
Hey, selamat untuk yang berhasil nebak siapa yang memeluk Khanif, ya.
Selamat membaca lagi 💪
...***...
Davina sedang berada dimeja kerjanya saat sebuah email masuk kedalam email yang ia gunakan untuk urusan kantor. Davina lantas membuka emailnya. Disana, ia dapat melihat nama lelaki yang ditugaskan oleh Khanif sebagai pengawas lapangan di kota M. Dia adalah Tama. Lelaki yang senantiasa memegang tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang kepercayaan Khanif.
Davina lantas membaca isi dokumen yang dikirimkan Tama untuk Khanif lewat emailnya. Setelah membacanya, ia pun mencetak dokumen itu. Selembar demi selembar kertas mulai keluar dari mesin printnya. Ia kemudian mengambil sebuah map dan memasukkan lembar demi lembar hasil kerja sama kedalamannya.
Baru setelah itu, ia membalas pesan Tama yang mengatakan kalau dirinya telah menerima dokumen itu dan menuliskan kata terima kasih pada Tama karena telah kerja keras sampai saat ini.
Davina pun beranjak dari tempat duduknya, saat sebelumya tadi ia mematikan komputer kerjanya.
Dengan langkah pasti, Davina bergegas pergi menemui Khanif diruangannya. Saat dirinya baru saja keluar dari ruangannya, beberapa pasang mata karyawan yang berpapasan dengannya memandang aneh dirinya. Seperti ada sesuatu yang salah dengan penampilannya.
Tapi Davina tidak tahu apa yang salah karena tadi sebelum dirinya beranjak pergi, ia sempat mematut dirinya didepan cermin kecilnya dan merasa tidak ada yang salah lagi. Bahkan bedak atau pun lipstik yang mungkin terlihat menor.
Davina pun memencet tombol lift. Saat dirinya tengah menunggu, tidak sengaja ia mendengarkan para pasang mata berbicara dibelakangnya.
"Huh dasar. Ini nih, batunya kalau orang terlalu semena-mena. Kena kan sekarang."
"Iya, ternyata dia bekerja disini hanya untuk mendapat suami kaya aja."
"Maksud kamu?" tanyanya pura-pura tidak mengerti, padahal wanita berbaju merah itu hanya ingin menambah garam di luka Davina saat ini.
"Dia tuh, sebenarnya orang ngga mampu, miskin! Modal cuma wajah, doang. Makanya dia kejar pak Khanif, biar ketularan kaya."
"Huh, cantik aja mau disombongin!"
Davina tidak tahan lagi. Air matanya pun menetes saat dirinya sudah berada didalam lift menuju lantai tempat ruangan Khanif berada. Tangannya lantas terulur untuk menghapus air matanya yang berjatuhan.
Apa salahnya mempunyai wajah cantik. Toh, ia tidak memiliki sedikit pun niat untuk menyombongkan diri dengan parasnya yang cantik itu. Mereka juga tadi mengatakan kalau dirinya adalah orang yang semena-mena dalam bekerja.
Apanya yang semena-mena? Ia hanya menjalankan tugasnya dalam menjadi salah satu karyawan dari perusahaan Khanif. Ia akan tegas menghukum siapapun yang berbuat salah. Tapi ia tahu dalam batasan menghukum.
__ADS_1
Seperti kejadian tempo hari ia mendapati dua wanita yang kedapatan olehnya tengah membicarakan Khanif. Ia memberinya hukuman ringan. Apalagi kedua wanita itu telah berjanji akan berubah.
Jadi apa yang salah dengan dirinya? Apa para wanita itu iri padanya? Jika ya, pantas saja mereka mengatakan hal sesakit itu. Namun, tidak sepantasnya juga mereka membicarakan suatu perkataan yang dapat membuat hati seseorang terluka. Karena jika semua itu tidaklah benar, maka cepat atau lambat, mereka pun akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.
Sesampainya Davina di lantai tempat ruangan kerja Khanif berada, perlahan Davina melangkahkan kakinya keluar dari lift. Disana, ia langsung saja menuju ruangan Khanif tanpa bertanya pada Lisa yang tengah duduk memainkan ponselnya.
"Dasar tidak tahu aturan," gumam Lisa yang masih dapat didengar oleh Davina.
Davina pun menghentikan langkah kakinya dan menolehkan wajahnya pada Lisa. Ia tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa sedihnya.
"Pak Khanif ada, Lis?"
"Mau apa kamu mencarinya di jam istirahat seperti ini? Kamu mau ngadu, ya?"
"Tidak, ada berkas yang ingin aku berikan padanya."
"Sini berikan saja sama aku, biar aku yang akan memberikannya nanti pada pak Khanif," ujar Lisa dengan tangan terulur pada Davina.
Davina menggeleng. "Maaf, tapi biar saya saja yang memberikannya langsung."
"Ini pasti akal-akalan kamu aja, kan. Udah deh, kamu nyerah aja. Lagian niat kamu udah diketahui orang banyak," ujar Lisa santai.
"Apa pak Khanif ada?"
"Pak Khanif tidak ada diruangannya. Makanya aku bilang, biar aku yang menyerahkan dokumen itu," ujar Lisa ketus.
"Pak Khanif belum tiba dari makan siang?"
"Duh, suka-suka pak Khanif-lah," ujar Lisa sambil melipat kedua tangannya didada.
"Kalau begitu nanti saya kembali."
Davina pun pergi dari hadapan Lisa dan bergegas kembali ke ruangannya. Sampainya Davina disana, Davina hanya menaruh dokumen itu ditempat yang aman. Baru setelahnya, ia pun pergi ke rooftop perusahaan untuk menenangkan diri.
Saat dirinya baru saja membuka pintu keluar ke rooftop kantor, Davina sempat tertegun melihat lelaki yang tengah berdiri didepannya. Ia seketika berjalan cepat dan menghamburkan diri kepelukannya.
__ADS_1
Ia lalu menenggelamkan wajahnya ke dada bidang lelaki itu dan mulai menangis sesegukan. Menumpahkan segala sesak yang bersarang di dadanya saat ini.
"Siapa yang membuat kamu menangis?" tanya lelaki yang tidak lain adalah Khanif. Davina menggelengkan kepalanya pelan.
Khanif lalu melepaskan pelukannya dan mendonggakkan kepala Davina agar melihatnya. Davina malah menundukkan pandangannya, tidak ingin bertatapan mata dengan Khanif.
"Katakan," ujar Khanif pelan. Namun lagi-lagi Davina menggeleng pelan. Ia tidak ingin Khanif mengetahuinya.
"Ayo kita duduk dulu dan membicarakannya baik-baik," ajak Khanif.
Davina mengangguk. Khanif pun menganggam tangan Davina agar mengikutinya ke salah satu tempat duduk. Saat Davina mulai melangkahkan kakinya mengikuti Khanif, Davina pun mengangkat kepalanya, melihat ke arah depan. Seketika ia terkejut melihat Rania juga ada disana.
Rania pun juga ikut terkejut melihat keadaan yang tidak terduga ini. Ia berdiri mematung dan tak tahu harus berbuat apa, karena keadaan ini begitu tiba-tiba.
Davina yang sadar akan keadaan mereka pun buru-buru ingin melepaskan genggaman tangannya pada Khanif, namun bukannya Khanif melepaskannya, Khanif malah semakin erat dalam menggenggam tangannya dan terus saja melangkah kakinya menuju tempat Rania berdiri bagai patung.
"Pak," panggil Davina pelan.
"Sudah, tidak apa."
Sesampainya mereka disana, barulah Khanif melepaskan genggaman tangan mereka. Meski sudah lepas, tak ayal Khanif tidak memperhatikan Davina. Namun Davina yang diperhatikan oleh Khanif, malah tidak melihatnya karena pandangan matanya kini fokus pada Rania yang tentu saja masih terkejut.
Dengan canggung, Davina pun menyapa Rania. "Rania."
Rania tersenyum menanggapi. "Sepertinya saya harus pergi dari sini," ujar Rania.
Saat Davina hendak mengeluarkan kata-katanya untuk menyuruh Rania tinggal, Khanif secepat mungkin berbicara tanpa nada memerintah. "Hem, tolong tutup rapat pintu itu."
"Baik, pak."
Rania pun berlalu dari hadapan mereka berdua. Saat Rania tinggal memutar knop pintu untuk pergi dari rooftop kantor, Rania menolehkan wajahnya sekilas. Namun sepertinya ia menyesal karena telah menolehkan wajahnya itu.
...To be continued...
Apa yang dilihat oleh Rania, ya? ada yang bisa nebak lagi ngga ya?
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...