
"Tunggu!" ujar Khanif membuat Rania menghentikan langkah kakinya, lalu kembali berbalik melihat Khanif.
"Ada apa lagi?"
"Yakin tidak ingin aku antar pulang?"
"Tidak usah dan terima kasih," ujarnya kembali berbalik.
"Aku hanya bercanda. Ayo, aku akan mengantarmu pulang, sungguh."
"Tidak usah. Aku bisa dijemput sama kak Rey."
"Rey tidak akan datang menjemputmu. Aku sudah mengatakan padanya tadi. Untuk itu, aku yang sudah berstatus sebagai calon suami kamu, akan mengantarmu pulang, calon istriku."
Blus, pipi Rania kembali merasa panas dan merasa memerah.
"Aku suka dengan pipimu yang memerah."
"Ternyata bapak pandai membuat orang salah tingkah juga, ya."
"Siapa yang kamu panggil bapak?" tanya Khanif sengaja.
"Tentu saja Anda, siapa lagi?"
"Baiklah. Panggilan barusan aku maklumi. Namun untuk panggilan berikutnya, kamu bisa memanggilku kakak atau casu jika kita tidak dalam pekerjaan," kata Khanif.
"Tunggu-tunggu, panggilan kakak masih bisa aku mengerti, tapi casu?" tanyanya sambil mengernyit tidak mengerti.
"Tentu saja kepanjangannya calon suami, calon istrinya Khanif."
Rania sungguh sangat ingin tertawa saat mendengar ucapan Khanif barusan. Namun ia sengaja menahan gelak tawanya agar Khanif tidak semakin membuat pipinya tambah memerah.
"Baiklah, tuan Khanif. Aku ingin pulang sekarang."
"Oh, aku lupa memberitaukan kamu lagi tentang peraturannya, jika kamu tidak memanggilku kakak atau casu."
"Peraturan apa?" tanya Rania kian heran saja.
"Jadi begini. Jika kamu salah memanggil panggilan namaku, maka pernikahan kita akan dipercepat dalam sehari."
"Apa!"
"He'em. Tadi kamu memanggilku tuan, sedang kita tidak dalam pekerjaan. Jadi, pernikahan yang akan dilakukan dua minggu kedepan menjadi sisa tiga belas hari lagi."
"Apa? Mana bisa begitu. Keluarga aku kan belum mengetahui kejadian ini!"
"Siapa bilang? Malah. Papa dan mama kamu sudah tau sejak dulu."
"Kapan?"
"Beberapa minggu yang lalu. Baiklah. Sebaiknya kita pulang sekarang. Ayo!" ajak Khanif segera memutuskan pembicaraan mereka.
Mau tidak mau, Rania pun mengikuti langkah kaki Khanif dengan berjalan disampingnya.
Dalam perjalanan menuju parkiran mobilnya, Khanif kembali teringat dengan aksi nekatnya hari ini. Ia bahkan sampai bertanya-tanya dalam hati.
Bagaimana jika Rania kembali menolak lamarannya? Bagaimana jika Rania langsung saja meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun? Ah, ia benar-benar tidak memperhatikan hal itu tadi.
"Kak?" panggil Rania pada Khanif yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
"Aku sudah memanggilnya kakak, tapi dia masih diam saja. Baiklah. Ini adalah kemauannya," pikir Rania dalam hati.
"Bapak Khanif yang terhormat," ujar Rania seketika membuat Khanif tersadar.
"Dua belas hari lagi," ujar Khanif membuat Rania melototkan mata tak percaya.
"Mana bisa begitu. Aku tadi sudah memanggil kakak, tapi kakak tidak menjawab. Jadi sekalian saja aku panggil bapak," sewot Rania sengit.
Bukannya membalas perkataan Rania, Khanif malah terpaku mendengar Rania memanggilnya kakak.
"Kakak kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Sebaiknya aku harus segera mengantarmu pulang. Kalau tidak, mungkin Reyhan tidak akan mengizinkanku untuk mengantar-jemput kamu nantinya."
"Antar jemput?"
"He'em. Karena kita akan pergi ke kantor dan pulang bersama nantinya."
Lagi-lagi Khanif membuatnya bersemu merah.
Tidak ingin Khanif melihatnya, Rania pun segera memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Kenapa kamu melihat ke arah samping?" tanya Khanif sekilas melihat Rania.
"Tidak apa-apa. Aku sedang ingin saja."
Selanjutnya, Khanif pun berdehem, lalu menambah laju mobilnya menuju rumah Rania.
Sesampainya mereka di rumah Rania, Khanif lebi dahulu keluar untuk membukakan pintu buat Rania.
Reyhan yang memang sedang ada disana berlatih diri, melihat kejadian itu. Ia lantas sengaja berdehem untuk menyadarkan dua orang yang tengah dilanda kasmaran.
Sudah! Rania kembali malu dilihat oleh sang kakak dengan pandangan jahil yang terarah padanya. Perlahan pun Rey pergi menghampiri mereka dengan gaya aneh mereka.
"Aku kira acara reuni itu masih lama, ternyata hanya sebentar ya," ujar Reyhan yang sebenarnya tidak bermaksud pada acara, namun ia bermaksud pada Khanif yang cepat sekali melamar adiknya.
"Ya, emang waktunya udah segitu kak," ujar Rania.
Khanif yang mengerti maksud sebenarnya dari Reyhan pun hanya dapat tersenyum kecil. Ia tau, Reyhan sengaja berkata seperti itu.
"Ah, sudahlah. Anak kecil mana tau maksud orang dewasa."
"Tapi kecil-kecil begini, entar lagi nikah loh! Lah, kakak. Udah dewasa, tua lagi belum ada tanda-tanda tuh!" balas Rania membuat Khanif menahan tawanya.
"Lihat, Khanif menertawakan kita."
Sontak hal itu membuat Rania tersadar kalau Khanif masih berada disekitar mereka.
"Aduh!" runtuknya dalam hati. "Pasti kak Khanif sudah melihat tingkah konyolku tadi!" lanjutnya kemudian.
"Kak Khanif belum mau pulang?" tanya Rania ambigu.
"Baru aja. Baiklah. Aku pulang dulu. Besok pagi aku akan menjemputmu untuk ke kantor bersama."
"Tidak usah," jawab Reyhan lebih dahulu. "Biar aku saja yang akan mengantar adikku pergi kantor."
"Tak apa. Kami juga searah kok."
"Kamu sudah mencoba merebut adikku, kan! Jangan harap Khanif. Sebelum kamu duduk didepan papa aku dengan menjabat tangannya, kamu tidak akan bisa melakukan semua keinginanmu," ujar Reyhan sengaja.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak bermaksud seperti itu."
Tiba-tiba Reyhan tertawa pelan. "Aku hanya bercanda. Namun untuk mengantar jemput adikku, aku tetap mengatakan tidak."
"Baiklah," ujar Khanif. "Kalau begitu aku pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Rania dan Reyhan hampir bersamaan.
***
Keesokan paginya, Rania bangun dengan wajah yang berseri-seri. Bahkan saat ingin sarapan bersama, mama, Reyhan dan papanya yang baru tiba semalam, Rania selalu saja tersenyum. Ia tersenyum jika mengingat bagaimana Khanif melamarnya dengan sangat romantis kemarin.
Reyhan yang memang tau kalau hati adiknya tengah berbunga-bunga pun diam-diam tersenyum lucu. Sungguh, baru pertama kali ini ia melihat sang adik merona seperti ini.
Lalu, ide jahil pun terlintas di pikirannya. Ia pun berkata dengan nada sengaja, "calon pengantin wanita sepertinya ingin segera berangkat ke kantor, pa, ma," ujar Reyhan, namun Rania tidak menyadari hal itu karena ia masih saja sibuk dengan dunianya sendiri.
Hingga papa yang juga ikut-ikutan jahil pun menanggapi ucapan Reyhan. "Sepertinya papa dan kamu akan segera tersingkir di hati adik kamu ini," ujar papa.
"Siapa yang tersingkir, pa?" tanya Rania tidak terlalu mendengar percakapan dua orang lelaki yang sangat disayanginya itu.
Papa dan Reyhan sontak saja tertawa.
"Lihat, pa. Belum apa-apa adik sudah tidak memperhatikan kita. Mungkin besok-besok sudah melupakan kita juga," ujar Reyhan.
"Kakak bicara apa, sih! Jangan bercanda deh."
Mama yang baru datang dari arah dapur dengan membawa sayur pun jadi ikut tersenyum.
"Udah. Papa dan kakak tidak usah menggoda adik lagi. Mama yakin. Sampai kapan pun kalian tidak akan pernah tergantikan di hati adik. Benarkan, sayang?"
"Tergantung, ma," ujar Rania bercanda.
"Tuh, tuh dengar. Bahkan adik sendiri berkata seperti itu," adu Reyhan membuat Rania tertawa cekikitan.
"Kakak, aku hanya bercanda. Mana bisa Rania melupakan papa dan kakak. Mau jadi adik apa aku ini."
"Jadi adik orang lain saja," ujar Reyhan.
"Ma ...," rengek Rania seperti anak kecil.
"Sudah-sudah. Kakak dan adik berhenti bercanda karena sebentar lagi jam delapan."
"Itu artinya adik harus segera ke kantor."
"Dan itu artinya kakak harus segera mengantar adik juga," balas Rania.
"Kalian!"
"Ma, kami cuma bercanda kok," ujar Reyhan dan Rania hampir bersamaan.
Papa yang melihat hal itu pun ikut-ikutan tersenyum lucu.
"Papa juga jangan jail sama adik," ujar mama membuat papa terdiam. Lalu kembali menikmati sarapan paginya.
...To be continued ...
...Wah, ini namanya the Power of mama 😅...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...