Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 59. Kekompakan Khanif dan Reyhan


__ADS_3

"Kak lepas, ini salah Rania."


"Cukup. Dia juga bersalah. Sudah tahu kamu datang ke kantor malah tidak mengantarmu pulang."


Reyhan masih mencengkeram kemeja Khanif. Ia seperti tidak ingin melepaskannya kalau Rania tidak membujuknya.


"Silakan duduk dulu."


Khanif lalu menoleh pada Lisa dan mengatakan untuk membawa secangkir teh lagi di ruangannya. Lisa mengangguk. Ia pun keluar dari ruangan Khanif. sedangkan Khanif mengajak Reyhan untuk duduk lebih dahulu.


"Maaf ini adalah kesalahan saya karena tidak memberitahu kamu kalau Rania ada disini."


"Sudahlah. Saya juga minta maaf. Saya tadi terlalu bawa emosi karena adik kecil saya tiba-tiba hilang dari rumah. Dia tidak tahu kalau kepergiannya yang diam-diam itu telah membuat semua orang rumah heboh!"


Reyhan melihat Rania yang tertunduk dari tadi.


"Maaf, Rania tidak bermaksud untuk membuat papa, mama dan kakak panik," cicit Rania. "Rania bosan tinggal dirumah, makanya Rania pergi diam-diam." Rania tersenyum lucu tanpa rasa bersalah lagi. Malahan ia bisa tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya didepan Reyhan.


Reyhan memijit pelipisnya. Selalu begini. Awalnya ia datang kesini untuk memarahi Rania. Namun apa ini? Jika Rania sudah menampilkan senyum menawan seperti itu, seakan amarah Reyhan hilang entah kemana.


"Selalu saja kakak kalah," ujar Reyhan.


Ia lalu berjongkok didepan Rania untuk memeriksa kaki Rania. Tepat saat Reyhan memeriksanya, pintu ruangan Khanif terbuka - menampilkan sosok Lisa yang membawa nampan dengan secangkir teh ditangannya.


"Taruh disini saja," ujar Khanif.


Lisa pun menaruh cangkir teh tersebut di meja dekat Reyhan. Lalu setelahnya ia pun keluar dari ruangan Khanif. Namun sebelum Lisa benar-benar keluar, ia sempat melihat ke arah Rania yang kini kakinya tengah dipegang oleh Reyhan.


"Dasar wanita tidak tahu diri. Sudah ada lelaki didekatnya, masih menginginkan pak Khanif," sinis Lisa melihat kedekatan Rania dan Reyhan tanpa tahu hubungan mereka yang sebenarnya.


Ia pun berlalu dari ruangan Khanif. Sedangkan Rania, ia selalu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Tapi pastinya, Reyhan tidak akan percaya sebelum ia memeriksanya sendiri.


"Kaki Rania sudah ngga apa-apa kak."


"Ngga apa-apa, apanya!"


"Benar deh! Makanya Rania memberanikan diri datang ke kantor. Kakak kan dengar sendiri Zaky bilang apa?"


"Kakak tahu, tapi bukan itu maksud kakak. Kalau kamu keras kepala terus seperti ini, kakak tidak akan bisa meninggalkanmu."


Tiba-tiba suasana hati Rania berubah jadi sendu. "Kakak udah mau pergi lagi?" tanya Rania dengan suara pelan.


"Iya, besok kakak akan berangkat kembali ke kota M."


"Kenapa cepat sekali, kak?"


"Tadi Elang menelpon. Dia bilang kalau lelaki yang bernama Alex telah ditemukan. Jadi kakak harus segera kesana untuk menyelesaikan masalah ini."


"Tahu begini Rania akan menghabiskan banyak hari Rania bersama kakak."


"Makanya jangan kabur dari rumah," ujar Reyhan sambil mencubit pipi Rania.


"Rania ngga kabur kok. Cuma ingin kerja aja."


"Sama aja kalau pergi ngga bilang-bilang, kan!"


Rania cemberut yang malah membuat Reyhan tertawa.

__ADS_1


"Kalau kakak punya waktu luang lagi, pasti kakak akan segera datang menemuimu."


"Janji!"


"Kakak janji."


Tanpa mereka sadari, sekali lagi Khanif menjadi penonton setia mereka. Khanif sungguh suka melihat kedekatan mereka. Khanif berpendapat, jika seseorang tidak mengetahui kalau mereka berdua adalah saudara, maka bisa dipastikan kalau orang yang melihat mereka pasti akan beranggapan kalau mereka adalah sepasang kekasih yang romantis.


Seperti saat ia belum mengatahui fakta kalau mereka adalah kakak beradik. Ia mengira Rania telah mempunyai kekasih. Oh tidak, ia mengira Rania tidak mengingatnya lagi karena ia pernah menolak ungkapan perasaan Rania sewaktu mereka masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Ia menolaknya karena jujur, ia tidak mempunyai niatan pacaran. Bahkan didalam kamus kehidupannya, ia tidak menyimpan kata pacaran sebelum menikah disana.


Ia bahkan tidak pernah terlibat dalam hubungan seperti itu. Bahkan saat mama menjodoh-jodohkannya pada beberapa anak temannya, Khanif hanya menganggap mereka semua sebagai teman maupun adik jika umur mereka berada beberapa tahun dibawahnya. Namun jangan mengira ia tidak mempunyai rasa pada seorang wanita. Hanya saja, ia tidak ingin memiliki hubungan yang lebih untuk saat ini karena ....


"Khanif," panggil Reyhan membuat pikiran Khanif melayang jauh entah kemana.


"Ya." Khanif menoleh.


"Saya ingin membawa adik saya pulang."


"Silakan saja, saya tidak keberatan. Malahan itu adalah ide yang baik. Kalau begitu, mari saya antar keluar."


"Tak apa. Kami bisa sendiri. Lagi pula saya lihat kamu sedang banyak kerjaan. Jika saja adik nakal saya ini tidak mengganggu aktivitas kamu, pasti kerjamu sudah kelar dari tadi."


"Kamu benar," canda Khanif yang terkekeh, diikuti oleh Reyhan kemudian.


"Kalian berdua nakal!" seru Rania membuat mereka berdua kini tertawa lepas.


"Udah, kakak bercanda kok. Sini, biar kakak gandong saja."


"No, no. Kak-ku, ini adalah kantor. Banyak pasang mata yang melihat kita."


"Tapi tetap saja hal itu sangat berpengaruh pada hari-hari Rania berikutnya. Kalau kakak ngga mau turuti perkataan Rania, Rania ngga mau pulang!" ancam Rania.


"Baiklah, kakak turuti ucapan kamu. Ayo." Reyhan pun berdiri diikuti oleh Rania yang berdiri perlahan.


"Kami pamit undur diri dulu, pak."


"Ya. Hati-hati dijalan. Datang kembali saat kakimu sudah sembuh."


Rania mengangguk. Ia dan Reyhan pun berlalu dari ruangan Khanif dengan Reyhan yang selalu sigap melindungi Rania, jika Rania sedikit linglung saat berjalan.


Bahkan Lisa yang sempat melihat kedekatan mereka saat berjalan didepan meja kerjanya, tidak suka melihat kedekatan itu. Sama seperti sebelumnya, Lisa mencaci Rania dalam hati tanpa mengetahui hubungan sebenarnya dari mereka.


Sesampainya lift mereka di lantai tempat ruangan kerja Rania berada, Rania menyuruh Reyhan untuk turun lebih dahulu dan menunggunya di parkiran mobil karena ruangan Rania tidak boleh ada orang luar yang datang kesana.


Baru saja Rania masuk kedalam ruangannya, ia langsung dirangkul oleh Dian.


"Dian, kamu kenapa?" tanya Rania karena Dian bersikap berbeda kali ini.


"Tak apa. Aku hanya ingin tahu kejelasannya dari kamu."


"Kejelasan apa?"


"Tahu tidak, berita antara kamu dan lelaki tampan yang bersamamu itu telah menyebar hampir keseluruhan perusahaan."


Rania terkekeh. Ia tahu akan begini jadinya. Jadi ia tidak terlalu memusingkannya lagi.


"Kenapa kamu malah tertawa?"

__ADS_1


"Kamu telah salah sangka?"


"Salah sangka apanya? Lihat, foto-foto dengamu bahkan sudah tersebar luas."


Dengan sedikit tertawa geli, ia memberitahu Dian.


"Dia adalah kakaku."


"Hah! Kakak?"


Rania mengangguk antusias. Ia lalu pergi meninggalkan Dian yang masih terpaku di tempatnya karena tidak menyangka pada kenyataan baru ini. Setelah menyimpan hasil kerjanya, ia pun berlalu dari ruangannya.


"Kamu udah mau pulang lagi?"


"Iya, aku pergi dulu ya."


Rania pun keluar dari ruangannya dan segera menuju tempat dimana kakaknya telah menunggu dirinya. Sesampainya disana, ia melihat Reyhan tengah bersandar di badan mobil sambil melipat kedua tangannya didada.


"Maaf kak, Rania lama sekali."


"Makanya kakak bilang tadi, biar kakak menemanimu, biar kita cepat sampai."


"Dengan cara menggendong Rania?"


"Tentu saja. Itu adalah cara terbaik."


"Tapi juga cara yang membuat Rania menjadi bahan pembicaraan."


"Biar saja. Kakak tidak peduli."


"Sudahlah. Kita pulang saja. Kakak mana tahu perasaan Rania."


"Atau kamu malu kalau sampai ada yang melihat kamu dengan kakak?"


Rania langsung menoleh pada Reyhan.


"Kakak, jangan mulai lagi."


"Siap, putri manis."


Reyhan pun membukakan pintu buat Rania, lalu mereka pergi meninggalkan tempat Rania bekerja. Sedang disisi lain, seperginya Rania dan Reyhan, Khanif tiba-tiba menerima panggilan telepon dari mamanya. Melihat hal tidak biasa itu, Khanif pun merasa curiga. Karena Khanif tahu, mama tidak akan menghubungi dirinya disaat jam kerja begini, kecuali mama mempunyai berita yang mendesak.


Khanif lantas menggeser icon panggilan hijau dan menempatkannya didekat telinganya.


"Assalamualaikum, sayang."


"Waalaikumsalam. Iya, ma."


"Ingat perkataan mama kan waktu itu."


"Yang mana, ma?"


...To be continued ...


Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2