Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 196. Kebersamaan Ini


__ADS_3

Sekedar info, Cerita ini udah mau aku tamat-kan, ya. Mungkin sampai bab 200 aja udah selesai. jadi, sebagai partisipasi kalian, kalian jangan lupa memberikan like, vote, komen dan hadiah juga ya. Terima kasih dan selamat membaca.


...****...


Waktu telah menunjukkan larut malam saat Rania kembali ke dapur untuk memanaskan makanan yang telah di masakannya tadi.


Jika bukan karena ulah Khanif saat didapur tadi, pasti saat ini mereka sudah tertidur dengan perut yang kenyang. Namun semua itu tidak harus dikarenakan oleh Khanif semua karena Rania juga mengambil bagian untuk itu.


Siapa suruh malam ini ia terlalu cantik dan mempesona! Dan ... terlalu ... ah, sudahlah. Untuk yang satu itu, ia tidak ingin mengatakannya.


Setelah memanaskan makanan yang seperlunya, mereka berdua pun mulai menyantap makanan malam mereka dengan perasaan senang.


"Kakak tidak tau kalau masakanmu bisa seenak ini, ma chérie."


"Tentu saja. Jadi bagaimana, apa masakanku ini tidak kalah enak dengan masakan koki di vila?"


"Hem. Kalau itu tidak perlu di ragukan lagi."


"Kalau begitu kakak habiskan semuanya," ujar Rania membuat Khanif tersedak makanannya.


"Kakak kenapa?" tanya Rania panik setelah memberikan segelas air pada Khanif.


"Tidak, kakak tidak apa-apa. Hanya terkejut saja dengan ucapanmu barusan, ma chérie."


"Kenapa ada yang salah."


"Tidak. Hanya saja, kalau kakak menghabiskan semua makanan ini, bisa dipastikan kalau besok pagi kakak akan telat bangun karena kekenyangan dan kalau itu sudah terjadi ... maka ..."


"Kalau begitu, kakak makan seperlunya aja," ujar Rania cepat saat tau maksud Khanif barusan.


"Itu ide yang bagus."


Setelahnya, mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka lagi. Lalu beberapa menit kemudian, Rania dan Khanif pun saling membantu untuk membersihkan dapur. Satu yang bertugas mencuci piring, satunya lagi bertugas untuk membilasnya.


Setelah semua pekerjaan mereka telah selesai, Khanif dan Rania pun kembali melanjutkan tidur mereka yang sempat terganggu karena kelaparan.


***


Pagi harinya. Seperti perkataan Rania semalam, hari ini mereka telah bersiap untuk pergi ke tempat wisata hutan pinus.


Dengan memakai blouse dan celana kulot berbahan katun, serta sepatu sneakers putih, Rania sudah siap untuk pergi ke tempat wisata itu.


Sedang Khanif tak kalah simpelnya. Ia memakai celana bahan, baju kaos dan tak lupa pula sepatu senada dengan Rania menambah kesan santai diantara mereka berdua.


Setelah semua siap, Khanif pun melajukan mobilnya menuju tempat wisata yang menjadi daya tarik kota ini.


Beberapa menit berkendara, akhirnya mereka telah tiba disana. Khanif lantas memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, sebelum ia pergi membeli tiket masuk untuk mereka berdua.


Setelahnya, mereka pun mulai masuk ke dalam tempat wisata hutan pinus.


Sama seperti beberapa waktu yang telah lalu, Rania langsung saja menuju ke sebuah tempat penyewaan kuda.


"Ma chérie, kamu sungguh ingin berkuda lagi?" tanya Khanif saat melihat Rania yang begitu antusias berjalan ke tempat penyewaan kuda.


"He'em."


"Tidak. Nanti kamu jatuh, bagaimana?"


"Siapa bilang aku ingin berkuda sendiri?"


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku ingin naik kuda bersama kakak."


"Baiklah. Kita kesana."


Sesampainya mereka di tempat penyewaan kuda, Khanif dan Rania lantas memilih kuda yang ingin mereka sewa. Setelah mendapatkan seekor kuda coklat yang tampak besar dan kuat, mereka pun sepakat untuk memilih kuda jantan itu.


"Terima kasih, pak," ujar Rania pada bapak pemilik kuda yang mereka sewa.


"Sama-sama neng, mas. Kalau butuh bantuan neng sama mas bilang saja, ya."


"Iya, pak. Kalau begitu kami pamit dulu."


"Iya, neng."


Khanif pun membawa kuda sewaan mereka dengan menarik tali kekangnya.


Sesaat Khanif merasa mereka sudah ada ditempat yang bagus untuk memulai naik kuda bersama, Khanif lantas menghentikan langkah kaki mereka. Lalu sedetik kemudian, ia membantu Rania menaiki kuda.


Setelah Rania duduk dengan baik, Khanif pun ikut menaiki kuda coklat itu dan mengambil tempat duduk di belakang Rania.


Khanif pun mengambil tali kekang kuda, lalu mulai memerintahkan kuda coklat itu agar berjalan pelan dengan menggerakkan tali kekang kuda-nya.


"Aku tidak menyangka bisa berkuda berdua dengan kakak seperti ini," ujar Rania.


"Kalau waktu itu kita jadi berkuda bersama, ini pasti yang kedua."


"Mana ada. Waktu itu kita belum resmi dan juga saat itu kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja," jelas Rania.


"Kakak hanya bercanda saja."


"Aku terima," ujar Rania membuat Khanif terkekeh pelan. "Baiklah. Pegangan yang erat, kakak ingin menambah jalan kuda ini."


"Hem. Iya, kak."


Hingga sepanjang waktu itu mereka menghabiskan waktu berdua dengan berkuda mengelilingi tempat wisata hutan pinus.


***


Hari telah sore saat mereka kembali ke vila. Tentu saja dengan hati yang senang.


Sesaat Khanif baru saja memarkirkan mobilnya, Rania sudah lebih dahulu keluar dari mobil saat matanya tidak sengaja menangkap sebuah mobil jeep yang sangat di kenalnya.


Ia bahkan berlari menuju taman depan vila saat ia melihat sosok Reyhan ada disana sedang berbicara dengan seseorang yang tidak ia kenali.


"Kakak," teriak Rania sambil terus berlari sambil melambaikan tangannya.


"Adik, jangan berlari. Nanti kamu jatuh," ujar Reyhan saat melihat Rania yang berlari begitu cepat.


Baru saja Reyhan berkata seperti itu, Rania sudah lebih dahulu terjatuh di atas rerumputan.


"Aduh!"


Khanif dan Reyhan yang melihat Rania terjatuh sontak saja berlari ke arahanya.


"Ma chérie," panggil Khanif terlihat khawatir.


"Adik!" seru Reyhan tak kalah khawatirnya.


Sesampainya kedua lelaki itu didekat Rania, mereka pun secara bersama-sama menanyakan keadaan Rania.


"Sudah para kakak-kakak. Aku tidak apa-apa. Hanya jatuh pelan aja kok," katanya menenangkan.

__ADS_1


"Tidak. Kamu harus diperiksa dulu," seru Reyhan masih terlihat khawatir.


"Aku setuju," ujar Khanif.


"Kakak, jangan mulai lagi, ah. Aku beneran ngga papa ini." Rania lantas berdiri untuk menunjukkan pada Reyhan kalau dirinya baik-baik saja. "Lihat, aku tidak apa-apa kan. Jadi kakak tidak usah khawatir lagi."


"Baiklah-baiklah, kakak percaya. Kalau begitu kita kesana saja."


"Hem. Ayo."


Mereka pun pergi menuju ke taman kecil depan vila.


Sesampainya mereka disana, Rania seperti mengenali sosok lelaki yang tengah berbicara dengan kakaknya, namun dimana. Ia tidak ingat. Sungguh, dirinya memang pelupa jika harus mengingat wajah orang.


Hingga Khanif menyebut nama lelaki itu, barulah dia sadar kalau lelaki yang bersama kakaknya ini adalah Abraham. Kakak kelasnya sewaktu sma.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Khanif pada Abra.


"Cuma berlibur saja. Kamu?"


"Aku dan istriku berlibur juga."


"Selamat atas pernikahan kalian, ya. Maaf tidak sempat hadir di pernikahan kalian."


"Tak apa. Paling juga nanti saat kamu menikah dengan Camelia, kami juga tidak akan datang," canda Khanif, namun mampu membuat Abraham tidak bersemangat.


"Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat?" tanya Reyhan saat melihat ekspresi wajah dari sahabatnya ini.


"Kalian tau, mungkin saat ini Camelia sudah jadi milik orang lain."


"Makanya aku bilang, kalau suka seseorang itu harus langsung di utarakan," seru Reyhan.


"Aku sudah beberapa kali memberinya kode."


"Kak Abraham. Wanita adalah sosok aneh yang ada di bumi ini. Meski kakak sudah beberapa kali memberikan kode kalau kakak menyukainya, kalau tanpa ungkapan itu sama saja bohong," ujar Rania.


"Pantasan saja kakak sudah beberapa kali memberi kamu kode, tapi kamu ngga terpancing juga," timpal Khanif.


"Emang kakak pernah memberikan aku kode?"


"Rey, lihat adik kamu," ujar Khanif sambil melihat Reyhan.


"Kalian! Jangan membentuk koalisi disini, ya. Mentang-mentang aku sendirian perempuan disini," seru Rania sebelum berlalu dari sana dengan perasaan kesal pada Khanif.


"Cepat kejar. Ntar ngambek lagi," seru Reyhan.


"Baiklah. Kalian nikmati aja udara disini. Kalau butuh sesuatu, bilang aja sama karyawan aku, ya. Sebut namaku juga, jangan lupa."


"Hem. Kamu tenang saja," ujar Reyhan.


Setelahnya, Khanif pun menyusul Rania kembali ke vila.


"Ma chérie," panggil Khanif setelah mereka telah dekat.


"Jangan panggil aku! Pokoknya, malam ini kakak tidak boleh tidur di kamar dan tidak akan mendapat jatah malam."


"Ma chérie ...," teriak Khanif seperti merasa lemas.


...To be continued ...


Semoga yang berikan like, vote dan komen diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah dari Allah, aamiin

__ADS_1


...By Siska C ...


__ADS_2