Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 99. Kemunculan Nenek


__ADS_3

Khanif kian mempercepat langkah kakinya. Ia ingin segera mengetahui siapa yang telah mencari dirinya, sampai Tama pun tidak tahu menahu tentang dirinya. Sesampainya Khanif disana, Khanif dapat dengan jelas melihat siapa lelaki yang tengah berdiri membelakanginya. Khanif lantas berdehem agar menyadarkan lelaki tersebut.


Lelaki yang tidak lain adalah anggota Reyhan yang bernama samaran Kakatua pun perlahan menolehkan wajahnya pada Khanif. Seketika ia berjalan pelan nan tegas mendekati Khanif.


"Maaf mengganggu waktu Anda sejenak," ujar Kakatua yang memakai baju biasa.


"Tak apa. Sepertinya yang ingin kamu katakan padaku sangat penting," tebak Khanif.


Kakatua tidak juga menjawab dengan anggukan maupun perkataan. Mengatahui hal itu, Khanif pun menyuruh Tama untuk meninggalkan mereka berdua saja.


"Silakan duduk dulu," ujar Khanif.


"Tidak, terima kasih. Saya hanya sebentar disini untuk menyampaikan pesan atasan saya," tolaknya halus.


Khanif menganggukkan kepalanya pelan. "Ada perlu apa kamu mencariku?"


"Atasan kami ingin bertemu dengan Anda malam jam delapan nanti di rumah makan waktu pertama Anda bertemu."


Khanif yang tidak tahu apa yang ingin disampaikan Reyhan padanya pun tidak menanyakannya pada Kakatua karena Khanif tebak, kalau Kakatua pun tidak mengetahui apa yang atasannya ingin disampaikan padanya.


"Insya Allah, saya akan datang."


Kakatua mengangguk dan mengatakan, "baik." Setelah mengatakannya, ia pun berlalu dari hadapan Khanif.


Sedangkan Khanif, kembali melanjutkan kegiatan melihat-lihatnya lagi. Ia melihat para pekerja yang mulai kembali mengerjakan tugasnya. Sesaat Khanif melihat, Tama yang tadi sempat meninggalkannya karena suruhan Khanif kembali mendekati dirinya.


"Kita duduk disana saja," ajak Khanif pada Tama yang baru sampai didekatnya untuk duduk disebuah kursi santai dengan payung bundar yang melindungi mereka dari panas matahari yang mulai menyengat.


"Berapa lama lagi vila ini bisa diresmikan?"


"Seminggu lagi, pak. Saya pastikan semuanya akan rampung."


Khanif mengangguk. Jika saja pamannya tidak melakukan tindakan yang melakukan kecurangan dalam pembangunan vila-nya ini, pasti vila-nya sudah rampung dari jauh-jauh hari. Bukannya ia tidak ingin berlaku tegas meski itu pamannya sendiri. Hanya saja, setiap ia mengungkit masalah itu, sang nenek selalu saja membela pamannya.


Ia jadi teringat saat ia hendak memberhentikan pamannya dari jabatannya saat ini.

__ADS_1


Kala itu, nenek yang sudah tahu rencananya datang ke rumah bersama pamannya yang melakukan kecurangan itu. Khanif yang baru saja melaksanakan sholat isya pun segera mengganti pakaiannya menjadi pakaian biasa dan bergegas menuju ruangan keluarga.


Saat Khanif baru saja tiba, Khanif bisa dengan jelas melihat nenek menatap Khanif dengan pandangan kesal. Paman yang juga ada disana pun tidak luput memandang Khanif dengan pandangan liciknya. Sedang papa, mama yang juga ada disana hanya menatap Khanif biasa saja. Mereka bahkan merasa cemas kalau anak mereka akan mendapat marah lagi dari nenek. 


"Malam, nek, paman," sapa Khanif sambil duduk didekat papanya. "Seperitnya nenek punya sesuatu yang penting untuk nenek bicarakan hingga tidak bisa menunggu esok pagi saja."


"Ya!" Tanpa basa-basi pun nenek mulai mengatakan maksud tujuannya datang kemari. "Lupakan masalah pamanmu tentang pembangunan vila-mu di kota M."


Khanif melihat nenek dengan pandangan biasa saja. Khanif sudah bisa menduganya. Cepat atau lambat, nenek pasti akan datang untuk membela pamannya lagi.


"Maaf nek, Khanif tidak bisa."


"Dia pamanmu, Khanif. Masa kamu mau melihat pamanmu menderita."


"Seperitnya ucapan nenek keliru." Khanif tersenyum kecil untuk mencoba mencairkan suasana yang tegang saat ini. "Tentu saja Khanif tidak ingin melihat paman menderita. Apalagi paman adalah keluarga Khanif."


"Makanya anggap masalah pamanmu sudah selesai, yah!" bujuk nenek penuh harap.


"Khanif tidak ingin menjadi keponakan yang tidak berbakti nek. Makanya Khanif akan tetap memproses pelanggaran paman."


Biar bagaiamana pun, saat ini Khanif lah yang lebih tahu tentang persoalan kantor. Untuk itulah, segala keputusan sepenuhnya telah ia serahkan pada Khanif. Namun, ia tidak bisa lepas begitu saja. Contohnya saat ini, ia sengaja menaruh tangannya di lutut Khanif, bermaksud untuk menenangkannya agar Khanif tidak mengambil keputusan yang keliru.


Nenek yang juga mendengar penuturan Khanif barusan pun seketika berdiri dari duduknya. "Diakan pamanmu sendiri. Bagaimana bisa kamu begitu tega dan tidak mempunyai perasaan kekeluargaan pada pamanmu," ujar nenek sambil menunjuk-nunjuk Khanif.


"Nenek tidak paham. Khanif melakukan ini demi kebaikan kita semua, keluarga ini. Khususnya bagi paman sendiri."


"Kebaikan apanya! Bahkan kamu mau membuat pamanmu menderita."


"Nenek salah paman. Khanif tidak ingin paman menderita. Mana ada seorang anak lelaki yang ingin melihat keluarganya susah apalagi keluarganya itu adalah pamannya sendiri."


"Terus maksud kamu bagaimana?" tanya nenek melunak karena tidak mengerti maksud Khanif yang sebenarnya.


"Nenek duduk lah dulu," suruh Khanif. Biar bagaimana pun, ia sangat menyayangi neneknya ini. Namun rasa sayangnya, tidak akan pernah bisa tergantikan jika ia harus menukarkannya dengan sebuah keadilan bagi orang banyak.


Melihat nenek sudah duduk kembali dan melihat dirinya penuh harap, Khanif pun kembali melanjutkan perkataannya lagi. "Khanif tahu, paman telah membuat masalah dan dalam pandangan nenek, masalah yang paman buat adalah masalah kecil. Itu bagi nenek. Tapi tidak bagi Khanif. Khanif tidak menganggapnya demikian disaat masalah ini malah membuat orang-orang yang sudah berusaha payah bahkan keringatnya sudah mengering, dibuat tidak adil oleh paman."

__ADS_1


Nenek kembali berdiri. "Jadi kamu tetap ingin melanjutkan masalah ini?"


Khanif mengangguk.


Nenek tersenyum meremehkan. Nenek lalu beralih pada papa. "Lihat Dani, kelakuan anak kamu. Masa dia ingin memperpanjang masalah pamannya sendiri!" ujar nenek yang sebenarnya meminta dukungan papa agar Khanif mau mengubur permasalahan ini rapat-rapat.


Akhirnya, mau tak mau papa pun angkat bicara. Beliau tidak ingin lagi permasalah ini berlarut-larut. "Mama benar. Keluarga tetaplah keluarga dan sebisa mungkin Dani harus menolongnya. Tapi kita juga harus memperhatikan orang-orang yang telah meluangkan waktunya demi bekerja sama kita, ma. Untuk itu, biar semua adil. Gunawan harus mengganti semua kerugiannya dan kami tidak akan memproses masalah ini lebih jauh lagi."


"Kamu gimana, sih! Dan. Kamu mau ikut-ikutan juga? Mau memojokkan keluargamu sendiri?"


"Iya, ma. Sepertinya anak dan bapak ini tidak mau mendukung kita," sela Gunawan di percakapan mereka.


Dani yang tahu kalau Gunawan sengaja menambah ucapannya pada nenek pun membuat papa Dani menjadi marah. Sangking marahnya, papa pun berdiri dari tempat duduknya dan menatap Dani tajam.


Mama yang persis disamping papa pun menarik lembut tangan papa untuk menyuruhnya kembali duduk. Biar bagaimana pun papa tidak boleh terpancing oleh omong kosong Gunawan.


"Aku sudah memutuskan. Gunawan ganti rugi atau masalah ini tetap berlanjut," ujar papa tegas.


"Dani! Diakan adik kamu."


"Dani tahu. Tapi Dani melakukannya demi orang banyak!"


Setelah mengatakannya, papa pergi meninggalkan keluarganya sendiri dan dengan begitu, ucapannya barusan sudah final dan tidak boleh lagi di ganggu gugat!


"Anak sama bapak sama saja, tidak ada yang ingin menolong keluarganya!" ujar nenek sebelum meninggalkan rumah keluarga Khanif.


Yah, jika kalian tahu, papa Khanif dan paman gunawan adalah saudara seibu namun beda orang tua laki-laki. Dulu, ayah kandung papa dijodohkan dengan nenek. Saat papa kecil, beliau meninggal dan nenek menikah lagi dengan papanya gunawan. Untuk itulah nenek lebih menyayangi paman gunawan dari pada papa Khanif sendiri dan berusaha menyelamatkan Gunawan bagaimana pun caranya.


Memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu membuat Khanif memijit pelipisnya dan menghela nafas panjang. Ia memang sudah menyangka kalau nenek pasti akan ikut campur, tapi Khanif tidak pernah menduga kalau nenek akan ikut campur sampai sejauh ini.


"Bapak kenapa?" tanya Tama yang selalu bersama Khanif kemanapun Khanif pergi melihat-lihat bangunan vila.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2