Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 200. The End


__ADS_3

Tidak terasa pernikahan Khanif dan Rania sudah menginjak usia tiga bulan. Dalam usia pernikahan itu, mereka sudah mempunyai rumah sendiri yang tidak jauh dari rumah orang tua Rania.


Karena lumayan dekat, dengan berjalan kaki selama sepuluh menit, mereka sudah sampai di rumah mama Dahlia. Jika naik mobil atau motor, mereka sudah bisa sampai dengan waktu tiga menit saja.


Khanif tentu sengaja membeli rumah yang tidak jauh dari rumah mertuanya agar sang istri bisa selalu datang mengunjungi mama Dahlia dan bisa melepas rindu padanya.


Sebulan mereka pindah di kawasan perumahan mama Dahlia, Rania sering datang kesana. Namun saat waktu hampir memasuki bulan ke dua, Rania sudah jarang datang kesana. Katanya, akhir-akhir ini ia mudah kelelahan.


Entah apa penyebabnya. Khanif pun tidak tau. Khanif bahkan sudah ingin membawa Rania memeriksakan keadaan tubuhnya ke rumah sakit. Namun tiap kali Khanif ingin membawanya, Rania selalu saja mempunyai alasan lain agar Khanif tidak jadi membawa dirinya ke rumah sakit.


"Ma chérie, sekali ini aja, ya. Lihat kamu begitu pucat."


"Aku ngga papa kak. Beneran, deh."


"Baiklah. Kalau begitu, hari ini kamu tidak perlu masuk kerja dulu, ya."


"Ngga usah kak. Aku baik-baik aja, kok."


"Begini saja, kita pergi ke dokter untuk memeriksakan diri kamu, lalu kita akan terus pergi ke kantor atau kamu tidak masuk kerja dulu, tapi kita tidak pergi memeriksakan kesehatan kamu. Bagaimana?" tanya Khanif memberikan dua pilihan untuk Rania.


"Semuanya tidak ada yang menguntungkan," ujar Rania.


"Tentu saja semuanya menguntungkan, ma chérie. Jadi kamu pilih yang mana?"


"Aku tinggal di rumah aja."


"Akhirnya." Khanif tentu saja lega karena Rania memilih pilihan yang kedua. "Baiklah. Kalau begitu kakak berangkat kerja dulu. Kamu hati-hati dirumah, ya."


"Iya, kak."


Khanif lantas mengecup pucuk kepala Rania, lalu setelahnya, ia pun segera berangkat ke kantor.


Seperginya Khanif, Rania lantas ke luar rumah untuk berjalan-jalan di taman bunga yang baru di buatnya seminggu yang lalu.


Ia begitu senang melihatnya. Namun semua itu tidak bertahan lama saat ia tiba-tiba merasakan mual yang luar biasa.


Rania lantas melihat sekeliling untuk mencari tempat yang baik untuk memuntahkan isi perutnya yang sudah begitu bergejolak.


Setelah mendapat tempat yang baik, Rania lantas segera kesana dan memuntahkan isi perutnya yang ingin keluar.


Namun anehnya, Rania sudah beberapa kali ingin muntah, tapi yang keluar hanya seperti cairan bening seperti air.


"Ada apa denganku?" tanyanya seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit.


Ia bahkan tiba-tiba merasa pusing. Seakan benda-benda disekitarnya dan tumbuh-tumbuhan ikut bergerak juga.


Lama terdiam mengingat apa yang yang telah ia lakukan, tiba-tiba saja Rania teringat kalau dirinya sudah beberapa minggu ini belum mendapatkan masa haidnya.


"Apa aku hamil?" tanyanya dalam hati seraya mengelus perutnya yang belum memiliki tanda apapun.


Ia lantas masuk ke dalam rumah dengan berjalan hati-hati. Lalu Rania memilih beristirahat sejenak sebelum ia mengambil tas selempangnya yang tergantung di belakang pintu kamarnya, untuk pergi ke apotek terdekat membeli sebuah test pack.


"Terima kasih, mbak," ujar Rania telah karyawan apotek memberikan dirinya sebuah tes kehamilan.


Setelah membelinya, Rania tidak lantas memastikan kehamilannya dengan menggunakan test pack yang telah di belinya. Ia ingin menggunakannya esok pagi saja. Untuk itu, agar Khanif tidak dapat menemukannya, Rania memasukkan test pack itu ke dalam laci meja dekat tempat tidurnya.


***


Siang harinya, Khanif memilih pulang ke rumah untuk makan siang bersama sang istri tercinta, sekaligus untuk melihat keadaannya.


Setelah membeli makanan sesukaan Rania di restoran yang sering mereka datangi, Khanif pun kembali melajukan mobilnya menuju arah rumah. Rumah yang memberi kehangatan pada keluarga yang baru di binanya.


Sesampainya Khanif di rumah, Khanif lantas memarkirkan mobilnya, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum, ma chérie. Aku pulang," ujar Khanif saat ia baru saja masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam. Loh, kok kakak pulang?" tanya Rania tanpa sadar.


"Kakak ingin makan siang sama kamu. Ini." Tunjuk Khanif seraya mengangkat hasil belanjaannya. "Kakak khusus membelikan makanan kesukaan kamu. Lobster bakar madu."

__ADS_1


"Beneran, kak?"


"He'em. Ayo kita makan dulu."


Mereka lantas saja menuju ruang makan untuk makan siang bersama.


Baru saja Khanif membuka bungkusan lobster bakar madu itu, Rania sudah merasa mual karena mencium bau dari makanan kesukaannya.


Ia lantas saja berlari kecil menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya yang kembali berbejolak ingin keluar.


"Kamu kenapa, ma chérie," ujar Khanif khawatir.


"Ngga tau, kak. Baunya terlalu menyengat aja di indra penciuman aku."


"Kalau gitu makan yang lain aja, ya."


"Hem." Angguk Rania lemah.


"Kamu mau makan apa? Biar kakak belikan."


"Emm, aku mau mie pangsit yang ada di dekat rumah mama kakak."


"Bukannya kamu tidak menyukai makanan itu?" tanya Khanif heran. Pasalnya, Khanif pernah mengajak Rania makan disana, tapi Rania malah tidak memakan mie pangsitnya itu.


"Ngga tau juga. Aku cuma mau makan itu saja saat ini."


"Baiklah. Kakak pergi belikan dulu, tapi sebelum itu, kamu ke kamar. Tunggu kakak disana saja."


"Iya, kak."


Khanif pun mengantar Rania ke kamar tidur mereka. Setelahnya, ia lantas pergi membelikan makanan yang ingin dimakan Rania saat ini.


***


"Ma chérie," panggil Khanif pelan seraya masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan berisi mie pangsit pesanan Rania.


Namun sesampainya disana, Khanif malah melihat Rania sudah tertidur lelap.


Setelah beberapa saat, akhirnya Rania terbangun juga. Khanif pun membantu Rania bersandar di sandaran tempat tidur.


"Makan dulu, ya. Baru tidur lagi."


"Hem."


Khanif pun dengan telaten menyuapi Rania. Sambil menyuapi Rania, sesekali Khanif mengajaknya berbicara seperti saat ini.


"Entar sore kita ke rumah sakit, ya."


"Tidak mau."


"Kalau begitu kakak panggil saja Zaky ke sini."


"Emm, no."


"Ma chérie. Kakak lihat wajah kamu pucat. Kakak khawatir."


"Aku ngga papa, kak. Cuma lagi lemes aja. Sedikit beristirahat, pasti nanti akan baik lagi."


"Kalau sampai besok kakak lihat kamu masih lemas, besok kita kerumah sakit. Tanpa bantahan."


"Baiklah."


Khanif lantas maju untuk mengecup pucuk kepala Rania dengan sayang.


Siang itu, Khanif tidak lagi kembali ke kantor karena memilih menemani Rania yang masih tidak ingin pergi memeriksakan dirinya ke dokter.


Khanif begitu terlihat sangat perhatian dengan Rania. Rania meminta ini, Khanif mengambilnya dengan sepenuh hati. Rania meminta itu, Khanif membelikannya tanpa bertanya. Sungguh, Khanif begitu sangat sayang pada Rania.


***

__ADS_1


Keesokan paginya, Khanif begitu terkejut saat ia tidak mendapati Rania berada di sisinya.


Ia lantas segera bangun dari tidurnya dan mulai mencari keberadaan Rania.


Ruang tengah, dapur, ruang tamu dan teras. Khanif sudah menjelajahi semua tempat itu. Namun ia tidak kunjung menemukan keberadaan Rania.


"Kemana dia pergi?" tanya Khanif cemas.


Ia lantas segera ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya dan mencari keberadaan Rania rumah mama Dahlia.


Saat ia baru saja membuka pintu kamarnya, wajah teduh dan selalu membuatnya rindu itu berdiri didepannya dengan mata yang telah berkaca-kaca.


Sontak saja hal itu membuat Khanif khawatir. Ia lantas berjalan cepat dan menarik Rania ke dalam pelukannya, seraya berkata, "ma chérie, kamu kenapa?"


Bukannya mereda, malah Rania kini tambah sesegukan hingga membuat Khanif kian khawatir.


"Ma chérie, ada apa. Tolong cerita sama aku."


Khanif pun perlahan-lahan melepaskan pelukannya, lalu membawa Rania untuk duduk di pinggiran tempat tidur mereka.


"Kamu kenapa? Cerita sama kakak, ya," ujar Khanif lembut seraya mengusap-usap pipi Rania.


Rania sontak saja menganggukkan kepalanya pelan. Ia lalu mengeluarkan sebuah benda pipih nan tipis dari saku bajunya untuk diperlihatkan pada Khanif.


"Ma chérie, ini ... ini ...."


Sungguh Khanif tidak dapat berkata apa-apa saat ia melihat sebuah benda pipih nan sedikit panjang tengah menujukkan dua buah garis merah.


"Kamu hamil, ma chérie?"


Rania lantas menganggukkan kepalanya untuk membenarkan ucapan Khanif barusan.


"Aku juga udah telat beberapa minggu."


Khanif lantas kembali memeluk Rania dengan sayang nan penuh kehangatan.


"Terima kasih, ma chérie. Ini ... ini adalah hadiah kedua terindah dalam hidupku."


"Kedua?" beo Rania seraya melepaskan pelukannya pada Khanif.


"Tentu saja, ma chérie karena hadiah pertama itu adalah kamu. Aku bersyukur mendapat wanita seperti kamu. Terima kasih, ma chérie."


Rania tersenyum. Ia pun kembali memeluk Khanif dengan wajah yang terlihat memerah karena malu.


"Aku suka saat wajahmu memerah," canda Khanif.


"Kalau ngga?"


"Suka juga."


Mereka pun sama-sama tersenyum pelan.


"Terima kasih karena telah mencintai aku," ujar Rania.


...*Ketika aku melihatmu, seakan semuanya terhenti. Entah sejak kapan aku merasakan hal seperti ini. Setiap kali pula aku melihat senyummu rasanya hatiku akan terhenti. Aku melihatmu dan kau melihatku seakan hati ini berdebar keras. Bagaimana dengan mu! Apa kamu merasakan hal yang sama denganku juga? Kamu datang bagaikan mimpi nyata buatku. Bahkan aku seakan tak percaya akan hal ini, namun aku mantapkan hatiku dan aku percaya kamu adalah takdirku yang dikirimkan Tuhan untukku.*...


...~°•Muhammad Khanifan Sya'ban•°~...


...The End...


Alhamdulillah akhirnya cerita ini selesai juga. Terima kasih pada para readers yang telah membaca cerita ini, terima kasih telah memberikan dukungan kalian berupa like, vote, komen dan hadiah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak.


Oh, iya sebagai dukungan lagi, jangan lupa like, vote, komen dan memberikan hadiah untuk cerita ini, ya.


Ada yang mau ekstra bab ngga ya? Komen di bawah ini ya.


Jangan lupa juga untuk singgah di cerita baru aku yang berjudul "Cintai Aku atau Tidak"


Baiklah, sampai jumpa di cerita baru aku 🤗👋

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2