
Lisa yang sudah keluar dari ruangan Khanif pun mengomel, "dasar mau menang sendiri. Jika ingin menjatuhkanku, tidak akan semudah itu Davina."
Lisa lantas pergi menemui Davina. Hampir saja Davina masuk ke dalam lift saat Lisa memanggilnya. Davina lantas kembali melangkah keluar.
"Ada perlu apa?" tanya Davina disertai senyumannya yang lebar.
"Ada perlu apa, ada perlu apa katamu? Jangan pura-pura tidak tahu ya."
Davina heran dengan wanita didepannya ini. Tiba-tiba saja dia marah tanpa kejelasan padanya.
"Kamu kenapa?" Davina menyentuh tangan Lisa, ia hendak menenangkannya.
Lisa menepisnya. "Ngga usah pura-pura baik ya!"
Davina diam. Ia sudah tidak ingin menanggapi sekretaris sementara ini karena apapun yang ia lakukan dan katakan, selalu saja salah dimatanya. Dia juga tidak memberitahu apa kesalahan dirinya, sehingga ia bisa koreksi diri.
Davina lantas pergi meninggalkannya.
"Hai, saya belum selesai sama kamu," teriaknya. "Dasar belagu. Jadi sekretaris kedua aja udah sombong. Apalagi kalau jadi sekretaris utama," gumamnya.
Lisa lantas berbalik kembali ke ruangan Khanif untuk mengadukan sikap Davina tadi. Senyum penuh kelicikan pun terbit di wajahnya. Biar bagaimana pun, ia harus menyingkirkan Davina dari jabatan sekretaris kedua. Biar bagaiamana pun juga, Davina masih bisa menjadi ancaman dimasa depan baginya dan ia tidak ingin sampai hal itu terjadi.
Saat ini pun ia telah berada didepan pintu ruangan Khanif. Setelah mendengar suara dari dalam yang mengatakan 'masuk' Lisa pun masuk kedalam.
"Ada apa?"
"Sesuai saran bapak tadi, saya pergi menemui Davina, tapi Davina tidak memberitahukan jadwal bapak pada saya."
"Kembali ke mejamu. Nanti saya akan menyuruhnya mengirimkan jadwal kerja saya."
__ADS_1
Lisa mengangguk. Ia pun keluar dari ruangan Khanif lagi. Kali ini, ia tersenyum senang karena aduannya pada Davina berjalan seusai rencana. Namun nyatanya, pemikiran Lisa jauh berbeda saat ini dengan pemikiran Khanif. Tentu saja Khanif tidak berpikir kalau Davina akan se-iri itu pada Lisa. Apalagi jika mengingat betapa dekatnya Davina dan Rania dulu.
Khanif memijit pelipisnya. Ia pun menghubungi Davina untuk membawakan Lisa jadwal kerjanya selama seminggu kedepan. Setelah menghubunginya, ia keluar dari ruangannya menuju ke tempat lain yang saat ini ada dalam pemikirannya.
Lisa yang melihat Khanif keluar dari ruangannya, seketika berdiri dan berjalan mendekati Khanif.
"Pak."
"Tidak perlu menemani saya karena saya ingin pergi bukan untuk pekerjaan."
"Baik, pak."
Dalam hati Lisa, ia tidak ingin berpisah jauh dari Khanif. Apalagi beberapa hari belakangan ini ia tidak dapat bertemu dengannya karena pekerjaan yang harus membuat Khanif pergi dari perusahaan untuk sementara waktu.
Sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi agar Khanif dapat meliriknya sebagai seorang perempuan yang tertarik pada seorang lelaki, bukan sebagai karyawan yang menginginkan jabatan tinggi. Karena menurutnya, jika ia dapat mendapatkan hati Khanif, maka secara otomatis, soal jabatan itu sudah menjadi nomor dua didalam tujuan hidupnya.
Namun sebelum mencapai tujuan besarnya itu, ia harus menyingkirkan semua orang yang ia anggap sebagai saingan. Baik saingan yang ia anggap sebagai saingan ringan sampai yang ia anggap sebagai saingan terberatnya.
Bagimana pun caranya, ia harus mencapai tujuannya seperti yang sudah mulai ia lakukan pada Davina. Yakni mengadukannya pada Khanif karena tidak memberitahunya jadwal kerja Khanif. Ah ya, sebenarnya bukan tidak memberitahunya. Hanya saja ia yang sengaja melakukannya.
Dalam perjalanannya demi memiliki Khanif, pasti perjalanannya akan sangat panjang dan sulit untuk Khanif dapat meliriknya dalam waktu itu. Namun, apapun itu, ia akan tetap berusaha mendapatkan hati Khanif yang sampai ia menjadi karyawan disini, ia belum pernah dilirik sekalipun.
Meski begitu, ia selalu menganggapnya karena usahanya yang terbilang kecil. Apalagi kala itu ia hanya sebagai seorang staf biasa, bagaimana Khanif dapat melihatnya? Sekarang ia adalah sekretaris Khanif. Siapapun orangnya, mereka tidak akan bisa menggangu gugat hal tersebut dan untuk itu, ia akan berusaha menjadi sekretaris utama Khanif agar ia dapat dengan mudah menyelesaikan masalahnya ini.
Sedangkan Khanif, ia tetap berjalan meninggalkan Lisa yang tadi mencoba mengikutinya. Bukannya ia pilih-pilih orang. Hanya saja untuk urusan ini, ia tidak perlu ditemani oleh siapapun juga.
Khanif pun telah sampai di depan lift kaca. Ia menekan kode lift yang telah diganti setelah kedatangannya pagi ini. Bukan tanpa sebab ia menggantinya. Hanya saja, ia tidak ingin kalau selain dirinya dan keluarganya memakai lift khusus itu lagi.
Sebab juga ada alasan lainnya, yakni ia tidak ingin orang-orang beranggapan kalau ia pilih kasih pada orang-orang tertentu. Ah, betapa merepotkannya. Namun itulah jalan keluar satu-satunya agar ia dapat membungkam mulut orang yang sudah menebar gosip murahan dimana-mana.
__ADS_1
Sepanjang menuju lantai bawah, Khanif telah memikirkan tindakannya kemudian. Jika ia harus menjawab dengan jujur, maka ia akan jawab jujur karena ia tahu pasti kalau inilah resiko dari hal yang telah dijanjikan sebelumnya.
Saat Khanif baru saja keluar dari lift, beberapa karyawan yang berpapasan dengannya pun menyapanya dan memberikannya hormat. Tentu saja sebagai atasan yang baik, ia membalasnya juga. Apalagi jika mendapati karyawan yang lebih tua darinya. Bagimana bisa ia bersikap tidak sopan saat yang dihadapinya adalah orang tua yang hampir seumuran papanya. Tentunya tidak mungkin.
Khanif telah sampai didepan, mobilnya pun telah siap. Ia lalu masuk kedalam dan mulai melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
"Semoga saja, semuanya akan baik-baik saja," rapalnya dalam hati.
Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga sampailah ia didepan rumah orang yang ingin ia datangi. Orang yang ingin diberikan penjelasan atas janji yang telah ia langgar. Sungguh ia terlihat cemas. Namun, mau bagaimana lagi! Hal ini sudah resiko baginya.
Ia pun melajukan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumah Rania. Setelah memarkirkannya, ia keluar dari mobil. Ia mengernyit heran saat melihat seorang wanita yang tidak lain adalah Rania tengah berdiri didepan sebuah kolam ikan. Ia menduga, sepertinya Rania tengah memberi makan ikan-ikan hiasnya.
Khanif lantas tersenyum. Senyumnya kian merekah saat Rania masih asik dengan kegiatannya tanpa mengetahui keberadaan dirinya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya seseorang disamping kanan Khanif.
Khanif tersentak kaget. Ia lalu menoleh pada orang yang telah menegurnya. Orang itu menaikkan salah satu alisnya meminta jawaban Khanif yang juga belum ada.
"Kenapa diam?"
"Oh, saya ... saya ...."
"Kamu kenapa?"
...To be continued ...
Semoga saja yang like, vote dan komen diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki, Aamiin 🤲
...By Siska C ...
__ADS_1