
Saat Khanif hendak menjawab perkataan Rania, tiba-tiba ia merasa aneh pada dirinya. Khanif pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
Merasa ada yang tidak beres pada Khanif, membuat Rania khawatir.
"Bapak kenapa?" tanya Rania dengan wajah yang terlihat panik.
"Saya ... saya .... achew!" Sudah, Khanif telah bersin sebelum sempat menjawab pertanyaan Rania. Bahkan setelahnya, Khanif terus saja bersin-bersin.
"Bapak kenapa?" tanya Rania kian khawatir. Ia pun membawa kucing kecil itu kembali ke pangkuannya.
"Bisa tidak, kamu jauhkan kucing itu ...." Belum lagi Khanif menyelesaikan perkataannya, ia sudah kembali bersin.
"Menjauhakan kucing ini dari bapak?" tanya Rania memastikan.
Khanif menganggukkan kepalanya.
"Bapak alergi sama bulu kucing?"
Lagi-lagi pertanyaan Rania itu membuat Khanif menganggukkan kepalanya.
"Kenapa bapak tidak bilang!" kata Rania.
"Tak ...," katanya terpotong karena Khanif kini tengah menggosok-gosong hidungnya yang terus saja terasa gatal. "Apa," sambungannya kemudian.
Rania pun membawa kucing kecil itu ke kirinya. Baru setelahnya, Khanif kembali melajukan mobilnya lagi. Namun baru saja beberapa menit mobil mulai melaju, Rania kembali menghentikan mobil Khanif.
"Kenapa?" tanya Khanif.
"Saya mau menaruh kucing ini di taman sana," tunjuk Rania pada taman kota yang ada didepannya. "Bapak tunggu disini," katanya sebelum keluar dari mobil.
Ia pun menuju taman kota yang pagi ini banyak dikunjungi oleh para warga. Sesampainya Rania dibawah sebuah pohon yang rindang, Rania berjongkok dan menaruh kucing kecil itu disana.
"Kucing kecil, maaf aku manaruhmu disini. Kau tahukan, pak Khanif bukannya tidak suka padamu, tapi pak Khanif hanya alergi saja pada bulumu. Semoga kamu memaklumi itu," katanya sambil mengelus-ngelus bulu kucing kecil itu. "Baiklah, aku pergi dulu. Semoga saja kamu mendapatkan seorang yang mau merawatmu," kata Rania yang sebenarnya tidak rela jika harus meninggalkan kucing kecil itu.
__ADS_1
Namun mau bagaimana lagi, jika ia membawa kucing kecil itu, maka alergi Khanif akan terus berlanjut. Ia tidak ingin kalau karena dirinya, Khanif akan sakit. Meski pastinya Khanif tidak mempermasalahkan kalau kucing kecil itu ikut bersama mereka.
Apalagi saat ini mereka sedang dalam perjalanan bisnis dan pastinya membutuhkan waktu yang lama. Pastinya diluaran sana kucing kecil itu bisa dengan bebas kesana kemari dari pada ikut dengannya.
Setelah menaruh kucing kecil itu, Rania pun kembali menuju mobil. Saat Rania baru saja membuka pintu mobil, sudah lebih dahulu Khanif bertanya padanya, "Kenapa kamu meninggalkan kucingnya disana?"
Sambil menjawab, Rania mendudukkan dirinya dan memasang sealbelt-nya kembali. "Emm itu, saya sengaja karena kalau kucing kecil itu ikut sama kita, nanti kucing itu tidak leluasa bergerak," katanya menerangkan. "Emm, bisa kita berangkat sekarang?" ujar Rania sambil menunjukkan jam tangannya.
Khanif pun kembali melajukan mobilnya. Untung saja kendaraan lain pagi ini tidak terlalu padat sehingga waktu yang awalnya di perkirakan oleh khanif tepat pada waktunya. Meski mereka tadi sempat singgah untuk menaruh kucing kecil itu di taman kota.
Setelah berkendara agak lama, akhirnya mereka tiba di perusahaan keluarga Rania. Saat memasuki pintu masuk, mobil berhenti sejenak untuk membiarkan seorang satpam membukakan pagar penghalang buat mereka.
Baru setelah itu, khanif pun kembali melajukan mobilnya. Saat melewati satpam tadi, Khanif lantas menurunkan kaca mobilnya dan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sebagai tanda kalau dirinya sedang menyapa satpam itu. Baru setelahnya, Khanif melajukan mobilnya menuju parkirkan perusahaan.
Belum juga mobil terparkir sempurna, Rania dengan buru-buru menyuruh Khanif menghentikan mobilnya lagi. Belum sempat Khanif bersuara, sudah lebih dahulu Rania pergi meninggalkannya seorang diri didalam mobil.
Setelah memarkirkan mobilnya, Khanif lantas ikut buru-buru keluar dari mobil untuk mencari keberadaan Rania. Saat manik matanya menangkap sosok Rania sudah berada di pelukan seorang lelaki dengan rambut yang sudah hampir memutih semua, khanif tanpa sadar melengkung-kan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia tersenyum melihat Rania begitu senang bertemu dengan kakeknya.
Setelah mengambil berkas yang dibutuhkannya, Khanif mendekati cucu dan kakek yang tengah melepas rindu. Ia lalu berdehem untuk menyadarkan mereka kalau dirinya sudah ada disini.
"Pak Khanif." Tersadar, Rania pun melepaskan pelukannya pada sang kakek. "Maaf, saya ...."
"Tak apa." Khanif lalu beralih pada Kakek Rania, Riadi. Ia mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan sang kakek.
"Khanif," katanya.
"Riadi," balas kakek ramah. "Kamu datang tepat waktu anak muda. Baiklah, silakan masuk ke dalam."
Mereka berdua pun mengikuti langkah kaki kakek masuk ke dalam perusahaan menuju ruang rapat. Sesampainya di mereka disana, Khanif memberikan berkas ditangannya. Tidak lama setelah itu, terdengar pintu rapat diketuk. Setelah kakek mempersilakannya masuk, terlihatlah seorang lelaki dengan seorang perempuan melangkahkan kakinya ke arah kakek.
"Maaf, kami terlambat."
"Tak apa. Kalian duduklah. Kami juga baru akan memulainya."
__ADS_1
Lelaki yang baru tiba itu pun duduk dikursi samping kiri kakek, diikuti dengan perempuan yang ikut bersamanya. Khanif mengetahui lelaki itu. Ia bernama Rian, saingan Khanif dalam bisnisnya. Mereka saling menatap cukup lama sebelum kakek berujar untuk memecahkan kebisuan ini.
"Kurasa kalian sudah saling kenal, mengingat kalian berada di bisnis yang sama."
Rian yang lebih dahulu tersadar pun menolehkan wajahnya pada kakek seraya tersenyum tipis. "Anda benar. Pak Khanif adalah rival yang baik dalam dunia bisnis ini."
"Anda terlalu memuji," kata Khanif kemudian.
"Baiklah, kalian silakan duduk kembali. Kita akan memulai rapat ini."
Mereka berlima pun mulai memfokuskan diri pada pertemuan ini dari ketegangan yang tadi sempat terjadi. Khanif dan Rian pula secara bergantian akan menjelaskan isi dari proposal bisnis mereka. Karena Khanif yang lebih dahulu tiba pun mengambil langkah pertama untuk menjelaskannya pada kakek tentang rencana bisnis mereka kedepannya.
Khanif terlihat percaya diri saat menjelaskannya. Apalagi dengan kemahirannya dalam menjelaskan isi proposal keseluruhan secara rinci, membuat kakek bertepuk tangan nan tersenyum bangga saat Khanif telah selesai menjelaskannya.
"Penjelasan dari Anda begitu membuat saya kagum," puji kakek. "Namun, meski saya mengatakan demikian, tidak menutup kemungkinan kalau proposal dari bapak Rian akan lebih baik dari proposal pak Khanif."
Khanif tersenyum menanggapi. Ia tahu, ia tidak boleh berbangga diri dengan pujian yang telah diberikan oleh kakek.
"Baiklah, silakan Anda memulainya," ujar kakek pada Rian.
Rian pun memulai menjelaskan isi proposalnya secara keseluruhan. Seperti Khanif tadi, Rian begitu baik dalam menjelaskannya. Selesai menjelaskannya, seperti Khanif, kakek memberi tepukan tangannya pada Rian.
"Cara penjelasan Anda sangat terperinci. Tidak heran jika proposal Anda sangat baik," puji kakek.
Kakek pun secara bergantian melihat Khanif dan Rian. Pasalnya, proposal dan penjelasan mereka sama-sama membuat kakek tertarik untuk bekerja sama dengan mereka. Namun, diantara dua pebisnis muda ini, kakek hanya mau berbisnis dengan salah satu dari mereka.
"Hem. Dimata saya, kalian berdua adalah anak muda yang memiliki potensi besar. Sama-sama kreatif dan berenergik," kata kakek sambil secara bergantian melihat mereka berdua. "Namun meski begitu, saya hanya akan memilih salah satu diantara kalian. Jadi, saya ...."
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1