Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 93. One More Time


__ADS_3

Hai, aku datang lagi nih. Hari ini aku mau berterima kasih banget sama @Muhammad Alwi, @atikah, @Mamah Afi, @xing'er dan @Borneo Klm karena telah memberikan vote-nya pada cerita ini.


Terima kasih juga pada @Alisya Wilda karena telah memberikan hadiahnya.


Selamat Membaca, ya 🤗🤗🤗


...***...


Saat Rania sudah melangkahkan kakinya untuk pergi, langkah Rania terhenti karena ada seseorang yang memanggil namanya.


"Rania!"


Rania lantas berbalik. Namun bukannya senang, Rania malah terlihat kecewa karena orang yang memanggil namanya bukalah Khanif, melainkan David. David pun mendekat untuk menanyakan sebab Rania datang kemari, siapa tahu dirinya bisa membantu sedikit.


"Rania, kamu mencari pak Khanif?"


Rania mengangguk lesu.


"Tadi, pak Khanif ada disini, tapi cuma sebentar saja. Setelah itu pak Khanif pergi dengan menggunakan lift khususnya."


"Benarkah?" ujar Rania pelan. "Tahu begini, aku tadi tidak mengejarnya," lanjutnya dalam hati.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya. Aku pergi dulu."


David mengangguk, Rania pun kembali melanjutkan langkah kakinya sampai ia sudah dapat melihat Zaky yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Maaf, aku kelamaan."


"Ngga papa. Bisa kita pergi sekarang?"


Rania mengangguk mengiyakan. Mereka pun jalan keluar dari lobby kantor. Namun tanpa Rania ketahui, ada seseorang yang melihatnya dengan pandangan sedih sekaligus kecewa. Seseorang yang tengah melihat Rania tidak lain adalah Khanif.


Sebenarnya, setelah Rania pergi dari ruangan informasi, Abi yang ditugaskan oleh Khanif untuk menemukan pelaku penyebaran berita tidak benar antara dirinya dan Davina, langsung saja menghubunginya. Abi mengatakan kalau ada wanita dari ruangan keuangan yang tadi mencarinya sampai kemari.


Mengatahui hal itu, Khanif jadi tahu kalau Rania lah yang pasti telah mencarinya. Setelahnya, ia bergegas turun ke lantai bawah untuk pergi menemui Rania. Namun sepertinya keputusannya ini kurang tepat karena ia malah melihat hal yang tidak ingin dilihatnya.

__ADS_1


Ia dengan jelas melihat kepergian Rania dan Zaky. Ia termenung melihatnya. Apakah perasaan Rania masih tetap seperti dulu? Atau kini telah berubah. Entahlah! Tapi keputusannya yang dulu sudah tepat. Ia tidak akan pernah menyesalinya karena Ia tidak ingin mengikat seorang wanita tanpa hubungan yang jelas.


Terlebih lagi, kala itu mereka masih sangatlah muda untuk menjalani hubungan seperti itu dan jangan lupakan, dalam kamus kehidupan Khanif, pacaran tidak termaksud didalamnya sebelum halal. Untuk itulah, keputusan Khanif sudah benar.


Khanif lalu pergi dari sana menuju ke ruangannya sendiri. Selalu seperti ini. Lagi-lagi ia kambali memandang keluar tanpa alasan yang jelas. Ia bahkan tidak menyadari kalau Lisa sudah ada didepan meja kerjanya karena Lisa sudah dari tadi mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Mau tak mau, membuat Lisa berjalan masuk tanpa persetujuan Khanif.


"Permisi, pak," ujar Lisa kemudian.


Khanif tersadar. Ia membalikkan diri melihat Lisa dengan setumpuk dokumen ditangannya yang harus ia periksa saat ini.


"Tarus saja diatas meja," ujar Khanif.


"Baik, pak."


Saat Lisa hendak melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Khanif, langkah kakinya tertahan saat mendengar Khanif mengatakan, "kosongkan semua jadwal saya mulai saat ini."


"Tapi pak, sore nanti bapak harus meeting dengan klien."


"Tak apa. Nanti saya mengurusnya."


"Baik, pak."


Sedangkan Khanif masih saja terus melihat dokumen yang disimpan Lisa diatas meja kerjanya. Khanif menghela napas pendek. Setelahnya, ia melangkahkan kakinya mendekat ke meja kerjanya untuk segera meyelesaikan dokumennya.


Khanif larut dalam kerjaannya saat lagi-lagi Lisa mengetuk pintu ruangannya. Namun kali ini Khanif sudah dapat mendengarnya dengan jelas. Ia pun menyuruh Lisa masuk.


"Ada apa?" tanyanya saat Lisa sudah berdiri didepannya.


"Saya ingin memberikan kotak makan siang ini sama bapak. Saya lihat sepertinya bapak belum makan siang," ujarnya seraya memberikan kotak makan siang yang tadi dipesannya untuk Khanif.


Khanif tersenyum kecil. "Terima kasih."


"Sama-sama, pak. Kalau begitu saya keluar dulu."


Lisa keluar dari ruangan Khanif dengan senyuman yang mengambang. Ia begitu senang karena Khanif menerima kotak makan siangnya. Ah, betapa ia sedikit lagi bisa dekat dengan Khanif. Bayangkan saja kalau dirinya bisa menjadi sekretaris Khanif nantinya. Bisa-bisa ia nanti juga bisa menjadi pasangan Khanif.

__ADS_1


Lamunan Lisa indah sekali. Namun semua lamunanya tidak bertahan lama karena Farah malah merusaknya dengan menanyakan, "apa pak Khanif ada didalam?"


Lisa mengangguk tidak suka. Ia tidak suka saat lamunanya yang indah buyar begitu saja dan lebih tidak suka lagi kalau Farah adalah salah satu saingannya dalam memperebutkan posisi sebagai sekertaris Khanif.


Biar bagaiamana pun, pastinya Farah mempunyai tujuan yang tidak jauh-jauh darinya atau bisa saja tujuan mereka sama. Yakni, mendapatkan Khanif. Ah, memikirkan hal itu membuat Lisa tambah tidak menyukainya.


Mengabaikan hal itu, Lisa mengantar Farah sampai kedepan pintu ruangan Khanif. Setelah dari sana ia kembali ke meja kerjanya dengan tidak penuh minat.


Tentu saja begitu karena dirinya tidak ingin Farah terlalu dekat dengan Khanif. Meski pada akhirnya Farah akan menjadi salah satu calon sekertaris pengganti buat Khanif selama seminggu yang akan datang nanti.


Sesampainya Lisa di tempatnya semula, ia sudah tidak melihat Farah lagi. Ia makin kesal. Berbeda dengan Farah yang kini tengah tersenyum mengambang melihat Khanif yang tepat didepan matanya.


"Tinggal menghitung hari lagi, maka aku akan menjadi sekretaris pak Khanif," soraknya dalam hati.


Khanif yang dari tadi menunduk melihat dokumen yang ada didepannya, kini mendongkak melihat Farah. Farah yang cepat sadar pun cepat-cepat mengganti senyum merekahnya dengan sebuah senyuman simpul seraya memberikan sebuah map ditangannya.


"Ini dokumen yang bapak minta dari divisi informasi."


"Ini dari Abi?"


"Iya, pak."


Khanif mengangguk. Selanjutnya, ia mempersilahkan Farah keluar. Sama seperti Lisa, Farah keluar dari ruangan Khanif dengan senyuman yang mengambang. Ia begitu suka melihat wajah Khanif, meski sudah mempunyai pacar, kalau dirinya masih bisa memiliki Khanif, kenapa tidak!


Lisa yang melihat Farah keluar dengan senyuman, jadi berdehem agar Farah menyadari kalau dirinya saat ini bukan pada lantai kekuasannya. Maksudnya, lantai duapuluh satu ini adalah lantai kekuasaan Lisa.


Seperginya Farah, Khanif memperbaiki dokumen yang tidak beraturan di meja kerjanya. Ia menyusunnya di tengah meja. Baru setelah itu, ia membawa kotak makan siang yang tadi diberikan oleh Lisa ke sofa.


Dengan perlahan ia membukanya. Ia dapat menghirup aroma kotak makan siang itu sangatlah menggugah selera. Bahkan sepertinya ia dapat melupakan sejenak apa yang tadi ia lihat waktu di lobby kantor.


Ia lalu berdoa terlebih dahulu sebelum makan karena baginya, hal itu sudah menjadi keharusan. Ia lalu makan dengan begitu tenang dan perlahan, hingga makannya habis tak sisa.


Baru setelah itu, ia pun beranjak membuang kotak makan siangnya ke tempat sampah yang ada didekat pintu masuknya. Saat ia hendak beranjak menuju ke mejanya, seseorang dari luar - tanpa mengetuk pintu maupun mengucapkan salam, langsung saja menerobos masuk hingga membuat Khanif terkejut.


...To be continued...

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2