Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 8. Menantu Seperti Rania


__ADS_3

Selamat pagi semua, aku datang lagi nih. semoga kalian suka dengan ceritanya. Selamat membaca 🤗


...***...


Khanif tersentak kaget dari lamunanya saat Mama Adelin membuka pintu ruangan kerjanya. Mama Adelin yang melihat ekpresi Khanif hanya mampu menggelengkan kepala melihat wajah anaknya yang pucat seperti habis melihat mahkluk halus.


"Mama, ada perlu apa?" tanya Khanif buru-buru menghilangkan rasa keterkejutannya.


Mama mendesah panjang, melihat tingkah anak lelaki satu-satunya ini. Selalu saja tiap malam Mama Adelin mendapati Khanif berada diruangan dengan berwarna dominan putih ini. Bahkan biasa Mama Adelin mendapati anaknya tertidur dengan banyaknya tumpukan kertas di meja kerjanya.


"Masih sibuk?" tanya Mama Adelin sambil mendekati Khanif.


"Ngga ma, ini Khanif baru mau keluar."


Mama Adelin tersenyum senang, lalu lebih mendekati Khanif. "Kalau gitu, anter nak Rania pulang ya. Kasian dia ngga bawa kendaraan. Takut juga kalau dia harus naik kendaraan umum. Ini udah malam banget, loh."


Sambil berlalu keluar dari ruangan kerjanya, Khanif bertanya pada mama, "mama kenal Rania dimana?"


"Oh itu, mama kenal dia dipasar." Mama Adelin sempat tertawa kecil mengingat pertemuannya dengan Rania kala itu. Lalu sedetik kemudian, Mama Adelin melanjutkan perkataannya lagi, "waktu itu mama ke pasar sendiri. Biasa belanja bulanan. Tapi saat Mama lengah, seorang preman atau apalah sebutannya datang mencopet tas mama. Untung saat itu ada nak Rania. Dia menolong mama dari pencopet itu. Mulai dari sanalah mama kenal sama dia. Dia anak yang cekatan. Tapi dia cantik juga, sopan lagi. Serasa mama kepingin punya anak perempuan seperti dia," ungkap Mama Adelin membuat Khanif menoleh sebentar padanya.


"Bukannya udah ada Jihan, ma. Jihan cantik, baik. Sayang sama orang tua lagi," ujar Khanif tersenyum hangat mengetahui ucapannya.


"Kamu gimana sih, tentu beda rasanya. Mama maunya mantu kayak Rania."


Khanif diam-diam tersenyum menanggapi ucapan mama yang blak-blakan itu.


"Jadi mama mau gimana?"


Saat Mama Adelin mau menanggapi ucapan Khanif, Rania datang menghampiri mereka dan membuat mama melupakan pertanyaan Khanif barusan.


"Tan, Rania pamit pulang dulu," ujar Rania setelahnya mencium tangannya Mama Adelin.


"Iya nak," ujar Mama Adelin lalu menoleh pada Khanif. "Gih, anterin nak Rania pulang."

__ADS_1


"Ngga usah tan. Rania naik mobil online aja," tolak Rania mengibas-ngibaskan tangannya didepan dada. Ia merasa tidak enak pada Khanif sekaligus kesal padanya karena masalah tadi.


"Udah ngga papa. Khanif juga udah selesai kerja kok. Gih, ikut Khanif. Ngga baik loh, anak perempuan diantar malam-malam sama sembarang orang. Ini juga demi keamanan kamu. Kalau anak tante yang anterin kamu pulang, tante ngga bakalan khawatir lagi."


"Tante yang ngga khawatir, tapi Rania yang bakalan khawatir. Entah apa lagi rencana pak Khanif membuatku kesal," ungkap Rania dalam hati.


Tentu saja ia tidak dapat berbicara blak-blakan seperti itu didepan Mama Adelin. Apalagi sifat Wanita paruh baya itu  sangat baik padanya. Berbeda dengan Khanif yang baru lagi ditemuinya setelah berpisah lama.


Dengan enggan, akhirnya Rania menganggukan kepalanya tanda mengerti. Lalu Khanif berjalan lebih dahulu meninggalkan Rania yang masih berbicara sama Mama Adelin sampai depan pintu masuk.


"Nanti, datang lagi ke rumah tante ya."


"Insya Allah tan, kalau Rania punya waktu."


"Tante tunggu loh! Kalau masalah kerjaan dikantor, biar tante berurusan dengan Khanif."


Rania menanggapinya dengan senyum merekah. Ia tidak menyangka wanita yang masih terlihat awet muda ini ternyata mama Khanif. Tidak lama kemudian, Khanif datang dengan mengendarai mobilnya.


"Ayo masuk," panggil Khanif dari dalam mobil suv nya.


"Waalaikumsalam, hati-hati nak. Ingat perkataan tante barusan ya."


Rania menoleh pada Mama Adelin dan menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. Setelahnya, Rania pun masuk ke dalam mobil Khanif dan duduk di kursi depan - dekat Khanif.


Keadaan tampak canggung diantara mereka. Namun, aura kekesalan nampak jelas dimata Rania. Ia bersungut dalam hati, jika saja Khanif tidak menyuruhnya datang malam-malam begini, ia tidak akan mungkin duduk bersama Khanif saat ini.


"Apa pemandangan disamping lebih indah dari pemandangan dari depan?" komentar Khanif saat melihat Rania yang tidak menoleh kedepan walau sebentar saja.


"Apa urusan bapak? Sudah ya pak. Syukur-syukur saya mau diantar sama bapak."


Mendengarnya, membuat Khanif tertawa terbahak-bahak. Apa yang Rania katakan - syukur-syukur kalau dirinya mau diantar sama Khanif? Apa tidak terbalik? Sepertinya dunia Rania saat ini sudah terbalik seperti sinetron yang pernah mamanya nonton dulu.


"Rania, Rania. Sudahlah, jangan buat saya menangis," ujarnya seraya menghapus setitik air mata yang berada di sudut matanya.

__ADS_1


Rania tidak heran saat Khanif mengatakan hal itu karena mendengar cara Khanif yang tertawa lepas nan terbahak-bahak, Rania yakin Khanif pasti akan menangis. Tapi bukan menangis karena habis diputuskan pasarnya, melainkan menangis karena menertawakannya. Mengetahui hal tesebut, membuat Rania makin kesal pada Khanif karena tidak bisa menjaga perasaannya yang lagi tidak karuan.


Entahlah, akhir-akhir ini tinggi darahnya selalu naik jika berdekatan dengan Khanif. Apalagi jika Khanif dengan sengaja membuatnya kesal seperti ini. Sepertinya kepala Rania akan meledak mendengar tawa mengejeknya.


Ah, sudahlah. Untuk menghilangkan kekesalannya, Rania pun kembali menoleh ke samping. Ia tidak ingin mendengar suara pelan Khanif namun membuat telinganya panas. Semantara itu, Khanif diam-diam tersenyum. Ia juga tidak tau, kenapa malam ini ia begitu bahagia. Padahal beberapa jam yang lalu, ia nampak kesal saat melihat tindakan ceroboh Rania yang hampir membuat perusahaannya bangkrut dalam semalam.


Lihat, hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah dapat menyinggungkan senyumnya secara diam-diam tanpa Rania ketahui. Semantara Rania, masih sibuk memandang keluar jendela mobil .


Dalam kesibukannya, Rania teringat kembali saat tanpa merasa bersalahnya Khanif menolak dirinya mentah-mentah di taman belakang sekolah. 


Siang itu setelah Khanif menolaknya, ia masih terus berada ditanam belakang sekolah. Ia terus saja memikirkan kata-kata Khanif yang membuat hatinya berdenyut nyeri tanpa henti. Ia tidak menyangka kalau khanif akan membuat dirinya seperti ini. Terdiam, memandang kosong masa depannya yang terlihat tanpa cinta lagi.


Rania menertawakan dirinya sendiri. Miris, apa Khanif menolaknya dengan perkataan manis seperti itu karena tidak ingin membuatnya sakit hati? Jika ya, Khanif salah besar. Rania yakin, Khanif menolaknya karena memandang fisiknya yang jauh dari kata mengenakkan pandangan. Jika seperti itu, baru Rania percaya.


Dalam diamnya, perlahan-lahan air matanya turun lagi. Jujur, Khanif adalah cinta pertamanya. Tidak ada lelaki yang pernah sedekat ini dengannya kecuali lelaki dalam keluarganya. Rania memukul dadanya, ia merasa sakit didalam disana. Namun bukannya mereda, malah sakitnya makin menjadi.


Rania pun berteriak sekencang-kencangnya. Ia ingin melampiaskan sesak di dadanya itu dengan berteriak lepas. Setelah merasa agak tenang, ia pun beranjak dari sana. Dalam hati ia berkata, kalau dirinya tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di taman belakang sekolah ini.


Rania tersentak kaget saat Khanif menyentuh lengannya. Ia tersadar dari lamunanya dan menoleh pada Khanif.


"Kamu kenapa?" tanya Khanif khawatir setelah tadi ia memanggil Rania banyak kali, tapi tidak mendapat jawaban maupun anggukan kepala.


"Saya tidak apa-apa," ujar Rania tanpa sadar telah melembutkan nada bicaranya.


"Rumah kamu masih disana kan?" tanya Khanif tiba-tiba namun tidak mendapat jawaban dari Rania, karena Rania belum menguasi keadaan dirinya.


Khanif pun kembali mengulang pertanyaannya, "rumah kamu masih disana kan?"


Perlahan Rania mengangguk. Khanif pun kembali menambah laju kendaraannya menuju rumah Rania. Beberapa menit telah berlalu. Mereka pun telah sampai didepan rumah Rania. Saat Rania hendak keluar dari mobil, Khanif mencegat tangan Rania seraya berkata, "tunggu sebentar."


"Apa?"


...To be continued...

__ADS_1


semoga yang tinggalkan like atau komen diberikan rezeki yang banyak, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2