
"Assalamualaikum, nak," salam mama Adelia begitu heboh.
"Wa'alaikumussalam. Iya, ma. Ada apa?"
"Mama punya berita baik untukmu!"
"Berita baik?"
"Iya, berita baik," seru mama. "Mama dan Tasya akan menyusul ke sana besok. Jadi, kalau kamu ngga ada urusan penting, kamu harus jemput mama di bandara."
"Kenapa mama datang bersama Tasya?"
"Kok pake nanya lagi sih, ya karena untuk mendekatkan kalian berdua."
Tiba-tiba Khanif sengaja batuk-batuk kecil agar mama mengetahui kalau saat ini dirinya sedang bersama Rania. Namun sepertinya mama tidak mengerti akan hal itu saat mama kembali melanjutkan perkataannya, "dengan kamu yang sedang flu, sepertinya mama dan Tasya cocok datang ke sana."
"Ma, Khanif sehat-sehat saja disini. Tadi Khanif hanya terbatuk kecil saja, tidak lebih."
"Alhamdulillah, kalau begitu. Jadi, kalau kamu ngga sempet jemput mama, kamu suruhlah sopir disana untuk jemput mama dan Tasya."
"Baiklah. Khanif sudahi dulu."
"Eh, tunggu-tunggu. Gimana kabar nak Rania?"
"Rania?" Khanif lantas melihat Rania "dia baik-baik saja. Kalau mama mau bicara dengannya, mama bicara saja karena saat ini Khanif sedang bersamanya."
"Apa?" seru mama kaget.
Kini mama tau maksud Khanif terbatuk-batuk tadi. Ternyata Khanif memberikan mama kode kalau Khanif tidak sendiri. Tapi apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Mama juga sudah tidak bisa menarik kata-katanya lagi tentang tujuan kedatangannya bersama Tasya.
"Kenapa ngga bilang dari tadi, sih. Tau begitu mama ngga perlu bertanya sama kamu," komentar mama yang disengaja. Mama lalu mengalihkan pembicaraannya dengan Rania.
"Apa kabar nak Rania?"
"Alhamdulillah baik, tan. Tante gimana?"
"Alhamdulillah juga, nak Rania," jawab mama. "Oh, iya. Gimana perjalanannya ke sana? Lancar kan? Davina gimana?"
"Tante ngga usah khawatir soal mbak Davina. Mbak Davina baik-baik aja."
"Nak Rania tau saja," ujar mama sambil tersenyum diujung sana. "Nak Rania mau kemana berduaan saja sama anak tante?"
__ADS_1
"Oh, itu. Kebetulan tadi Rania lihat pak Khanif mau keluar, jadi sekalian saja Rania minta tolong sama pak Khanif untuk anterin Rania ke tempat kak Rey."
"Oalah. Tante kira kemana. Emm, baiklah. Tante ngga akan ganggu lagi. Kalian nikmatilah perjalanan kalian."
"I ... iya, tan."
Mama pun memutuskan sambungan teleponnya dengan Rania. Baru saja sambungan itu terputus, mama langsung saja tertawa senang gembira mendengar anaknya dan Rania kembali dekat. Meski hanya sekedar minta tolong saja, tapi tidak menutup kemungkinan suatu keajaiban bisa terjadi diantara mereka berdua, kan?
Ah, senangnya! Mama sepertinya ingin cepat-cepat berangkat ke kota M untuk melihat bagaimana interaksi mereka berdua. Meski Tasya tetap ikut dengan mama, hal itu tidak masalah baginya. Malahan dengan begitu, mama bisa tau bagaimana reaksi Rania saat Tasya mendekati Khanif. Apakah Rania akan cemburu atau bersikap biasa saja.
Jika Rania akan bersikap biasa saja saat melihat kedekatan Tasya dan Khanif, sepertinya mama harus melepaskan Rania untuk menjadi calon menantunya. Biar bagaimana pun, perasaan seseorang tidak dapat dikendalikan apalagi dipaksa. Mama hanya ingin Rania bertindak sesuai perasaanya saja tidak lebih.
Mama pun berlalu dari tempat duduknya dan mulai mengemasi pakaian yang akan dibawanya ke kota M nanti.
***
Khanif dan Rania baru saja tiba ditempat kerja Reyhan. Melihat Reyhan datang menjemputnya, Rania bergegas keluar dari mobil diikuti oleh Khanif juga.
"Kakak," ujar Rania sesampainya didekat Reyhan sambil memeluknya.
"Maaf kakak tidak datang menjemputmu."
"Tidak apa, kak. Tadi pak Khanif ingin keluar, jadi sekalian saja Rania numpang," ujar Rania seraya melepaskan pelukannya pada Reyhan.
"Sama-sama. Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu.
"Terima kasih, pak."
"Hem."
Khanif pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Sebelum melaju, Khanif sempat menurunkan kaca mobilnya, lalu tersenyum pada kedua kakak beradik itu. Baru setelahnya, ia pun melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya.
Sedang Reyhan mengajak Rania masuk ke dalam Ruangannya. Disana telah ada Elang, Kakatua dan cendrawasih. Ketiga anggota Reyhan pernah ikut menolong Rania dari insiden penculikan beberapa waktu lalu.
"Selamat datang, adik Rania," sapa Cendrawasih yang memang cepat akrab dengan seseorang yang baru dikenalnya.
Ya, meski beberapa waktu lalu mereka telah kenal, tapi Cendrawasih maupun anggota lainnya belum terlalu berkenalan dekat adik ketua mereka dikarenakan mereka diberi tugas oleh Reyahan untuk mengurusi masalah penculikan Rania.
"Terima kasih, kak." Rania tersenyum pada mereka semua.
"Kamu bisa memanggilku Cendrawasih, dia Kakatua," tunjuk Cendrawasih pada lelaki berkulit sawo matang disebelah kirinya. "Kalau dia, kamu bisa memanggilnya Elang," tunjuk Cendrawasih pada lelaki bermata sipit disebelah kanannya. "Kami masih memiliki satu anggota lagi, dia adalah Macau. Pria yang telah membawa lari mobil kakakmu," kekeh Cendrawasih.
__ADS_1
Rania pun ikut tertawa kecil. "Kakak ada-ada saja."
"Eh, tunggu. Dari pada kita hanya tinggal disini, bagaimana kalau kita membawa adik Rania melihat-lihat," ujar Cendrawasih. Ia lalu melihat Kakatua dan Elang meminta persetujuan.
"Ide yang bagus," ujar Kakatua dengan senyuman lebarnya.
"Aku pikir juga begitu," balas Elang.
"Eh, kalian berdua," tunjuk Reyhan pada Kakatua dan Elang membuat mereka berdua melihat Reyhan. "Kalian mau push up seratus kali?"
"Hah, kenapa malah kita yang harus di suruh push up?" komentar Kakatua yang umurnya lebih muda dari ketiga anggota Reyhan. "Bukan kami yang memberikan ide itu, kapten."
"Karena kalian menyetujui ide Cendrawasih. Kalian tau, kan Cendrawasih orang seperti apa?"
"Aduh, kapten. Aku akui, aku memang playboy, tapi aku tidak berani bermain sama adik kapten. Mau dihukum aku?" ujar Cendrawasih. "Ini saja baru memberikan ide sudah disuruh push up, apalagi kalau lebih dari itu. Aku takut, bukannya push up, kapten malah menyuruhku lari berkilo-kilo meter."
Kakatua dan Elang yang tau maksud Reyhan sebelumnya, langsung saja tertawa. Begitu pula dengan Rania.
"Jadi bagaimana, kapten sudah percaya padaku kan?"
"Hem. Kalian boleh pergi, tapi kalian kembali sebelum senja tiba."
"Siap kapten," ujar Cendrawasih langsung saja berdiri dari duduknya dengan memberikan hormat pada Reyhan.
"Sudah-sudah. Kalian pergilah. Oh, iya satu lagi. Kalau Macau sudah datang, suruh dia menghadap sama saya."
"Siap kapten. Baiklah kami pergi dulu, ayo!" ujar Cendrawasih.
Ketiga anggota Reyhan pun mulai menbawa Rania melihat-lihat keadaan dan suasana di tempat kerja mereka selama beberapa tahun terakhir.
Berbeda dengan Rania, Khanif malah pergi ke tempat yang pernah dikunjunginya bersama Rania. Disana, ditempat yang sama, Khanif memandang jauh beberapa bangunan indah diantara bukit yang berkabut.
Ia tersenyum melihatnya. Cita-cita yang telah lama ia impikan kini tinggal menghitung hari lagi akan segera diresmikan dan kini tinggal satu lagi impiannya dan ia juga akan segera mewujudkannya.
Semoga saja ia tidak menemukan rintangan berat seperti rintangan yang telah ia lewati demi vila yang ia buat di kota M ini.
...To be continued ...
Ada yang bisa tebak impian Khanif selanjutnya ngga ya?
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C...