
Saat Khanif hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tidak asing diatas meja kerja David. David yang tahu arah pandang Khanif pun segera mengambil sebuah pigura kecil yang berisikan foto saat dirinya remaja dan kakaknya yang hanya terpaut selisih dua tahun saja.
David lalu mengatakan, "maaf saya menyimpan pigura ini diatas meja kerja saya, pak."
"Tak apa, taruh saja kembali disana."
Seperginya Khanif, David tidak kembali menaruh pigura fotonya dan kakaknya diatas mejan kerjanyaya kembali. Bahkan dengan tangan gemetar, ia memasukkan pigura itu ke dalam laci meja kerjanya dan menutup rapat-rapat lacinya agar tidak ada seorang pun yang dapat melihatnya lagi kecuali dirinya. Entah mengapa ia merasa gugup dan tidak ingin lagi seseorang melihat fotonya itu.
David pun kembali melanjutkan aktifitasnya lagi. Sedang Khanif telah sampai didepan meja kerja Rania, saat Rania tengah sibuk meng-imput data ke salah satu aplikasi keuangan yang ada di komputer depannya.
Ia bahkan tidak sadar kalau khanif masih terus berdiri dibelakangnya dengan sesekali memperhatikan komputer yang terus menunjukkan sebuah angka yang baru dimasukkan dengan jari-jari lentik Rania yang bermain diatas keyboard komputer.
Rania baru tersadar kalau khanif berdiri dibelakangnya saat dengan sengaja Khanif berdehem. Rania pun buru-buru hendak berdiri, namun Khanif malah menghentikannya karena ia berkata akan lanjut ke meja lain lagi. Rania pun mengangguk, mengikuti ucapan Khanif.
Tidak terasa Khanif sudah ada diruangan ini selama hampir sejam lamanya. Ia pun berlalu dari ruangan yang mengurus keuangan perusahaan hanya dengan diantar oleh sang manajer saja karena Khanif tidak ingin menganggu para karyawannya yang semuanya tengah sibuk di meja kerja mereka masing-masing. Ia pun masuk ke dalam lift kacanya menuju lantai duapuluh satu.
Didalam lift, ia terus saja teringat akan sebuah pigura yang terletak diatas meja kerja David. Ia seperti mengenali sosok wajah lainnya disana. Tapi siapa? Khanif melupakannya.
Sungguh, ia sepertinya pernah bertemu dengan sosok itu. Tapi kapan dan dimana, Khanif tidak bisa terlalu mengingatnya. Sepertinya ingatannya tertutupi oleh kabut yang tebal. Padahal Khanif bukanlah seseorang yang pelupa. Untuk itu, ia akan mencoba lagi mengingatnya siapa sosok di pigura kecil milik David lain kali.
Sesaat ia telah sampai dilantai tempat ruangannya berada, ia disambut oleh Lisa dengan wajah yang merasa bersalah sebab tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Tentu saja, karena Lisa menduga kalau ini bisa jadi salah satu tertolaknya dirinya menjadi sekretaris utama Khanif. Apalagi ia pernah membuat kesalahan beberapa waktu lalu.
Jika ditambah dengan hari ini, ia sudah dua kali melakukan kesalahan. Meski pun mungkin Khanif tidak menghitung kalau ini adalah sebuah kesalahan karena tiba-tiba Lisa harus pulang sejenak kerumahnya saat jam kantor, tapi Lisa tetap saja mencemaskannya. Ia mengira nanti Khanif akan menuduhnya mencampur adukkan hal pribadi dengan pekerjaannya saat ini.
"Maaf, pak. Saya tidak menjalankan tugas dengan baik," ujarnya sambil tertunduk melihat lantai.
Khanif pun menanggapinya, "hem. Jangan terlalu khawatir karena ini kunjungan yang mendadak." Selanjutnya Khanif berjalan ke arah ruangannya meninggalkan Lisa yang mendapat sedikit harapan baru.
***
__ADS_1
Saat jam pulang kantor, Khanif tinggal lebih lama dari biasanya. Bahkan Lisa sang sekretaris sementara sudah pulang. Ia pun saat ini tengah berdiri dibalik jendela kacanya dengan memperhatikan matahari yang mulai tenggelam.
Saat Khanif melihat jam di pergelangan tangannya sudah melewati 30 menit dari jam pulang seperti biasanya, Khanif pun mengambil jas-nya digantungan sudut kantor, lalu melangkahkan kakinya pulang.
Saat dirinya sudah sampai dipintu masuk kantor, Khanif memicingkan matanya saat melihat sosok wanita yang tidak asing lagi tengah berdiri tidak jauh darinya. Khanif lalu pergi menghampirinya dan berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Khanif sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Rania menolehkan wajahnya ke arah Khanif. Ia tertegun melihat Khanif menatapnya dengan mata jenihnya yang tajam. Seketika hal itu membuat Rania gugup dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan, lalu berharap papa segera datang.
"Sa ... saya sedang menunggu papa saya datang menjemput saya disini," ujarnya tidak balik melihat Khanif karena tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang seperti ia habis berlari maraton saja.
"Kapan akan tiba?" tanya Khanif yang juga ikut memandang kedepan.
"Mungkin sebentar lagi karena pastinya saat ini papa sudah dalam perjalanan kesini."
"Em. Kalau begitu biar saya menemanimu menunggu papamu datang dulu," ujar Khanif beralih melihat Rania sejenak. Namun saat itu juga, Rania langsung menolehkan wajahnya pada Khanif sehingga mata mereka bertatapan.
Sebenarnya, Rania senang karena Khanif mau menemaninya. Namun yang menjadi kendalanya adalah kalau khanif tetap bersamanya saat ini, maka ia tidak tahu apa jadinya jantungnya nanti yang terus saja berdetak tak karuan ini.
"Tak apa. Saya juga berniat pulang lama hari ini," ujar Khanif sambil mengeluarkan salah satu tangannya dari saku celananya untuk melihat jam yang melingkar pergelangan tangannya. "Sekarang masih jam lima lewat, jadi belum terlambat untuk pulang kerumah," ujar Khanif seraya mengakhiri aksi melihat jam tangannya.
Rania mengangguk canggung. Kalau sudah seperti ini, Rania tidak bisa lagi membuat alasan lainnya. Toh, dengan adanya Khanif, ia juga bisa merasa lebih aman dari rasa takut yang tadi sempat menghantuinya.
Jujur saja, sebelum Khanif tiba tadi, Rania merasa ia sepertinya tengah diperhatikan oleh seseorang. Bahkan mulai dari ruangannya. Namun Rania tidak tahu siapa seseorang itu. Ia hanya merasa kalau ada seseorang yang selalu mengikutinya dari tadi.
Dengan adanya Khanif, Rania merasa sudah lebih baikan dan bahkan sudah merasa aman. Karena, sejak kedatangan Khanif, ia sudah tidak merasakan sosok itu lagi. Sosok yang terus saja memperhatikannya hingga membuatnya gelisah. Rania pun berdiri dengan baik dan perlahan mencoba menormalkan detakan jantungnya juga.
Khanif yang dari tadi diam melihat lurus kedepan pun akhirnya kembali memulai percakapan lagi. "Kenapa kamu pulang terlambat dari biasanya?"
Rania tertegun dengan perkataan Khanif. "Apa bapak selalu memperhatikan saya tiap hari, jika saja hendak pulang kerja?" tanya Rania. Tentu saja Rania bertanyanya dalam hati saja.
__ADS_1
Sungguh ia malu jika harus menanyakannya langsung pada Khanif. Nanti apa tanggapan Khanif! Apalagi jika tanggapan Khanif tidak sesuai keinginannya seperti 'karena saya mencemaskanmu'. Pasti ia akan lebih malu dan mungkin kesal kalau khanif sengaja ingin membuatnya kesal seperti biasa.
Jadi untuk itu, Rania memilih menjawab lain meski ia tetap saja merasa gugup. "Oh, itu ... itu, saya menyelesaikan tugas saya dulu. Tanggung sekali kalau ingin menghentikannya."
"Lain kali, kamu tidak perlu menyelesaikannya kalau jam pulang kantor telah lewat dari tadi. Apalagi jika laporan yang kamu kerjakan tidak terlalu dibutuhkan untuk esok harinya," ujar Khanif lembut membuat hati Rania menghangat.
"Terima kasih atas perhatian, bapak," ucapnya tersipu akan perhatian Khanif padanya.
Namun kata-kata Khanif selanjutnya, membuat mimik wajah Rania berubah masam.
"Saya memberitahu kamu karena kamu adalah karyawan saya. Jangan kamu menanggapinya lain. Lagi pula, kalau kamu sakit lagi gara-gara tidak menjaga kesehatan, saya pastikan akan memotong gaji bulanan kamu," ujar Khanif membuat Rania melihat Khanif dengan pandangan tidak percaya.
"Siapa juga yang ingin sakit!" ketus Rania kesal.
Lihat! Baru saja mereka nampak akur, mereka telah kembali terlihat seperti kucing dan tikus saja. Rania pun mendiamkan Khanif sebagai bentuk dari kekesalannya.
Tidak lama setelahnya, terlihat sebuah mobil suv berwarna putih memasuki halaman kantor Khanif.
"Jemputan kamu udah datang," ujar Khanif.
"Ah, bukan. Mobil itu bukan mobil papa."
"Pasti dia datang menjemputmu karena tinggal kamu saja yang perlu dijemput disini."
...To be continued ...
Siapa ya yang menjemput Rania?
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1