Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 98. Harus Belajar Banyak Darinya


__ADS_3

Halo, selamat siang semua. Aku dah baca komen kalian semua. Ya aku sadar kalau cerita ini belum ada perkembangan apapun dari para pemerannya.


Cerita aku pun mungkin terkesan membosankan. Tapi, meski begitu, kalian selalu saja nungguin cerita ini untuk up date. Untuk itu, Aku mau ucapin terima kasih banyak buat kalian yang udah mau luangin waktu dan ngabisin kuota buat baca cerita ini.


Oh iya, ada yang udah pernah nonton drama cina you are my glory, ngga? kalian tau aktor cina yang bernama yang yang? di dracin itu dia memainkan peran sebagai yu tu. dalam perannya itu, dia selalu banyak pertimbangan dalam mengejar gadis yang dia suka. nah, sifat Khanif disini, agak sama dengan sifat yu tu di dalam dramanya yakni terlalu banyak pertimbangan. tapi, percaya deh pasti semuanya akan ada waktunya kok, buat si Khanif tidak memikirkan pertimbangan itu lagi. Baiklah, sekian informasi tentang Khanif.


Satu lagi, Aku ada kabar baik buat kalian. Kabar baiknya yaitu kalau cerita ini bakalan up 3 x se hari selama seminggu kedepan karena cerita ini masuk dalam sistem crazy up di Nt. Jadi, semoga part-part yang akan datang dapat menyenangkan kalian semua.


Selamat Membaca, ya 🤗🤗🤗


...***...


Sudah beberapa jam berlalu sejak kepulangan Khanif, tapi foto seorang wanita yang ia lihat di flashdisk Khanif masih saja berada diingatkannya. Seakan foto itu terus saja menghantuinya.


Jika tahu akan begini jadinya, ia lebih baik bertanya saja pada Khanif siapa foto wanita cantik itu, tapi jika menanyakannya, ia akan dianggap mempunyai keingintahuan yang tinggi akan privasi seseorang.


Apalagi privasi itu adalah Khanif. Rania dilema dibuatnya. Ia bahkan sudah uring-uringan diatas tempat tidurnya. Bantalnya bahkan yang sudah berserakan kesana kemari sampai ada yang sudah jatuh ke lantai.


Mama Dahlia yang masuk ke kamar Rania tanpa mengetuk pun langsung saja terlihat heran melihat kamar anak gadisnya berantakan seperti kamar tidak terurus. Kamar Reyhan saja selalu rapi dan bersih. Ini malah kebalikannya.


"Rania! Kok kamarnya berantakan sih! Kamu itu gadis loh, masa kamar anak gadis begini!"


Rania terlonjak kaget. Ia segera bangun dari tempat tidurnya, menatap mama dengan senyumannya yang ia buat selebar mungkin. "Mama." Rania lalu menghampiri mama. "Ada perlu apa, ma?"


"Ngga ada. Mama cuma mau lihat kamu aja. Mama mau mastiin kamu udah tidur, apa belum! Tapi ...." mama menghela nafas panjang. "Lihat, kamar kamu berantakan kayak ngga ada penghuninya."


"Mama, Rania kan baru ini aja."


"Iya bener. Tapi lama kelamaan kan bisa jadi kebiasaan. Cepat bersihkan kamarmu dan bergegas tidur," ujar mama Dahlia sebelum meninggalkan kamar Rania.


Rania pun mengikuti ucapan mama dengan mulai memungut bantal-bantalnya yang berserakan di lantai. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu menit berikutnya, ia memaksakan dirinya untuk terlelap.


...***...


Rania terkejut akan kedatangan papa pagi ini saat ia hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Rania lalu berlari memeluk papa. Papa yang tidak siap pun terkejut dengan Rania yang tiba-tiba saja memeluknya.


"Kapan papa datang?" tanya Rania setelah melepaskan pelukannya pada papa.


"Papa datang semalam."


"Loh! Kok ngga bilang-bilang sih!"

__ADS_1


"Kamunya udah tidur. Makanya papa ngga bangunin."


Rania mengerucutkan bibirnya lucu, hingga membuat papa gemas dan berakhir dengan mencubit pipi Rania.


"Udah sana cepat mandi. Ntar papa antar ke kantor."


"Bener ya, pa!"


Papa menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Rania kembali ke kamar dulu."


Rania pun balik ke kamar dan mulai mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kantor. Baru setelah itu, kegiatan kecil Rania pagi ini dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama keluarganya kecuali Reyhan yang masih mengembang tugas di kota M sebagai seorang tentara yang selalu setia menjaga ketentaraan, kedamaian dan semua yang menyangkut tugasnya sebagai penjaga keamanan negara.


Saat setelah sarapan, papa menepati janjinya untuk mengantar Rania ke tempat kerjanya. Para karyawan yang melihatnya diantar oleh seorang pria paruh baya pun sudah tahu kalau pria yang sudah berumur kepala lima itu adalah papa Rania. Namun bukan hal itu yang terus saja mereka lihat. Mereka melihat mobil yang mengantar Rania ke tempat kerjanya.


Mereka terpukau karena baru pertama kali melihat mobil jeep jenis wrangler yang biasanya orang memakainya disaat sedang melakukan kegiatan offroad malah mobil itu terhenti semenatara diarea kantor mereka. Mereka terpukau melihat mobil berwarna putih yang terlihat gagah, kokoh dan penuh tantangan itu ada disini. Andai saja mereka bisa mencobanya barang sedikit


Rania yang melihat teman se tempat kerjanya dari kaca mobil yang terbuka hanya mampu tersenyum kecil pada mereka. Tahu kalau mereka sudah ketahuan, mereka pun cepat-cepat masuk ke dalam kantor. Sedangkan Rania berlalu keluar dari mobil diikuti oleh papa yang juga ikut keluar.


"Pa, Rania masuk kerja dulu."


"Hem, kalau pulang nanti, hubungi papa saja."


"Waalaikumsalam."


Rania pun masuk kedalam kantor diikuti oleh papa yang juga ikut pergi dari sana dan kembali ke rumah. Rumah yang telah membuatnya betah selama ini.


Sesampainya Rania didepan lift, Rania hendak menekan tombol lift nya. Namun yang terjadi tangannya hanya seperti mengambang saja saat seorang lelaki dari belakangnya memanggil namanya. Rania lantas menoleh. Ia tersenyum pada lelaki yang telah berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat pagi," ujar David.


"Pagi."


Tidak lama setelah saling sapa, David maju untuk menekan tombol lift, lalu tidak lama lagi setelahnya, pintu lift terbuka. Mereka lantas masuk ke dalam.


"Yang mengantar tadi adalah papa kamu?"


"Hem, iya. Dia papa aku."


"Papa mu terlihat masih muda. Sepertinya aku harus belajar banyak darinya," canda David membuat Rania terkekeh.

__ADS_1


"Kamu ada-ada saja."


Percakapan singkat mereka pun terhenti saat lift yang membawa mereka telah sampai dilantai ruangan mereka berada. Mereka pun sama-sama melangkahkan kaki keluar menuju meja kerja masing-masing.


"Semangat bekerja," ujar David sebelum berbelok ke meja kerjanya yang ada di seberang Rania. Rania pun mengangguk. Ia kemudian melanjutkan langkah kakinya.


Sesampainya Rania tepat didepan meja kerjanya, ia tidak terkejut lagi saat melihat banyaknya berkas yang tersimpan rapi diatas meja kerjanya dan seperti kebiasaan, ia pastinya akan mengimputnya juga. Ah, sepertinya Rania harus lebih kerja keras lagi hari ini.


"Semangat!" ujarnya pada dirinya sendiri. Biar bagaimana pun, ia harus segera meyelesaikan tugas inputannya ini dengan baik dan benar. Agar ia bisa pulang cepat di hari dan mulai menikmati hari liburannya sampai esok hari. Rania pun mulai mengerjakan tugas hariannya itu.


Sedangkan di tempat lain, Khanif baru saja sampai di vila-nya. Ia melihat sekeliling. Tidak sia-sia ia mempercayakan Tama mengurus urusan disini. Lihat, bangunan vila dan halaman sekitarnya sudah tidak membuat matanya sakit lagi.


Saat Khanif sibuk memperhatikan, ia didatangi oleh beberapa bapak-bapak kala itu yang ia sengaja ajak berbicara tentang pekerjaan mereka disini. Bapak-bapak itu seperti takut-takut berbicara dengan Khanif. Bahkan jika saja Khanif tidak segera menyadari keberadaan mereka, mungkin jika Khanif berdiri selama sejam disini, bapak-bapak itu juga akan berdiri bersamanya selama sejam disini.


Khanif pun menolehkan wajahnya. Bapak-bapak yang dilihat oleh Khanif pun seakan takut memandang tepat ke mata Khanif. Khanif yang mengetahui hal itu segera saja tersenyum kecil dan mulai mengapa mereka.


"Pagi, bapak-bapak semua."


Seorang bapak berbaju hitam pun memberanikan diri untuk menyapa balik Khanif. "Pagi juga pak Khanif."


"Gimana pekerjaan bapak baru-baru ini?"


Mereka semua bungkam. Takut, karena mereka dulu sudah pernah curhat langsung pada Khanif.


"Ka ... kami sudah bisa berkerja dengan baik, pak. Terima kasih karena perhatian bapak, kami bisa melakukan apa yang kami inginkan."


Khanif lagi-lagi tersenyum kecil. "Sama-sama pak. Berkat bapak sekalian, saya juga lebih tahu apa yang saya butuhkan dalam menyelesaikan persoalan bapak-bapak."


"Pak Khanif baik sekali karena sudah memperhatikan para pekerja kecil seperti kami, terima kasih banyak pak," celetuk tiba-tiba seorang pekerja berbaju coklat.


"Itu sudah menjadi tugas saya. Jadi bapak tidak perlu sungkan."


Mereka pun terlibat pembicaraan kecil sebelum Tama datang dan mengabarkan pada Khanif kalau ada seseorang yang mencarinya. Mengatahui hal itu, Khanif pun bergegas menemuinya sesaat sebelumnya tadi ia berpamitan pada papa pekerjanya.


"Siapa yang mencari saya?" tanya Khanif sesaat mereka telah berjalan menuju tempat orang yang dikatakan oleh Tama sedang menunggunya.


"Maaf pak, saya tidak tahu."


Khanif kian mempercepat langkah kakinya. Ia ingin segera mengetahui siapa yang telah mencari dirinya, sampai Tama pun tidak tahu menahu tentang dirinya.


...To be continued ...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C ...


__ADS_2