
Hari minggu telah tiba. Seperti kebiasannya baru-baru ini, Rania bangun pagi-pagi buta. Setelah tadi ia melaksanakan kebiasaan subuhnya dan mengganti pakaian tidurnya dengan celana training dan baju santai kedodoran, Rania pun bersiap-siap untuk melakukan jogging pagi di taman kota. Taman yang menyediakan berbagai macam tempat olahraga bagi para warga disekitarnya.
Saat Rania baru saja keluar kamar, ia melihat papa yang tengah duduk menonton berita di depan tv. Rania lalu menghampiri sang papa untuk meminta izin keluar.
"Pagi pa."
"Pagi sayang, mau kemana pagi-pagi udah rapi?"
"Rania mau jogging pa. Rania izin ya," ujarnya seraya mengambil tangan papa untuk diciumnya. "Mama kemana, pa?" lanjut Rania bertanya.
"Mama didapur."
Rania pun berlalu ke dapur menemui mama yang sedang sibuk membuat cemilan pagi mereka dan teh sebagai pelengkapnya.
"Ma," panggil Rania membuat mama menolehkan wajahnya.
"Mau pergi olahraga lagi?" tanya mama memastikan.
"Iya, ma. Rania izin pergi jogging pagi di taman kota."
"Sama siapa kesana?"
"Rania sendiri, ma."
"Ya udah, hati-hati selama disana. Biar banyak orang, tetap harus jaga diri."
"Iya, ma."
Rania pun mengambil tangan mama seperti yang ia lakukan tadi sama papa. Lalu selanjutnya, ia pergi dari rumah menuju taman kota dengan mengendarai sepeda motornya dan helm bogo yang selalu menemaninya jika sedang bepergian kemana pun baik itu kantor maupun ke pasar dan tempat-tempat lainnya.
Rania tersenyum sumringan dibalik kaca helm bogonya yang melengkung. Bagaimana tidak, jalanan pagi ini begitu ramai namun tidak seperti biasanya yang mulai macet jika sudah jam seperti ini.
Rania bahkan lebih leluasa dalam mengendarai motor hasil kerjanya selama ini. Jika setiap hari jalanan ramai lancar seperti ini, pastinya Rania tidak akan terlalu pagi berangkat ke kantor dan itu artinya, Rania bisa lebih lama bersama papa dan mama nya diwaktu pagi. Tapi keadaan itu tidak memungkinkan disaat ia dikejar dengan banyaknya tugas kantor yang harus segera ia selesaikan.
Sekitar tujuh menit, akhirnya Rania telah sampai di area taman kota. Ia pun memperlambat laju motornya saat melihat banyaknya pengunjung taman yang sedang jalan kaki menuju taman. Sesekali ia juga mengedarkan pandangannya mencari tempat yang cocok untuk ia parkirkan motornya.
Yah, tempat parkir taman kota ini cepat terisi penuh. Apalagi jika dihari minggu seperti ini. Selain disebut juga hari mencuci sedunia karena memang waktunya tepat hari libur, hari minggu juga bisa disebut sebagai hari refreshing juga. Baik itu hanya untuk olahraga maupun ajang cuci mata bagi orang yang ingin bersantai.
__ADS_1
Setelah mendapatkan parkiran motor yang masih kosong, Rania pun melajukan motornya dengan kecepatan pelan karena masih berusaha menghidari para pengunjung taman yang mulai berdatangan.
Sesampainya Rania disana, Rania pun menurunkan pijakan motornya, lalu memutar kunci motornya kiri untuk membuka bagasi motornya. Ia lalu membuka helm dan mengaitkan helm nya ke sebuah tempat kaitan helm yang ada didalam bagasi. Sesudah itu, Rania mencabut kunci motornya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam taman kota.
Baru saja ia mau lari mengelilingi taman, seseorang yang entah dari mana asalnya memanggil nama Rania.
"Rania!"
Rania lantas mengedarkan pandangannya mencari sesosok yang telah memanggil namanya. Setelah melihat orang yang telah memanggilnya, Rania tersenyum. Ia tidak menyangka akan bertemu dengannya disini.
"Kamu suka olahraga juga rupanya," ujar David sambil menghampiri Rania.
"Iya, tapi jika olahraga disini, baru kali ini aku kesini."
"Sama aku juga. Biasanya di gym tapi ingin mencari suasana baru aja, jadinya kesini."
Rania menganggukan kepalanya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita mulai berlari. Mumpung matahari belum terlalu menyengat."
"Ayo."
Rania lalu menepi dari jalur lintasan lari yang memang sudah disediakan dan memilih untuk duduk mengistirahatkan diri disebuah bangku kayu yang ada disana.
"Kenapa berhenti?" tanya Rania.
"Aku ingin istirahat juga." David yang sebenarnya masih ingin berlari pun menghentikan kegiatannya itu untuk menemani Rania saja. Ia lalu duduk di bangku samping Rania. "Mau minum?" tawar David berniat pergi membeli minuman untuk menghilangkan dahaga-nya.
"Tidak, terima kasih."
Mengatahui Rania tidak ingin minuman, David jadi mengurungkan niat awalnya. Ia lebih ingin duduk-duduk dibawah pohon rindang bersama Rania dari pada pergi mencari air minum. Mereka lalu melanjutkan percakapan mereka seputar olahraga yang disukai dan seputar dunia kerja yang belum sempat mereka bicarakan jika di kantor.
Pembicaraan mereka terhenti saat ponsel Rania berdering. Ia lalu mengambilnya dari saku celananya dan menggeser icon panggilan hijau ke arah kanan, lalu menempelkan ponselnya ke dekat telinganya.
"Assalamu'alaikum," ujar Rania.
"Wa'alaikumsalam. Ini aku, Zaky."
__ADS_1
"Zaky, iya ada apa"
"Aku ingin mengajakmu sore ini untuk nonton film di bioskop. Kamu ada waktu tidak?"
"Mau nonton film apa emangnya?" tanya Rania balik tanpa memperdulikan David yang terus saja melihatnya.
"Rahasia. Pokoknya film ini seru. Nanti aku jemput, ya."
"Baiklah. Kalau ngga seru, awas ya. Ntar aku ngga mau lagi nonton bareng kamu," ancam Rania bercanda.
"Aku jamin seratus persen," ujar Zaky terkekeh. Ia tahu Rania hanya bercanda.
"Aku tunggu kalau gitu"
"Hem."
"Baiklah, pak dokter. Aku akan tutup teleponnya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam."
Setelahnya, Rania pun memutuskan sambungan telepon mereka.
"Pacar kamu?" tanya David cepat.
Rania terkekeh kecil. "Bukan. Dia hanya aku anggap sebagai kakak saja, tidak lebih!" ujar Rania menjelaskan.
Sungguh, sudah beberapa kali orang lain menanyakan hal yang serupa dengan yang David tanyakan tadi. Tapi lagi-lagi Rania menjawabnya 'tidak' karena memang mereka tidak mempunyai hubungan khusus apapun selain Rania hanya menganggap Zaky sebagai kakak saja.
Bahkan ada beberapa orang juga yang tidak mempercayai ucapannya itu karena melihat bertapa dekatnya mereka berdua. Seperti saat ini. David seperti tidak percaya akan ucapan Rania barusan. Pasalnya, David pernah melihat Zaky menjemput Rania dan saat ini Zaky mengajak Rania pergi menonton film di bioskop.
Merasa David tidak percaya akan kata-katanya, Rania pun tidak berniat menjelaskan ulang. Biar bagaimana pun juga dirinya memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Zaky layaknya seperti orang tanyakan.
"Jadi aku masih punya peluang juga kalau begitu," ujar David membuat Rania terdiam.
...To be continued ...
Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲
__ADS_1
...By Siska C ...