
"Bapak punya maksud lain datang kesini?" tanya Rania penuh selidik.
Khanif tersenyum menanggapi. Lalu sedetik kemudian tertawa kecil. Tidak ingin Rania berpikiran yang tidak-tidak, Khanif pun memilih untuk berbicara, namun tentu saja ia ingin melihat bagaimana reaksi Rania dulu, sebelum ia berkata jujur.
"Tentu saja saya punya niatan lain, selain berkata jujur pada papa kamu."
Benar! Dugaan Rania benar. Khanif mempunyai niatan baru yang tidak baik. Tapi apa itu, Rania tidak dapat menebaknya lagi. Sungguh Khanif makin membuatnya penasaran.
Namun ia tidak mungkin menjadi wanita yang ingin tahu semua urusan orang lain. Ia bukan Lisa yang mempunyai keingintahuan yang tinggi akan hidup orang lain. Lagi pula untuk apa ia ingin mengetahui maksud lain dari kedatangan Khanif.
"Emm, bapak mau minum apa, teh, kopi, atau minuman yang bersoda?" tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tidak perlu, saya hanya sebentar saja disini untuk mengatakan apa yang terjadi disana." Khanif lalu berdiri. "Baiklah. Saya harus pergi sekarang. Selamat beristirahat."
Khanif pun keluar dari rumah Rania diikuti dengan Rania dibelakangnya yang hendak mengantarnya keluar. Saat Khanif baru saja keluar dari rumah, Khanif berbalik langsung dan hal itu sukses membuat Rania terkejut hingga Rania hampir saja terjatuh, jika saja Khanif tidak sigap menangkapnya.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk membuatmu terkejut, hingga membuatmu hampir saja terjatuh." Khanif perlahan membuat Rania kembali berdiri tegap lagi.
"Ti ... tidak apa-apa, pak. Bisa tolong lepaskan tangan Anda sekarang?"
Khanif gelagapan, ia tidak sadar kalau ia terus saja memegang Rania.
"Ya, maaf saya tidak sengaja."
"Tak apa. Oh iya, kenapa Anda tiba-tiba berbalik?"
"Itu tidak penting lupakan saja. Baiklah saya pulang dulu. Semoga kamu lekas sembuh."
"Eh, tunggu! Anda tidak boleh pulang sebelum Anda memberitahu saya maksud Anda berbalik tadi!"
"Itu tidaklah penting."
"Tapi jika menyangkut diri saya, pastilah itu penting. Bukan buat Anda, tapi bagi saya."
__ADS_1
Khanif diam sejenak sebelum ia mengatakan alasan dari berbaliknya tadi. "Saya datang kesini juga untuk melihat keadaan kamu. Selain dari menceritakan kejadian yang sebenarnya."
Blus, Rania sepertinya merasa kalau pipinya memerah karena mendengarkan niatan lain Khanif datang ke rumahnya. Tahu begini, Rania tidak akan memaksa Khanif untuk mengatakannya.
Tidak ingin Khanif mengetahui kalau dirinya tengah tersipu, ia pun segera pergi dari hadapan Khanif.
"Saya masuk dulu. Semoga hari Anda menyenangkan," ujarnya sebelum menutup pintu.
Rania tersadar dibelakang pintu sambil memegang dadanya. Entah mengapa, akhir-akhir ini ia selalu tidak bisa mengontrol degupan jantungnya. Sedangkan Khanif, ia tersenyum melihat reaksi Rania. Ia tidak menyangka Rania akan tersipu malu seperti itu.
"Mengapa kamu senyum-senyum sendiri didepan pintu rumah yang tertutup?" tanya Reyhan yang baru saja tiba.
Ia berdiri tidak jauh dari samping Khanif. Awalnya ia ingin menyadarkan Khanif. Namun melihat Khanif sibuk dengan dunianya sendiri, ia pun tidak mengganggunya. Lama menunggu tidak ada tanda-tanda kalau khanif akan menyadari kedatangannya, ia pun memecah fokus Khanif dengan bertanya.
"Oh, itu. Tidak ada apa-apa."
Reyhan mengangguk. "Sudah ketemu sama adik saya?"
"Iya, baru saja Rania masuk kedalam rumah."
"Mari masuk," ajak Reyhan.
"Tidak perlu, saya baru mau pergi ke kantor lagi," tolak Khanif.
"Baiklah, saya tidak akan menahanmu lagi."
Khanif mengangguk, ia pun pergi dari rumah Rania.
Sepanjang hari itu, Khanif menghabiskan seluruh waktunya hanya didalam kantor mengecek semua dokumen penting dari hampir seluruh divisi perusahannya. Ia bahkan sampai lembur dikantor mengingat selama beberapa hari ini ia tidak berada ditempat.
Jika saja Davina tidak ikut dengannya kala itu, pasti pekerjaan Khanif tidak akan serumit ini. Karena biasanya, Davina lah yang membantu Khanif memeriksanya kalau khanif sedang berada diluar kota.
Namun jika Davina tidak ikut bersamanya kala itu, hari ini dan hari seterusnya pasti ia akan mendapati pembicaraan-pembicaraan yang tidak penting terkait dirinya dan Rania yang pergi berdua saja.
__ADS_1
Untung saja Khanif sudah memikirkan hal ini jauh sebelumnya. Jika tidak, ia sudah pasti menduga, ia tidak akan melewati hari yang tenang seperti hari ini. Ia cukup puas akan pemikirannya itu. Namun meski begitu, ia harus siap mengambil konsekuensinya yakni harus bekerja lembur.
Sedangkan Rania, ia menghabiskan waktunya dengan banyak berada di taman bunga disamping kamarnya. Menanam, membersihkan pot bunga dari rumput liar. Ia juga sampai menyiram bunga pada sore harinya dan terkadang ia tersenyum sendiri jika mengingat perkataan Khanif sebelum dia pergi. Sungguh, kata-kata Khanif itu terus saja mengganggu dirinya. Untung saja ia bisa sedikit melupakannya kala sibuk mengurus tanaman.
Namun, semua kembali lagi seperti semula saat malam tiba. Rania uring-uringan di tempat tidurnya. Ia tidak bisa terlelap walau sejenak gara-gara perkataan Khanif. Apa sebegitu berpengaruhnya perkataan Khanif atau karena Rania tidak pernah mendengar pria lain memperhatikannya? Entahlah, ia seperti anak remaja saja yang baru mengenal cinta.
Di tengah kegalauan hatinya, pandangan Rania terpaku pada laci meja belajarnya sewaktu ia masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Ia lantas bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja dengan berjalan dengan perlahan. Sesampainya disana, perlahan ia membuka lagi meja belajarnya itu.
Seketika matanya terpaku pada surat yang sudah usang berwarna biru langit. Melihatnya, membuat hatinya seketika berdenyut nyeri. Bagaimana tidak, surat itu menjadi saksi bisu atas ditolaknya ia beberapa tahun belakangan oleh seorang lelaki yang pernah menjadi ketua osisnya di sekolah dan menjadi atasannya saat ini dunia kerja.
Takdir memang sangat suka membuat ia bertemu lagi dengan sosok yang coba ia lupakan. Ia teringat akan perjuangan setahun belakangan ini.
Saat itu, ia baru saja lulus dari tempat kuliahnya. Tentu saja yang menjadi tujuan utamanya setelah lulus adalah mencari kerja.
Ia pun mencari kerja diberbagai sumber yang memberitaukan lowongan kerja. Mulai dari mencarinya di media sosial sampai mencari tahu dari kenal-kenalannya sendiri. Setelah sebulan mencari, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang properti dan penjualan kebutuhan masyarakat.
Ia melamar pekerjaan disana. Setelah selama seminggu ia melakukan semua syarat ketentuannya, akhirnya ia diterima bekerja sebagai staf accounting sesuai bidang yang telah di pilih sebelumnya.
Hari-harinya selama sebulan ia bekerja sangat menyenangkan. Apalagi mendapat kenalan baru yang begitu ramah di bagian staf accounting. Ia bahkan betah jika harus bekerja lembur kala akhir bulan tiba karena mereka bekerja kompak dan saling memperhatikan diri masing-masing.
Rania sangat meyukai kerja di perusahaan ini. Namun semua berubah saat kepala ruangannya meminta ia untuk pergi membawakan dokumen berisi informasi keuangan perusahaan pada atasan utama mereka.
Menerima perintah itu, Rania tentu saja sangat senang karena ia tahu, ia belum lama bekerja di perusahaan, tapi ia telah diberikan kepercayaan yang besar dari kepala ruangannya. Ia pun mengambil dokumen keuangan bulanan itu dan membawanya menuju ke lantai duapuluh satu. Tempat dimana ceo mereka berada.
Sesampainya disana, ia berjalan mendekati sekretaris ceo untuk memberitahukan keperluannya. Setelah diizinkan masuk, Rania pun bergegas pergi ke arah pintu bercat putih itu.
Ia mengetuk pintu. Setelah beberapa saat, ia mendengar suara yang mengatakan masuk dari dalam ruangan besar itu. Sesaat Rania tertegun mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya itu. Tapi, segera ia tepis dengan mengatakan, "mungkin mendengarkanku bermasalah."
Rania lantas memutar knop pintu dan masuk kedalam ruangan. Disana, matanya terpaku pada sosok yang telah lama ia coba lupakan.
"Kak Khanif!"
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...