
Keesokan harinya Reyhan kecil sudah berada di dalam kamar Rania. Ia bahkan sudah berada disana sejak ia bangun pagi ini. Dengan antusias, ia menunggu adiknya terbangun. Tidak lama setelah menunggu, perlahan mata Rania terbuka. Reyhan begitu gembira mengetahuinya.
"Adik," panggil Reyhan.
Rania melihat Reyhan. Ia dapat melihat Reyhan tengah tersenyum padanya. Bahkan Rania bisa mengatakan kalau senyum Reyhan kali ini berbeda dari hari-hari yang telah lalu. Rania tidak tahu apa yang dikatakan mama dan papanya pada Reyhan setelah ia pergi kemarin. Sungguh, ia tidak tahu mengapa sifat Reyhan padanya tiba-tiba berubah pagi ini.
Reyhan bahkan dengan telaten mengambilkan sarapan untuk Rania didapur. Namun saat Reyhan hendak menyuapinya, Rania malah menolaknya. Rania membuang pandangan ke arah lain. Ia tidak ingin melihat Reyhan ada dikamarnya setelah kebohongan yang Reyhan katakan kemarin.
Apalagi ia juga masih kesal atas kejadian kemarin yang menyebabkan ia tidak bisa berlari kesana kemari lagi karena lututnya masih terasa perih walaupun sudah tidak se-perih seperti kemarin.
Rania menghela nafas, ia lalu beralih pada Reyhan dan mengatakan apa yang saat ini hinggap dikepalanya.
"Keluar dari kamar Rania."
Reyhan tercengang, ia tidak menyangka Rania akan mengatakan hal yang tidak diinginkannya.
Reyhan maju selangkah. "Adik."
"Rania benci kak Rey. Rania tidak ingin melihat kak Rey dikamar Rania. Keluar!" Air mata Rania keluar lagi. Ia menangis semakin keras hingga membuat mama yang ingin kekamarnya, kian mempercepat langkah kakinya.
"Rania," ujar mama pelan.
"Aaa ... mama, Rania tidak ingin kak Rey ada dikamar Rania. Kak Rey jahat, kak Rey bohong."
"Iya ... iya ... kak Rey mau keluar kok."
Reyhan mau tidak mau keluar dari kamar Rania agar Rania dapat beristirahat dulu.
Sehari setelahnya, Rania sudah bosan dikamar. Ia ingin keluar jalan-jalan meski hanya disekitaran rumah saja. Namun, mama maupun papa tidak mengizinkannya untuk keluar kamar. Rania merengek. Segala cara telah ia lakukan. Namun tetap saja usahanya sia-sia.
Melihat rengekan Rania, seketika ide cerdas terlintas di pikiran papa. Papa lalu teringat akan sebuah peribahasa 'membunuh dua burung dengan satu batu', ia bisa manfaatkan peribahasa itu untuk mendapatkan dua hal sekaligus dalam satu waktu. Selain untuk menyatukan anak-anaknya lagi, papa juga dapat membuat Rania tidak bosan lagi berada di dalam kamarnya.
"Papa bisa izinkan adik pergi keluar."
Mata coklat Rania berbinar penuh kesenangan.
"Tapi ada syaratnya."
__ADS_1
Perlahan binar mata Rania meredup. Rania cemberut mengetahui ia diizinkan keluar, tapi memakai syarat. Dengan tanpa minat, Rania kembali melihat sang papa dan menanyakan syarat yang diajukan papa sebagai syarat keluarnya ia dari kamar yang sudah membosankan ini.
"Adik bisa keluar dari kamar kalau kak Rey yang mengajak adik."
"Tidak, Rania tidak mau sama kak Rey. Kak rey jahat," tolak Rania.
"Emm ... baiklah kalau begitu, adik dikamar saja terus sampai luka di lutut adek sembuh."
"Aaa ... papa ...." Rania kembali menangis, tidak ingin terus berada dikamarnya sampai ia sembuh.
Mama yang ada disana pun ikut membujuk Rania agar Rania mau mengikuti saran papa. Apalagi kini Reyhan telah berubah. Reyhan bukan Reyhan yang dulu lagi. Reyhan bahkan berjanji akan menjaga Rania melebihi dirinya sendiri. Dia juga berjanji kalau dia tidak akan cemburu lagi pada adiknya. Hingga mama bisa merasa lega.
"Ikuti saran papa aja."
Dengan tidak minat, Rania pun menganggukan kepalanya.
"Setelah kak Rey pulang sekolah, adik sudah bisa keluar kamar."
Perlahan sebuah senyum terbit diwajah Rania yang sempat sendu karena mendengar syarat dari sang papa.
"Rania ikut."
Papa melihat mama untuk meminta persetujuannya. Melihat mama menganggukkan kepalanya, papa pun membawa Rania dalam gendongannya untuk dibawa pergi menjemput Reyhan pulang dari sekolah dasarnya.
Mengetahui hal itu, Rania senangnya bukan main. Bagaimana tidak, dua hari ia dikurung didalam dikamar terus hingga ia merasa berada disana bagaikan selama seminggu.
Apalagi jika mengingat dirinya adalah anak yang aktif. Aktif dalam bermain, baik bermain sendiri diperkarakan rumahnya maupun pergi bermain dirumah temannya. Ia juga aktif dalam membantu mama didapur, meski ia membantu mama seadanya saja.
Ia bahkan baru kembali ke tempat tidur jika hendak tidur siang atau pun tidur pada malam harinya. Rasanya, Rania bisa lepas dari kamar yang telah mengurungnya itu.
Papa pun mendudukkan Rania disampingnya dan memasangkannya sabuk pengaman. Setelah selesai papa melajukan mobilnya menuju sekolah Reyhan.
"Pa, Rania mau es krim."
"Nanti papa belikan kalau kita udah jemput kak Rey, yah!"
Rania mengangguk. Sesudahnya, ia terus diam hingga mobil telah sampai di depan sekolah Reyhan. Papa kembali menggendong Rania untuk masuk ke dalam pekarangan sekolah.
__ADS_1
Dikejauhan, mereka dapat melihat Reyhan baru saja keluar kelas. Papa lantas melambaikan tangannya. Melihatnya, Reyhan bergegas berlari menghampiri papa. Senyumnya kian mengembang saat melihat Rania juga ikut menjemputnya disekolah.
"Adik," panggil Reyhan. Ia lalu semakin mempercepat langkah kakinya menuju papa dan adiknya.
Sesampainya didekat mereka, Reyhan langsung saja memeluk papa yang masih menggendong Rania.
"Gimana sekolahnya hari ini?" tanya papa. Reyhan melepaskan pelukannya.
"Semuanya baik. Reyhan dapat seratus di tugas matematika Reyhan, pa."
Papa mengelus kepala riyena. Ia pun mengajak Reyhan utk pulang kerumah. "Ayo."
"Es krim-nya?" tanya Rania saat papa tidak lagi membahas tentang membeli es krim seperti yang telah dijanjikan.
"Papa akan berikan. Jadi, Rania duduk dibelakang sama kakak ya."
Untuk mendapatkan es krim yang diinginkan, Rania akhirnya memilih duduk dibelakang bersama Reyhan walaupun rasa kesal Rania belum juga hilang. Namun seiring perjalanan, perlahan-lahan rasa kesal Rania itu menghilang digantikan dengan rasa sayang yang kian besar pada sang kakak karena Reyhan telah berbeda dengan Reyhan yang dulu.
Perlakuan Reyhan bisa dilihat dari saat mereka berada ditempat penjulan es krim. Ia dengan telaten membersihkan bibir adiknya yang belepotan dengan es krim rasa stroberi yang bersarang disekitar bibinya. Papa sangat senang melihat interaksi kedua anaknya. Bahkan papa lebih senang saat Rania sudah melupakan kekesalannya pada kakaknya.
Begitulah yang hari-hari mereka jalani. Meski Reyhan terkadang bersikap posesif melebihi papa dan mamanya, mereka tak mempermasalahkan hal itu. Mereka bahkan bangga mempunyi anak seperti Reyhan yang menjadi kakak sejati bagi adiknya.
***
Memikirkan bagaimana masa-masa kecil mereka, Rania jadi senyum-senyum sendiri. Ia bahkan seperti ingin mengulang masa kecilnya dengan Reyhan. Namun ia sadar, hal itu tidak akan bisa mungkin lagi. Mengingat waktu didunia tak bisa diputar diulang sesuai kehendak hati. Tapi yang pasti, sampai kapan pun Rania akan tetap menyanyangi kakaknya dan akan selalu menjadi adik yang manja bagi Reyhan.
Rania masih senyum-senyum saat seseorang masuk ke dalam kamar inapnya.
"Ehem."
Jika saja lelaki itu tidak berdehem, mungkin Rania tidak sadar akan kedatangannya.
...To be continued ...
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C...
__ADS_1