Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 144. Mencintaimu Tanpa Batas


__ADS_3

Kalau yang follow aku hari ini ada 15 orang, aku up lagi deh.


Seperti perkataan Davina pada acara pagi tadi, membuat Rania melangkahkan kakinya menuju tempat pertemuannya dengan Khanif.


Ia begitu hati-hati dalam melangkahkan kakinya ke sana dan jangan lupa, ia sesekali melihat ke kanan dan ke kiri - takut kalau ada seseorang yang melihatnya pergi menemui Khanif. Bisa gawat-kan, kalau ada yang melihanya.


Sesaat ia telah melewati kebun stroberi, ia begitu tercengang melihat banyaknya bunga di kiri kananya seperti membentuk lorong.


Harus semerbak pun masuk ke dalam indra penciumannya. Ia bahkan sempat terhenti sejenak untuk menghirup dalam-dalam udara yang begitu segar dan harum.


Tapi tunggu! Ia baru tersadar kalau sewaktu pagi tadi ia tidak melihat hal ini atau dirinya yang memang tidak terlalu memperhatikan langkah kakinya?


Ah, Rania bertambah pusing saja.


Ia tidak memikirkannya lagi, takut dirinya malah bertambah bingung sendiri.


Sesampainya Rania disana, ia malah tidak mendapati siapapun termaksud orang yang memanggilnya ke sini.


"Kemana pak Khanif?" tanya Rania dalam hati. "Atau aku yang salah dengar apa yang dikatakan sama mbak davina? Sepertinya begitu," lanjutnya kemudian.


Rania lalu membalikkan seluruh tubuhnya, hendak kembali ke vila. Namun saat Rania baru saja melangkahkan kakinya, seseorang yang sangat dikenalnya memanggil namanya terlebih dahulu.


"Rania."


Rania berbalik. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Khanif. Tepat dibawah pohon yang rindang, ia melihat sosok lelaki yang berjalan mendekatinya.


"Saya kira kamu tidak akan datang setelah kejadian beberapa jam yang lalu," ujar Khanif bermaksud pada pemilihan sekretarisnya.


"Saya bukanlah orang yang seperti itu, pak."


"Syukurlah kalau begitu."


"Kenapa bapak memanggil saya kesini?"


"Ada yang ingin kukatakan padamu."


"Apa yang ingin bapak katakan?" tanya Rania penasaran.


"Mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi bagiku ini adalah waktu yang tepat," ujar Khanif sengaja menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Rania.


Setelah beberapa detik berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kalau Rania akan menanggapinya, Khanif pun kembali melanjutkan perkataannya dengan melihat tepat ke manik mata coklat Rania.


"Beberapa waktu telah kita lewati bersama. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan hal ini, aku membutuhkan waktu yang banyak untuk mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku ini? Dan sudah tepatkah perasaanku ini? Kamu tau, berkali-kali pula jawabanku tetap sama, yakni pilihan dan perasaanku sudah tepat! Yaitu kamu. Aku tau, kamu berhak mendapatkan seseorang yang terbaik, seseorang yang mampu mendukungmu tanpa batas, yang membiarkanmu tumbuh tanpa batas, dan mencintaimu tanpa batas. Untuk itu, maukah kamu mengizinkanku menjadi seseorang itu? Seseorang yang mampu membahagiakanmu dan melindungimu sampai akhirnya kita dapat menua bersama."

__ADS_1


Khanif lalu tiba-tiba berlutut dan mengatakan, "will you marry me?" kata Khanif sungguh-sungguh.


Rania diam. Ia tidak menyangka kalau bunga tidur yang telah ia mimpikan beberapa hari yang lalu malah menjadi kenyataan untuk sekarang.


Apa ia harus menjawab 'ya' disaat ia baru mengetahui fakta tentang Khanif dari mama Adelin saat acara peresmian sedang berlangsung. Ia hanya tidak ingin dianggap sebagai wanita yang menerima Khanif karena merasa simpati.


Berbeda dengan Khanif yang menunggu dengan sabar balasan Rania dari lamarannya. Ia takut mendengar jawaban Rania, tapi ia juga penasaran akan jawaban Rania!


Namun sesaat kemudian, Rania tersadar. Ia lalu melihat Khanif tepat di manik matanya. Ia rasa, ia akan menolak Khanif kali ini karena ia tidak ingin perasaan simpatinya malah lebih mendominasi dirinya.


"Maaf, saya tidak ingin bersama dengan lelaki yang pernah menolak saya!" ujar Rania tenang tanpa memperdulikan kalau lelaki didepannya adalah atasannya didunia kerja.


Mendengar kata-kata Rania barusan membuat Khanif merasa tertantang untuk menaklukan hati wanita dihadapannya ini. Meski Rania telah mengatakan kalau dirinya di tolak, tapi ia akan tetap berusaha untuk selalu berusaha mendekati Rania. Ia hanya tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.


"Jangan kira saya melupakan kejadian di taman belakang sekolah waktu itu," lanjut Rania kemudian agar Khanif percaya kalau dirinya telah di tolak.


"Kamu masih mengingatnya? Bukankah itu jodoh."


"Jodoh?"


"Hem, iya jodoh, karena dengan begitu, saya bisa tau kalau tidak sedetik pun kamu melupakanku," kata Khanif sambil tersenyum.


"Itu dalam pemikiran bapak."


"Tak apa kamu menolakku saat ini karena mulai dari sekarang saya akan terus berusaha hingga kamu berkata 'yes'."


"Kalau begitu bapak berusaha saja terus," ujar Rania. Setelahnya, ia pergi meninggalkan Khanif yang tersenyum lucu melihat tingkah Rania yang seperti anak kecil saja.


***


Seperti perkataan Khanif di tempat rahasia mereka, Khanif selalu mempunyai cara untuk dekat dengan Rania tanpa di curigai oleh semua orang. Seperti menyuruhnya dengan alasan pekerjaan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Rania.


"Rania, kamu jangan jauh-jauh dari saya," kata Khanif membuat Rania mau tidak mau harus tetap berada di dekat Khanif.


"Bapak kan bisa menaruh keranjang buah ini disamping bapak seraya memetik buah stroberi," komentar Rania saat Khanif menyuruhnya membawa keranjang buah yang berisi buah stroberi hasil petikan Khanif.


"Makanya jangan menolak saya," kata Khanif dalam hati membuat ia terkekeh tanpa sadar.


"Kenapa bapak tertawa?" tanya Rania kemudian.


"Tidak. Hanya ingin saja."


"Kenapa bapak tidak meminta bantuan Farah saja. Bukanya dia adalah sekretaris, bapak?"

__ADS_1


"Dia tidak cocok menjadi sekretaris saya disaat seperti ini."


"Bapak memilih saya karena saya lebih cocok untuk keadaan seperti ini?" tanya Rania tidak percaya dengan wajah yang sengaja dibuat kaget.


"Tidak juga," ujar Khanif. Ia kemudian melanjutkannya dalam hati. "Kamu lebih cocok jika jadi pasangan saya."


"Lalu apa?" tanya Rania mulai tidak sabaran.


"Saya hanya ingin saja. Sudahlah, bantu saya saja. Biar kita bisa segera memakan kue dan minuman jus dari buah ini," potong Khanif cepat.


Rania menghela napas panjang nan berat. Ia sepertinya tengah dikerjain oleh Khanif, jika mengingat perkataan Khanif yang tidak masuk akal.


Ia lalu mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang dapat menggantikannya.


Sesaat ia melihat Lisa tidak jauh dari mereka, Rania lantas melambai-lambaikan tangannya memanggil Lisa untuk mendekat.


Khanif yang sedang sibuk membersihkan rumput liar ditanaman stroberi-nya, membuat Rania mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Lisa.


"Ada apa?" tanya Lisa kesal karena melihat kedekatan Rania dan Khanif yang sudah dari tadi menyakiti matanya.


"Aku mau minta tolong sama kamu," katanya pelan nan tersenyum.


"Minta tolong untuk apa?" katanya ketus.


"Aku mau kembali ke vila, tapi pak Khanif tidak ada yang bantuin bawa keranjang buahnya. Kalau kamu bisa, tolong gantikan aku disini."


Lisa seketika berbinar senang. Meski tidak menjadi sekretaris Khanif, tapi jika berada didekat Khanif terus, ia pun mau.


"Baiklah. Kemarikan keranjang buahnya." Lisa mengulurkan tangannya hendak mengambil keranjang buat itu.


Tanpa disuruh dua kali pun, Rania dengan senang hati memberikannya.


"Terima kasih. Kalau begitu aku pergi dulu. Kalau pak Khanif mencariku, kamu katakan saja kalau aku kembali ke vila karena ada sesuatu yang harus ku kerjakan, ok," ujar Rania setelah memberikan Lisa alasa yang tepat jika Khanif bertanya nanti.


"Hem. Sana cepatlah pergi."


Rania mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan mereka di kebun stroberi dengan orang-orang lainnya yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


...To be continued ...


Kalau yang follow aku hari ini ada 15 orang, aku up lagi deh.


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲

__ADS_1


...By Siska C...


__ADS_2