Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 159. Kejahatan David


__ADS_3

"Letakkan pisaumu David," seru Khanif sekali lagi. Biar bagaimana pun, ia ingin sedikit mengukur waktu sebelum para karyawannya dapat menemukan keberadaan mereka disini.


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?" katanya menantang dengan senyuman jahat yang ia perlihatkan.


"Kamu jelas tau kalau kita tidak hanya bertiga disini. Cepat atau lambat, mereka akan menemukan kita karena sebelum berdiri disini, saya sudah lebih dahulu mengirim kabar pada yang lain."


"Kamu percaya diri sekali masih bisa selamat saat mereka telah tiba disini," katanya meremehkan dengan tidak berbicara sopan lagi pada Khanif.


"Jika kamu mau meletakkan pisaumu, saya janji akan melepaskan kamu," ujar Khanif berusaha mengulur waktu lagi dengan bernegosiasi dengan David.


"Saya tau kalau kamu adalah orang yang menepati janji," ujar David mengakui. "Namun, kapan lagi saya akan mendapat kesempatan bagus seperti ini!"


"Apa kamu tidak memikirkan dirimu sendiri dan keluargamu jika kamu melakukan hal yang tidak baik ini?"


"Tentu saja aku pikirkan. Namun, semua itu telah berlalu sejak kalian membuat adikku Alex mendekam di penjara yang dingin. Untuk apa juga aku memikirkan hal itu sekarang, jika orang yang satu-satunya yang ingin aku lindungi sudah kalian buat sengsara. Jadi, jangan salahkan aku kalau tidak menuruti ucapanmu lagi."


"Kalau kamu tidak memikirkan hal itu lagi, setidaknya kamu memikirkan Dian," ujar Rania membuat David jadi melihatnya. "Bukan cuma kamu saja atau aku atau pak Khanif yang akan terkena dampaknya, tapi Dian pasti akan terkena dampaknya juga kalau kamu terus keras kepala seperti ini."


"Kenapa juga aku harus khawatir dirinya kalau dia hanyalah pemulus untuk lebih dekat denganmu dan membalaskan rasa sakit hatiku pada kalian," katanya dengan tertawa jahat.


Sedang Rania masih berusaha menyadarkan David dan mengulur waktu sampai teman seruangannya tiba, Khanif memilih mencari ide untuk menyelamatkan mereka berdua dari kegilaan yang di buat oleh David.


Perlahan-lahan Khanif pun melangkahkan kakinya semakin dekat dengan David untuk segera menjatuhkan pisau yang masih digenggam oleh David. Namun semua itu tidak bertahan lama saat David menyadari kalau Khanif semakin dekat dengannya. Lalu tanpa buang waktu lagi, Khanif berlari ke arah David dan berhasil mengunci pergerakannya.


Tentu saja David memberontak untuk melepaskan diri dari kekungan Khanif dan karena terus memberontak, David pada akhirnya dapat melepaskan dirinya. Namun, Khanif tidak lantas menyerah begitu saja. Khanif masih berusaha untuk menjatuhkan pisau yang masih berada di genggaman David.


Satu layangan kaki Khanif pun berhasil menjatuhkan pisau tajam itu. David tentu saja terkejut. Namun hal itu tidak bertahan lama. Ia lalu berusaha untuk mengambil kembali pisau yang telah lepas dari genggamannya.


Tidak ingin David berhasil mengambil kembali pisau yang telah jatuh ke tanah, Khanif dengan segala kemampuannya pun memulai aksi perkelahiannya dengan David. 


Aksi berguling diatas tanah pun tidak luput mereka lakukan karena David yang berusaha mengambil kembali pisau yang telah lepas dari tangannya itu.

__ADS_1


Khanif yang masih berusaha menjauhkan David dari jangkauannya baru menyadari kalau Rania masih berada disana melihat perkelahian mereka dengan pandangan penuh ketakutan.


Tidak ingin membuat Rania kian ketakutan, Khanif lantas berusaha membuat Rania pergi menjauh dengan mengatakan, "kamu harus segera pergi dari sini Rania."


"Tidak!" seru Rania.


"Cepatlah. Jangan buang waktu lagi. Kamu berjalan ke tempat ku tadi muncul. Mulai dari situ, kamu berjalan lurus saja," ujar Khanif masih berusaha melawan pergerakan David.


"Kamu yakin sekali kalau dia bisa selamat dari sini," ujar David sombong.


"Cepatlah! Mungkin tidak jauh dari sana, kamu bisa melihat yang lainnya," ujar Khanif. "Cepatlah!" serunya kemudian saat ia melihat Rania menggelengkan kepalanya tanda tidak ingin beranjak pergi dari sana dengan mata yang mulai memerah manahan tangis.


"Pergilah, Rania!" seru Khanif sekali lagi hingga membuat Rania berlalu dari sana dengan keadaan tubuh yang mulai gemetaran.


Seperginya Rania, Khanif pun masih mencoba menghalau David. David yang kian bertambah kesal pun mengeluarkan seluruh tenaganya. Ia berhasil membuat Khanif terpelanting ke belakang dengan menendang dadanya.


Setelah berhasil terlepas dari kengkungan Khanif, David berdiri secepat yang ia bisa, lalu berlari mengambil pisaunya kembali.


"Akan aku pastikan kalau dia bisa selamat sebelum kamu menemukannya."


David tertawa meremehkan. "Tingkat kepercayaan dirimu tinggi sekali Khanif. Yah, tapi tak apa. Kamu bisa memuji dirimu sendiri sebelum waktunya tidak bisa lagi," ujar David.


Ia pun kembali menyerang Khanif dengan menggunakan pisaunya. Ia mengarahkan pisaunya ke arah Khanif.


Khanif yang sigap pun selalu berhasil menghindari David. Ia bahkan mencoba menjatuhkan pisau ditangan David lagi.


"Menyerahlah Khanif," seru David dengan senyuman mengejek.


"Jangan mimpi. Kalau kamu mau, kamu saja yang menyerah," ejek Khanif kembali.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin menyerah. Aku akan kabulkan permintaan kamu kalau begitu," ujar David kembali menyerang Khanif.

__ADS_1


Berbeda dengan kedua lelaki itu yang saling menyerang, Rania terus berlari mengikuti petunjuk yang Khanif katakan tadi. Ia terus berlari meski kakinya sudah sangat lelah.


Bahkan Rania sudah beberapa kali jatuh tersungkur di tanah, namun ia masih terus berusaha berdiri dan kembali melanjutkan larinya menuju tempat banyak orang.


Dalam pelariannya itu, sesekali Rania berteriak minta tolong meski suaranya sudah hampir tercekak dan terdengar parau.


Hingga akhirnya hasil lari dan teriaknya itu membuahkan hasil yang baik.


Dari kejauhan, Rania dapat melihat beberapa teman se divisinya tengah berlari mendekat ke arahnya.


Rania tentu saja tersenyum senang mengetahui hal itu. Namun karena hal itu pula, membuat Rania seperti tidak dapat berlari lagi. Seakan-akan tenaganya hilang entah kemana.


Perlahan, ia pun jatuh terduduk di tanah dengan banyaknya daun yang berhamburan.


Ia menghela napas panjang nan berat sebelum ia jatuh tertidur, melihat awan cerah yang berada di atasnya dan secara perlahan, matanya mulai terpejam saat teman-teman seruangan tiba didekatnya.


"Rania, Rania," panggil salah seorang temannya. "Bangun Rania."


Rania membuka matanya. "Tolong pak Khanif. Dia masih berada disana menahan David," katanya yang hampir tidak terdengar lagi.


"Apa maksudmu?"


"David ingin mencelakai kami. Tolong pak Khanif cepat! Kalian pergilah. Lurus saja ke sana," tunjukknya sebelum ia kehilangan kesadaran.


May dan beberapa wanita lainnya pun membawa Rania kembali ke vila dengan mengangkatnya beramai-ramai. Sedang beberapa lelaki lainnya, pergi ke arah yang telah di tunjukkan oleh Rania untuk menemukan keberadaan atasan mereka, Khanif.


Para lelaki itu terus berlari lurus seperti petunjuk Rania tadi. Hingga pada akhirnya mereka tiba juga disana. Tentu saja pemandangan awal yang mereka lihat adalah perkelahian antara Khanif dan David. Namun bukanlah hal itu yang membuat mereka semua khawatir, melainkan mereka terlihat khawatir saat mereka melihat darah di tangan Khanif dan David. Mereka tentu saja tidak tau siapa pemilik darah itu. Khanif atau David kah yang menjadi pemiliknya.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2