
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
...***...
Davina terkekeh. "Saya bilang apa. Kalau kamu mau, kamu bisa berkeliling vila ini. Kamu bisa pergi bersama Lisa dan juga Rania."
"Saya ...." Tiba-tiba Rania menyahut.
"Kamu kenapa?" tanya Davina.
"Saya disini aja, mbak."
"Loh, kok gitu?"
"Kak Rey mau datang. Mungkin tidak lama lagi, jadi saya tunggu disini saja."
"Baiklah, kalau begitu biar saya yang menemani kalian melihat-lihat disekitar sini. Ayo," ujar Davina pada Farah dan Lisa.
Ke tiga wanita itu pun berlalu dari sana meninggalkan Khanif dan juga Rania.
"Lebih baik kamu tunggu ditaman kecil saja. Biar kamu tidak lelah berdiri. Ayo," ajak Khanif.
"Hem." Rania menganggukan kepalanya. Ia pun mengikuti langkah kaki Khanif.
Sesampainya mereka ditaman kecil depan vila, Khanif menyuruh Rania untuk duduk dulu.
"Dia pamanku, paman Gunawan," ujar Khanif memperkenalkan pamannya pada Rania.
"Saya Rania, paman."
"Dia ...."
Kata-kata Paman Gunawan terpotong dengan ucapan Khanif kemudian.
"Dia salah satu calon kandidat sekretaris Khanif."
"Em, gitu," ujar paman sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Paman kira dia calon kamu."
"Paman terlalu berpikir jauh kalau begitu." Khanif tersenyum. "Dia sudah ada yang memiliki."
"Ah, benarkah? Paman kira belum. Padahal nak Rania ini sangat cocok dengan kamu."
Khanif lalu melihat sejenak sebelum ia kembali melihat pamannya. "Ya, kami cocok sebagai atasan dan bawahan."
Bukan tidak mungkin Khanif mengetahui maksud dari ucapan paman Gunawan, hanya saja ia tidak ingin membuat Rania merasa tidak nyaman sebelum Reyhan datang kesini. Bisa-bisa, ia akan menjadi bahan omelan Rania nantinya.
"Khanif masih ada urusan penting lainnya. Kalau begitu paman sibuk sendiri saja. Ayo, Rania," ajak Khanif tidak ingin meninggalkan Rania sendirian bersama pamannya. Nanti bukannya merasa lega, malah akan jadi sebaliknya.
Khanif dan Rania pun berjalan beriringan menuju lapangan basket yang telah selesai di kerjakan oleh Tama.
"Ada lapangan basket juga?" tanya Rania tidak percaya.
Pasalnya, sewaktu Rania kesini beberapa minggu yang lalu, lapangan basket ini belum ada saat itu.
"Hem. Lapangan ini baru diselesaikan Tama minggu lalu. Jadi saat kamu kesini dulu, kamu tidak mendapatinya."
"Begitu rupanya. Oh, Iya. Saya mau tanya sama Bapak."
"Tanyakan saja."
"Apa maksud bapak kalau saya sudah ada yang miliki?" runtut Rania mengulang kembali ucapan Khanif.
"Bukannya begitu? Jadi papa dan kakak kamu, tidak memiliki kamu? Lalu siapa yang memiliki kamu?"
"Anda ... sudahlah. Pasti ujung-ujungnya saya kalah juga."
Khanif terkekeh. "Tidak baik loh jadi orang yang pendendam."
__ADS_1
"Kalau untuk bapak, saya tidak masalah," ujar Rania berlalu dari Khanif.
"Hei, mau kemana?" tanya Khanif.
"Kemana saja yang penting tidak berada disekitar bapak!"
Lisa yang tidak jauh dari mereka pun jadi mengomel sendiri, "huh, dasar kecentilan. Bilang-bilang sedang nunggu seseorang, malah masih dekat-dekat sama pak Khanif."
"Kamu kenapa?"
Lisa tersentak kaget. Ia lantas berbalik belakang melihat Davina yang telah berada dibelakangnya.
"Eh, mbak Davina. Aku ngga papa kok, mbak. Cuma sedikit dingin aja," elaknya.
"Kalau gitu, gih masuk kamar aja. Disana, kamu bisa mengaktifkan penghangat ruangannya biar kamu ngga kedinginan."
"Terima kasih, mbak. Tapi aku masih mau disini dulu. Sayang kalau dilewatkan begitu saja."
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membawamu ke kebun stroberi."
"Beneran, mbak?"
"He'em. Yuk. Farah sudah menunggu disana."
"Ayo, mbak."
Sebelum mengikuti langkah kaki Davina yang telah berjalan lebih dahulu, Lisa menolehkan wajahnya lagi ke arah Khanif yang kini mengikuti langkah kaki Rania. Lisa lantas mencebik tidak suka. Biar bagaimana pun, ia tetap merasa kalau dirinya lebih pantas dari pada Rania.
"Lis, cepat," ujar Davina.
"I ... iya, mbak."
...***...
"Kenapa bapak malah mengikuti saya lagi."
"A? Siapa yang mengikuti kamu. Saya ini hendak ke parkiran mobil."
"Tidak apa kalau kamu tidak percaya." Khanif pun berjalan mendahului Rania.
Baru saja Khanif hendak masuk ke dalam mobilnya, dari arah belakang, Tama memanggilnya dengan berlari kecil.
"Ada apa?'
"Ini pak. Soal yang bapak suruhkan buat saya."
"Oh, itu. Kamu kerjakan secara rahasia saja. Nanti setelah ada waktu, saya akan pergi melihatnya."
"Siap, pak. Kalau begitu saya permisi."
"Hem."
Lagi dan lagi, baru saja Khanif hendak masuk ke dalam mobilnya, Rania malah memanggilnya dengan berlari kecil.
"Ada apa?"
"Emm ... ini ... ini, saya mau minta tolong, pak."
"Hem. Katakan saja."
"Bapak mau keluar kan?"
"Iya, kenapa?"
"Saya mau minta tolong sama bapak untuk mengantar saya ke suatu tempat."
"Masuklah."
__ADS_1
Rania tersenyum. Ia pun berjalan memutari mobil, lalu mengambil tempat duduk disamping Khanif.
"Mau kemana?" tanya Khanif setelah mereka memasang sabuk pengaman.
"Saya mau ke tempat kerja kak Rey. Bapak bisa antar saya ke sanakan?"
"Bisa," jawab Khanif. "Kalau mau pulang, hubungi saya saja. Nanti saya jemput."
"Ngga usah pak. Ini cuma kebetulan aja kok karena mobil kak Rey lagi dipake sama temennya keluar."
Khanif mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah." Khanif pun melajukan mobilnya ke tempat kerja Reyhan.
Selama dalam perjalanan, Rania bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Pasalnya, ia tadi sempat memperlihatkan kekesalannya pada Khanif.
Ini saja, jika tidak mendesak, ia pastikan kalau dirinya lebih baik menunggu kedatangan Reyhan meski kemungkinan datangnya masih lama. Tapi karena sudah sangat penasaran, Rania lebih memilih membuang rasa malunya pada Khanif.
Toh, Khanif juga hendak keluar. Jadi tidak ada salahnya ini meminta tolong untuk diantarkan ke tempat kerja kakaknya, Reyhan.
"Kenapa diam?" komentar Khanif menolehkan wajahnya sebentar ke arah Rania saat Rania hanya diam terpaku melihat jalan didepannya.
"Ngga papa kok, pak."
"Ada perlu apa Reyhan sama kamu?"
"Ngga tau, katanya rahasia. Makanya saya sangat penasaran."
"Kalau udah ketemu, kamu katakanlah sama dia. Kalau saya mengundangnya untuk menghadiri acara peresmian vila."
"Kenapa tidak bapak saja yang mengatakan langsung padanya?"
"Saya masih ada perlu. Saya kira, saya dan kamu sama saja. Jadi, kamu wakililah saya untuk mengundangnya."
"Baiklah. Semoga saja saya tidak lupa."
Khanif lantas menoleh membuat Rania tertawa kecil seraya berkata, "saya bercanda, pak. Bapak tenang saja, perkataan bapak akan saya sampaikan sesegera mungkin. Oh iya, tentang pemilihan sekretaris untuk bapak, mbak Davina bilang kalau dia telah memegang nama calon sekretaris bapak."
"Ya, memang benar. Sebelum saya kesini, saya memang sudah memberikan surat keputusan padanya," ujar Khanif. "Kenapa tiba-tiba kamu membahas hal ini?"
"Hanya ingin membahas saja, tidak ada maksud apa-apa."
"Jadi, bagaimana perasaanmu jika seandainya kamu tidak terpilih menjadi sekretaris saya?"
"Bisa tidak, bapak mengatakan hal-hal yang membawa keberuntungan," sewot Rania.
Khanif tersenyum kecil. "Kata-kata saya barusan pasti akan menguntungkanmu. Jadi, jawab saja."
"Perasaan saya biasa saja. Mau jadi sekretaris bapak atau tidak, tidak akan berpengaruh terhadap kinerja saya di perusahaan. "
Setelah menjawabnya, Rania pun memiringkan sedikit tubuhnya kearah samping. Lalu, ia perlahan menurunkan kaca mobil. Hawa dingin sejuk pun merembas masuk ke dalam mobil. Menebus kulitnya yang putih bersih.
Lalu sedetik kemudian, ponsel Khanif berdering. Rania pun sekilas menolehkan wajahnya pada Khanif.
"Tolong angkat telepon saya. Siapa tau penting," ujar Khanif masih fokus menyetir.
Rania lantas menggeser layar hijau yang terlihat di head unit mobil, lalu menekan tombol speaker-nya.
"Assalamualaikum, nak," salam mama Adelia begitu heboh.
"Wa'alaikumussalam. Iya, ma. Ada apa?"
"Mama punya berita baik untukmu!"
"Berita baik?"
...To be continued...
Vote baru telah dimulai lagi. Jangan Lupa vote cerita ini biar aku tambah semangat update-nya ya.
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C...