
Baru saja berapa langkah ia berlalu dari sana, langkah kakinya kembali terhenti saat menyadari siapa orang yang tidak jauh dari dihadapannya saat ini.
"Pak Khanif!" gumam Rania tanpa sadar.
Lelaki yang tengah berjalan ke arah toilet itu pun mencari sumber suara yang telah memanggil namanya. Rania buru-buru menutup bibirnya dan kembali berjalan sambil menunduk. Bukannya sukses melewati Khanif, Rania malah terkatuk sesuatu yang keras.
"Aduh," ringis seseorang yang sepertinya ditabrak oleh Rania dibagian dada.
Rania lantas mendongkak, ia begitu terkejut saat tahu siapa yang tidak sengaja ia tabrak itu.
"Maaf, maaf, saya tidak sengaja, pak. Sungguh!"
"Pokoknya kamu harus tanggung jawab, kalau ada apa-apa karena tabrakan kamu barusan di dada saya."
"Hah!" Rania melongo melihat Khanif. "Bapak bercanda ya?"
"Kamu perhatikan wajah saya. Apa saya terlihat lagi bercanda?"
Rania menggelengkan kepalanya seraya mengerucutkan bibirnya. Ia lalu berkata, "tidak pak."
"Bagus, kalau begitu nanti saya akan menagih rasa tanggung jawbamu itu."
"Eh, mana bisa begitu. Saya tidak se-salah seperti yang bapak kira."
"Rania, ini dada saya yang sakit. Kamu mau kita periksa ke dokter?"
"Aduh, aduh gimana ini?" ujar Rania dalan hati.
"Baiklah, nanti saya tanggung jawab, pak," ujar Rania. Lalu kemudian ia pun kembali melanjutkan. "Kalau begitu, bisa biarkan saya pergi. Boleh?" ucap Rania sambil menundukkan kepalanya seraya mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
Khanif heran melihat tingkah Rania. Tanpa membalas perkataan Rania, Khanif pun melewatinya. Sedangkan Rania, ia sudah hampir semenit menunduk seraya mengatupkan kedua tangannya ke dada. Namun, sudah selama itu pula Rania tidak mendengar jawaban dari Khanif. Perlahan Rania pun mendonggakkan kepalanya, tapi nihil. Ia sudah tidak mendapati Khanif berada didepannya lagi.
"Pergi tanpa bilang-bilang," gerutu Rania. Ia lalu tersenyum lucu dan melanjutkan perkataannya, "pak Khanif seperti ... seperti ...."
Belum juga Rania menyelesaikan kata-katanya, suara Khanif dari arah belakangnya kembali mengagetkan dirinya.
"Seperti apa?" tanya Khanif sengaja. Padahal ia sudah tahu apa yang ingin dikatakan oleh Rania selanjutnya.
Rania jadi gelagapan, sepertinya bibirnya terkunci rapat saja. Melihat hal itu, Khanif jadi terkekeh kecil.
"Sudah ayo pergi, pasti keluargamu sudah mencari dirimu."
Rania mengangguk. Ia pun mengikuti langkah kaki Khanif. Benar dugaan Khanif, baru saja mereka melangkah masuk kedalam restoran, Khanif melihat Reyhan sudah berjalan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali ke toilet. Kakak pikir kamu kenapa-napa!"
Rania melirik Khanif sebentar, lalu kemudian ia menjawab pertanyaan perkataan kakaknya. "Rania pikir tadi melihat hantu, makanya Rania tinggal untuk memastikannya."
"Adik kira, kakak percaya?"
Rania heran dengan perubahan sikap kakaknya. Tidak biasanya Reyhan tidak menaggapi candaanya dengan candaan Reyhan pula.
"Kakak baik-baik saja?" bisik Rania.
"Ya, kakak baik-baik saja," dusta Reyhan karena tidak ingin Rania bertanya lebih lanjut lagi.
"Rey ...," ucap Khanif terpotong.
"Maaf, kami harus segera pergi."
Reyhan pun membawa Rania menjauh dari sana.
"Kakak kenapa sih?" ujar Rania setengah berbisik.
"Mulai saat ini, jangan pernah lagi berdekatan dengan lelaki bernama Khanif itu."
"Hah!" Rania terkejut. Ia tidak tahu penyebab Reyhan, kakaknya sampai berkata seperti itu.
"Tapi dia adalah atasan Rania."
"Kak."
"Sstt, stop. Lihat mama dan papa lagi lihat kita."
Rania mengikuti arah pandang Reyhan. Kakaknya benar, saat ini orang tua mereka sedang melihat mereka. Ia seharusnya tidak bertanya lebih lanjut lagi yang akan membuat orang tua mereka curiga.
"Kok lama sekali sih, sayang?"
Sebelum Rania menjawabnya, Reyhan lebih dahulu mengatakannya. "Kan kaki adik masih sakit, ma."
"Ah, iya mama lupa."
Mereka pun kembali duduk. Mereka pun kembali berbincang hangat. Sedang di meja yang lain, Khanif bersiap-siap untuk mengantar Tasya pulang.
"Khanif, kita pamit pulang sama mereka dulu yuk. Ngga enak kalau kita main pulang aja."
"Ngga usah," ujar Khanif berjalan meninggalkan Tasya yang mengerucutkan bibirnya kesal karena lagi-lagi Khanif seperti tidak menghiraukan acara dinner mereka.
__ADS_1
Bahkan kalau Tasya tidak mengajak Khanif berbicara lebih dahulu, Khanif pastinya tidak akan berbicara. Jika saja dia bukan seorang Khanif, sudah dari tadi Tasya meninggalnya.
Pasalnya, selama ia dekat dengan lelaki mana pun, ia tidak pernah dianggap tidak ada seperti ini, tidak pernah didiamkan selama ini dan tidak pernah seorang lelaki bersikap dingin seperti ini. Hanya Khanif seorang yang mampu membuat Tasya bertahan selama hampir dua jam lamanya.
Namun tentu saja Tasya harus bersikap ekstra sabar kala menghadapi pria yang masih tersimpan jelas didalam hatinya semasa sma. Karena jika tidak, maka ia akan kehilangan kesempatan emas ini lagi. Ia juga pastinya telah menyia-nyiakan hasil pendekatan mamanya dan mama Adelin, jika sampai ia tidak bisa menjadi lebih sabaran.
"Tunggu aku diluar," ujar Khanif mendapat anggukan kepala Tasya tanpa protes.
Seperginya Tasya, Khanif memanggil seorang pelayan untuk mendekat. Terlihat seorang pelayan wanita mendekati Khanif.
"Iya pak."
"Meja nomor sembilan adalah kenalan saya, mereka tidak perlu membayar makannya."
"Baik pak," ujar pelayan tadi sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Khanif pun berlalu dari dalam restoran menuju Tasya yang telah menunggunya diluar.
"Maaf Tasya, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang."
Tasya melihat Khanif dengan pandangan tidak percaya. Sungguh Khanif berbeda dengan para lelaki yang pernah ia temui. Jikalau lelaki lain, pasti lelaki itu mati-matian untuk membujuk Tasya agar diantarnya pulang. Namun apa ini? Khanif baru saja membedakan dirinya lagi dengan para lelaki yang pernah Tasya temui selama ini.
"Kamu bercandakan, Khanif?"
"Sebagai permintaan maaf saya, biar sopir rumahku yang mengantarmu pulang menggunakan mobilku."
Tasya makin tidak percaya akan apa yang barusan ia dengar. Khanif tidak salah bicarakan? Atau dirinya yang salah mendengar?
Tidak lama kemudian, mobil Khanif telah berhenti tepat didepan mereka. Khanif melangkah maju untuk membukakan pintu penumpang untuk Tasya, seraya berkata, "masuklah, sopir rumahku akan mengantarmu pulang."
Dengan tidak minat, akhirnya Tasya masuk kedalam mobil. Khanif pun kembali menutup pintunya.
"Maaf tidak bisa mengantarkanmu pulang."
"Tak apa, Khanif. Tapi semoga saja kita mempunyai waktu untuk bersama lagi dan aku harap, jika hari itu tiba, kamu bisa mengantarkan aku pulang."
"Tentu saja. Baiklah, salam buat orang tuamu dan sampaikan permintaan maaf saya karena membawa pulang anak gadisnya malam-malam begini."
"Akan ku sampaikan. Salam buat mama kamu juga."
Khanif mengangguk. Mobil yang membawa Tasya pun pergi meninggalkan halaman restoran. Saat Khanif baru saja berbalik, tiba-tiba dari arah belakangnya, ada seorang wanita yang menatap Khanif tidak percaya.
...To be continued ...
__ADS_1
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...