
Langkah kaki kecil itu semakin mendekat ke arah Khanif, namun Khanif tetap saja tenggelam dalam pekerjaannya. Hingga Khanif tersentak kaget saat ada sebuah tangan lentik yang memegang dokumen yang sedang diperiksanya.
"Assalamu'alaikum. Sayang!"
Khanif mendongkak kepalanya dan terkekeh saat mengetahui kalau dirinya terlalu sibuk hingga tidak menyadari kedatangan seorang wanita tercantik dan terindah dalam hidupnya.
"Wa'alaikumsalam. Mamaku sayang," ujar Khanif menjawab salam sang mama sambil mendekatinya untuk mencium tangannya. Karena baginya, mencium tangan orang tua sama dengan mengharapkan ridho dari mereka atas apa yang dilakukannya saat ini atau nanti.
Setelah Khanif mencium tangan sang mama, mama langsung bersedekap dada dan menggeleng pelan karena anaknya, Khanif tadi sempat tidak menyadari keberadaannya gara-gara terlalu sibuk dengan tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya.
Mengetahui hal itu, Khanif segera berkata, "maaf, ma. Khanif tadi terlalu sibuk sampai tidak mengetahui kalau mama datang."
"Begini nih jadinya, kalau terlalu sibuk sama pekerjaan. Biar mama masuk tadi pun kamu tidak dengar. Bahkan mungkin kalau mama tidak menyentuh kerjaanmu itu, pasti kamu ngga bakalan sadar kalau mama ada disini," omel mama.
Lagi-lagi Khanif terkekeh. Ia lalu mengajak mama untuk duduk di sofa sambil menunggu Khanif selesai mengerjakan tugasnya yang tinggal sedikit lagi.
Katanya nanggung untuk dihentikan. Mau tidak mau mama pun mengangguk mengiyakan. Lagi pula, anaknya itu telah bekerja keras dalam memajukan usaha keluarga mereka yang dulu sempat meredup akibat papa yang tiba-tiba jatuh sakit.
Saat Khanif masih sibuk mengerjakan tugasnya, mama kembali mengatakan sesuatu pada Khanif yang membuat Khanif sempat menghentikan aktifitasnya itu.
"Jangan cuma buru-buru dalam pekerjaan juga, nak, tapi juga harus buru-buru cari calon biar nanti diperlihatkan sama mama dan papa. Kalau begitu baru namanya seimbang antara karir dan percintaan," ujar mama seperti anak seumuran Khanif saja. Mama pun kembali melanjutkan, "ingat sayang, usia kamu udah mau masuk kepala tiga, loh! Mau sampai kapan kamu akan mempertahankan masa lajangmu?" tanya mama khawatir.
Pasalnya, dari sekian banyak gadis yang ia kenalkan pada Khanif, tidak seorang pun Khanif menujukkan ketertarikannya. Terakhir kali mama memperkenalkan Khanif dengan anak temannya yang lain.
Lebih bagusnya lagi, ternyata anak temannya itu teman masa sma anaknya juga yang bernama Tasya. Namun seolah-olah Khanif tetap tidak tertarik sedikitpun tentangnya. Bahkan pada malam harinya setelah mereka makan malam bersama di restoran, Khanif sudah menolak hubungan ini lebih dulu.
Bukannya mama tidak pernah mengungkit hal itu lagi, tapi Khanif seperti menghidari pembicaraan yang terkait dengan Tasya. Padahal menurut mama, Tasya adalah anak yang baik, sopan, dan jangan lupa cantik. Mama sudah hampir menyerah melihat tingkah anaknya dalam mengait gadis yang tidak memiliki kemajuan sedikit pun.
Khanif yang terus saja diam mendengar perkataan sang mama, pada akhirnya angkat bicara juga.
__ADS_1
"Ma, Khanif tau apa yang Khanif lakukan. Mama tenang saja, jika waktunya tiba, Khanif pasti akan memperkenalkan seorang perempuan pada mama dan papa."
"Mau sampai kapan mama menunggu? Mau sampai mama berubah jadi nenek-nenek peot dulu, baru mau ngenalin perempuan gitu?" omel mama lagi.
"Ya ngga gitu juga ma. Pokoknya mama tenang saja. Kalau mama khawatir Khanif tidak normal, maka mama pasti salah besar."
"Mama sempat berpikir seperti itu. Jangan-jangan anak yang mama lahirkan tidak normal, sehingga perempuan mana pun yang mama kenalkan padamu, kamu selalu saja tidak tertarik. Apa mama tidak boleh khawatir?"
Khanif lagi-lagi terkekeh. Ia pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati mama. Sesaat Khanif telah sampai dihadapan mama, Khanif berjongkok dan mengambil tangan mama untuk digenggamnya.
"Ma, soal jodoh udah ada yang atur. Cepat atau lambat pasti Khanif akan bertemu dengannya juga. Jadi mama ngga usah khawatir lagi. Pasti suatu saat Khanif akan mendapatkannya dan memperkenalkannya pada mama dan papa,"ujar Khanif seraya mengusap tangan mama bermaksud untuk menenangkan kegelisahan hati mama selama ini.
Khanif tahu, ia adalah anak laki-laki satu-satunya di dalam keluarganya. Siap tidak siap, Khanif harus mengambil alih bisnis keluarga dan juga meneruskan garis keturunan keluarga besar 'Syam'.
Tentu saja Khanif tau kekhawatiran mama akan hal itu dan Khanif tentu mengerti akan keadaan keluarganya. Namun saat ini Khanif belum mempunyai niatan untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan wanita mana pun. Baik itu dalam bentuk pacaran yang tidak pernah ada dalam kamus kehidupannya maupun menjalin hubungan halal dalam waktu dekat ini.
"Setelah kondisi perusahaan stabil, Khanif akan mengikuti ucapan mama, hem."
Khanif mengangguk lalu tersenyum merekah. Khanif pun mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mama kenapa datang kesini tanpa bilang-bilang sama Khanif. Kalau tahu begitu kan, Khanif bisa jemput mama."
"Oh, itu. Mama mau ketemu sama nak Rania. Udah lama banget ngga ketemu sama dia. Jadi mama ngga mau bilang-bilang. Entar jadinya bukan kejutan lagi."
"Kalau begitu, biar nanti Khanif yang mengantar mama ke ruangan dia. Tapi sebelum itu izinkan Khanif untuk segera meyelesaikan beberapa dokumen yang sedang Khanif kerjakan."
Mama mengangguk. Khanif pun berlalu meninggalkan mama untuk segera meyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Sambil bekerja, sesekali mama mengajak Khanif berbicara seperti saat ini.
"Mama dengar, nak Rania sempat cuti karena kakinya keseleo. Tapi udah masuk kerja lagi kan?"
__ADS_1
"Iya ma. Tadi Khanif sempat melihatnya."
Tiba-tiba mama berseru antusias, "bagaimana pendapatmu tentang nak Rania?"
Khanif mendongkak melihat sang mama yang menatapnya dengan pandangan berbinar. Seperti jawaban Khanif sangat berharga bagi sang mama.
"Dia wanita yang baik."
Mendengar jawaban sang anak, seketika membuat mama lesu. Tentu saja Rania baik. Siapa yang tidak mengetahuinya! Mama pun tahu saat awal pertemuan mereka yang dimulai dengan aksi pencopetan dengan Rania yang menolong mama.
Mama lantas menggelengkan kepalanya menolak jawaban Khanif untuk menginginkan jawaban lebih. Sedang Khanif mengernyit bingung melihat ekspresi wajah mama yang tidak biasa.
"Khanif salah bicara ma?"
Mama melipat tangannya didada dan menjawab Khanif. "Tentu saja. Kamu tau mama tidak membutuhkan jawaban yang sudah mama ketahui dari lama. Kenapa malah menjawab itu. Mama mau jawaban yang baru. Baru mama dengar dari kamu."
Khanif diam sejenak. Lalu sesaat kemudian, ia pun berkata, "Rania gadis yang menarik dan juga mempunyai daya tarik tersendiri."
Nah, ini jawaban yang mama tunggu. Mama seperti mendapati angin segar yang baru-baru ini menerpanya. Mama pun kembali antusias dengan pembicaraan ini. Ia seperti ingin sekali mendengar lebih dari perkataan Khanif tadi.
"Jadi itu pendapatmu tentang nak Rania?"
"Tentu saja, ma."
Khanif terdiam. Ia baru menyadari kalau mama sengaja memancingnya untuk berbicara soal Rania. Apalagi kalau mama mempunyai maksud yang lebih!
Dibalik pintu ruangan Khanif yang sedikit terbuka, seseorang mendengarkan percakapan mereka dengan tidak menyangka. Ia awalnya hendak ke ruangan Khanif untuk mengajak Khanif agar makan siang bersama dengannya. Namun belum juga ia memutar knop pintu, langkahnya terhenti saat ia mendengar nama yang ia kenal disebut. Ia seperti tidak terima kalau jadinya akan seperti ini.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...