
Rania terbangun dari suara deringan ponselnya di tengah malam. Ia lantas menyalakan lampu kecil di atas nakas, lalu mengambil ponsel yang tidak terlalu jauh darinya.
Saat ia ingin mengangkat nomor tak dikenal itu, sudah lebih dahulu nomor tak dikenal itu memutuskan sambungan mereka.
Rania pun kembali menaruh ponselnya diatas nakas, namun lagi-lagi saat ia hendak tertidur, ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama. Saat ia hendak mengangkatnya kembali, seseorang yang menghubungi nomornya itu kembali memutuskan sambungan mereka.
"Apa sih maunya!" gerutu Rania.
Rania lalu memberikan nada senyap pada ponselnya karena ia berpikir kalau seseorang yang menghubunginya itu benar-benar butuh, pasti seseorang itu akan mengirimkannya sebuah pesan singkat.
---
Keesokan paginya, Rania terbangun dengan perasaan tidak segar akibat kejadian semalam.
Ia juga heran pagi ini, saat ia tidak mendapati sebuah pesan apapun dari nomor tak dikenal itu.
"Nak," panggil papa membuat Rania tersentak kaget.
Ia pun perlahan-lahan membalikkan badannya kearah sang papa.
"Kamu kenapa?" tanya papa saat mendapati Rania hanya terdiam.
"Ti ... tidak apa-apa, pa."
Papa tau kalau putrinya ini menyembunyikan sesuatu darinya. Namun ia tidak akan memaksa kalau l putrinya ini tidak ingin bercerita dengannya untuk saat ini. Biar bagaimana pun, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada putrinya seperti kejadian beberapa minggu yang lalu.
"Kalau begitu kita sarapan dulu, lalu papa akan mengantarmu ke kantor."
"Iya, pa."
Mereka pun pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi sebelum memulai aktivitas masing-masing.
Namun langkah kaki Rania terhenti saat melihat sosok lelaki yang beberapa hari ini terus mengejar dirinya. Lelaki yang tidak lain adalah Khanif, terlihat sudah duduk manis di kursi makan.
"Apa yang Anda lakukan disini?" tanya Rania tanpa sadar membuat mama yang ada disana langsung saja menegurnya.
"Hus, mama yang manggil nak Khanif untuk sarapan bersama."
"Tapi dia ...."
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu duduk dan segera sarapan, biar kalian tidak terlambat masuk kantor nanti."
"Kalian siapa, ma?"
"Ya, kamu sama nak Khanif, sayang."
"Tidak perlu, papa mau anterin Rania ke kantor kok."
Tiba-tiba saja papa menyahut, "kenapa tidak berangkat bersama saja? Sepertinya nak Khanif sengaja datang ke sini untuk berangkat bersamamu, nak."
Mendengarnya, membuat Rania sontak menoleh ke arah papa.
"Itu ide yang bagus, pa," balas mama.
__ADS_1
Sudah! Semua sudah terlambat. Papa dan mamanya seakan mendukung Khanif yang tidak mempunyai hubungan keluarga dibandingkan dirinya yang berstatus sebagai anak mereka.
Rania menghela napas pendek. Ia lalu mengambil tempat duduk tepat didepan Khanif. Sedang Khanif senyum-senyum melihat Rania. Ia tidak menduga kalau rencananya datang cepat ke rumah Rania membuahkan hasil yang baik. Bahkan lebih baik.
See, papa dan mama Rania seakan mendukung dirinya untuk lebih dekat dengan putri semata wayang mereka.
"Terima kasih udah anterin anak tante kemarin."
"Tidak perlu terima kasih, tan. Kebetulan om sudah menghubungi Khanif lebih dahulu kok."
"Nak Khanif bisa saja," ujar mama seraya tersenyum. "Kalau begitu, mari makan."
Mereka pun mulai menikmati santapan yang dibuat oleh mama pagi ini.
Setelah sarapan, mereka berbincang sejenak untuk menurunkan makanan ke perut mereka masing-masing. Lalu sesudah itu, mama dan papa pun mengantar Khanif dan Rania keluar rumah hingga masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati dijalan ya, nak."
"Iya, tan. Kalau begitu kami permisi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam," ujar papa dan mama hampir bersamaan.
Rania lantas mendekat pada mama dan papa lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Pa, ma. Rania berangkat kerja dulu."
"Iya, nak. Hati-hati dijalan," ujar papa.
"Rania ngga janji," katanya sambil tersenyum seperti ingin bercanda dengan mama.
"Udah sana pergi, nak Khanif udah nungguin loh."
"Hem." Rania mengangguk. Ia pun masuk ke dalam mobil Khanif.
Setelah memasang sealbelt dan melambaikan tangannya, Rania dan Khanif pun berlalu menuju kantor.
Sedang mama dan papa masih berada didepan rumah, melihat mobil Khanif yang mulai tidak terlihat lagi.
"Semoga anak kita tidak terlalu keras kepala sama nak Khanif," komentar mama yang sebenarnya sudah tau lamaran Khanif pada Rania sewaktu di kota M.
Mama juga masih ingat saat sebelum Khanif pergi ke kota M untuk meresmikan vila. Khanif sempat datang kerumah mereka untuk melamar Rania langsung padanya dan papa.
Saat itu, Khanif sengaja mengosongkan jadwal kerjanya pada sore hari untuk datang ke rumah Rania. Ia begitu tenang pergi kerumah Rania. Bahkan mama, papa, dan keluarganya yang lainnya, ia belum memberitaukan keputusannya itu.
Sesampainya dirumah Rania, ia perlahan keluar dari mobil, lalu mulai melangkahkan kakinya menuju rumah Rania.
Mama yang sedang bersantai sambil menonton tv, langsung saja beranjak dari duduknya saat ia mendengar suara ketukan di pintu masuknya.
"Assalamu'alaikum," ujar Khanif.
"Waalaikumsalam." Mama lantas membuka pintu seraya menjawab salam dari seseorang diluar sana. "Nak Khanif," seru mama pelan. "Silakan masuk, nak."
Khanif menganggukkan kepalanya pelan. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam, lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu setelah mama menyuruhnya duduk.
__ADS_1
"Nak Khanif cari Rania?" tanya mama memastikan. Pasalnya, anak gadisnya itu belum pulang dari kantor dan lagi pula, Khanif adalah atasan anaknya di dunia kerja. Jadi, Khanif pasti lebih tau dimana anaknya itu berada kalau jam kerja masih berlaku.
"Tidak, tan. Khanif memang datang khusus untuk bertemu om dan tante."
"Kalau begitu nak Khanif duduk dulu, ya. Tante panggil papa Rania di ruang kerjanya dulu."
Mama pun berlalu dari ruang tamu. Sesaat mama sampai didepan ruang kerja sang suami, mama lalu mengetuk pintunya. Setelah mendengar suara papa yang mengatakan masuk, mama memutar knop pintu bercat itu.
"Sayang, ada apa?" tanya papa.
"Ada nak Khanif di ruang tamu. Dia ingin bertemu dengan papa."
Papa beranjak dari tempat duduknya. Lalu menuju ruang tamu.
Saat papa baru saja muncul, Khanif berdiri dari tempat duduknya.
"Duduk saja nak Khanif."
Khanif mengangguk. Ia pun kembali duduk dengan nyaman.
"Katanya nak Khanif nyariin, om. Ada perlu apa, nak?"
"Ini soal Rania, om, tante."
"Anak saya buah ulah, ya?" ujar mama membuat Khanif tersenyum.
"Tidak, tan. Tante tidak perlu khawatir soal itu karena kinerja Rania diperusaahaan sangatlah baik."
"Jadi apa yang membuat, nak Khanif datang kemari?
"Saya datang kesini berniat untuk melamar putri om dan tante untuk Khanif sendiri," ujar Khanif membuat papa dan mama terkejut.
"Nak Khanif sudah pikirkan matang-matang?" tanya papa memastikan. Pasalnya, baru kali ini ada seorang lelaki yang datang langsung padanya dan sang istri untuk melamar putri kesayangan mereka.
"Khanif sudah memikirkan jauh-jauh hari kalau keputusan Khanif ini sudah tepat."
"Nak Khanif adalah sosok lelaki yang bertanggung jawab. Om akui itu," puji papa. "Tapi untuk keputusan atas lamaran anak om, om menyerahkan semua keputusan ditanganya. Selama dia setuju dan lelaki pilihannya itu baik, om dan tante pasti setuju. Jadi, om belum bisa mengatakan 'ya' untuk lamaran ini sebelum anak om menyetujuinya."
"Khanif mengerti, om. Untuk itu, Khanif berniat melamar Rania di kota M nanti."
"Itu lebih baik, nak."
"Khanif harap, om dan tante merahasiakan hal ini sama Rania," katanya pelan nan tersenyum.
"Nak Khanif tenang saja. Pasti om dan tante mengajak rahasia kecil ini."
"Kalau begitu, Khanif pulang dulu om, tante. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
...To be continued ...
...By Siska C...
__ADS_1