
"Bagaimana bisa mereka bisa berbicara seperti itu!" ungkapnya dalam hati. Ia lalu berdehem, membuat dua orang wanita itu menoleh padanya dengan memberikan pandangan terkejut.
"Mbak Davina! Kami ... kami ...," ujar gadis berkacamata gagap. Entah ia harus berkata apa sekarang saat mereka tertangkap basah sedang membicarakan atasan mereka. Padahal mereka tidak bermaksud buruk dalam membicarakan masa depan perusahaan.
"Kalian berdua, ikut saya sebentar ke ruangan saya," ujar Davina.
Seketika gadis lainnya berdiri dari tempat duduk mereka dan menghampiri Davina seraya memegang salah satu tangan Davina. Ia bermaksud agar Davina dapat melupakan pembicaraan mereka yang unfaedah tadi.
"Mbak Dav, kami ngga bermaksud kayak gitu kok. Kami minta maaf. Sungguh!"
"Aku sudah memaafkan kalian karena sikap kalian ini. Tapi, membicarakan atasan kita, sudah termaksud dalam wewenangku. Jadi, aku akan menunggu kalian sebentar di ruanganku. Jangan sampai telat," ujar Davina sebelum pergi meninggalkan mereka yang kian gelisah setiap detiknya.
Tentu saja mereka tahu siapa Davina dan wewenang yang dipegangnya selama bekerja disini. Tau begini akan kejadiannya, mereka tidak akan membicarakan atasan mereka lagi.
Meski pembicaraan itu ada bagusnya juga untuk atasan mereka, karena dengan begitu, mereka tentu ingin yang terbaik bagi atasan mereka dan masa depan perusahaan. Namun jika sudah seperti ini keadaannya, mereka memilih bungkam saja.
"Duh, gimana nih! Kamu sih, mancing-mancing pembicaraan tentang pak Khanif mulu. Kan, gini jadinya. Kita berdua harus masuk keruangan mbak Davina lagi."
Tiba-tiba gadis berkacamata memotong ucapannya, "eh, aku baru masuk ke ruangan mbak Davina, loh!"
"Iya tahu! Kamu mah enak, baru sekali dipanggil ini. Lah, aku? Mana aku udah pernah kena tegur lagi sama mbak Davina, gara-gara sebelumya udah pernah membicarakan Rania yang menaiki lift khusus. Meski membicarakannya hanya lewat grup saja." Teman gadis berkacamata itu pun mendesah resah, "huft, aku tidak tahu, apakah karirku bekerja disini masih bisa bertahan atau malah harus berakhir seperti ini. Gimana nasib keluargaku nantinya," sesalnya.
"Maaf, deh. Aku kan ngga tahu kalau mbak Davina sampai lewat didekat kita dan mendengarkan percakapan kita. Kamu sih, makanya mulai saat ini, kamu ubah tuh kebiasaan buruk kamu. Kamu jangan lagi menyebar gosip di grup kantor apalagi sampai membeberkannya di media sosial kamu," pesannya.
"Iya, iya aku tahu. Aku janji, kalau aku ngga dikeluarkan dari kantor ini, aku ngga bakalan lagi mengirim atau membicarakan tentang mereka," janjinya bersungguh-sungguh.
"Jangan di mulut doang lohyang kamu katakan, tapi yang penting itu dihati dan tindakan juga. Itu baru benar."
"Iya aku janji. Kamu jadi saksinya. Jika suatu hari aku melakukan hal yang sama lagi, kamu bisa tegur aku ataupun bisa langsung mengadukan aku sama siapa pun," katanya menegaskan.
"Yakin?" Gadis berkacamata itu memicingkan matanya dari balik kacamata. Ia sungguh ingin melihat kebenaran dari temannya ini.
__ADS_1
"Iya aku 100 persen yakin. Inget ya, aku ngga pernah seyakin ini."
"Baiklah, aku pegang kata-katamu."
Gadis berkacamata itu senangnya bukan main saat temannya itu sudah mau sadar walaupun dia belum bisa membuktikannya lewat tindakannya. Tapi tak apa, yang terpenting temannya ini sudah mau berubah ke arah yang lebih baik lagi dan mau meninggalkan kelakuan buruknya dimasa lalu.
Bukannya ia bahagia diatas penderitaan orang lain. Hanya saja, ia bersyukur kali ini ucapan mereka dapat didengar langsung oleh Davina. Ia tahu, ia juga terlibat. Tapi tak apa. Selama keadaan bisa merubah temannya ke arah yang lebih baik, ia tidak akan menyesalinya.
"Hei, kamu kenapa diam?" ujarnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan kacamata temannya.
"Oh, tidak apa-apa. Ayo makan, nanti jam istirahat keburu habis loh!"
Dua gadis itu pun melanjutkan acara makan mereka yang sempat tertunda.
Di lain sisi, Davina malah pergi menghampiri mama dan Khanif yang duduk agak jauh dari kedua wanita yang sempat ditegurnya tadi.
"Sayang," ujar mama senang melihat kedatangan Davina yang hanya dikabarinya lewat salah satu media sosial yang berwarna hijau, ber-ikon telpon.
"Ma, maaf Davina telat," ujar Davina seraya mencium tangan mama.
Davina pun duduk didekat mama. Tasya yang melihat interaksi dari kedua wanita berbeda umur yang cukup jauh itu pun terheran-heran melihatnya. karena Davina seperti sudah dekat sekali dengan mama Khanif daripada dirinya.
Mengetahui hal itu, membuat Tasya harus melakukan usaha lebih. Ia tidak ingin dikalahkan oleh gadis mana pun lagi. Meski gadis didepannya itu terlihat akrab dengan mama mau pun Khanif.
Untuk membuat dirinya terasa pantas dari Davina, Tasya pun berniat memperkenalkan diri lebih dahulu agar ia mendapat nilai plus di mata mama dan tentunya juga di mata Khanif.
"Hai, perkenalkan saya Tasya, teman Khanif," ujarnya seraya mengulurkan tangannya lebih dahulu.
Davina pun ikut mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan yang terarah padanya. "Saya Davina," katanya singkat.
"Senang berkenalan denganmu. Aku harap kita mempunyai hubungan yang lebih."
__ADS_1
Davina tersenyum sebagai jawaban.
"Aku pergi pesan makanan dulu."
Davina pun beranjak dari tempat duduknya. Sepeninggal Davina, Tasya pun mencari topik lain sambil menunggu pesanan mereka siap.
"Tante abis ini mau kemana?"
"Tante mau pulang aja. Bosan kalau tinggal di ruangan Khanif terus."
Tasya terkekeh pelan. "Tante benar. Kalau Khanif sudah tenggelam dalam pekerjaannya, apapun didekatnya tidak akan terlalu dia hiraukan." Tasya pun mulai bercerita tentang masa sekolahnya dengan Khanif dulu. "Saat masih menjabat sebagai ketua osis pun sama. Kalau udah ketemu dengan tugas yang diberikan sama pak Eko, pasti Khanif akan tenggelam dalam menyelesaikan tugasnya itu. Padahal Tasya yang sebagai wakilnya pun bisa membantunya."
Lagi-lagi mama dibuat terkejut dengan fakta yang baru diketahuinya ini.
"Khanif selalu saja seperti itu. Jadi Tasya ngga heran lagi kalau khanif fokus pada kerjaannya," ujar Tasya sebenarnya hendak mengatakan kalau dirinya bisa menerima Khanif meski mungkin Khanif tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk dalam urusan kerjaan.
"Tante heran sama anak tante ini. Gimana nanti pasangannya."
Khanif melihat mama yang dari tadi diam mendengarkan perbincangan mereka. Ia pun berkata, "bisa tidak mama tidak membicarakan hal itu? Kita fokus makan aja dulu." Khanif lalu beralih pada Davina yang kembali mendekati mereka.
Mama pun merenggut kesal, "ini kan demi masa depanmu juga. Anak nakal, pokoknya, mama akan tetap membicarakannya nanti."
"Iya. Mama bisa membicarakannya kapan aja, tapi tidak untuk sekarang."
"Mama akan tunggu waktu yang tepat."
Entah angin segar dari mana hingga membuat Khanif menolehkan wajahnya ke meja yang tidak terlalu jauh dihadapannya. Melihatnya, membuat nafsu makan Khanif tiba-tiba saja hilang entah kemana!
...To be continued ...
Loh, loh, apa yang dilihat Khanif ya, sampai membuat nafsu makannya hilang?
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...