Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Bab 143. Berlapang Dada


__ADS_3

"Selamat ya," ujar Rania pada Farah yang terpilih menjadi sekretaris Khanif.


"Sama-sama," balasnya singkat.


Para karyawan yang hadir pun turut memberikan selamat pada Farah. Tak terkecuali Lisa yang tidak dapat menerima keputusan ini.


Rania pun menepi. Menepi dari kerumunan yang memberikan selamat pada Farah atas terpilihnya menjadi sekretaris Khanif.


"Nak Rania," panggil mama Adelin yang tengah berjalan ke arahnya.


"Tante."


Sesampainya mama Adelin didekat Rania, ia lantas membawa Rania untuk duduk di sebuah bangku yang jauh dari keramaian.


"Nak Rania, maaf ya. Tante ngga bisa bantuin nak Rania soal pemilihan sekretaris anak tante. Kamu tau sendirikan, anak tante itu sulit di tebak jalan pikirannya."


Rania tersenyum kecil, lalu berkata "tante ngga usah minta maaf, tante ngga salah kok. Malahan dengan terpilihnya Farah sebagai sekretaris pak Khanif membuat aku harus lebih banyak belajar lagi."


"Syukurlah nak Rania berpikiran seperti itu. Tante takut kalau kamu malah berpikiran kalau tante ngga mendukung kamu. Oh, iya. Kamu temani tante disini aja, ya."


"Iya, tan."


"Kamu tau, nak Rania. Dulu anak tante itu tidak ingin meneruskan bisnis keluarga ini," kata mama begitu terbuka pada Rania. "Dia dulu mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter seperti dokter Zaky. Tapi karena papa tidak menyetujuinya, anak tante itu harus merelakan cita-citanya."


Rania begitu terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh mama Adelin. Namun, ia tidak dapat menanggapinya karena seakan otaknya tidak dapat berpikir mengetahui kebenaran ini.


"Kami orang tua sangat menyukainya, karena anak itu begitu berbakti pada kami. Tapi disaat yang sama pula, kami sedih karena tidak dapat membiarkan anak kami memilih jalannya sendiri. Jika saja pamanmu tidak sakit berat saat itu, pastinya pamanmu ingin sekali Khanif mewujudkan impiannya."


Rania jadi teringat percakapannya dengan Khanif saat ia dan Khanif berada di kebun stroberi.


"Apa kamu mempunyai cita-cita yang ingin sekali kamu capai?" tanya Khanif seraya menolehkan wajahnya sebentar kepada Rania.


"Tentu saja ada dan saat ini sudah tercapai," jawab Rania dengan gembira. "Kalau bapak?" tanya Rania kemudian.


"Saya sama seperti kamu. Saya juga mempunyai cita-cita yang ingin saya capai, tapi saya rasa itu tidak mungkin lagi."


"Tidak mungkin?" beo Rania mengernyit heran.


"Hem. Sudahlah," ujar Khanif. "Hari kian panas saja. Tidak baik kalau kita terus berada disini, ayo," ajak Khanif seraya berdiri.


Saat Khanif baru saja ingin melangkahkan kakinya, langkah kakinya tertahan dengan apa yang Rania ucapkan kemudian, "katakan saja, siapa tau saya punya solusinya untuk bapak."


"Tidak, terima kasih."


Rania tersadar, ternyata inilah cita-cita Khanif yang dia ceritakan kala itu.

__ADS_1


"Pasti pak Khanif telah memikirkannya dengan matang sebelum memutuskan pilihannya, tan."


"Ya, tante rasa juga begitu. Anak tante yang satu itu memang adalah penyayang keluarga," ungkap mama kemudian.


"Rania rasa juga begitu, saat melihat bagaimana pak Khanif begitu memperhatikan kesehatan tante selama disini."


"Kamu benar nak Rania. Tapi Kamu tau, dalam ketenangannya selama ini, anak itu sudah mengalami berbagai banyak hal selama dia memimpin perusahaan, tapi dia tetap diam. Menyelesaikan masalahnya secara diam-diam. Meski dia tidak bercerita, tante sebagai mamanya tau apa yang terjadi padanya. Untuk itu, yang ingin tante katakan kemudian, meski kamu tidak menjadi sekretaris Khanif, tante harap kamu mau membantunya dalam menghadapi segala permasalahan yang ada di perusahaan."


"Pasti, tan. Tante tidak perlu khawatir."


"Terima kasih, nak Rania," ujar mama Adelin seraya menepuk-nepuk pelan tangan Rania. "Dengan begitu, tante tidak akan terlalu khawatir lagi." Mama Adelin tersenyum begitu lega.


Khanif yang mencari keberadaan sang mama, sontak mengedarkan pandangannya. Setelah melihat mama duduk tidak jauh dari tempat acara bersama Rania, ia langsung saja pergi menghampirinya.


"Ma," panggil Khanif.


Mama dan Rania menoleh. Mereka melihat Khanif yang kian mendekat ke arah mereka.


"Sayang, kemari!" panggil mama seraya melambaikan tangannya.


"Apa yang mama bicarakan sama Rania sampai memilih tempat seperti ini?"


"Ini soal perempuan, laki-laki tidak boleh tau. Ada apa mencari mama?"


"Khanif ingin memperkenalkan mama pada salah satu teman bisnis Khanif yang hadir."


Mama lalu beralih pada Rania. "Nak Rania, tante pergi sama Khanif dulu ya."


"Iya, tan."


Mama pun berjalan bersisian dengan Khanif. Dalam perjalanan mereka, mama malah mengomentari perkataan Khanif tadi.


"Coba saja kamu sudah punya pasangan, mama pasti tidak akan kamu ajak untuk ketemu sama temanmu itu."


Khanif terkekeh pelan. "Mama ada-ada saja. Pasti Khanif akan ajak mama juga."


"Andai saja kamu bisa lebih cepat dari pada nak Zaky. Pasti mama akan gembira sekali."


"Mama belum tau?"


"Belum tau apa?" tanya mama begitu penasaran.


Namun saat Khanif ingin menjawabnya, mereka telah dekat dengan teman bisnis yang Khanif maksud. Jadi, Khanif tidak sempat menjawab pertanyaan sang mama.


Semsampainya mereka disana, Khanif pun memperkenalkan sang mama pada temannya itu.

__ADS_1


"Mama kamu masih terlihat muda ya," ujar teman bisnis Khanif. "Aku hampir terkeco, loh!"


"Anda ada-ada saja," tanggap Khanif diselingi candaan.


Mereka bertiga terlihat bercakap-cakap. Berbeda dengan Rania yang masih setia duduk sendiri di bangku, tempat curhat mama Adelin tadi.


Namun semua itu tidak tinggal lama saat Davina menghampirinya.


"Rania," panggilnya pelan membuat Rania menoleh. "Boleh aku duduk disini?"


"Silakan saja, mbak."


"Kenapa kamu duduk-duduk disini sendirian."


"Cuma ingin berada disini saja, mbak." Rania lalu menambahkan. "Tadi aku bersama tante Adelin disini, tapi pak Khanif datang memanggilnya. Katanya ada yang ingin pak Khanif kenalkan pada tante Adelin."


Davina mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Kalau boleh tau, apa kamu kecewa dengan pilihan pak Khanif?"


Lagi-lagi jawab Rania sama. "Tidak mbak, aku bahkan tambah termotivasi lagi untuk lebih giat belajar."


"Mbak kira ..."


"Mbak kira kalau aku akan kecewa?" potong Rania cepat membuat Davina menganggukkan kepalanya pelan.


"Mbak kira kamu sengaja menyendiri disini," canda Davina membuat Rania tersenyum lucu.


"Aku sudah mengantisipasi kejadian seperti ini dari jauh-jauh hari, mbak. Jadi ngga terlalu berpengaruh sama aku."


"Syukurlah kalau begitu. Kalau tidak, aku akan bantu kamu protes sama pak Khanif," kekeh Davina diakhir katanya. "Oh, iya. Aku hampir lupa," katanya seraya menepuk jidatnya pelan.


"Ada apa, mbak?"


"Ini, pak Khanif berpesan padaku untuk memberitaumu, kalau pak Khanif ingin bertemu denganmu sore nanti di tempat kalian pergi pagi tadi."


Rania mengernyit heran.


"Mengapa pak Khanif ingin bertemu denganku disana? Apa yang ingin dikatakan sama pak Khanif?" tanya Rania membuat Davina menggelengkan kepalanya karena sungguh Davina tidak tau apa yang ingin Khanif katakan sampai mengajak Rania ke tempat yang mereka datangi pagi ini. Yang Khanif pesankan padanya hanya mengatakan hal itu pada Rania, tidak lebih.


...To be continued ...


Hayo, kok bukan Rania sih yang jadi sekretaris Khanif, thor? Tenang para readers, author masih ada kejutan buat kalian. jadi kalian ngga perlu khawatir ya 🤗


Ok, selamat beraktivitas lagi.

__ADS_1


Semoga yang berikan Like, vote, komen dan dukungan lainnya diberikan kesehatan dan kelancaran Rezeki oleh Allah, aamiin 🤲


...By Siska C...


__ADS_2