Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 16. Cemburu yang tidak perlu


__ADS_3

Selamat siang, halo semua. Jangan bosen" baca cerita aku ya.


...***...


Seperti dugaannya tadi siang, baru saja Rania memasuki ruang tengah, Rania sudah mendapatkan tatapan tajam dari sang papa. Melihatnya, Rania lantas menundukkan pandangannya dan berjalan mendekat ke arah papa. Ia meremas jari-jarinya hingga kukunya memutih.


"Duduk," suruh papa.


Rania duduk seperti perkataan papa. Namun, ia duduk sedikit menjauh - berbeda saat papa baru pulang kerja dengan waktu yang lama. Biasanya, ia akan memeluk papa sambil duduk seperti anak kecil yang baru melihat orang tuanya lagi, setelah lama tak terlihat.


"Duduk lebih dekat dengan papa, Rania," suruh Papa Rudy.


Rania menggeleng, jujur saat ini ia takut pada tatapan papa padanya. Biasanya jika papa melihatnya, papa akan menatapnya lembut penuh cinta, lalu merentangkan tangannya agar Rania mendekat dan memeluknya.


Namun sekarang, jangankan memeluk papa, mengangkat kepalanya untuk melihat papa pun ia tidak ingin.


"Rania, sini dekat sama papa. Kamu tidak rindu sama papa?"


Rania menggeleng, tentu saja ia sangat rindu. Apalagi ia baru melihat sang papa setelah seminggu lamanya. Siapa coba yang tidak rindu? Bohong kalau saat ini Rania tidak ingin memeluk sang papa, tapi mau bagaimana lagi, ketakutannya saat ini melebihi rasa rindunya.


Melihat sang putri tidak juga mendekat, Papa Rudy pun menghampiri Rania. Ia duduk di dekat Rania yang membuat Rania mendongkak melihatnya. Tatapan papa padanya yang telah berubah, membuat Rania dapat menghela nafas lega.


"Papa tidak marah padamu, sayang. Bagaimana bisa papa marah pada putri tersayang papa," hibur Papa Rudy sambil menganggam tangan Rania.


"Tapi pasti papa kecewa pada Rania, kan?" tebak asal Rania.


Ia berani menebak seperti itu karena melihat tatapan papa padanya yang tidak biasanya. Biasanya papa akan menatapnya penuh cinta, sayang ataupun khawatir saat dirinya sedang terluka. Tapi melihat tatapan papa padanya tadi, seakan membuat Rania mengetahui sisi papa yang lain. Untuk itulah sampai detik ini, ia tidak berani menatap langsung ke manik mata papa.


Papa tersenyum mendengar perkataan Rania. Lalu, papa pun merujuk, "ya, papa kecewa padamu karena ternyata putri papa ini sudah mempunyai sosok lelaki lain, selain papa."


Rania pun ikut merujuk, "papa salah, papa tetap nomor satu dihati Rania dan sampai kapan pun tidak akan pernah tergantikan."


Papa menarik Rania ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala Rania di dadanya. Papa tersenyum karena berhasil membuat anaknya merasa nyaman kembali.


"Anak nakal." Papa memencet hidung Rania, ia lalu melanjutkan, "papa seperti tidak ingin menyerahkanmu saja pada seorang lelaki pilihanmu kelak, jika saatnya tiba."


"Kalau gitu papa jangan serahkan Rania," Rania mendongkak melihat papa.

__ADS_1


"Tidak sayang. Meski kamu mengatakan tidak untuk saat ini, papa yakin, seseorang akan mengubah cara pandangmu suatu saat nanti. Bahkan tanpa sadar kamu telah dicuri dari papa. Pada saat itu terjadi, papa hanya bisa merestui kalian."


Rania kian larut di dalam pelukan sang papa. Seakan pelukan itu mampu menenangkannya disaat hatinya tidak karuan dihari-hari yang telah lalu. Entahlah, apa yang terjadi dengan dirinya. Ia sudah lama bekerja disana, namun baru kali ini ia merasakan tidak karuan seperti ini.


"Jadi, coba ceritakan siapa lelaki yang makan siang dengamu. Papa ingin tau," ujar papa membuat Rania tersadar akan lamunan sesaatnya.


"Emm, itu." Rania berpikir biar bagaimana pun, papa harus mengatahui siapa lelaki yang telah makan siang dengannya, agar papa tidak terus menggodanya. Rania pun melanjutkan perkataannya, "Dia adalah Zaky, teman kampus Rania dulu. Kami berteman saat mulai kuliah ditempat yang sama, namun beda jurusan. Kami berteman sampai saat ini. Jadi, papa tidak boleh cemburu padanya. Cemburu itu tidak baik."


Papa gemas, ia lalu mencubit pelan pipi Rania. "Apa papa tidak boleh cemburu padanya?"


"Tentu saja tidak boleh, karena papa tidak pantas cemburu padanya. Saat ini, Rania masih punya papa," hibur Rania.


Papa semakin mengeratkan pelukannya. "Hem, papa tidak akan cemburu lagi. Baiklah, sana pergi bersih-bersih dulu." Dengan berpura-pura menutup hidungnya, papa melanjutkan perkatanyaan, "emm bau acem."


Rania seketika melepaskan diri dari sang papa. Ia cemberut dengan bibir yang manyun. Rania tau papa hanya bercanda. Namun Rania tetap membalasnya, "papa salah, Rania bau mengkudu," kekeh Rania diikuti tawa menggelegar papa.


Mama yang berada didapur sampai mendengar tawa anak dan papa itu. Ia menggelengkan kepalanya mendengar suara mereka. Selalu saja berakhir seperti ini. Mama lalu mendatangi mereka dengan membawa teh dan kue yang baru saja dibuatnya.


"Mama," ujar Rania.


Rania teringat akan perjalanannya besok. Meski sudah mengatakannya pada mama dan mendapat persetujuan, tapi beda lagi jika menyangkut papa. Baginya, mendapat persetujuan papa adalah yang nomor satu. Sama seperti ia mendapat persetujuan saat ia mulai kuliah dan bekerja. Dengan senyum kecil, Rania kembali menoleh pada papa.


"Pa."


Papa yang refleks langsung saja bertanya, "ada apa nak?"


Rania cengegesan, ia lalu beralih pada mama. "Ma, mama cerita sama papa ya, tentang besok. Rania mau ke kamar dulu."


Rania segera meninggalkan kedua orang tuanya, dengan papa yang dibuat heran. Namun ia tidak sampai masuk ke dalam kamar. Ia bersembunyi di balik dinding, hendak mendengarkan percakapan kedua orang tuanya. Ia tau mendengarkan percakapan orang adalah hal yang tidak sopan. Namun, ia juga penasaran apa jawaban dari papa. Jadi, Rania memilih mendengarkan papa dan mamanya.


"Ada apa dengan besok?" tanya papa.


"Rania mau berangkat ke kota M, pa."


"Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu papa lebih awal."


"Ih papa, mana mama mau beritahu kalau papa jarang ada dirumah. Sukanya pergi kerumah kedua," mama mendenggus sebal.

__ADS_1


"Papa minta maaf, tapi itu sudah tugas papa. Papa janji, mama dan anak-anak tetap nomor satu."


"Jadi, Rania diberi izin untuk kesana, kan?"


"Berapa lama Rania pergi?"


"Rania bilang, hari sabtu nanti udah pulang." Mama memainkan kancing baju papa, lalu melanjutkan perkataannya, "bukannya Rey juga ada disana. Pasti Rey biasa jagain Rania," bujuk mama.


"Papa khawatir sama Rey, anak itu sangat menyukai Rania."


Mama tersenyum. "Bukannya bagus kalau Rey menyukai Rania. Malah mama ngga perlu merasa khawatir lagi. Papa izinkan dia ya. Demi mama," bujuk mama mengeluarkan jurus mautnya.


"Baiklah, papa izinkan. Tapi dengan syarat, setibanya Rania disana, Rania harus menghubungi papa."


"Siap pak," ujar mama mengangkat tangannya seperti hormat padw bendera.


Hal itu sukses membuat papa tertawa. "Mama sama anak sama saja."


"Pa ...," potong mama.


"Makanya jangan potong perkataan papa dulu. Papa mau bilang, mama sama anak sama saja, ngga bisa ditolak permintaannya."


Mama Dahlia tersenyum merekah. Ia berpikir sama dengan suami tercintanya.


Dibalik dinding yang lainya, Rania berjingkrak senang. Ia sangat senang saat papa mengizinkannya untuk pergi. Rania juga bertambah senang saat mengetahui kalau Rey juga ada disana. Seorang lelaki yang sangat dekat dengannya.


Mama dan papanya masih bercakap-cakap saat dirinya memutuskan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Sungguh, hari ini ia sangat senang. Apalagi saat tau papa tidak marah padanya karena mendapati dirinya makan siang bersama dengan Zaky.


Teringat dengan Zaky, Rania kembali teringat awal pertama mereka bertemu.


...To be continued....


semoga yang like diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki 🤲


Semangat 💪


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2