mereka tidak mengingat untuk menjaga Rania, bisa dipastikan kalau mereka semua telah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Setelah dijelaskan oleh May dimana ia dapat menemukan keberadaan Khanif, Reyhan pun berterima kasih pada mereka semua karena telah menolong adik kesayangannya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak atas bantuan kalian dan selama aku pergi, tolong jaga adikku," ujar Reyhan.
"Kamu tidak usah khawatir, kami sudah menganggap Rania sebagai saudari kita semua."
"Iya, kami adalah keluarga, jadi pasti kami akan menjaganya. Anda tenang saja," ujar salah seorang wanita disamping May.
"Baiklah, aku percayakan adikku sama kalian."
Reyhan pun segera berlalu dari sana untuk mencari keberadaan Khanif sesuai penunjuk yang telah dikatakan para wanita tadi.
Setibanya ia diluar vila, Reyhan lantas berlari menuju jalan kecil - tempat para wanita itu muncul.
Mulai dari sanalah ia terus berlari lurus. Bahkan ia sudah tidak dapat menghitung berapa kecepatan larinya saat ini karena yang terpenting saat ini adalah ia harus segera menemukan keberadaan Khanif.
Sesaat ia semakin masuk ke dalam, ia dapat dengan jelas mendengar suara orang yang tengah berkelahi.
Reyhan lantas semakin mempercepat laju larinya agar ia dapat segera bertemu dengan Khanif dan beberapa orang lainnya yang tadi telah di katakan juga oleh para wanita itu
Melihat kalau beberapa lelaki disana sudah jatuh tersungkur di tanah dengan badan yang pastinya sudah terasa sakit akibat dipukuli oleh David membuat Reyhan memunculkan dirinya.
Khanif yang masih bertahan pun sudah hampir lelah dibuatnya. Namun lagi-lagi ia tidak ingin menyerah. Sesaat Khanif hendak menyerang kembali, Reyhan langsung saja memunculkan dirinya. Hal itu pun sukses membuat Khanif dapat bernafas lega karena ia tau, mulai saat ini keselamatan Rania tidak dapat terancam lagi oleh David.
"Biar aku saja yang mengakhirinya," ujar Reyhan sontak membuat David melihat ke arahnya.
"Ternyata kita masih bisa bertemu," ujar Reyhan tersenyum simpul.
"Hem, ya begitulah," ujar David seraya mengedikkan bahunya santai.
"Apa ini profesimu yang sebenarnya setelah tidak lulus dalam pemilihan kapten di ketentaraan," ujar Reyhan sengaja memancing amarah David.
"Jangan sombong kamu, ya. Kalau kamu mau, kita bisa berduel disini. Kita lihat siapa yang sebenarnya berhak menjadi kapten dari tim Biru," ujar David berapi-api.
"Em, baiklah," ujar Reyhan menerima ajakan duel dari David. Biar bagaimana pun, ia akan menyelesaikan masalah yang dibuat oleh David bertahun-tahun lalu dan saat ini.
Reyhan pun menggulung lengan bajunya dan menyuruh agar Khanif menjauh darinya.
David yang tersenyum kejam perlahan-lahan maju. Reyhan pun sama. Mereka terlihat seperti mengambil ancang-ancang untuk menyerang satu sama lain. Hingga beberapa detik berikutnya, perkelahian itu pun tidak dapat ia hindarkan.
David yang mulai merasa kalah, berpikir untuk melakukan kecurangan dalam duel mereka. Dan ... kecurangan itu dimulai saat ia dengan sengaja memanggil nama Rania untuk mengalihkan perhatian Reyhan atau lebih tepatnya menghilangkan fokus Reyhan.
Tentu saja rencana liciknya itu berhasil saat Reyhan menolehkan wajahnya ke arah belakangnya, melihat apakah Rania benar ada atau tidak.
__ADS_1
David yang mendapat kesempatan langkah itu pun segera mengarahkan pisaunya ke arah Reyhan. Namun Khanif yang tau kalau David berbuat kecurangan, secepat mungkin berlari ke arah Reyhan dan mendorongnya menjauh.
Walhasil, Khanif lah yang mendapat tusukan pisau dari David hingga membuat Khanif tersungkur di tanah dengan darah yang mulai keluar dari perutnya.
"Khanif!" teriak Reyhan. Ia secepat mungkin mendekati Khanif yang mulai kesakitan.
"Aku tidak apa-apa," katanya begitu pelan dengan menahan sakit di perutnya.
Para karyawan Khanif yang melihat kejadian tak terduga itu pun ikut mendekati Khanif.
"Kalian bawalah Khanif pergi dari sini," pintanya. "Biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini."
David yang melihat itu pun tertawa dengan tawa menggelegar. Tawa David itu yang kerasa seperti itu memenuhi tempat ini. Tawanya seperti memantul ke pohon yang satu ke pohon lainnya hingga membuat Reyhan kian bersemangat untuk segera mengalahkan David.
"Khanif, bertahanlah!" ujar Reyhan sebelum ia kembali berdiri untuk bersiap berduel dengan David.
Setelah berdiri didepan David, Reyhan pun kembali memulai aksi menyerangnya.
Aksi perkelahian mereka pun tidak dapat terhindarkan lagi. Namun kali ini, Reyhan mengerahkan semua kekuatannya untuk segera mengalahkan David. Biar bagaimana pun, ia tidak akan membiarkan David lolos begitu saja. Sama seperti Alex yang saat ini masih mendekam di sel tahanan yang dingin.
"Kak Rey?" panggil Rania pelan seraya memegang lengan kakaknya.
"Kak?" panggil Rania sekali lagi membuat Reyhan tersadar.
"Kakak kenapa?"
Reyhan tersenyum untuk menutupi kecurigaan adiknya ini. "Tak apa. Kakak hanya khawatir denganmu, itu saja."
"Kakak kenapa datang ke sini?"
"Kakak hanya ingin memastikan kalau kamu sedang istirahat atau tidak. Melihat kamu sepertinya ingin segera beristirahat membuat kakak sepertinya telah salah menduga. Baiklah, kalau begitu kakak keluar dulu. kakak takut kakak akan menganggu waktu istirahatmu."
"Ngga kok, kak."
"Tidak, kamu istirahat saja."
Rania meganggukkan kepalanya. Setelahnya, Reyhan pun berlalu dari kamar Rania.
...To be continued...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
Yuk segera VOTE. Hari baru untuk vote udah di mulai loh!
...By Siska C...