
Zaky baru saja pulang kerja saat ia berniat untuk pergi menemui Rania. Karena ia merasa sudah lama sekali mereka tidak pernah ketemu. Ia pun bergegas pulang kerumahnya dahulu. Membersihkan diri, lalu setelahnya, ia memilih memakai kemeja dongker dan celana panjang kain. Setelah siap, ia menyambar kunci mobil dan dompet yang ia letakkan diatas mejanya.
Sesampainya didepan rumah, ia masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan mobil suv warna putihnya menuju rumah wanita yang sudah dirindukannya setengah mati.
Saat Zaky baru saja tiba di halaman rumah Rania, Zaky melihat papa keluar dari rumah dengan terburu-baru. Zaky lalu berlari kecil ke arah papa. Sesampainya didekat papa, ia mengambil tangan papa dan menciumnya.
"Assalamualaikum, om."
"Waalaikumsalam, Nak Zaky."
"Rania ada, om?"
"Rania belum pulang kerja, nak. Ini baru om mau pergi menjemputnya."
"Biar Zaky aja om yang menjemputnya. Kebetulan Zaky memang ingin bertemu dengan Rania."
"Baiklah, nak Zaky. Kalau begitu, om percayakan anak om sama kamu."
"Iya om. Zaky akan mengawalnya selama perjalan pulang," ujar Zaky diiringi dengan senyumannya. "Kalau begitu, Zaky pergi dulu om. Salam sama tante. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati dijalan, nak Zaky."
Zaky pun bergegas masuk kedalam mobilnya kembali. Ia melajukan mobilnya menuju tempat kerja Rania. Untung saja tempat kerja Rania tidak terlalu jauh dari rumahnya. Jadi, saat ini Zaky telah sampai dikantor Rania. Lebih tepatnya, ia baru memasuki halaman kantor Rania.
Zaky dapat melihat dengan jelas Rania tengah berdiri didekat pintu masuk kantor bersama seorang lelaki yang tidak lain adalah Khanif. Zaky lalu menghentikan laju mobilnya tepat didepan mereka. Baru setelahnya, ia keluar dari mobilnya.
Ia perlahan mendekati Rania yang sudah tersenyum merekah ditempatnya berdiri.
"Zaky," seru Rania tidak menyangka kalau ternyata Zaky lah yang menjemput dirinya. Zaky pun balas tersenyum melihat Rania.
"Maaf telat," ujarnya.
"Kok kamu yang datang jemput Rania? Papa mana?"
__ADS_1
"Aku tadi kerumahmu, tapi kamu belum pulang kata om. Jadi aku menawarkan diri untuk menjemputmu disini."
"Emm, baiklah."
Zaky mengangguk. Ia pun menyudahi pembicaraannya pada Rania karena ia ingin mengajak Rania segera pulang. Sebelum pergi, Rania menoleh pada Khanif dan mengatakan sesuatu padanya, "terima kasih karena bapak sudah mau menemani saya disini menunggu jemputan."
"Sama-sama, tak perlu sungkan," ujar Khanif tersenyum tipis.
Zaky pun ikut berujar pada Khanif, "terima kasih, sudah menjaganya selama saya belum datang."
"Sudah menjadi kewajiban saya sebagai atasan dalam menjaganya. Apalagi saat ini Rania masih ada dalam kantor, jadi tidak mungkin saya meninggalkannya," ujar Khanif.
"Ya, tentu saja. Sebagai atasan yang baik, kamu harus menjamin keamanan karyawanmu."
Setelahnya mengatakannya, ia lalu beralih pada Rania. "Ayo kita pulang sekarang." Rania mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan Khanif seorang diri.
Sebelum masuk kedalam mobil, Rania sempat menolehkan wajahnya ke arah Khanif yang masih melihatnya. Baru setelah Khanif menganggukkan kepalanya sekali, Rania pun masuk kedalam mobil dengan hati yang tenang.
Setelah kepergian Rania dengan Zaky, membuat Khanif terdiam cukup lama ditempatnya. Ia baru beranjak dari sana saat petugas keamanan menyadarkan dirinya. Ia pun melangkahkan kakinya menuju mobil yang seharusnya sudah dari tadi ia lajukan menuju rumah.
Namun sekarang berbeda, Khanif tidak mempunyai alasan lain lagi untuk menahan Rania agar ikut pulang dengannya saja dari pada ikut di dalam mobil Zaky. Memikirkannya, membuat Khanif tidak sadar kalau ia telah melonggarkan sedikit dasinya yang seperti mencekik lehernya dan tangan mencengkeram stir mobil kuat-kuat hingga membuat kuku-kuku jarinya memutih.
Keadaan itu berlangsung hingga mobil Khanif memasuki pekarangan rumah. Setelah Khanif memarkirkan mobilnya, Khanif berlalu keluar dari sana dan bergegas masuk ke dalam rumah. Namun saat ia hendak mencapai pintu, seseorang malah menghentikan langkah kakinya.
"Sayang, kenapa baru pulang?"
Khanif membalikkan badannya ke arah sumber suara. Ia lalu menjawab diiringi dengan senyuman manisnya. "Khanif ada sedikit urusan dikantor, ma. Jadi, Khanif pulangnya agak lama."
"Lain kali, hubungi mama kalau mau pulang telat ya. Biar kamu adalah anak lelaki, tapi mama tetap khawatir juga," ujar mama. Pasalnya, baru kali ini Khanif pulang telat sekali selama ia mengambil alih bisnis keluarga.
"Insya Allah, ma. Baiklah, Khanif masuk dulu." Khanif pun berlalu dari hadapan mama yang sibuk menyirami tanaman bunganya.
Sesampainya Khanif didalam kamarnya, Khanif membuka jas-nya lalu beralih membuka dasi dan menggulung lengan kemejanya sampai siku. Baru setelahnya, ia keluar ke beranda kamarnya. Menikmati angin segar dengan ditemani matahari yang mulai terbenam diujung sana.
__ADS_1
"Khanif, Khanif. Kamu hanya membuat susah dirimu sendiri saja," gumamnya sambil tertunduk. Ia kembali mengingat senyum Rania yang begitu merekah saat Zaky tiba untuk menjemputnya.
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara pintu kamar Khanif diketuk oleh seseorang. Mau tidak mau, Khanif pun beranjak dari sana dan bergegas membukakan pintu kamarnya.
"Mama?"
"Boleh mama masuk?"
"Tentu saja boleh."
Mama pun masuk kedalam kamar Khanif dan mendudukkan dirinya di kursi baca Khanif.
"Mama lihat kamu begitu lesu saat pulang tadi. Apa ada yang mengganggumu? Kalau ada, sini cerita sama mama."
"Tidak terlalu parah kok, ma. Jadi mama tidak usah khawatirkan Khanif."
"Apa semua gara-gara siang tadi?"
Khanif yang tahu maksud mama pun menggelengkan kepalanya, karena Khanif pergi tanpa makan siang dengan mereka, bukan karena gara-gara Tasya ia pergi dari sana. Namun, semua gara-gara dirinya sendiri yang tidak tahan melihat pemandangan yang membuat hatinya berdegup nyeri.
Ya, Khanif akui. Sejak gadis itu merubah penampilannya yang dulu tidak terlalu mengurusi tampilannya, banyak dari pada lelaki yang menjauhinya.
Hanya dirinyalah yang mungkin satu-satunya mau mendekati gadis itu karena dirinya yang tidak memandang lewat fisik melainkan lewat hatinya.
Namun sekarang, sejak gadis itu merubah penampilannya menjadi seperti putri raja, banyak juga para lelaki yang berusaha mendekatinya. Mulai dari Zaky, David dan pastinya masih banyak lagi diluaran sana tanpa ia ketahui. Ia menghembuskan napas panjang sambil mengusap wajahnya yang lelah.
"Kenapa?" tanya mama yang kini sudah berpindak duduk disampingnya dan menganggam tangannya Khanif. "Coba cerita sama mama. Siapa tahu mama bisa bantu."
Sekali lagi Khanif menggelengkan kepalanya lalu ikut membalas genggaman tangan mama. "Khanif tidak apa-apa. Hanya saja Khanif merasa lelah saja," ujar Khanif disertai senyum tipisnya.
Sebagai orang tua, tentu saja mama tahu kalau anaknya ini mempunyai sesuatu hal yang membuatnya tidak bersemangat seperti ini. Tapi begitu tahu, mama sepertinya mempunyai ide agar ia bisa melihat semangat anaknya lagi.
...To be continued...
__ADS_1
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...