Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 155. Berita Baik Apanya?


__ADS_3

"Eh, kamu dengar ngga berita terbaru tentang perusahaan ini dan pak Khanif?" tanya seorang wanita berkemeja navy.


"Udah dong. Mana bisa aku ketinggalan berita baik tentang pak Khanif."


Rania yang tidak sengaja mendengarnya saat ia hendak masuk ke pantry pun jadi penasaran. Ia penasaran tentang berita baik apalagi yang Khanif dapatkan sampai-sampai wanita dikantor ini tengah hangat membicarakannya.


Apa Khanif telah melamar seseorang selain dirinya?


Ah, tidak. Rania harus memastikannya dulu sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.


Lalu tanpa menganbil air minum, Rania bergegas pergi ke ruangannya untuk mencari Dian untuk menanyakan berita yang membuatnya gusar sampai seperti ini.


Sesampainya disana, ia mengalihkan pandangannya keseluruh ruangan mencari keberadaan Dian. Sesaat ia mendapati Dian sedang berada di meja David, Rania lantas pergi menghampirinya.


"Di," panggil Rania pelan.


Dian menoleh melihat Rania. Bukannya tersenyum seperti biasa saat Rania memanggilnya, kali ini ia malah mengernyit heran dengan ekspresi wajah yang tidak biasa dari Rania.


"Iya, ada apa?"


"Ada yang ingin ku tanyakan. Sini ikut aku." Rania pun menarik tangan Dian untuk segera mengikutinya.


Sesampainya di tangga darurat, tangga kantor yang jarang dilewati oleh para karyawan, Rania pun bertanya pada Dian.


"Kamu tau berita hangat dari  pak Khanif yang baru-baru ini terjadi?"


"Iya, baru juga sih aku diberitau sama Dilla. Itu tuh, teman aku yang berada di divisi perencanaan," jelas Dian.


"Apa itu?" tanya Rania penasaran.


"Kenapa kamu begitu terlihat khawatir?" tanya Dian.


"Siapa yang khawatir," jawab Rania.


Dian yang merasa kalau Rania memang tengah khawatir akan berita itu, tiba-tiba saja mempunyai ide yang jahil untuk mengerjai Rania.


"Aku sebenarnya ngga enak buat ngomongin ini sama kamu," ujar Dian pelan nan disengaja agar membuat Rania kian penasaran dengan apa yang ingin dikatakan selanjutnya. Ia bahkan sengaja membuat wajahnya nampak terlihat sesedih mungkin.


"Kamu tau, baru-baru ini pak Khanif terlihat tengah mendekati seorang wanita ..."


"Lalu?" potong Rania tanpa sadar.


"Ya, aku rasa wanita itu mulai menerima pak Khanif," ujar Dian membuat Rania seketika tidak bertenaga.


"Apa ini akhirnya?" tanya Rania dalam hati.


"Mungkin tidak lama lagi mereka akan mengadakan acara pertunangan atau bisa jadi pernikahan," ujar Dian lagi tambah membuat Rania kian menyesal.

__ADS_1


Rania diam. Ia menghela napas panjang nan berat. Ia seakan tidak bisa lagi berkata apa-apa hanya untuk sekedar menanggapi perkataan Dian barusan.


"Beruntung sekali ya wanita itu."


"Aku pergi dulu," ujar Rania tiba-tiba tidak ingin lagi membahas berita hangat tentang Khanif. Ia pun mulai meninggalkan Dian, namun ia tidak kembali ke ruangannya, melainkan menaiki anak tangga menuju rooftop kantor.


"Eh, kamu mau kemana?" tanya Dian secepat mungkin menyusul Rania.


Sesampainya Dian didekat Rania, Dian lantas menghentikan langkah kaki Rania, lalu membalikkan badan Rania ke arahnya.


Betapa terkejutnya Dian saat melihat Rania sudah mengeluarkan air mata dengan sesegukan yang pelan.


"Ra," panggil Dian pelan.


"Udah, aku ngga papa kok," ujar Rania seraya menghapus jejak air matanya. "Mungkin ini sudah jalannya."


"Jalannya apanya?" tanya Dian pura-pura tidak mengerti dengan perkataan Rania barusan.


"Ya, jalan untuk kami berdua. Kini pak Khanif telah mendapatkan seseorang yang cocok dengannya. Jadi sepertinya aku tidak bisa berharap lagi," ujar Rania pelan. Namun malah membuat Dian terkekeh tanpa sadar.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Rania, Rania. Kenapa kamu cepat sekali menyerah, sih!"


"Untuk apa juga dipertahankan kalau pak Khanif sudah mendapatkan orang lain."


"Kamu tau ngga siapa yang aku maksud dengan wanita itu?"


"Aku tidak ingin tau," ujar Rania. Ia lalu kembali melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.


Melihat hal itu, Dian lantas mengikuti Rania juga. "Kamu harus tau, ra. Biar kamu tidak salah paham," ujar Dian seketika membuat Rania menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik melihat Dian dengan pandangan penasaran.


"Seorang wanita yang aku maksud itu adalah kamu," ujar Dian seketika terkekeh pelan.


"Jangan bercanda, Di!"


"Siapa juga yang bercanda. Aku serius loh!" Ia pun kembali berjalan untuk menyamakan pijakannya dengan Rania.


Sesampainya didekat Rania, Dian lantas memegang pundaknya, lalu kemudian kembali berkata, "maaf, aku cuma bercanda."


Rania yang kesal dan tidak terima karena telah di jahili oleh Dian, malah berbalik membelakanginya. Lalu tanpa sadar, ia kembali menitihkan air matanya lagi.


Mendengar Rania mulai sesegukan, membuat Dian jadi khawatir. Ia lalu berjalan kedepan Rania, lalu dengan nada khawatir, Dian meminta maaf padanya.


"Duh, Ra. Aku minta maaf, aku ngga bermaksud untuk menjahili kamu sampai seperti ini kok. Kamu berhenti nangis ya."


"Aku kira, aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi," ujar Rania parau hingga membuat Dian malah kembali tertawa pelan.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah tertawa lagi," kata Rania.


"Ya, ngga juga sih, Ra. Aku tuh ngga nyangka banget kamu bisa nangis sampai seperti ini. Maaf deh, aku akan cuma bercanda. Kamu berhenti nangis ya. Kalau kamu berhenti nangis, aku janji, aku akan mengatakan yang sebenarnya apa yang terjadi dengan pak Khanif," bujuk Dian seperti seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya yang tidak ingin berhenti menangis.


"Apa?" tanya Rania mendonggakkan wajahnya melihat Dian.


"Gimana kalau kita duduk dulu, biar enak bicaranya," ajak Dian.


Rania mengangguk. Mereka pun duduk di anak tangga tempat mereka berpijak tadi.


"Jadi tuh, pak Khanif itu berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan teh hujo yang terkenal itu," ujar Dian membuat Rania tercengang.


"Beneran, Di?" tanya Rania rada-rada tidak percaya.


"Iya benar."


Sangking senangnya, Rania lantas saja memeluk Dian.


"Syukurlah, pak Khanif yang mendapatkan perjanjian kerja sama itu."


"Iya, Ra. Aku juga ngga nyangka. Tapi, Ra," ujar Dian melepaskan pelukan mereka. "Masih ada dua berita baik lagi yang perlu kamu dengar."


"Apa?" tanya Rania dengan alis yang tertaut.


"Kamu tau, ternyata saingan pak Khanif untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan teh hujo adalah pacarnya Farah."


"Lalu apa hubungannya dengan berita baik itu?"


"Kamu tau, Farah ternyata menyalin proposal pak Khanif untuk diberikan sama pacarnya itu, agar pacarnya itulah yang memenangkan bisnis perusahaan teh hujo itu."


"Lalu?"


"Tentu saja Farah ketahuan sama pak Khanif karena ternyata pak Khanif sudah menduga hal itu jauh sebelumnya. Ya, meski Farah sudah mengeditnya sedemikian rupa agar ngga ketauan sama pak Khanif, pak Khanif tetap saja mengetahuinya karena ternyata pak Khanif memberikan sebuah kode tersembunyi dalam proposanya itu, jadi Farah ngga bisa ngelak. Untungnya juga, pak Khanif mempunyai cadangan proposal bisnis lainnya untuk dipersentasekan didepan pemimpin perusahaan itu. Jadi tentu saja masalah pak Khanif berjalan dengan lancar."


"Jadi nasib Farah gimana?"


"Kalau aku dengar sih, katanya Farah akan diberhentikan dari jabatannya."


"Lalu berita baik satunya apa?"


Dian melihat Rania dengan pandangan tersenyum nan penuh misterius.


...To be continued ...


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...

__ADS_1


__ADS_2