Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 179. Menjauh Dari Calon Suamiku!


__ADS_3

Dian mengernyit heran saat ia mendapati Rania hanya berdiri saja didepan pintu masuk. Sekali lagi ditempat yang sama, Dian kembali mengikuti arah pandang Rania.


"Ra, kamu ngga papa kan?"


"Aku ngga papa," ujar Rania setelah menolehkan wajahnya pada Dian yang saat ini juga telah melihatnya.


"Jadi kamu mau samperin pak Khanif?"


"Mau, tapi ... aku ragu," ujar Rania sesaat ia kembali melihat sosok lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya tengah duduk berdua dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya.


"Kamu mengenal wanita yang duduk disamping pak Khanif?"


Rania menggelengkan kepalanya. Sungguh, ini baru pertama kalinya ia melihat wanita itu.


"Ngga, kalau begitu ayo kita samperin!" seru Dian.


Rania diam membuat Dian gemas. Ia lalu berkata pada Rania, "ayo, Ra. Ngga ada perkembangannya kalau kita hanya berdiri disini aja."


Rania pun melangkahkan kakinya dengan Dian menuju meja Khanif dan wanita yang berjilbab navy itu.


Sesampainya mereka di dekat Khanif dan wanita itu, Rania dengan jelas melihat wajah keterkejutan Khanif.


"Rania ...," ujar Khanif pelan. "Mau makan siang disini juga?" tanyanya yang sebenarnya tidak perlu, tapi entah mengapa ia masih harus bertanya seperti itu pada Rania.


Rania meganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu kalian duduk disini saja."


Rania dan Dian lantas mengambil tepat duduk yang masih kosong disana. Setelahnya, Khanif kembali memanggil pelayan untuk memesakan makan siang buat Rania. Sedang Dian sendiri, ia memesankan untuk dirinya sendiri.


Setelah pelayan restoran itu pergi, Khanif ingin memperkenalkan Rania dengan wanita yang duduk didepannya saat ini. Namun, wanita itu lebih dahulu memperkenalkan dirinya seraya mengulurkan tangannya pada Rania. Rania tentu saja membalas jabatan tangan wanita bergigi gingsul ini.


"Aku Jihan. Teman kecilnya kak Khanif," ujarnya memperkenalkan diri.


"Aku Rania, sekretaris pak Khanif," ujar Rania sengaja tidak memperkenalkan diri sebagai calon istri Khanif karena ia hanya ingin mengetahui seberapa dekat Khanif dan wanita bernama Jihan ini.


"Oh, sekretarisnya toh," ujar Jihan membuat Dian dalam hatinya berrenggut kesal.


"Apa-apaan wanita ini. Dia seperti sengaja ingin membuat kami kesal," kata Dian dalam hati.


"Kenapa kalian makan disini?" tanya Khanif pada akhirnya.


"Kami hanya ingin saja."


"Iya, pak Khanif," kata Dian membenarkan.


Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba. Lalu semenit kemudian, Rania maupun Dian mulai memakan makanan mereka.

__ADS_1


Dian terlihat lahap memakan makanannya. Berbeda dengan Rania yang hanya berusaha mengisi perutnya saja yang mulai keroncongan.


Bagaimana tidak! Wanita didepannya ini seperti sengaja membuatnya jadi tidak nafsu makan karena tingkahnya yang membuat ia kesal setengah mati.


Seperti sengaja membuat Khanif memotongkan steak-nya, sampai menyuapinya segala.


Wanita ini seperti anak kecil saja, hingga membuat dirinya tersedak makanannya.


Untung saja Khanif dengan sigap mengambilkannya minuman. Kalau tidak, mungkin saat ini Rania telah menangis karena tersedak makanannya yang pedas.


"Kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Khanif dengan nada suara yang terdengar khawatir.


"Tidak. Aku sudah tidak apa-apa."


"Makannya pelan-pelan saja, hem."


Rania meganggukkan kepalanya. Lalu ia pun kembali melanjutkan makanannya dengan lebih berselera.


---


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka telah menyudahi acara makan mereka semua. Namun meski telah selesai, wanita bernama Jihan ini masih saja menempel pada Khanif seperti prangko pada surat.


"Hei! Bisakah kamu menjauh dari calon suamiku!"


Rania ingin sekali berteriak pada Jihan dan mengatakan hal itu. Ia seperti ingin memberitahunya agar tidak dekat-dekat pada Khanif. Namun, semua itu hanya khayalan Rania saja.


Ia seperti tidak mempunyai rasa kepercayaan diri untuk menujukkan bukti kepemilikannya pada Khanif, jika melihat bagaimana wanita didepannya ini berlagak macam dirinya dan Dian tidak ada.


Setelah selesai makan, Rania langsung saja mengajak Dian pulang. Namun sebelum itu, ia pamitan pada Khanif dulu.


"Kalian hati-hati berkendara kalau begitu dan untuk makan siang ini, biar aku yang bayarin," ujar Khanif.


"Tidak, pak. Terima kasih. Kalau begitu. Kami pergi dulu," ujar Rania setelah mengambil tas selempangnya.


Setelahnya, Rania dan Dian pun bergegas pergi dari sana - meninggalkan dua orang yang masih suka bercakap di restoran itu.


Sesampainya di parkiran motor Dian, Rania langsung saja mengambil helm dan memakainya.


Dian tau mengapa Rania bisa bersikap itu. Apa lagi kalau bukan karena kejadian tadi. Ia pun akan bersikap seperti Rania kalau bertemu dengan calon suaminya yang sedang bersama perempuan lain. Ia akan bersunggut kesal.


"Ra ...," panggil Dian pelan.


"Udah, kamu ngga usah khawatir aku ngga papa kok. Santai aja," ujar Rania.


Meski Rania telah mengatakan kalau dirinya telah baik-baik saja, tapi tidak semudah itu untuk Dian mempercayainya.


Ia juga seorang perempuan. Ia pasti bisa merasakan apa yang saat ini Rania telah rasakan.

__ADS_1


Hingga sepanjang jalan itu yang terjadi diantara mereka hanyalah keheningan. Tidak seperti saat mereka pergi ke restoran tadi - Rania yang sibuk mengocehkan ini dan itu.


Sesampainya mereka di kantor. Lagi-lagi Rania hanya diam. Ia bahkan hanya berpamitan singkat pada Dian sebelum memilih naik dengan lift kaca.


"Semoga saja hubungan mereka tidak apa-apa," rapal Dian dalam hati.


***


Waktu telah menujukkan pukul dua siang saat Khanif baru tiba di kantor. Sesaat mata mereka bertemu pandang saat Khanif baru saja keluar dari lift. Namun Rania yang memang sedang berperasaan kacau, langsung saja memutuskan sambungan matanya dengan kembali melihat ke layar komputer didepannya.


"Assalamualaikum," sapa Khanif.


"Wa'alaikumsalam," jawabnya singkat.


"Kamu ...," katanya terpotong dengan ucapan Rania kemudian.


"Bapak ada perlu apa?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin menyapamu saja sebelum masuk ke dalam ruangan."


"Kalau begitu keperluan Bapak telah selesai," ujar Rania sambil melihat Khanif. "Kalau tidak ada keperluan lagi, saya mau lanjut kerja lagi. Sekian!" seru Rania malah membuat Khanif terkekeh pelan.


Rania yang telah kembali melihat komputernya langsung saja mendonggakkan kepalanya saat Khanif tertawa pelan seperti tadi.


"Kenapa bapak tertawa?"


"Aku suka ekspresimu. Pertahankan saja sama yang lain, ya. Biar tidak ada lelaki yang bisa mendekatimu lagi kecuali aku."


"An ...."


"Baiklah. Aku masuk dulu. Kamu hati-hati di sini dan jangan menakut-nakuti mereka yang ingin bertemu denganku, hem."


"Aku tidak akan menakut-nakutinya, tapi lebih tepatnya akan memangs*nya kalau perlu."


Khanif kembali terkikik geli. Ia bahkan membuat Rania kian kesal saja kepadanya.


"Itu juga ide yang tidak buruk. Baiklah. Aku masuk dulu." Khanif pun kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.


Saat ia baru saja memutar knop pintunya, Khanif kembali berbalik melihat Rania.


"Oh, iya. Aku hampir saja lupa. Entar pulang kerja, aku akan mengantarmu pulang. Aku tadi sudah mendapat izin dari Reyhan. Jadi semua tidak ada masalah lagi."


"Emangnya aku mau diantar pulang sama bapak?"


...To be continued ...


...Hayo, ada yang bisa nebak apa yang terjadi selanjutnya ngga ya?...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2