
Mereka telah pulang dari aksi detektif dadakan yang telah direncanakan Khanif. Sepulang dari sana, Khanif masih tetap terdiam. Ia tidak menyangka orang yang ia percayai malah menghilangkan kepercayaan Khanif dengan bersikap curang pada pekerjanya sendiri dan memperkaya diri demi kepentingan pribadi.
Khanif tak habis pikir, mereka yang ia percayai bisa berbuat hal securang itu. Padahal dana yang ia berikan untuk pembangunan vila disini tidaklah sedikit. Bahkan bisa membiayai kehidupan orang-orang itu sampai tujuh turunan. Tetapi mereka masih saja tamak akan harta yang tidak bisa mereka bawa sampai diakhir kelak. Apa gunanya sekarang? Khanif sudah tidak mempercayai mereka lagi.
"Davina," panggil Khanif yang masih fokus melajukan mobilnya.
"Iya pak."
"Pulang dari sini, jangan lupa menghubungi pak gunawan."
"Pak Gunawan yang direktur perencanaan, pak?" tanya Davina memastikan.
"Hem, ya. Katakan padanya kalau saya membutuhkan semua dokumen terkait rincian pekerjaan dalam membangun vila disini. Katakan lagi padanya, kalau saya membutuhkannya sore ini dan tanpa alasan."
"Baik, pak."
Setelahnya, tidak ada percakapan yang terjadi lagi. Mereka semua bungkam dalam keheningan. Namun tidak bagi Rania. Meski tidak ikut berkomentar, tetapi tangannya kini sibuk menekankan tombol layar sentuh di ponsel cerdasnya.
Ia terlihat sedang menghubungi seseorang yang telah membawanya jalan-jalan kemarin malam. Ya, siapa lagi kalau bukan Reyhan. Lelaki yang lagi tadi menampilkan senyum menawan saat Rania melambaikan tangannya dari dalam mobil.
Rania begitu sibuk mengetik satu-persatu kata di layar ponselnya, hingga ia tidak menyadari kalau mobil telah sampai didepan penginapan mereka. Bahkan sekali lagi, Rania baru tersadar saat Khanif lah yang menyuruhnya untuk keluar dari mobil.
Rania mendongak melihat Khanif, ia begitu malu untuk kesekian kalinya lagi. Betapa tidak, Rania seperti tidak memperdulikan sekitarnya dan tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Maaf," sesal Rania. Khanif lagi-lagi diam. Ia pun keluar meninggalkan Rania.
Mereka tiba dipenginapan saat siang menjelang. Mereka pun makan siang di penginapan bersama dengan para penginap yang lainnya. Suasana makan siang itu begitu ramai karena kedatangan pengunjung lagi. Namun, tidak ada yang dapat membuka percakapan meski mereka semua akan di ruangan yang sama.
Khanif lebih dahulu menyelesaikan makan siangnya. Ia juga lebih dahulu kembali ke kamar untuk beristirahat sejenak karena, jika sore menghampiri, ia ingin fokus pada dokumen yang dikirim oleh Gunawan, Direktur perencanaan di perusahaannya.
"Kenapa pak Khanif diam saja, sejak kita pulang?" tanya Rania setelah mereka berada di beranda kamar Davina.
Davina memang sengaja memilih kamar yang memiliki beranda karena ingin bersantai seperti ini. Berbeda dengan Rania yang memilih kamar tanpa beranda karena tidak ada niatan seperti ini Davina.
"Pasti pak Khanif sangat terpukul karena masalah ini," sesal Davina.
__ADS_1
Rania makin tidak mengerti arah pembicaraan Davina. Davina menoleh sejenak pada Rania, lalu kemudian pandangannya terarah pada pemandangan yang ada didepannya.
Ia lalu berkata, "pak Khanif sangat terpukul karena orang yang melakukan kecurangan ini, tidak lain adalah pamannya sendiri. Paman Gunawan. Siapa yang tidak sedih kalau ternyata keluargamu sendiri, malah menusukmu dari belakang? Apalagi saat orang itu adalah orang yang sangat kamu percayai."
Rania menggeleng. Ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa, saat mengetahui kebenaran yang sudah terbongkar ini.
"Apa yang dikatakan keluarga adalah saat keluarga itu memperhatikan rasa kekeluargaan itu sendiri." Davina diam sejenak, ia masih menatap lurus kedepan sebelum kembali melanjutkan perkataannya, "bahkan biasa kita lebih dekat dengan tetangga kita sendiri dari pada keluarga karena malah tetangga-lah yang memiliki sifat kekeluargaan didalamnya," tambah Davina.
"Ya, kamu benar."
"Jika saja Paman Gunawan bukan paman pak Khanif, pak Khanif tentu bisa menyelesaikan masalah ini dengan sangat cepat. Namun semua berubah saat paman Gunawan terlibat didalamnya. Tentu saja pak Khanif harus menjaga perasaan keluarga lainnya."
"Disaat seperti ini masih memikirkan hal itu?"
Davina menoleh, ia tidak menyangka Rania akan mengeluarkan kata-kata itu.
"Maaf bukannya aku ingin ikut campur, tapi sampai kapan pak Khanif akan berani kalau terus memikirkan rasa kekeluargaan yang sudah dibuat rusak olehnya!"
"Ya, kamu benar. Harusnya pak Khanif mampu mengalihkan rasa itu demi kebaikan perusahaan." Davina menghela nafas berat. "Sepertinya pembicaraan kita sudah terlalu jauh."
Davina sebenarnya sangat ingin mengetahui lelaki yang bernama Reyhan itu dari Rania sendiri. Namun, saat menimbang banyak hal didalamnya, ia jadi tidak ingin mengungkitnya. Ia takut Rania akan mencurigainya kalau dirinya tengah tertarik pada lelaki seperti Rey.
Melihat Davina terus diam sejak percakapan terakhir mereka, Rania menyenggol lengan Davina dan mengatakan, "ada apa, kenapa kamu diam?"
Davina lagi-lagi terperanjat. Tapi ia segera menguasi keadaan. "Tidak apa-apa. Hanya saja sepertinya aku ingin beristirahat."
Rania paham akan maksud perkataan Davina. Ia pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Seperginya Rania, Davina kembali memikirkan kekacauan hati Khanif. Ia tau, keputusan ini berat baginya. Namun mau bagaimana lagi! Jika tidak seperti itu, maka bukan hanya Khanif saja yang akan hancur perlahan, tapi semua karyawan yang ikut bekerja di perusahaan Khanif. Davina menghela napas panjang. Sebelum benar-benar mengistirahatkan dirinya.
***
Sore telah tiba saat Davina mendengar suara ketukan didepan pintu kamar inapnya. Ia pun beringsut turun dari tempat tidur.
"Pak Khanif," seru Davina.
"Jika laporannya sudah ada, kamu bisa segera mengirimnya ke email-ku," ujar Khanif tanpa basa-basi lebih dahulu.
__ADS_1
"Baik pak."
Khanif mengangguk, ia pun berlalu dari hadapan Davina. Lalu menuju lantai teratas dari penginapan ini. Disana, angin terasa segar saat ia baru menginjakkan kakinya. Payung-payung besar tempat berteduh telah di susun sedemikian rupa.
Bahkan, disana juga ada banyak macam bunga-bunga yang hanya bisa tumbuh di kota yang dingin nan sejuk ini. Aroma semerbak bunga yang sedang mekar pun membuat Khanif sedikit merasa tenang disaat hatinya mengalami kekacauan yang besar karena Gunawan, paman yang berbeda ibu dengan papanya.
Meski berbeda, tak urung papa Khanif sangat dekat dengan saudara berbeda ibu itu. Begitu pula Khanif. Ia bahkan sangat menyayangi pamannya itu karena sejak ia kecil, ia sudah di manja oleh sosok yang telah berbeda ini. Jadi, itulah salah satu alasan ia mempercayai pamannya untuk memegang jabatan sebagai seorang direktur perencanaan.
Namun sepertinya Khanif harus menarik jabatan itu dari pundak pamannya sendiri. Biar bagaimana pun, ia harus menyelamatkan harga diri pamannya agar tidak terlalu dalam saat terjatuh nanti. Ya, ia tau cepat atau lambat ia harus mengambil keputusan yang tepat.
Untuk menghilangkan sejenak kegelisahan hatinya, Khanif lalu membuka ponsel pintanya dan mendial sebuah nomor yang sudah cukup lama disimpannya ini. Setelah tersambung, bukannya mendapat ucapan salam, malah Khanif mendapat ucapan gerutu nan kesal dari seberang sana.
"Pergi ngga bilang-bilang! Aku kan udah bilang mau ikut."
Khanif tertawa, ia begitu rindu mendengar suara kesal nan manja itu.
...To be continued ...
Yuk, kita berpantun dulu 👇👇👇
Pak Mail si tukang bubur
Sendoknya hilang dibawa kabur
Hari minggu waktunya libur
Namun ceritaku tetaplah subur
Eh, cie cie 🤭
Yuk aminkan sama-sama.
Semoga yang like/vote/komen diberikan kesehatan dan kelancaran serta kelapangan rezeki oleh sang maha Kuasa, Aamiin. 🤲
Jangan lupa tambahkan cerita ini ke favorit kalian ya, see you di bab selanjutnya 👋
__ADS_1
...By Siska C...