Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 149. Aku Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

Setibanya Khanif dan Rania di pelantaran kantor, Rania mengernyit heran saat ia tidak sengaja melihat sesosok wanita yang sangat dikenalnya.


Lalu tanpa menunggu Khanif untuk masuk ke kantor bersama, Rania lantas pergi meninggalkannya untuk mengejar sosok wanita yang sangat ia kenali itu.


Saat ia semakin dekat dengannya, dengan ragu-ragu Rania pun memanggil namanya.


"Bella!"


Sosok wanita itu pun perlahan membalikkan badannya - melihat siapa yang telah memanggil namanya.


"Bella," seru Rania tanpa sadar. "Ternyata aku tidak salah tebak."


"Rania," pekik pelan Bella yang tidak menyangka akan bertemu dengan Rania di lobi kantor pagi ini.


Rania pun kian mempercepat langkah kakinya, begitu pula dengan Bella. Sesaat bertemu, mereka langsung saja berpelukan haru.


"Aku kira aku salah orang," canda Rania setelah mereka melepaskan pelukan satu sama lain.


"Emang dari dulu, ya. Kamu ngga pernah salah mengenali aku."


"Siapa dulu, Rania," katanya membanggakan diri. "Oh, iya. Kamu mulai kerja disini?"


"Hem, iya."


"Dengan jabatan apa."


"Admin perusahaan."


Rania lantas mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Setelah Farah menjadi sekretaris Khanif, pastinya posisi itu membutuhkan seseorang karyawan baru.


"Baiklah, selamat bekerja dan semangat."


"Pastinya. Oh, iya. Kamu naik apa kesini?" tanya Bella yang sebenarnya sudah tau Rania datang bersama Khanif, sengaja berpura-pura tidak tau hanya untuk mengetes kejujuran Rania padanya.


"Aku ...."


"Dia berangkat sama saya," jawab Khanif yang telah ada dibelakang mereka. Sontak saja Bella menolehkan wajahnya.


"Kak Khanif ...." pelan nan seperti berbisik.


"Panggil pak, Bel. Ini dikantor loh," tegur Rania setengah berbisik.


"Pagi, pak Khanif," ulang Bella dengan sapaannya.


"Pagi. Sudah mulai bekerja hari ini?"


"Iya, pak."


Khanif mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Kalau begitu, selamat beraktivitas dan semoga kamu nyaman bekerja di perusahaan ini."


"Terima kasih, pak."


"Sama-sama," balas Khanif. Ia lalu beralih pada Rania. "Ayo, kita harus segera bekerja."

__ADS_1


"Apa?"


"Bekerja Rania. Ikut saya!"


"Saya sama Bella aja, pak."


"Tidak, aku masih ada perlu sama kamu. Jadi kamu harus ikut aku."


"Iya, pak." Rania lalu beralih pada Bella. "Aku pergi dulu. Kalau ada yang kamu butuhkan, kamu jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi aku, ok!"


"Ok."


Setelahnya, Rania dan Khanif pun berlalu meninggalkan Bella. Rania mengernyit heran saat Khanif tidak berjalan ke arah lift karyawan melainkan berjalan ke arah lift khususnya.


"Pak, bapak mau menggunakan lift khusus, bapak?"


"Hem. Kenapa?"


"Kalau begitu saya naik lift karyawan saja sama Bella."


"Tidak perlu karena mulai sekarang, kamu juga bisa menggunakan lift khusus ini sesuka hati kamu. Kodenya, seperti kode yang dulu."


Setelah lift kaca itu terbuka, mereka pun melanggang masuk ke dalamnya. Namun baru saja pintu lift itu tertutup, Khanif sudah lebih dahulu mengajak Rania berbicara.


"Temanmu itu tanpa sungkan memanggilku kakak, kenapa kamu begitu canggung?"


"A, apa?"


Rania tau maksud Khanif.


"Apa panggilan itu penting?"


"Tentu saja, Rania. Jika menginginkan sebuah hubungan yang baik, salah satu faktor pendukungnya adalah sebuah panggilan yang baik pula. Salah satu contohnya adalah dengan kamu memanggilku, kakak. Kak Khanif, " jelas Khanif seketika membuat Rania tertawa.


"Baiklah, kak Khanif," canda Rania. "Sepertinya lantai ruanganku berada telah sampai." Ia lantas keluar dari lift, lalu berbalik kembali untuk melihat Khanif. "Kalau bapak butuh teman bercanda, panggil saya saja. Hem!"


Setelahnya, Rania pun berlalu dari sana dengan tawa yang ia coba tahan sedari tadi.


***


Siang harinya, lagi-lagi Khanif mengajak Rania untuk makan siang bersama, namun lagi-lagi pula Rania menolaknya dengan alasan yang sama. Ia ingin makan siang bersama dengan temannya. Tapi yang berbeda kali ini, ia ingin makan siang bersama Bella di cafetaria kantor.


Khanif tentu saja tidak menyerah sampai disitu. Ia bahkan mendatangi Rania diruangannya untuk makan bersama di cafetaria bersama teman yang dimaksudnya itu.


Soal teman kantor, hampir semua teman kantor Rania mengetahui kalau Khanif sedang mendekati teman mereka, Rania.


Tentu saja ada pro dan kontra dalam hal itu. Namun, kini Khanif tidak peduli lagi mereka ingin berkata apa karena saat ini, ia hanya ingin menujukkan ketulusan hatinya dalam mengejar cinta Rania.


Seperti masalah beberapa waktu yang telah berlalu, ia akan menganggapnya sebagai angin lewat saja dan tidak akan menanggapinya, kecuali hal itu sudah kelewat batas seperti masalah Davina dulu.


Tepat jam istirahat kantor, Khanif mendatangi Rania diruangannya. Teman seruangan Rania pun tau kalau atasan mereka pasti datang untuk Rania.


Dian yang juga sudah tau perihal Khanif mendekati Rania pun sengaja menyenggolkan lengannya pada Rania. Ia lalu memberikan kode mata pada Rania setelah Rania melihatnya untuk meminta penjelasan akan tindakannya barusan.

__ADS_1


"Duh, anak ini. Itu tuh, pak Khanif datang lagi. Pasti mau ngajakin kamu makan siang bareng."


"Aku sudah punya janji dengan teman yang lain."


"Tapi sudah beberapa hari ini pak Khanif relain datang kesini buat ajakin kamu makan siang bareng. Masa kamu ngga mau? Banyak loh diantara teman kerja kita yang ingin makan siang bareng pak Khanif, tapi pak Khanif tidak ngajakin mereka."


"Kenapa ngga mereka aja yang ngajuin diri."


"Mereka ngga seperti kamu, ra. Malahan kamu beruntung. Karena apa? Karena banyak yang ingin berada di posisi kamu, namun mereka tidak bisa. Aku pun sebagai teman kamu didunia kerja, merasa ingin juga diajak sama pak Khanif, tapi ngga bisa. Inti yang ingin aku katakan adalah tidak semua orang akan bersikap sama seperti hari-hari lainnya. Jadi, sebelum semua terlambat, aku harap kamu dapat memikirkannya baik-baik."


Rania menghela napas pendek. Ia tau kalau tindakannya ini sudah berlebihan, namun ia tidak suka Khanif menunjukkan diri tengah mendekatinya. Ia hanya tidak ingin menjadi bahan omongan orang lain.


"Kalau yang kamu pikirkan adalah orang lain akan membicarakan kamu dan pak Khanif, kamu anggap saja hal itu sebagai angin lalu. Karena pak Khanif sendiri pun tidak terlalu pedulikan hal itu."


"Aku dan dia beda, Di!" ujar Rania.


"Kamu tau, semua adil dalam cinta dan perang."


"Baiklah-baiklah, akan aku pikirkan lagi."


"Udah, sana samperin pak Khanif. Jangan buat pak Khanif menunggu lagi."


Lalu dengan setengah malas, Rania pun beranjak dari tempat duduknya menuju ke arah Khanif yang tengah duduk menunggunya di sofa tamu yang ada di ruangannya.


"Bapak ada perlu apa datang kesini?" tanya Rania yang berdiri tepat didepan Khanif dengan tangan yang ia lipat didepan perutnya.


"Aku mau ngajakin kamu makan siang bersama."


"Saya sudah bilang, pak. Kalau saya mau makan siang bareng teman saya."


"Ajak temanmu sekalian makan siang bersama kita."


"Tidak mau."


"Kalau begitu, kapan kita akan makan siang bersama?"


"Nanti saja."


"Besok!"


Rania menganggukan kepalanya tanpa sadar.


"Baiklah, besok aku akan datang kesini lagi. Kalau begitu aku pergi dulu." Khanif pun pergi dengan sebuah senyuman yang terbit diwajahnya.


Rania yang baru tersadar akan ucapannya barusan, secepat mungkin mengatakan, "eh, bukan itu maksud saya, pak."


Namun semua sudah terlambat. Khanif sudah masuk ke dalam lift khususnya. Meninggalkan Rania yang terpaku ditempatnya, tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2